Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.31


__ADS_3

Alan merasa akhir-akhir ini ada yang aneh dengan istrinya. Istrinya jadi lebih sering makan dan meminta sesuatu yang aneh-aneh.


Kiana mendekati suaminya yang sedang memakai kemeja.


"Mas, sepertinya kemeja itu tidak cocok untukmu," ucap Kiana.


"Masa sih? Perasaan ini kemeja kesukaan Mas, warnanya juga bagus biru muda," ucap Alex.


"Tidak tidak, ini tidak cocok. Mas Alan harus pakai kemeja yang sudah aku siapkan. Sebentar ya aku ambilkan," Kiana mengambil kemeja berwarna pink muda dari dalam lemari.


Alan menganga menatap kemeja berwarna pink muda yang istrinya pegang. Sama sekali bukan seleranya.


"Kamu tidak salah, sayang? Masa Mas di suruh pakai kemeja itu sih? Pokoknya Mas tidak mau," ucapnya penuh penegasan.


"Jika Mas tidak mau, maka aku akan mogok makan."


Alan tak yakin jika istrinya benar-benar akan mogok makan. Tapi dari kata-katanya, Kiana terlihat serius sekali. Alan tak mungkin membiarkan istrinya kelaparan karena hal yang sepele.


"Baiklah, demi kamu Mas akan pakai kemeja itu," Alan terpaksa menuruti kemauan istrinya. Itu semua dia lakukan demi keselamatan istrinya. Alan tak mau jika istrinya benar-benar mogok makan.


Kiana terlihat senang karena suaminya mau menuruti keinginannya.


Suami mana yang tega membiarkan istrinya tak bahagia. Padahal itu hanya melakukan hal sepele saja.


Alan merasa kurang nyaman karena memakai pakaian berwarna merah muda itu. Namun dia harus pura-pura menyukainya.


"Tuh kak Mas Alan terlihat lebih tampan pakai kemeja itu."


"Benar, sayang. Pilihanmu memang terbaik," ucap Alan.


"Nah sekarang ayo kita sarapan bersama!" Kiana menggandeng tangan istrinya, lalu dia mengajaknya keluar dari kamar.


Perlakuan Kiana pagi ini begitu manis. Bahkan dia juga membawakan bekal makan siang untuk Alex. Sungguh tidak seperti Kiana yang Alex tahu.


Alex dan Kiana sudah selesai sarapan. Alex akan berangkat lebih pagi dari biasanya, karena ada meeting penting pagi ini.


Kiana mengantar suaminya hingga sampai ke depan rumah.


"Mas, semangat ya kerjanya. Jangan lupa nanti bekal makan siang dariku di makan ya," ucap Kiama sambil merapikan dasi yang di pakai oleh suaminya.


"Iya, sayang. Kamu tenang saja," Alan mengecup singkat kening istrinya. Begitu pula dengan istrinya yang langsung menjabat tangan suaminya.

__ADS_1


Kiana menatap suaminya yang sedang memasuki mobil. Dia melambaikan tangannya saat suaminya mulai menjalankan mobilnya.


....


....


Jam istirahat telah tiba. Alan menghentikan pekerjaannya. Dia memilih beristirahat di ruangannya saja.


''Coba deh aku buka bekal makan siang. Kira-kira isinya apa,'' Alan mengambil kotak makan siangnya yang ada di atas meja lalu membukanya. Ternyata isinya beberapa potong kue yang sudah di lapisi selai nanas. Baru juga akan memakannya, namun tak jadi saat Alan mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.


''Masuk!'' ucap Alan.


Terlihat Risa masuk ke dalam ruangan. Berjalan dengan anggun menghampiri Alan.


''Permisi, Pak. Apa bapak mau makan siang bersama saya? Kebetulan saya bawa bekal cukup banyak dari rumah,'' ucap Risa menawarkan. Memang Risa sengaja membawa bekal makan siang, karena dia berinisiatif untuk memberikan perhatian kepada Alan.


''Maaf, saya juga punya bekal makan siang, dan ini istri saya sendiri yang menyiapkan,'' ujar Alan sambil menunjuk bekal makan siangnya nyang ada di atas meja.


Risa tampak kecewa, usahanya memasak banyak malah sia-sia. Risa kembali berpamitan pergi karena akan kembali ke ruangannya.


Alan yang sedang menikmati roti tawar miliknya, tiba-tiba mendengar ponselnya berdering. Alan menatap heran istrinya yang tiba-tiba memanggilnya melalui panggilan video call. Karena tak biasa istrinya video call di saat Alan berada di kantor.


Kiana tersenyum kepada suaminya. Dia senang karena suaminya memakan bekal yang sudah di siapkannya.


''Iya nih, kok tiba-tiba Kia kangen ya sama Mas Alan,'' ucap Kiana.


''Sabar dong, sayang. Nanti suamimu ini juga pulang kok.''


''Nanti jangan lupa belikan Kia buah-buahan ya. Harus ada mangganya loh,'' pinta Kiana.


''Baik, sayang. Nanti Mas belikan bermacam-macam buah untukmu.''


''Yey KIa tunggu loh. Awas saja kalau nanti kelupaan.''


Hampir satu jam mereka berdua melakukan video call. Kini mereka menyudahi panggilan video call-nya.


Alan kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa cepat pulang.


Terlihat Risa yang kembali datang ke ruangan itu. Risa membawakan secangkir kopi untuk Alan.


''Permisi, Pak. Ini saya bawakan kopi untuk bapak,'' Risa menaruh secangkir kopi di atas meja kerja Alan.

__ADS_1


''Terima kasih. Tapi saya tidak merasa memintamu membuatkan kopi?''


''Saya berinisiatif sendiri, Pak. Kebetulan tadi saya habis membuat susu coklat untuk saya sendiri. Namun saya teringat Bapak,'' ucap Risa.


Alan merasa jika perhatian Risa itu hanya sekedar perhatian dari bawahan ke atasannya. Namun berbeda dengan Risa, dia perhatian seperti itu karena ingin mengambil hati Alan.


...


...


Alan yang baru pulang kerja, di sambut hangat oleh istrinya.


''Selamat sore, Mas. Sudah pulang?'' Kiana mengambil tas kerja yang sedang di pegang oleh suaminya.


''Iya, sayang.'' jawabnya sambil tersenyum.


Kiana memperhatikan suaminya, suaminya tidak membawa apa pun kecuali tas kerjanya itu.


''Mas, mana buah-buahan yang aku minta?'' Kiana menagih pesanannya.


Alan menepuk keningnya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa dengan pesanan istrinya.


''Maaf, sayang. Mas kelupaan.''


''Kiana ingin sekali makan buah, Mas. Tapi kenapa Mas melupakan semuanya. Apa aku tidak penting lagi bagimu?'' ke dua mata Kiana berkaca-kaca. Keinginannya sungguh tidak bisa di tahan lagi.


''Sayang, jangan menangis! Mas akan belikan sekarang buah-buahan yang kamu inginkan. Maaf ya karena Mas kelupaan,'' Alan berucap sambil memegang ke dua tangan istrinya.


''Cepat!''


''Baik, sayang.'' Alana mengecup singkat kening istrinya, lalu dia bergegas pergi. Walaupun tubuhnya terasa lelah, namun keinginan istrinya yang dia prioritaskan. Lagian ini juga salahnya yang lupa untuk membelikan buah yang istrinya inginkan.


Dua puluh menit kemudian Alan sudah kembali dengan membawa satu kantong kresek besar buah-buahan untuk istrinya. Berbagai macam buah-buahan dia beli untuk istrinya.


''Sayang, Mas pulang nih,'' ucap Alan menatap sekeliling rumahnya.


Kiana yang baru turun dari tangga, dia langsung menghampiri suaminya. dia merebut kantong kresek yang sedang dibawa oleh suaminya lalu membawanya. Bahkan dia tidak mengatakan apa pun ke suaminya. Fokusnya hanya ke buah-buahan itu.


''Kenapa Kiana terlihat senang sekali saat di belikan buah sebanyak itu? Bahkan dia sampai melupakanku yang sudah membelikannya,'' gumam Alan sambil menatap istrinya yang sedang mengambil beberapa buah dari kantong kresek itu.


Alan membiarkan istrinya dengan kesibukannya. Sedangkan dia bergegas pergi ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2