Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.22


__ADS_3

Terlihat raut wajah cemas dari Alan. Di hari bahagianya, musibah malah terjadi. Entah kemana Alan harus mencari keberadaan Kiana. Nomor telepon si penculik yang akan dia lacak, ternyata sudah tidak aktif.


Alan mendengar ponsel miliknya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari Dito.


"Bro, Lo dimana?" tanya Dito dari seberang sana.


"Gue di jalan dekat Mall cempaka indah," jawabnya lesu.


"Bro, Gue curiga sama seseorang yang telah menculik Kiana," ucap Dito


"Siapa?"


"Rani, Gue yakin sekali kalau dia yang sudah menculik Kiana," ucap Dito.


"Lalu kemana kita harus mencari keberadaan mereka?"


"Sebentar, Gue lacak dulu keberadaan Rani."


"Tadi Gue dapat kiriman video Kiana dari nomor asing. Tapi pas mau Gue lacak, nomornya sudah tidak aktif," ucap Alan.


"Paling itu Alibi untuk mengalihkan kecurigaan kita. Percaya deh kalau emang Rani yang nyulik Kiana."


"Ya sudah cepat lacak keberadaannya. Gue tunggu nih," pinta Alan.


"Beres, Bro."


Tak butuh waktu lama untuk Dito melacak keberadaan Rani. Ternyata posisi Rani saat ini ada di sebuah gudang penyimpanan barang yang sudah lama tak terpakai oleh pemiliknya. Dito langsung memberitahu Alan dimana lokasi keberadaan Rani. Sekarang mereka berdua cukup yakin jika Rani pantas untuk di curigai. Apalagi keberadaannya di gudang kosong. Tak mungkin Rani pergi kesana jika bukan untuk melakukan sesuatu.


Alan dan Dito sampai bersamaan di depan gudang kosong itu.


"Bro, ayo masuk!" Alan melangkah tergesa-gesa memasuki gudang diikuti oleh Dito di belakangnya.


Sesampainya di dalam, dia melihat ada dua orang berbadan besar yang berdiri di depan salah satu ruangan yang pintunya tertutup.


"Hei, siapa kalian?" Salah satu dari mereka mendekati Alan dan Dito.


"Anda tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami datang untuk menghabisi kalian berdua," ucap Dito dan langsung melayangkan pukulan. Dito memberikan kode kepada Alan agar langsung masuk ke dalam ruangan itu.


Alan tak bisa masuk begitu saja, dia harus berhadapan dengan lelaki berbadan besar yang sedang berdiri di depan pintu. Pukulan demi pukulan Alan layangkan hingga lelaki yang dia hadapi mampu di lumpuhkan olehnya. Alan langsung mendobrak pintu hingga terbuka. Ternyata benar, Kiana berada di ruangan itu. Alan menghampiri Kiana yang sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.

__ADS_1


"Sayang, akhirnya aku menemukanmu," Alan merasa kasihan melihat sang pujaan hati yang terikat seperti itu. Perlahan dia mendekat dan membantu melepaskan ikatan dari tangan dan kaki Kiana.


"Aku takut," Kiana menghambur ke dalam pelukan Alan. Pelukan itu begitu erat, seolah mengisyaratkan jika saat ini dia sedang ketakutan.


"Tenang, Kia. Ada aku disini, kamu jangan takut ya," Alan mengusap perlahan punggung Kiana.


Setelah merasa tenang, Kiana melepaskan pelukan itu.


"Ayo pulang! Aku ingin pulang," rengeknya.


"Jangan pulang, sayang. Kita langsung ke hotel tempat pernikahan kita ya," ucap Alan.


Kiana mengangguk, dia menggandeng erat tangan Alan.


Alan mengajak Kiana keluar dari gudang, sedangkan Dito masih disana mengurus ke dua orang yang telah menyekap Kiana. Niatnya dia akan menjebloskan mereka berdua ke penjara. Dan untuk Rani, mereka memberikan keterangan bahwa saat ini Rani sedang pergi keluar. Tadi memang Rani ada disana, namun dia keluar dan belum kembali.


Alan dan Kiana sudah berada di perjalanan menuju ke hotel tempat acara pernikahan mereka. Alan mendengar ponsel miliknya berdering. Itu panggilan masuk dari ibunya.


📞"Hallo, Mah. Ada apa?" tanya Alan.


📞"Al, kamu dimana? Bagaimana dengan Kiana? Apa kamu sudah menemukannya?" Bu Sintia terlihat mencemaskan calon menantunya.


📞"Syukurlah, mamah tunggu kalian disini. Cepat ya, keburu penghulunya pergi. Ini mamah mau membujuknya dulu biar mau memberikan sedikit waktu lagi untuk menunggu kalian."


📞"Terima kasih, Mah. Alan akan mengemudi dengan cepat agar cepat sampai."


Kini ke duanya sudah memutuskan panggilan telepon itu. Alan fokus mengemudi agar cepat sampai ke tujuan.


Bu Sintia sedang berdiri di depan hotel menunggu kedatangan Alan dan Kiana. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang.


''Akhirnya kalian datang juga. Mamah khawatir sama kamu, Kia. Apa kamu tidak apa-apa?'' Bu Sintia mendekati Kiana.


''Kia tidak apa-apa, Mah.''


''Syukurlah, lebih baik sekarang kita ke kamar kalian dulu. Kamu harus merapikan make up kamu, Kia.'' setelah berbicara kepada Kiana, kini Bu Sintia beralih berbicara kepada Alan.'' Al, kamu langsung saja ke tempat acara,'' ucapnya.


''Baik, Mah.'' jawabnya.


Tak lama untuk Kiana membenarkan make upnya. Karena ada perias yang membantunya. Kini penampilan Kiana sudah kembali rapi. Bu Sintia menggandeng tangan Kiana, mengajaknya pergi ke ballroom tempat acara. Sesampainya disana, Kiana di arahkan untuk duduk bersama Alan yang sudah bersiap di tempat akad.

__ADS_1


''Bagaimana, apa sudah bisa di mulai?'' tanya Pak penghulu sambil menatap ke duanya.


''Bisa, Pak.'' jawab Alan dan Kiana bersamaan.


Acara ijab qabul pun segera di mulai. Alan mampu mengucapkan ijab qabulnya dengan benar. Semua tamu yang datang ikut senang melihat pasangan yang sudah sah menjadi suami istri itu.


Alan dan Kiana saling tukar cincin. Tak lupa seorang fotografer mengabadikan momen itu.


''Selamat, Al, Kia, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek,'' ucap Bu Sintia kepada anak dan menantunya.


''Amin, Mah.'' ucap Kiana.


Alan dan Kiana di arahkan untuk ke pelaminan. Mereka berfoto dengan berbagai pose yang terlihat mesra.


Setelah mengambil beberapa foto, kini mereka berdua menyapa para tamu kenalan Alan yang datang ke acara itu.


''Hei Bro,'' terdengar suara Dito dari arah belakang Alan dan Kiana.


Sang pengantin yang sudah sah itu menoleh ke belakang saat mendengar suara sahabatnya.


''Eh baru datang, Bro? Bagaimana penjahat itu?'' Alan bertanya kepada sahabatnya.


''Beres, mereka sudah di bawa ke kantor polisi. Sekarang polisi tinggal menangkap Rani yang masih belum tahu dimana keberadaannya. Sepertinya Rani sudah tahu jika anak buahnya sudah tertangkap, jadi dia bersembunyi,'' ucap Dito.


''Semoga saja Rani segera di tangkap, Bro.''


''Jadi yang menculikku itu Rani?'' Kiana terkejut mengetahui fakta itu.


''Benar, sayang. Tapi kamu tenang saja, Mas akan selalu menjaga kamu. Jadi kamu pasti aman,'' Alan merengkuh istrinya ke dalam pelukan di hadapan Dito, seolah dia memamerkan kemesraan.


''Ekhem, Gue culik saja kali ya biar tidak bisa malam pertama,'' Dito berucap sambil menoleh ke sembarang arah. Namun ucapannya itu di tujukan kepada Alan dan Kiana.


''Enak saja, dari pada rebut bini orang, mending cari calon sendiri sana,'' ucap Alan.


''Tapi yang membuat hatiku bergetar juga bini orang,'' ucapnya sambil sedikit melirik ke arah Kiana.


Alan hendak melayangkan pukulan ke arah Dito, namun Kiana menahan tangannya.


''Jangan berantem, malu loh di lihatin orang,'' kata Kiana.

__ADS_1


__ADS_2