
• Sudah satu bulan Kiana tinggal di London. Hubungan dia dengan Leo juga semakin dekat. Walaupun Kiana masih berstatus istri orang, namun Leo tak mempermasalahkannya. Dia sudah berjanji akan kawal Kiana sampai menjadi janda.
Leo memperhatikan sosok wanita yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Dia Kiana yang sekarang bekerja sebagai sekretarisnya.
''Ekhem, serius amat kerjanya,'' ucap Leo dari depan pintu ruangan Kiana. Bahkan saking seriusnya, Kiana sampai tak menyadari kedatangan Leo.
''Eh Pak Bos, ada apa?''
''Ayo makan siang! Kamu itu terlalu rajin. Bisa-bisa perusahaanku cepat kaya kalau karyawannya seperti kamu semua.''
Kiana tersenyum menatap Leo, ''Apaan sih, aku tidak serajin itu, Leo.'' Kiana berucap sambil membereskan meja kerjanya.
''Tapi di mataku kamu terlalu rajin, Kia.''
Kiana menyambar tas bahu miliknya yang ada di atas meja, lalu mendekati Leo yang masih berdiri di depan pintu.
''Ayo pergi! Memangnya kita mau makan siang dimana?"' tanya Kiana.
''Di restoran favoritku,'' Tanpa permisi Leo menggandeng tangan Kiana dan mengajaknya pergi. Bagi Kiana itu sudah hal biasa jika Leo menggandeng tangannya. Lagian dia hanya menganggap Leo sebatas sahabat saja. Dia belum menyadari jika kebaikan Leo selama ini atas dasar cinta.
Sesampainya di restoran, Kiana di buat heran karena kondisi restoran saat ini sepi. Hanya ada mereka berdua saja yang berkunjung ke restoran.
''Ini kenapa restoran ini sepi?'' Kiana bertanya kepada Leo.
''Aku sudah menyewanya selama dua jam ke depan,'' ucap Leo.
Kiana jadi ingat kenangannya dengan Alan, dimana Alan juga pernah membawanya ke restoran dan memberinya kejutan.
__ADS_1
''Kia, kenapa kamu diam? Kamu tidak suka?'' Leo memperhatikan Kiana yang sejak tadi diam.
''Tidak kok, tapi kenapa pakai di booking segala restorannya?''
''Karena ada sesuatu yang penting,'' jawabnya.
Leo mengajak Kiana untuk duduk di salah satu kursi yang memang sudah di siapkan khusus untuk mereka. Lalu Leo menepuk tangan tiga kali, sehingga muncullah beberapa orang yang bermain biola mengiringi suasana yang terlihat lebih romantis.
Beberapa pelayan pun mendekati mereka dengan membawa pesanan yang sebelumnya sudah Leo pesan. Kiana belum mengerti dengan maksud Leo yang mengajaknya makan siang romantis. Dia masih diam sambil menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.
''Kia, apa kamu senang?''
''Iya, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? Hanya makan siang saja diiringi pemain biola segala.''
''Tidak, Kia. Kamu habiskan dulu makananmu, nanti aku akan berbicara penting kepadamu.''
Ke duanya diam, tak ada lagi yang bersuara. Mereka fokus melahap makan siang mereka masing-masing.
''Maaf, Leo. Tapi aku kira kamu membantuku karena kamu menganggapku sahabat. Tapi ternyata karena kamu memiliki perasaan sama aku. Tapi sekarang ini aku masih istri orang. Aku juga sudah menganggapmu sahabat sekaligus kakak sendiri,'' ucap Kiana.
Kiana melihat perubahan wajah Leo yang sepertinya kecewa dengan jawabannya.
''Jadi kamu menolakku?''
''Bukan seperti itu, tapi aku masih memiliki seorang suami untuk saat ini.''
''Baiklah, aku akan setia menunggumu hingga kamu cerai dengan suamimu. Kamu tenang saja, aku akan membahagiakanmu,'' Leo memegang ke dua tangan Kiana dan mengecup singkat punggung tangannya.
__ADS_1
Kiana sudah memberikan harapan untuk Leo. Semua itu dia lakukan agar Leo tidak kecewa kepadanya. Dia juga tak mungkin menolaknya karena Leo sudah sangat baik. Namun untuk menerimanya itu belum bisa, karena dia masih berstatus istri orang.
Leo mengajak Kiana kembali ke kantor. Kebetulan mereka sudah selesai makan siang.
...
...
Belum juga menemukan keberadaan Kiana, namun Alan harus pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis. Kebetulan dia akan membahas kerja samanya dengan rekan kerjanya yang ada di London.
Bu Sintia melihat anaknya yang sedang menarik koper. Namun raut wajahnya terlihat kurang bersemangat.
''Al, kamu mau kemana? Lalu itu kenapa wajah kamu kusut gitu?'''
''Alan mau ke London, Mah. Ya Alan malas pergi karena belum menemukan keberadaan Kiana.''
''Al, kamu boleh sedih, tapi jangan lalaikan pekerjaan. Nanti juga Kiana pasti di temukan. Mamah jamin itu,'' ucap Bu Sintia.
Mendengar anaknya akan pergi ke London, ada harapan di hati Bu Sintia agar anaknya di pertemukan dengan Kiana.
''Baiklah, Alan akan mengurus pekerjaan disana dengan cepat agar bisa pulang cepat pula,'' Alan mendekati ibunya, lalu berpamitan dan menjabat tangannya.
Bu Sintia menemani anaknya hingga keluar dari rumah. Alan pergi dengan di antar oleh sopir menuju ke bandara. Kebetulan sekretarisnya juga akan pergi untuk mendampinginya. Sedangkan asistennya dia tugaskan untuk mengurus perusahaan selama kepergiannya.
sesampainya di bandara, Alan melihat sekretarisnya yang tak lain adalah Risa sedang menunggunya.
''Maaf jika saya lama,'' kata Alan.
__ADS_1
''Tidak sama sekali, Pak. Kebetulan saya juga baru datang,'' ucapnya sambil tersenyum menatap Alan.
Alan duduk di sebelah Risa, mereka menunggu jadwal keberangkatan pesawat mereka.