
Alan baru sampai di kantornya. Saat melewati ruangan Risa, tak sengaja dia mendengar suara Risa. Kebetulan pintu ruangan Risa tidak tertutup rapat.
''Untung saja Alan tidak sadar jika aku sudah mengangkat panggilan telepon dari istrinya,'' ucap Risa.
Alan mengepalkan satu tangannya. Sekarang dia tahu siapa yang sudah membuat istrinya marah kepadanya.
''Oh jadi kamu yang sudah mengangkat panggilan dari istri saya. Kenapa kamu lancang memegang ponsel saya? Jika kamu tahu ada telepon, seharusnya kamu beritahu saya, bukan malah mengangkatnya. Gara-gara ulahmu itu membuat Kiana istri saya marah,'' tatapan mata Alan tertuju kepada Risa.
Tentu Risa terkejut saat melihat Alan mendengar ucapannya. Dia melihat raut wajah Alan yang terlihat tak biasa.
''Maaf, saya tidak sengaja,'' Risa menundukkan pandangannya. Dia tak berani menatap Alan yang terlihat kecewa kepadanya.
Alan memijat keningnya yang tak sakit. Dia tak menyangka jika Risa seperti itu.
''Baiklah, saya kasih satu kesempatan lagi untuk kamu. Jika kamu berani berbuat seperti itu lagi, saya tidak akan kasih ampun. Apalagi jika sudah menyangkut perasaan istri saya,'' ucap Alan.
''Baik, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,'' ucapnya menyesal.
Alan tak berkata apa-apa lagi kepada Risa. Dia memilih pergi dari sana.
Alan yang sudah berada di ruangannya, dia sedikit galau. Sampai saat ini istrinya masih mendiaminya. Alan tersiksa dengan sikap istrinya itu. Dia tidak sanggup jika berlama-lama di diami istrinya seperti itu.
''Lebih baik aku telepon mamah,'' Alan mengambil ponsel miliknya dari tas kerjanya lalu menghubungi nomor ibunya.
Tak lama, ibunya mengangkat panggilan itu. Alan meminta solusi kepada ibunya untuk membuat Kiana tak lagi marah kepadanya. Alan menyunggingkan senyumnya saat mendengarkan ide yang di usulkan oleh ibunya. Dia juga meminta tolong kepada ibunya agar membantunya menjalankan ide itu.
''Semoga rencana ini berhasil,'' gumam Alan.
__ADS_1
...
...
Alan sedang berada di perjalanan pulang. Dia sengaja pulang lebih awal karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercinta.
"Sebaiknya aku telepon Kiana dulu, untuk memberitahukannya jika saat ini aku sedang berada di perjalanan pulang," gumam Alan.
Alan senang karena istrinya mau mengangkat panggilan teleponnya. Tidak seperti kemarin-kemarin, istrinya selalu mengabaikan panggilan darinya.
📞"Sayang, akhirnya kamu mau mengangkat panggilan dariku. Aku saat ini sedang berada di perjalanan pulang loh. Sayang aaaaaaa .... " Alan berteriak cukup keras.
Kiana yang mendengar teriakan suaminya. Dia juga mendengar seperti suara benda bertabrakan.
📞"Mas, kamu kenapa?" Kiana terlihat panik. Beberapa kali dia memanggil suaminya, namun tidak ada sahutan.
📞"Maaf, pemilik ponsel ini tak sadarkan diri," ucap lelaki itu.
📞"Ini siapa ya? Ada apa dengan suami saya?"
📞"Suami Anda mengalami kecelakaan, dan saat ini akan di larikan ke rumah sakit pelita," ucap seseorang di seberang sana.
📞"Tolong bawa suami saya dengan cepat. Saya akan segera menyusul."
Kini Kiana sudah mematikan ponselnya. Kiana mencari keberadaan Bu Sintia dan mengatakan jika Alan mengalami kecelakaan dan saat ini sedang di larikan menuju ke rumah sakit pelita. Bu Sintia pun tak kalah paniknya seperti Kiana.
Mereka berdua segera bersiap dan bergegas pergi menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang jalan Kiana terlihat khawatir. Bahkan dia meminta sopirnya untuk menambah kecepatan saat mengemudi.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Mereka pergi ke bagian pendaftaran dan bertanya keberadaan pasien bernama Alan korban tabrak lagi. Setelah tahu ruangan Alan, kini mereka bergegas pergi kesana.
Mereka sudah sampai di depan ruang UGD. Namun pintu itu tertutup rapat. Tak lama ada seorang dokter yang keluar dari ruangan itu.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Kiana.
"Maaf, suami Anda tidak bisa .... " belum juga dokter selesai menjawab, namun Kiana sudah menerobos masuk begitu saja.
Bu Sintia meminta maaf kepada dokter atas sikap Kiana tadi.
Kiana melihat seseorang yang di tutupi oleh kain putih. Perlahan dia membuka kain putih itu, dan ternyata itu suaminya.
"Mas, kenapa kamu tinggalkan aku secepat ini? Kamu tega sama aku. Aku tidak tahu lagi bagaimana menjalani hari-hariku tanpamu, Mas." Kiana terisak sambil memeluk suaminya. Dia terus mengatakan apa pun yang ingin dia katakan.
"Mas, aku mencintaimu. Maafkan aku karena beberapa hari ini mendiamimu. Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepadamu karena aku kesal. Tapi kenapa kamu harus pergi," Kiana masih terisak sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Alan tersenyum mendengar ungkapan cinta dari istrinya. Perlahan dia mendaratkan tangannya di kepala istrinya dan mengusapnya pelan.
Spontan Kiana mengangkat kepalanya. Dia menatap suaminya yang sedang tersenyum menatapnya.
"Mas Alan masih hidup? Apa maksud semua ini? Mas Alan membohongiku?"
"Maaf, sayang. Mas hanya ingin kamu cepat memaafkan Mas, jadi Mas melakukan ini. Kamu jangan marah lagi ya, jangan mendiami Mas seperti kemarin-kemarin."
Kiana langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Iya, maafkan aku juga yang terlalu kekanakan. Aku sayang sama Mas Alan, aku tidak mau kehilangan Mas Alan."