
Setelah beberapa hari berada di Tokyo, akhirnya kini Kiana dan Alan sudah pulang ke Indonesia. Bu Sintia merasa senang melihat anak dan menantunya yang kini sudah kembali. Itu berarti rumah tidak akan sepi lagi.
''Akhirnya kalian pulang juga. Bagaimana liburan kalian?'' Bu Sintia bertanya sambil menatap ke duanya.
''Kami sangat menikmati liburan kami disana, Mah.'' jawab Alan.
''Syukurlah, mamah senang mendengarnya. Ayo kita masuk! Sepertinya kalian kelelahan dan butuh istirahat,'' ucap Bu Sintia.
Alan dan Kiana berpamitan kepada Bu Sintia bahwa mereka akan istirahat di kamar, karena cape baru sampai. Bu Sintia sama sekali tak melarang mereka. Walaupun sebenarnya penasaran dan ingin bertanya-tanya tentang liburan mereka, namun itu bisa di tanyakan nanti.
Alan melihat istrinya yang sedang melepaskan baju yang di kenakannya.
"Sayang, kenapa kamu lepas baju? Apa kita akan .... " Alan menghampiri istrinya, memeluknya dari belakang.
"Mas Alan jangan berpikir macam-macam deh. Kia lepas baju itu karena gerah. Jadi lepasin pelukannya, gerah loh." Kiana melepaskan tangan suaminya yang memeluknya.
"Yah kirain kita mau melalukan itu, sayang."
Kiana menggeleng kepala heran dengan suaminya. Baru juga pulang dan masih lelah, tapi sudah memikirkan hal intim.
"Lebih baik Mas Alan mandi duluan deh, nanti gantian sama aku. Aku mau membereskan barang bawaan kita dulu," ucap Kiana.
"Baik, sayang." Ucapnya dengan lesu. Padahal malas sekali mandi karena baru sampai dan masih cape, namun dia tak mungkin menolak perintah istrinya. Yang ada istrinya pasti akan terus mengoceh.
Alan yang baru selesai mandi, dia melihat istrinya yang sedang berbaring di sofa. Saat dia menghampiri, ternyata istrinya itu sedang tidur.
"Astaga, kok bisa ya tidur di saat belum mandi gitu," gumam Alan sambil memperhatikan istrinya.
__ADS_1
Alan menggendong istrinya lalu merebahkannya ke atas tempat tidur.
Setelah berganti pakaian, Alan keliar dari kamar. Dia menghampiri ibunya yang sedang duduk bersantai sendirian.
"Mah, sedang ngapain?" Alan mendudukkan diri di depan ibunya.
"Lagi kirim pesan sama teman sosialita mamah nih. Oh iya, istrimu dimana?" tanya Bu Sintia.
"Ada di kamar sedang tidur," jawabnya.
"Pantas saja kamu kesini, pasti karena kamu kesepian di kamar tidak ada teman mengobrol.''
''Ya begitulah.''
Bu Sintia mulai bertanya-tanya liburan anaknya di Jepang. Alan menceritakan semuanya, jika dia dan Kiana sangat senang, bahkan jika saja tidak harus bekerja, sebenarnya dia enggan untuk pulang.
....
....
"Pak, saya sudah menyeleksi beberapa calon sekretaris baru untuk bapak. Dari beberapa yang mendaftar, saya sudah memilih satu yang memang lebih berpengalaman dari yang lainnya," ucap Roy.
"Ajak kesini! Saya ingin bertemu dengannya," ucap Alan.
"Baik, pak." jawabnya.
Tak lama Roy pun sudah kembali bersama seorang wanita muda yang terlihat seumuran dengan Alan.
__ADS_1
"Pak, ini Risa sekretaris baru bapak," ucap Roy.
Alan menatap Risa dari atas sampai ke bawah. Sepertinya dia pernah bertemu, tapi entah dimana.
"Perkenalkan saya Risa. Apa Pak Alan masih ingat saya?" tanya Risa.
"Saya tidak ingat, tapi sepertinya wajah kamu familiar,'' ucap Alan sambil menatap Risa.
Risa tersenyum kepada Alan lalu berucap, ''Dulu kita pernah magang bareng di perusahaan Star Kencana,'' ucap Risa.
''OH iya saya ingat, kamu itu dulu salah satu mahasiswi terbaik di kampusmu kan ya?''
''Benar, Pak.'' jawabnya.
Alan menyuruh Risa untuk duduk. Sedangkan Rio langsung keluar dari ruangan itu
Alan dan Risa saling mengobrol. Alan rasa kalau Risa itu sangat cocok menjadi sekretarisnya. Apalagi dulu Risa merupakan mahasiswi paling pintar.
''Ris, mari saya antar ke ruangan kamu,'' Alan langsung beranjak dari duduknya.
''Baik, Pak.'' jawabnya.
Risa mengikuti Alan keluar dari ruangan itu. Mereka pergi ke ruangan sebelah yang merupakan ruangan baru Risa.
Setelah mengantar Risa, kini Alan kembali ke ruangannya.
Alan mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Dia mengirimkan pesan kepada istrinya, mengingatkan jika nanti siang jangan sampai lupa dengan janji mereka. Alan memang mengajak istrinya pergi ke restoran untuk makan siang bersama. Tentu Kiana menerima tawaran itu.
__ADS_1
Alan tersenyum menatap layar ponselnya setelah selesai menelepon istrinya. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Walaupun setiap hari bertemu, namun entah kenapa setiap hari perasaannya kepada istrinya semakin bertambah.