Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.33


__ADS_3

Sudah dua hari ini Kiana mendiami suaminya. Walaupun suaminya sudah menjelaskan semuanya, namun Kiana masih saja kesal. Akhir-akhir ini suasana hatinya memang sering berubah. Dia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya.


Alan terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan dari arah kamar mandi. Terdengar jelas jika itu suara istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Alan turun dari atas ranjang lalu menghampiri istrinya.


Alan melihat istrinya yang sedang duduk di lantai kamar mandi sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Perutku sakit sekali, Mas." rintihnya.


Tatapan Alan tertuju ke kaki istrinya, terlihat ada darah yang menetes.


"Sayang, kamu berdarah," ucap Alan.


Kiana menatap ke bawah, ternyata benar ada darah di kakinya.


"Sayang, ini darah haid atau .... " Alan menggantung perkataannya. Semoga saja apa yang dia pikirkan tidak terjadi.


Seketika Kiana langsung pingsan. Alan ikut panik melihat keadaan istrinya yang sudah tak sadarkan diri. Dengan cepat Alan menggendong istrinya dan akan langsung membawanya ke rumah sakit. Jujur perasaannya tak karuan.


Bu Sintia melihat anaknya yang sedang menuruni tangga sambil menggendong Kiana.


"Al, kenapa dengan istrimu?" tanya Bu Sintia.

__ADS_1


"Kia pendarahan, Mah." jawabnya.


"Astaga, cepat kamu bawa ke rumah sakit! Biar mamah yang panggilkan sopir untuk mengantar kalian," Bu Sintia melangkah cepat memanggil sopirnya.


Saat ini Alan dan Kiana sudah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Bu Sintia juga ikut bersama mereka.


Saat akan sampai di rumah sakit, Kiana baru sadarkan diri. Dia kembali merintih mengeluhkan sakit di perutnya.


Alan menggendong istrinya memasuki rumah sakit. Terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya.


Tanpa harus antre panjang, kini Kiana suda berada di ruang pemeriksaan. Alan rela membayar mahal asal istrinya di dahulukan untuk di tangani.


''Maaf, Pak. Istri Bapak keguguran,'' ucap dokter yang baru memeriksa Kiana.


Kiana terdiam, dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah membuat anaknya tak selamat. Andai saja dia tahu jika sedang hamil, pasti akan lebih berhati-hati lagi.


Dokter meminta Alan keluar dari ruangan itu, karena Kiana akan langsung di tangani. Janin yang sudah tidak bernyawa itu harus di keluarkan.


Bu Sintia melihat anaknya yang terlihat lesu.


''Nak, kamu kenapa?''


''Ternyata benar apa yang di katakan oleh mamah beberapa hari yang lalu. Kiana hamil, namun anaknya tidak bisa di selamatkan,'' ucap Alan dengan lesu.

__ADS_1


Bu Sintia melihat raut wajah kekecewaan dari Alan. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga musibah, siapa yang tahu. Jujur Bu Sintia juga sedih, karena tahu jika cucu pertamanya tidak selamat. Sebisa mungkin Bu Sintia mencoba menguatkan anaknya dan memintanya agar tidak memarahi istrinya. Ini adalah ujian di pernikahan mereka. Setiap rezeki sudah ada porsinya masing-masing, termasuk anak. Bu Sintia meminta anaknya untuk mencoba ikhlas.


...


...


Kiana baru pulang dari rumah sakit. Dia di papah oleh Bu Sintia menuju ke kamar. Sedangkan Alan yang ada di dalam mobil, dia kembali mengemudikah mobilnya pergi dengan alasan sedang di tunggu oleh klien di salah satu restoran. Kian dan Bu Sintia tak bisa melarang Alan untuk pergi, Karena pekerjaan itu sangat penting bagi Alan.


''Nak, istirahat ya. Kamu jangan dulu melakukan pekerjaan berat,'' ucap Bu Sintia kepada Kiana yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


''Iya, Mah. Terima kasih ya sudah perhatian kepada Kia,'' ucap Kiana.


Setelah kepergian Bu Sintia, kini Kiana mengambil ponselnya untuk dia mainkan. Karena di kamar terasa sepi dan bosan jika tidak melakukan apa pun. Kiana mencoba menghubungi suaminya karena tadi suaminya tidak mengatakan hal lain saat hendak pergi.


Beberapa kali Kiana mencoba menghubungi suaminya. Nomornya tersambung namun suaminya tidak mengangkat panggilannya.


"Apa mungkin Mas Alan sedang sibuk sehingga dia tidak mengangkat panggilan dariku?" gumam Kiana.


Kiana menaruh ponselnya ke atas meja, lalu dia berbaring dan mulai memejamkan ke dua matanya.


Dua jam kemudian.


Kiana masih tidur, namun tidurnya terusik saat dia mendengar suara pintu terbuka. Kiana membuka ke dua matanya. Wajahnya memancarkan senyum yang begitu indah saat melihat kepulangan suami tercinta.

__ADS_1


__ADS_2