Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.39


__ADS_3

Alan dan Risa sudah sampai di London. Mereka menginap di salah satu hotel terkenal disana. Kebetulan kamar mereka bersebelahan.


Tok tok


Alan yang sedang duduk bersantai, dia mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dia bergegas membukakan pintu. Alan menatap heran Risa yang sedang berdiri di depan kamar dengan memakai pakaian sexy.


''Ris, kamu mau kemana?'' tanya Alan.


''Saya mau ajak Pak Alan keluar,'' ucapnya.


''Kamu yakin mau pakai pakaian seperti itu?''


''Iya, Pak. Saya harus menyesuaikan diri sesuai kebiasaan orang-orang disini yang memakai pakaian seperti ini jika musim panas.


Alan tak peduli dengan Risa yang mau berpakaian seperti .apa. Yang terpenting Risa tidak mengusik ketenangannya selama mereka berada disana.


''Baiklah, hari ini kita berjalan-jalan. Kamu temani saya belanja,'' ucap Alan.


''Baik, Pak.''


Di hari pertama, Alan ingin belanja pakaian atau pun barang lainnya untuk dibawa pulang. Sedangkan pertemuan dengan rekan bisnisnya di hari esok, jadi sekarang masih bisa bersantai menikmati suasana kota London.


Dengan menaiki mobil sewaannya, kini Alan sudah sampai di depan butik. Dia pergi memasuki butik itu, sedangkan Risa mengikutinya dari belakang.


Alan memilik beberapa pakaian untuk ibunya. Sekarang giliran mencari pakaian yang cocok untuk Kiana.


Alan terlihat bingung antara dua pilihan. Dres berwarna merah maroon dan dusty pink. Alan menatap Risa yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Ris, menurut kamu ini bagusan yang mana?" Alan meminta pendapat kepada Risa. Sebagai wanita mungkin Risa tahu selera warna dari kebanyakan wanita.


"Menurut saya bagusan yang warna maroon ini, Pak."


Akhirnya Alan memilih dres dengan warna yang di pilihkan oleh Risa. Bukan hanya satu dres saja, namun Risa membantunya memilihkan beberapa dres.


Alex sudah membayar semua pakaian yang dia beli. Sekarang dia hendak mencari toko tas.

__ADS_1


"Ris, kita ke toko tas ya. Nanti kamu pilihkan tas yang bagus," ucap Alan.


"Baik, Pak." Risa bersorak senang dalam hati. Akhirnya Alan membelikannya dres dan tas. Risa mengira jika mungkin saja Alan memiliki perasaan untuknya.


Setelah selesai berbelanja, Alan mengajak Risa untuk bersantai di cape terdekat sekaligus membeli minuman dingin.


"Ris, kita cuma tiga hari disini. Apa kamu tidak berbelanja pakaian?"


"Tidak, Pak."


"Atau mau saya bayarkan juga tidak apa-apa. Masa jauh-jauh ke London tidak membeli apa pun."


"Maaf, Pak. Tapi tadi bapak sudah membeli barang-barang cukup banyak. Mungkin salah satunya saja tidak apa-apa di kasihkan ke saya," ucap Risa sambil senyum-senyum.


"Kalau yang tadi itu untuk mamah dan Kiana istri saya."


Seketika Risa kesal, dia yang sudah memilih-milih pakaian dan juga tas, namun nyatanya itu bukan untuk dirinya.


...


...


Hanya berjarak 30 menit dari hotel, kini mereka sampai di tempat tujuan.


"Ayo!" ucap Alan kepada Risa. Lalu dia membuka pintu mobilnya.


Risa juga ikut keluar dari mobil. Mereka berjalan berdampingan memasuki kantor. Alan menghampiri resepsionis. Dia bertanya dalam bahasa inggir.


"Maaf, apa saya bisa bertemu dengan Pak Leo?" tanya Alan.


"Dengan Pak Alan ya? Kebetulan Pak Leo sudah menunggu di ruang meeting," ucapnya.


Alan di antar oleh resepsionis itu menuju ke ruang meeting yang berada di lantai atas.


Kedatangan Alan di sambut hangat oleh Leo.

__ADS_1


"Wah Pak Alan sudah sampai. Selamat datang di kantor saya, Pak." Leo mendekat lalu mengajak Alan bersalaman.


"Ternyata kantor Pak Leo besar juga," kata Alan.


"Ah masih besar kantor Pak Alan. Oh iya apa ini kekasihnya?" Tatapan Leo beralih kepada Risa.


"Bukan, dia Risa sekretaris saya."


"Hallo, Risa." Leo mengajak Risa untuk bersalaman.


Lalu Leo mengajak mereka berdua untuk duduk.


"Maaf, Pak Leo. Apa pembahasan kita sudah bisa di mulai?" tanya Alan.


"Sebentar ya, kita tunggu sekretaris saya," ucap Leo.


Tak lama datanglah sosok wanita cantik yang begitu anggun di ruangan itu. Dia Kiana yang masih sah istri Alan. Tentu Alan di buat terkejut dengan keberadaan istrinya. Dia tak menyangka jika istrinya berada di London. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Akhirnya yang dicari-cari ketemu juga.


"Sayang, kamu kok ada disini?" Alan beranjak dari duduknya lalu mendekati istrinya yang baru masuk ruangan.


"Kenapa Pak Alan panggil Kiana dengan sebutan sayang?" tanya Leo.


"Maaf, Pak Leo. Dia Kiana istri saya," ucap Alan sambil memegang tangan Kiana. Namun Kiana menepisnya.


"Jauhkan tangan ini dariku! Hubungan kita tidak sebaik itu untuk di sebut suami istri. Aku akan menggugat cerai Mas Alan secepatnya," ucap Kiana.


Alan terkejut dengan penuturan istrinya. Dia tak rela jika harus berpisah dengan istrinya.


"Tidak, sayang. Jangan lakukan itu!" Alan menolak keputusan suaminya.


"Ekhem, maaf Pak Alan, Kiana. Sebaiknya kita mulai saja pembahasan kita. Urusan pribadi bisa di bahas nanti," ujar Leo sambil menatap ke duanya.


Alan kembali duduk di kursinya. Dia memulai membahas kerja sama dengan Leo.


Setelah selesai membahas kerja sama, Alan mengajak Kiana keluar untuk berbicara berdua. Mereka harus menyelesaikan urusan mereka yang belum selesai.

__ADS_1


__ADS_2