Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.34


__ADS_3

Sudah hampir malam, namun Alan belum juga pulang dari kantor. Tidak biasanya Alan seperti ini. Apalagi sama sekali tidak memberikan kabar kepada Arini.


Bu Sintia menghampiri menantunya yang sedang berdiri di depan rumah menunggu kepulangan Alan.


"Kia, ayo masuk! Kamu jangan terlalu lama berdiri loh. Kamu juga belum makan malam. Ayo kita makan sama-sama!" Bu Sintia memegang satu tangan Kiana sambil mencoba membujuknya.


"Mamah duluan saja. Kia nanti saja nunggu Mas Alan pulang, Mah."


"Kia, jangan menyiksa dirimu seperti ini. Nanti kamu bisa sakit loh."


"Kia sehat kok, Mah. Mamah tenang saja," Kiana memegang tangan Bu Sintia seolah meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


Bu Sintia membiarkan Kiana berdiri di depan rumah sendirian. Kiana sangat keras kepala, percuma saja berulang kali berbicara pun tak mungkin di dengar. Apalagi ini menyangkut orang tercinta.


Hampir dua jam Kiana berdiri di depan rumah. Angin malam terasa dingin di kulitnya. Karena lelah berdiri, Kiana memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kiana langsung ke kamar untuk beristirahat. Karena dia merasa kepalanya terasa pusing.


Akhirnya yang sejak tadi di tunggu oleh Kiana datang juga. Alan yang baru pulang, dia mendekati ibunya yang sedang duduk sendirian.


"Ah capeknya," gumam Alan sambil mendudukkan diri di hadapan ibunya.


"Al, kok tumben kamu pulang malam?" Bu Sintia bertanya kepada anaknya.


"Iya nih, Mah. Di kantor lagi banyak kerjaan."


"Kamu tidak sedang menghindari istrimu kan?"


"Mamah bicara apa sih?" Alan mencoba menghindar dari pembicaraan ibunya.

__ADS_1


"Kasihan istrimu, Al. Bukan hanya kamu dan mamah yang sedih, namun istrimu pasti lebih sedih dari kita. Seorang ibu yang kehilangan anak itu pasti sangat terpuruk."


Alan terdiam, apa yang di katakan oleh ibunya memang benar. Namun entah mengapa dalam hatinya masih ada rasa kecewa.


"Alan butuh waktu, Mah. Alan mau ke kamar dulu," Alan hendak berlalu pergi, namun perkataan ibunya membuatnya menghentikan langkahnya.


"Istrimu belum makan malam. Sejak tadi dia menunggumu pulang. Kamu bawakan makan malam untuknya ke kamar, pasti dia akan senang."


"Nanti saja aku kembali lagi," setelah mengatakan itu Alan berlalu pergi menuju ke kamar.


Alan melihat istrinya yang sedang tidur. Dia duduk di pinggir ranjang, lalu menatap wajah istrinya.


"Kia, maafkan aku yang sengaja mendiamimu. Tapi aku masih merasa kecewa kepadamu," gumam Alan.


Alan hendak mengusap pipi istrinya, namun dia urungkan.


....


....


Kiana terbangun dari tidurnya. Dia tidak melihat suaminya di sampingnya. Kiana menatap ke sekitar, dia melihat suaminya sedang tidur di sofa. Ada rasa sakit di hatinya melihat suaminya yang tak mau tidur satu ranjang dengannya.


'Maafkan aku, Mas. Karena aku belum bisa menjadi sosok istri yang baik untukmu,' gumam Kiana dalam hati.


Kiana beranjak dari atas tempat tidur. Dia mencoba membangunkan suaminya.


"Mas, bangun! Kamu harus pergi kerja loh," Kiana mengusap perlahan pipi suaminya.

__ADS_1


Alan mengerjapkan ke dua matanya. Saat melihat istrinya berdiri di samping sofa, dia langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya tanpa berkata apa pun kepada istrinya.


"Mas," Kiana memanggil suaminya, namun Alan diam saja tanpa berkata apa pun.


Kiana tak ingin di posisi seperti ini.


Cukup lama Kiana berdiri di dekat suaminya, namun suaminya masih diam tak mau bicara.


"Maaf jika aku mengganggu," setelah mengatakan itu Kiana berlalu pergi keluar dari kamar. Raganya memang dekat dengan suaminya, namun hatinya terasa hampa. Sikap suaminya sangat berbeda dari sebelumnya.


Kiana berada di taman belakang sendirian. Langit terlihat masih gelap, karena memang baru pukul lima pagi. Kiana menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya. Menahan sesak yang dia rasakan. Air mata perlahan menetes di pipinya. Kiana menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang menimpa rumah tangganya.


Tiba-tiba dia merasakan hidungnya perih dan terlihat mengeluarkan sesuatu. Kiana membuka telapak tangannya dan melihat ada darah. Seketika dia panik, karena sebelumnya tak pernah seperti itu. Namun tak lama dia mencoba mengabaikannya. Darah yang keluar dari hidungnya, itu tak sesakit perasaannya saat ini.


"Mas, maafkan aku." Kiana kembali terisak.


Setelah merasa lega, Kiana baru kembali masuk ke rumah.


Kiana berpapasan dengan Bu Sintia yang hendak ke dapur.


"Kia, dari mana sepagi ini? Apa dari taman belakang?"


"Iya, Mah. Tadi aku ingin menikmati udara pagi yang masih segar," jawabnya.


"Ya sudah sekarang kamu kembali saja ke kamar istirahat. Sepertinya kamu juga sedang tidak enak badan," Bu Rosma memperhatikan raut wajah Kiana yang terlihat pucat.


Kiana menurut, lagian dia merasa jika sedikit pusing.

__ADS_1


__ADS_2