
Sebenarnya Kiana masih ingin berada di London dan bekerja disana. Namun jika dia terus disana, takutnya membuat Leo tak bisa melupakannya. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Kiana baru sampai di bandara dengan di antar oleh Leo. Sekarang dia akan kembali ke ibukota untuk meneruskan kehidupannya.
''Kia, semoga kamu selamat sampai tujuan. Jangan lupa ya nanti kalau sampai kamu hubungi aku. Titip salam juga untuk Pak Alan. Kamu harus janji loh sesampainya kamu nanti, kamu temui Pak Alan dan bilang kalau kamu sedang hamil.''
Sebenarnya Kiana ingin menyembunyikan kehamilannya sementara. Namun permintaan Leo tak mungkin dia abaikan. Karena Leo sudah begitu baik kepadanya. Bahkan Leo juga melepaskannya agar dia bisa kembali dengan Alan.
''Kamu tenang saja,'' ucap Kiana lalu dia memeluk Leo sebagai tanda perpisahan.
Setelah melihat Kiana masuk ke pesawat, barulah Leo pergi dari bandara.
Kiana memilih tidur di dalam perjalanan. Karena dia merasa mual jadi di paksakan untuk tidur. Apalagi kepalanya terasa begitu pusing.
Hanya dua jam Kiana tidur. Saat terbangun, rasa mual kembali menyerangnya. Kiana pergi ke toilet pesawat untuk memuntahkan isi perutnya. Saat keluar dari toilet, Kiana hampir saja terjatuh karena kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Namun untung saja ada seseorang yang menopang tubuhnya sehingga dia tak jadi jatuh.
''Mas Alan? Kenapa bisa ada disini?''
''Aku sengaja menjemputmu, Kia. Hanya saja aku mengawasimu dari jauh karena takutnya kamu menolak keberadaanku. Ayo biar aku bantu! Sepertinya kamu sedang sakit,'' Alan memapah Kiana hingga sampai di tempat duduknya.
Alan berpindah duduk di samping Kiana untuk menjaganya. Jujur saja dia merasa khawatir melihatnya hampir terjatuh seperti tadi.
Sungguh aneh, rasa mual yang Kiana rasakan mendadak hilang saat berada di samping Alan. Bahkan dia juga bersandar di bahu Alan.
Alan mendaratkan tangannya di pucuk kepala Kiana dan perlahan mengusapnya. Kiana merasa sangat nyaman. Dia membiarkan Alan mengusap pucuk kepalanya.
...
__ADS_1
...
Kiana dan Alan sudah sampai di bandara yang ada di ibukota. Mereka berjalan berdampingan keluar dari bandara. Kebetulan sopir Alan sudah menunggunya di depan.
Alan mengajak Kiana pulang bersamanya. Lagian mereka masih sah suami istri. Alan belum tahu jika Kiana sedang hamil, karena tidak ada yang memberitahunya. Sebelumnya Alan di beritahu oleh Leo jika Kiana akan pulang. Leo tidak mengatakan apa pun lagi.
Di dalam mobil, Kiana menyenderkan kepalanya di bahu Alan. Entah mengapa hanya itu yang bisa membuatnya tak merasa mual lagi.
Alan menatap ke samping, melihat istrinya yang sedang tidur. Sepertinya istrinya kelelahan setelah perjalanan panjang tadi.
"Sayang, kita sudah sampai nih," Alan menepuk pelan bahu istrinya mencoba membangunkannya.
"Emm .... "Kiana membuka ke dua matanya. Menatap ke sekitar, ternyata mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Ayo kita turun! Atau kamu mau Mas gendong?"
Mereka berdua membuka pintu mobil lalu keluar. Kiana hendak mengambil koper miliknya, namun Alan melarang. Alan sendiri yang membawakan koper istrinya. Dia tidak mau jika istrinya kelelahan.
Bu Sintia terlihat senang melihat kedatangan anak dan menantunya. Memang firasat seorang ibu itu selalu benar. Bu Sintia sebelumnya mempunyai firasat jika menantunya akan kembali ke pelukan Alan.
"Wah Kiana, akhirnya kamu pulang juga, Nak. Mamah kangen sama kamu," Bu Sintia mendekati Kiana lalu memeluknya.
"Kia juga kangen sama Mamah," ucap Kiana yang berada di dalam pelukan Bu Sintia.
"Kamu jangan pergi lagi ya, Nak. Jika Alan nakal, kamu tinggal bilang saja. Nanti mamah yang akan kasih dia pelajaran," ucap Bu Sintia sambil menatap tajam ke arah anaknya.
"Mamah apa-apaan sih, masa tega sama anak sendiri," ucap Alan.
__ADS_1
"Lagian kamu juga tega karena sudah mendiami menantu kesayangan mamah."
"Mah, Mas, ada yang ingin Kiana katakan," ucap Kiana sambil menatap ke duanya. Dari tatapan matanya terlihat serius sekali.
"Kamu mau bicara apa, sayang?" tanya Alan.
"Aku hamil," ucapnya.
Ucapan Kiana membuat Alan dan Bu Sintia terkejut. Sungguh ini yang di nanti-nanti oleh mereka.
"Kamu serius, Nak?" tanya Bu Sintia memastikan.
Kiana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Itu anak siapa?" tanya Alan.
Kiana dan Bu Sintia menatap Alan dengan tajam karena beraninya Alan melontarkan perkataan seperti itu.
Plak
Satu pukulan mendarat di bahu Alan. Bu Sintia sengaja memukulnya pelan.
"Anak kamu lah, memangnya anak siapa lagi? Kalau bukan anakmu, Kiana juga tidak bakal pulang kesini lagi," ujar Bu Sintia.
"Nah benar tuh, Mas. Kan cuma kamu yang melakukan itu kepadaku," sahut Kiana.
Alan mendekati Kiana lalu menciumi wajahnya. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa. Akhirnya istrinya memberikannya keturunan.
__ADS_1