Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.24


__ADS_3

Bu Sintia berdiri di depan rumah menunggu kepulangan anak dan menantunya. Rasanya sudah tak sabar untuk melihat kedatangan pengatin baru itu.


Senyuman itu terpancar dari sudut bibir Bu Sintia saat melihat kepulangan anak dan menantunya.


Bu Sintia mendekati mobil anaknya yang kini berehnti di halaman rumah.


''Selamat pagi anak-anak mamah, Wah wajah kalian terlihat segar sejkali. Sepertinya semalam sukses nih,'' ucap bU Sintia kepada mereka berdua.


''Sukses dong, Mah.'' jawab Alan sambil mengacungkan satu jempolnya. SEdangkan Kiana mencubit pelan pinggang suaminya karena merasa malu.


''Nak, ayo kita masuk!'' BU Sintia menggandeng tangan Kiana dan mengajaknya masuk ke dalam.


''Mah, aku kan yang anak mamah, kok tidak di ajak masuk,'' Alan pura-pura merajuk di hadapan ibunya.


''Kmau kan anak laki-laki, jadi bisa lah jalan sendiri,'' jawabnya.


Dari dulu Bu Sintia memang sangat ingin memiliki anak perempuan. Sekarang Bu Sintia sangat senang karena memiliki menantu yang bisa di anggap anak sendiri. Apalagi menantunya itu sebaik Kiana.


Bu Sintia mengajak Kiana untuk duduk di sofa sambil mengobrol. Sedangkan Alan masih berdiri di dekat sofa sambil memegang koper di tangan kanannya.


''Kia, ayo kita ke kamar!'' ajak Alan.


''Jangan! Kia disini saja menemani mamah. Lagian mamah mau ajak dia mengobrol,'' ucap Bu SIntia.


''Maaf ya, Mas. Sepertinya Kia temani mamah dulu,'' ucap Kiana.


''Baiklah,'' Alan berlalu pergi menuju ke kamarnya.


Obrolan Bu Sintia dan Kiana terhenti saat mereka mendnegar ponsel milik Bu Sintia berdering. Bu Sintia mengambil ponselnya yang adac di meja dan melihat ada ppanggilan masuk dari teman ssosialitanya. Ternyata temannya mengingatkan jika besok ada arisan.


Setelah selesai menerima telepon, Bu Sintia menatap Kiana yang duduk di sampingnya.


''Kia, bagaimana jika besok kamu ikut arisan bersama maamah.''


''Tapi kia takut jika nanti malu-maluin mamah disana,'' Kiana sedikit ragu untuk ikut. Sebelumnya dia tak pernah bergaul dengan ibu-ibu sosialita dari kalangan atas.


''Ayolah!1'' Bu Sintia memperlihatkan raut wajah memelas di hadapan Kiana.


''Baiklah,'' pada akhirnya Kiana menerima ajakan itu.


Bu Sintia senang karena anaknya menerima ajakannya. Besok Bu Sintia akan pamer kepada teman-teman sosialitanya bahwa sekarang dia sudah mempunyai menantu.


....


....

__ADS_1


Kiana melihatsuaminya yang sedang memakai jaket sambil bercermin di depan meja rias.


''Mas, kamu mau kemana? Kok pakai jaket?'' Kiana bertanya kepada suaminya.


''Mas mau ke kantor polisi bersama Dito. Tadi Mas baru mendapat kabar jika Rani sudah di tangkap,'' ucapnya.


''Aku kok merasa tak tega ya, aku kasihan jika Rani di tangkap polisi. Bagaimana jika aku cabut saja laporan itu,'' ujar Kiana yang merasa tak tega.


''Sayang, kamu jangan terlalu baik sama orang. Apalagi orang itu yang sudah berbuat jahat kepadamu.''


''Tapi Aku kasihan, Mas.'''


Alan menggelngkan kepalanya. Baginya tak ada kata maaf untuk orang yang sudah berniat mencelakia istrinya. Walupun orang itu adalah Rani.


Kiana memutuskan untuk beristirahat setelah melihat suaminya keluar dari kamar.


Satu jam kemudian.


Alan baru pulang ke rumah. Dia masuk ke kamar dan melihat istrinya yang sedang tidur. Alan duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan wajah istrinya yang begitu teenang.


''Sayang, kamu kok tidur duluan? Hm alam ini libur ddulu deh jadinya,'' Alan membelai wajah cantik istrinya. Cukup lama dia menatap wajah cantik itu. Kini dia melepaskan jaket yang di kenakan lau pergi ke kamar mandi untuk bebersih sebelum nantinya tidur.


Alan naik ke atas ranjang. Dia menyingkap selimut yang sedang di pakai oleh istrinya. Alan berbaring, dia memeluk istrinya dari belakang, Rasanya sangatlah nyaman.


''Apa seperti ini rasanya memiliki istri?'' gumam Alan sambil menyunggingkan senyumnya.


....


...


Beberapa kali Kiana mengganti pakaiannya. Dia bingung mau mengenakan pakaian yang mana untuk di pakai ke acara arisan Bu Sintia.


Tok tok


Kiana mendnegar pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.


''Sebentar!'' Kiana bergegas membukakan pintu. Ternyata yang datang itu Bu Sintia.


Bu Sintia menatap penampilan menantunya dari atas smapai bawah. Kiana sama sekali belum berdandan.


''Kia, kok kamu belum siap-siap?''


''Maaf, Mah. Sejak tadi Kia bingung mau pakai pakaian yang mana,'' jawabnya.


''Biar mamah pilihkan ya. Kmau pakai make up saja dulu.''

__ADS_1


''Baik, Mah.'' mereka berdua masuk ke kamar.


Kiana duduk di kursi depan meja rias. Dia mulai memoleskan make up ke wajahnya. Bukan make up yang belebihan, namun hanya make up tipis. Biar pun begitu dia sudah terlihat sangat cantik.


"Kia, kamu pakai dres ini saja. Ini sangat cantik untuk kamu kenakan," Bu Sintia memperlihatkan dres berwarna maroon kepada Kiana.


"Apa warna itu tidak terlalu mencolok, Mah?"


"Tidak kok, sayang. Ini sangat cocok untuk kamu," ucapnya.


Kiana mengambil dres yang sedang di pegang oleh Bu Sintia. Lalu dia segera berganti pakaian dengan dres itu.


Bu Sintia mengacungkan jempol saat melihat penampilan menantunya yang baginya terlihat sempurna.


"Kamu memang sangat cantik, Nak. Ayo kita pergi!" Bu Sintia berlalu pergi keluar dari kamar itu.


Kiana menyambar tas bahu miliknya yang ada di atas ranjang. Lalu dia mengikuti Bu Sintia yang sudah melangkah duluan.


Bu Sintia dan Kiana pergi dengan di antar oleh sopir. Saat ini mereka sudah berada di perjalanan. Sepanjang jalan mereka saling mengobrol.


"Akhirnya kita sampai juga," ucap Bu Sintia sambil menatap ke arah cafe  yang menjadi tempatnya arisan.


Baru juga keluar dari mobil, Bu Sintia di sapa oleh temannya yang juga baru datang.


"Wah jeng Sintia juga baru datang rupanya. Bagaimana kabarnya, Jeng? Maaf ya kemarin saya tidak datang ke pernikahan putranya. Saya juga ada acara sendiri sih anak saya Amira baru bertunangan," ucap Bu Dona.


"Kabar saya baik, Jeng. Tidak apa-apa kok, karena Jeng sendiri juga pasti sibuk."


Bu Dona dan Bu Sintia berjalan berdampingan memasuki cafe. Sedangkan Kiana mengikuti mereka dari belakang.


Bukan hanya Kiana saja satu-satunya yang ikut dengan para orang tua disana. Namun ada beberapa wanita seusianya yang juga ikut dengan ibu mereka yang menghadiri arisan itu.


"Jeng Fatma, saya salut loh sama anaknya yang sukses dari desainer di luar negeri. Bisa banget nih kalau temenan sama anak saya Amira. Dia juga pebisnis muda yang hebat loh," Bu Dona memuji anak dari temannya.


"Ah Jeng Dona bisa saja. Anak saya masih belajar kok, dia masih pemula." bagi Bu Fatma, pujian dari Bu Dona terlihat berlebihan.


"Ah Jeng Fatma suka merendah," kini Bu Dona  beralih menatap Bu Sintia yang duduk di depannya. "Kalau menantu Jeng sintia ini kerjanya apa? Apa dia pengusaha muda juga?" tanya Bu Dona.


"Menantu saya ini sudah berhenti bekerja. Saya sendiri yang memintanya untuk tidak lagi bekerja," jawabnya.


"Yah sayang sekali loh. Kebanyakan wanita muda jaman sekarang itu ya punya pekerjaan, jadi tidak cuma merepotkan suaminya," ucap Bu Dona.


Bagi Bu Sintia, ucapan Bu Dona itu sedikit keterlaluan. Secara tidak langsung Bu Dona mengatakan jika Kaina hanya menyusahkan.


"Saya tidak lagi bekerja karena mau fokus mengurus suami dan pekerjaan rumah. Bukankah suami akan betah jika istrinya mempunyai banyak waktu untuknya?" Kiana sama sekali tidak tersindir. Dia menanggapi ucapan Bu Dona dengan tenang.

__ADS_1


Bu Dona tak lagi berbicara, karena tak mau memancing keributan.


__ADS_2