Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.32


__ADS_3

Bu Sintia menghampiri Alan yang sedang duduk sendirian. Namun ada yang aneh, tidak biasanya Alan memakai pakaian dengan warna pink. Hari ini pink tua, sedangkan kemarin pink muda. Bu Sintia merasa jika ada yang aneh dengan Alan.


''Al, kok kamu jadi suka warna pink? Tidak seperti Alan yang mamah tahu,'' Bu Sintia berucap sambil memperhatikan anaknya.


''Alan tidak suka, Mah. Tapi ini kemauan Kiana. Jadi Alan harus menurut dengannya,'' jawab Alan.


''Aneh ya istrimu, perasaan biasanya dia tidak pernah memintamu berpakaian warna pink seperti ini.''


“Nah itu, Mah. Alan juga merasa ada yang aneh sama dia. Apalagi kemarin dia minta di belikan buah-buahan. Akhir-akhir ini dia jadi suka makan buah.''


''Eh mamah juga baru ingat, kemarin sore ,lihat istrimu makan rujak. Jangan-jangan istrimu itu sedang hamil, Al.''


''Masa sih? Kok Kiana tidak bicara apa pun sama Alan?''


''Coba deh kamu tanya sama dia. Atau mungkin dia juga belum menyadari jika dirinya sedang hamil.''


''Iya deh nanti Alan coba tanya, Mah.''


Alan sangat berharap jika istrinya itu memang hamil. Karena dengan begitu maka pernikahan mereka akan sempurna.


Terlihat Kiana menghampiri suami dan mertuanya.


"Ekhem," Kiana berdehem sehingga mereka berdua mengalihkan arah pandangnya.


"Sini, Nak! Kita mengobrol bersama," ucap Bu Sintia dengan ramah.


"Sepertinya mamah sama Mas Alan sedang bicara serius?"

__ADS_1


"Tidak kok, Nak."


"Mas, apa kamu tidak lupa membelikan pesananku?" Kiana bertanya kepada suaminya.


"Oh iya itu ada di mobil, sayang. Sebentar ya biar Mas ambilkan," Alan hendak beranjak dari duduknya namun Kiana mencegahnya.


"Tidak perlu! Biar aku ambil sendiri."


Alan memberikan kunci mobilnya kepada istrinya. Dia juga mengatakan jika pesanan istrinya itu ada di jok depan.


Kiana membuka pintu mobil suaminya. Dia melihat ada bingkisan yang di kira pasti itu adalah pesanannya. Ke dua matanya berbinar karena terlalu senang. Saat hendak menutup pintu mobil, tak sengaja Kiana melihat sesuatu di bawah.


"Apa itu? Kenapa terlihat seperti anting-anting?" Kiana membungkukkan sedikit badannya, lalu mengambil anting-anting namun hanya sebelah. Sejenak Kiana memperhatikan anting-anting itu. Dia sama sekali tidak mengenalnya, karena itu bukan miliknya. Pikiran negatif mulai memenuhi pikirannya. Kiana takut jika ternyata suaminya memiliki wanita lain di belakangnya.


Dengan perasaan kesal, Kiana kembali memasuki rumah. Dia menghampiri suami dan mertuanya yang masih duduk di ruang keluarga. Namun Kiana harus sedikit bersabar. Tidak mungkin dia menanyakan tentang anting-anting itu di hadapan mertuanya.


''Sama-sama, sayang. Itu juga sudah kewajiban Mas untuk menuruti apa yang kamu mau,'' jawabnya.


''Em Kia ke kamar dulu ya,'' setelah mengatakan itu, Kiana berlalu pergi dari sana.


Rasa kesal dan kecewa terpaksa dia tahan. Nanti saja jika suaminya ke kamar, baru akan dia tanyakan.


Tak lama setelah kepergiannya, kini Alan pun pergi ke kamar. Alan melihat istrinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara televisi. Lalu tatapannya beralih ke bingkisan yang tergeletak di atas meja.


''Sayang, itu kok pesanan kamu masih tergeletak saja disitu? Tadi kamu terlihat tidak sabaran gitu, tapi kok sekarang kamu anggurin? Kenapa tidak kamu makan, sayang?''


''Sudah tidak berselera,'' jawabnya ketus.

__ADS_1


Alan memperhatikan istrinya. Sepertinya ada sesuatu yang membuat suasana hatinya kurang baik sehingga istrinya tiba-tiba tak menyentuh sama sekali bingkisan yang ada di atas meja.


''Mas mandi dulu ya, em nanti kamu ambilkan pakaian ganti untuk Mas,'' pinta Alan.


Kiana tak menjawab, dia hanya fokus menatap layar televisi saja. Alan melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Setelah itu dia berlalu pergi menuju ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, kini Alan sudah selesai mandi. Dia yang baru keluar dari kamar mandi, tak melihat pakaian ganti untuknya. Istrinya masih saja fokus menonton televisi. Tidak biasanya istrinya seperti ini.


''Sayang, kenapa kamu belum ambilkan pakaian ganti untukku? Apa kamu lupa?''


''Suruh saja wanita itu yang mengambilkan,'' ucap Kiana ketus.


''Wanita siapa?'' tanya Alan.


''Tidak usah pura-pura tidak tahu. Aku tahu kok kalau Mas Alan berduaan dengan wanita lain di dalam mobil. Aku tidak menyangka Mas Alan bisa setega itu denganku?''


''Sayang, apa maksud perkataanmu? Mas tidak seperti yang kamu tuduhkan.''


Kiana memperlihatkan anting-anting yang tadi dia lihat di mobil suaminya.


''Ini milik siapa? Jelas-jelas tadi aku menemukan anting-anting ini di mobil Mas Alan,'' ucap Kiana.


Alan memperhatikan anting-anting yang di pegang oleh istrinya. Baginya itu tidak asing, namun dia lupa itu anting-anting milik siapa. Hari ini dia mengajak dua orang wanita naik mobil bersamanya, yang satu Risa sang sekretaris, dan yang satunya lagi klien-nya. Mungkin anting-anting itu milik salah satu dari mereka.


''Sayang, biar Mas jelasin,'' Alan mau menjelaskan, namun istrinya malah menutup telinga seolah tak ingin mendengar penjelasannya. Sebenarnya Kiana hanya takut jika nanti penjelasan suaminya malah membuat hatinya jadi terluka, jadi lebih baik tak usah menjelaskan.


Alan membiarkan istrinya merasa tenang. Biar nanti saja dia jelaskan semuanya jika suasana hati istrinya sudah lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2