
Alan sudah mencoba membujuk Kiana agar mau pulang bersamanya. Namun Kiana menolaknya dengan alasan masih ingin berada di London.
Hari ini jadwalnya Alex kembali ke tanah air. Namun dia merasa enggan untuk pergi jika tanpa Kiana. Namun jika tidak pulang, siapa yang akan mengurus perusahaannya?
Lamunan Alan terusik karena mendengar ketukan pintu dari luar kamar hotel. Alan beranjak dari duduknya lalu pergi membukakan pintu.
''Ada apa, Ris?'' Alan bertanya kepada sekretarisnya.
''30 menit lagi jadwal penerbangan ke tanah air, Pak. Apa bapak sudah siap?''
''Sudah, sebentar ya saya ambil koper saya dulu'' jawabnya dengan lesu.
Alan dan Risa cek out dari hotel. Mereka langsung pergi menuju ke bandara.
Alan yang sedang duduk di salah satu kursi, dia menatap ke sekitarnya. Berharap jika Kiana menghampirinya sebelum dia pergi. Namun dia belum melihat tanda-tanda keberadaan Kiana. Padahal kemarin dia berpesan agar Kiana ikut pulang dengannya. Setidaknya hanya menemuinya di bandara saja itu sudah membuatnya senang.
''Pak, pesawat kita sebentar lagi tak off, sebaiknya kita naik sekarang,'' ucap Risa sambil menepuk bahu Alan. Karena sejak tadi pandangan Alan entah kemana.
Sebelum benar-benar menaiki pesawat, Alan menoleh ke belakang. Berharap ada Kiana disana. Namun ternyata Kiana sama sekali tak muncul disana.
Alan semakin tak bersemangat. Sepertinya Kiana memang sudah berniat untuk meninggalkannya.
Di dalam pesawat, Alan memilih untuk tidur. Karena pikirannya terus terganggu dengan satu nama yaitu Kiana.
Risa yang duduk di sebelah Alan, dia tersenyum senang. Karena masih ada kesempatan untuk mendapatkan Alan. Terbukti dari penolakan yang di berikan Kiana kepada Alan. Tentu Risa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan sengaja Risa menyenderkan kepalanya di bahu Alan yang sedang tidur.
Hanya satu jam Alan tidur. Kini dia terbangun dan merasakan ada sesuatu di bahu kirinya. Saat menoleh ke samping, Alan melihat Risa yang sedang tidur dengan menyenderkan kepalanya. Alan menyingkirkan kepala Risa dari bahunya lalu dia pergi ke toilet pesawat.
__ADS_1
...
...
Pesawat yang di naiki Alan sudah mendarat dengan selamat. Alan dan yang lainnya berbondong-bondong turun dari pesawat.
''Pak,'' dengan tergopoh-gopoh Risa mengejar Alan yang sudah melangkah duluan.
Alan menoleh ke belakang menatap Risa, ''Ada apa, Ris?''
''Saya ikut bapak ya pulangnya,'' ucap Risa.
''Memangnya kamu tidak ada yang jemput?''
''Tidak ada, Pak.''
Risa bersorak senang dalam hatinya. Lagi-lagi dia masih punya kesempatan untuk berdekatan dengan Alan.
Di luar bandara sudah ada sopir yang sedang menunggu Alan. Alan melambaikan tangannya lalu bergegas mendekati mobil hitam yang terparkir di depan bandara.
Alan membuka pintu mobil depan, karena dia akan duduk di samping sopir. Sedangkan Risa membuka pintu belakang.
''Pak Alan tidak di belakang saja sama saya?'' tanya Risa.
''Tidak, lebih enakan di depan,'' jawabnya.
Niat Risa ingin duduk berdua di mobil, namun ternyata tidak seperti yang dia pikirkan. Tak apa, setidaknya Alan masih mau memberikan tumpangan.
__ADS_1
Setelah mengantar Risa ke rumahnya, kini Alan baru sampai di rumah. Kedatangannya di sambut oleh ibunya. Itu terlihat dari ibunya yang sedang berdiri di depan rumah.
''Wah anak mamah akhirnya pulang juga. Mana nih oleh-oleh untuk mamah?'' Bu Sinta tersenyum kepada anaknya.
''Ada di koper,'' jawabnya singkat.
''Kamu kok baru pulang nggak semangat banget sih. Kamu kecapean?''
''Bukan, Mah. Tapi Alan disana ketemu sama Kiana. Dia di ajak pulang tapi tidak mau.''
''Benarkah? Itu berarti kalian masih berjodoh.''
''Mamah kok nggak ada rasa khawatirnya sih? Aku sedih nih karena Kiana menolak ajakanku.'' kata Alan.
''Kamu tenang saja, Al. Dari pada kamu sedih terus, lebih baik kamu telepon Kiana saja. Mamah ingin bicara sama dia nih.'''
''Gimana caranya mau telepon, sedangkan nomorku saja di blokir olehnya?''
Bu Sintia menahan tawanya mendengar penderitaan anaknya. Segitunya Kiana sampai memblokir nomor segala. Mungkin Kiana memang tak mau di ganggu oleh Alan.
''Sabar, Nak. Nanti biar mamah saja yang telepon. Mamah akan coba membujuk Kiana biar dia mau kembali lagi ke rumah ini.''
''Janji loh, Alan tidak mau kehilangan dia, Mah.''
''Iya, Mah. Mamah janji. Lebih baik kamu istirahat dulu deh, nanti kalau mamah mau telepon Kiana, pasti mamah akan beritahu kamu.''
''Baik, Mah.'' Alan berlalu memasuki rumah. Dia meninggalkan kopernya di ruang keluarga. Biar nanti saja bibi yang mengantarnya ke kamar. Lagian di dalam koper juga ada oleh-oleh untuk ibunya.
__ADS_1