
Hubungan Kiana dan Alan semakin hari semakin harmonis. Apalagi sekarang kandungan Kiana sudah semakin membesar. Bahkan dalam hitungan hari lagi Kiana akan melahirkan.
Kiana mengantar suaminya yang akan berangkat ke kantor.
''Mas, semangat ya kerjanya. Awas loh kalau kamu melirik wanita lain,'' ucap Kiana sambil mencium ke dua pipi suaminya secara bergantian.
''Tidak ada wanita lain yang lebih cantik dari kamu, sayang. Kamu tenang saja, karena suamimu ini akan selalu setia.''
''Iya aku percaya, Mas.''
Kiana menatap suaminya hingga masuk ke dalam mobil, setelah mobil suaminya keluar dari gerbang rumahnya, barulah dia kembali masuk ke dalam rumah.
Kiana hendak mendekati Bu Sintia yang sedang berkutat di dapur. Kebetulan Bu Sintia sedang membuat kue kesukaan Kiana.
''Mah, aku ... '' tiba-tiba Kiana merasa perutnya terasa sakit. ''Aduh kenapa sakit sekali?'' rintihnya.
Bu Sintia menoleh ke sumber suara. Terkejut saat melihat menantunya sedang mengaduh sakit sambil memegangi perut.
''Kia, sepertinya kamu mau melahirkan, Nak. Ayo kita segera ke rumah sakit!'' Bu Sintia membantu memapah Kiana sambil berteriak memanggil pembantu dan sopirnya.
Terlihat pembantu dan sopirnya datang menghampirinya. Bu Sinta meminta pembantunya untuk menyiapkan keperluan Kiana, sedangkan sopirnya di minta untuk memanaskan mobil. Karena mereka akan segera pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan, Bu Sintia menelepon Alan dan memintanya untuk datang ke rumah sakit. Tentu Alan terkejut saat ibunya memberitahu bahwa Kiana akan melahirkan. Beberapa menit yang lalu juga Alan melihat istrinya terlihat masih baik-baik saja, tidak mengalami keluhan.
Akhirnya Kiana dan Bu Sintia sampai juga di rumah sakit. Bu Sintia memapah Kiana turun dari mobil hingga memasuki rumah sakit. Bahkan Kiana di pesankan pelayanan VVIP di rumah sakit itu agar cepat di tangani oleh dokter.
Tak lama, Alan telah sampai di rumah sakit. Dia menelepon ibunya dan bertanya dimana keberadaan istrinya.
Alan menghampiri ibunya yang sedang duduk di depan ruang persalinan.
''Mamah, bagaimana keadaan istriku?'' Alan terlihat begitu panik. Dia mengkhawatirkan istri dan anaknya.
''Istrimu ada di dalam akan di tangani oleh dokter,'' ucap Bu Sintia.
Terlihat pintu ruang persalinan terbuka. Seorang dokter mendekati Bu Sintia dan Alan.
''Maaf, dengan suami pasien?β Katanya Bu Kiana ingin di temani oleh suaminya,'' ucap dokter.
''Saya suaminya, Dok.''
''Mari ikut saya, Pak!''
Alan mengikuti dokter memasuki ruang persalinan. Alan mendekati istrinya yang sudah bersiap untuk melahirkan.
Alan melihat betapa besarnya perjuangan Kiana untuk melahirkan anaknya. Dia terus menggenggam satu tangan istrinya. Bahkan saat kuku-kuku istrinya menancap di tangannya, dia berusaha untuk menahan rasa perih itu, yang tak sebanding dengan rasa sakit istrinya.
Oek oek
Terdengar tangisan bayi yang begitu nyaring. Alan bernapas lega karena kini anaknya telah lahir.
''Selamat Bu Kiana, Pak Alan, anaknya laki-laki. Sebentar, anak ini biar di bersihkan dulu,'' ucap dokter lalu memberikan bayi mungil itu kepada asistennya yang tak lain seorang bidan.
Beberapa kali Alan mendaratkan ciumannya di kening istrinya.
''Terima kasih, sayang. Kamu sudah menjadi istri yang sempurna. Mas janji akan selalu menyayangimu dan anak kita.''
''Sama-sama, Mas. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri, yaitu memberikan keturunan.''
__ADS_1
Setelah bayi mungil itu di bersihkan, kini Alan mulai mengazankan anaknya. Kiana tersenyum melihat suaminya yang sedang mengazankan anaknya.
''Maaf, Pak. Anaknya kami bawa ke ruang bayi dulu,'' ucap sang asisten dokter kepada Alan.
''Iya,'' Alan memberikan anaknya kepada asisten dokter, lalu segera dibawa keluar dari ruangan itu. Begitu juga dengan Kiana yang akan di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
Setelah Alan mengantar istrinya, dia dan Bu Sintia pergi ke ruang bayi melihat keberadaan anaknya.
Alan melihat ranjang tempat anaknya sudah kosong. Sedangkan keranjang bayi lain ada bayi masing-masing.
''Mah, kok anakku tidak ada?'' Alan bertanya kepada ibunya.
''Benar juga, Al. Kemana ya?''
''Biar Alan tanya perawat, Mah.'' Alan melihat perawat yang baru memasuki ruang bayi, lalu dia langsung bertanya.
''Maaf, Sus. Apa suster melihat bayi yang ada disini? Kenapa anak saya tidak ada ya?'' tanya Alan.
''Tadi ada kok, Pak. Saya cuma tinggal sepuluh menit ke toilet saja tadi.''
''Tapi ini tidak ada, Sus? Bagaimana mungkin anak saya bisa hilang?'' Alan terlihat panik sekaligus emosi. Bisa-bisanya anaknya hilang di rumah sakit. Padahal rumah sakit itu sudah terkenal baik dalam pelayanan dan keamanan.
''Sebaiknya kita cek CCTV rumah sakit, Pak. Mari ikut saya!'' ajaknya.
''Itu lebih baik, semoga saja ada jejak kepergian anak saya,'' Alan mengikuti perawat itu, begitu juga dengan ibunya.
Sesampainya di ruang CCTV, mereka mulai melihat tayangan CCCTV di ruang bayi. Alan dan Bu Sintia melihat ada seorang wanita yang mengambil bayi itu. Mereka familiar dengan sosok wanita itu yang tak lain adalah Risa.
''Jadi Risa yang sudah menculik anakku?'' Alan mengepalkan tangannya.
''Pak, boleh saya minta salinan rekaman yang ini? Saya akan melaporkannya ke pihak berwajib,'' Bu Sintia bertanya kepada petugas pengawas CCTV.
Setelah menyalin rekaman CCTV, kini Alan langsung bertindak cepat melaporkan penculikan anaknya ke polisi. Sekaligus dia juga akan mencari sendiri keberadaan Risa. Sedangkan Bu Sintia pergi ke ruang inap Kiana untuk menemaninya.
...
...
Kiana merengek ingin bertemu dengan anaknya. Dia juga bertanya keberadaan suaminya, namun Bu Sintia tak memberitahukannya.
''Kia, kamu istirahat dulu ya, nanti saja kita lihat anakmu,'' Bu Sintia mencoba menunda waktu hingga mendapat kabar dari Alan tentang cucunya yang di culik.
''Tapi Kia merasakan firasat buruk, Mah. Kia takut jika anak Kia kenapa-napa,'' naluri seorang ibu tak bisa di bohongi. Walaupun Kiana belum tahu anaknya di culik, namun dia tahu jika ada sesuatu yang terjadi kepada anaknya.
''Anak kamu baik-baik saja kok, Nak. Kamu tenang saja ya. Em mamah mau ke toilet dulu ya,'' Bu Sintia berlalu pergi ke toilet yang ada di ruangan itu.
Kiana melihat ponsel milik Bu Sintia berdering. Dia melihat ponsel itu yang ada di atas meja. Ternyata Alan yang menghubunginya.
''Kok Mas Alan telepon mamah, bukannya telepon aku,'' gumam Kiana. Lalu dia mengangkat panggilan telepon itu.
π''Hallo, Mah. Risa sudah di tangkap polisi dan aku sudah menemukan anakku yang di culik olehnya. Sekarang aku sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit,'' ucap Alan.
π''Apa? Anakku di culik?'' Kiana terkejut.
Begitu juga dengan Alan yang terkejut karena yang mengangkat telepon darinya ternyata istrinya, bukan ibunya. Apa yang dia tutupi dari istrinya akhirnya ketahuan juga.
π''Sayang, kok kamu yang angkat telepon mamah?''
__ADS_1
π''Mas, kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku kalau anak kita di culik?''
πMaaf, sayang. Mas tidak mau kalau kamu sedih, jadi Mas tidak bilang sama kamu. Tapi kamu tenang saja, sekarang Mas sedang di perjalanan pulang bersama dengan perawat yang mendampingi anak kita.''
π''Tapi anak kita tidak apa-apa kan?''
''πAnak kita baik-baik saja, sayang. Risa belum sempat melakukan apa pun kepadanya.''
πSyukurlah kalau baik-baik saja. Mas cepat ya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu anak kita.''
π''Iya, sayang. Ini juga Mas sudah dekat rumah sakit. Kamu yang sabar ya.''
Kini ke duanya sudah selesai dengan panggilan telepon mereka.
Bu Sintia yang baru keluar dari toilet, melihat Kiana yang sedang memegang ponselnya.
''Kia, apa tadi ada yang menghubungi mamah?''
''Ada, Mah. Tadi Mas Alan menelepon dan mengatakan jika saat ini sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit dengan membawa anak kita yang di culik''
''Jadi anak kalian selamat, Nak? mamah senang mendengarnya.''
''Iya, Mah.''
Tak lama Alan sampai juga di rumah sakit. Dia membawa anaknya ke ruang inap istrinya. Anaknya akan di tempatkan di ruangan yang sama dengan istrinya, karena takutnya ada yang berniat jahat lagi.
Kiana beberapa kali menciumi bayi mungilnya yang sangat tampan.
''Mas, terima kasih ya karena kamu sudah menyelamatkan anak kita,'' ucap Kiana sambil menatap suaminya.
''Iya, sayang. Itu sudah kewajiban Mas.''
''Kita mau kasih nama siapa untuk anak kita?'' tanya Kiana.
''Terserah kamu saja, sayang.''
''Bagaimana jika kita kasih nama Arjuna Langit Pradipta,'' ucap Kiana memberikan usulnya.
''Mas setuju, sayang. Itu nama yang bagus.''
Terlihat Bu Sintia mendekati mereka dengan membawa kamera.
''Al, Kia, kalian foto bertiga deh. Biar mamah yang memfoto kalian,'' ucapnya sambil mengarahkan kamera kepada anak, menantu, dan cucunya.
''Siap, Mah.'' Alan memposisikan diri agar lebih dekat dengan anak dan istrinya.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil Alan. Keberadaan Arjuna membuat keluarga mereka terlihat lebih menghangat dan harmonis.
..
..
TAMAT
..
..
__ADS_1
Jangan lupa baca novel saya yang berjudul Air Mata Istri Ke Dua.