Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.36


__ADS_3

Alan terbangun dari tidurnya. Dia tidak melihat istrinya berada di sampingnya. Alan bersikap biasa saja, karena mungkin saja istrinya sedang melakukan aktivitas lain.


Dengan santai Alan turun dari atas ranjang, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Alan yang hendak mengambil pakaian ganti, terkejut saat melihat pakaian istrinya sudah tidak ada semua.


''Kenapa pakaian Kiana tidak ada?'' Alan mendadak panik. Dengan cepat dia memakai pakaiannya.


Alan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Alan menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur.


''Mah, apa mamah melihat keberadaan Kiana?'' tanya Alan.


''Tidak. Bukannya dia ada dikamar sama kamu?'' Bu Sintia berucap tanpa mengalihkan arah pandangnya.


''Kiana tidak ada di kamar. Pakaiannya juga sudah tidak ada semua.''


''Apa?'' Bu Sintia terkejut, spontan menaruh pisau yang sedang di pegang lalu beralih menatap anaknya.


''Iya, Mah. Alan tidak bohong. Pakaian miliknya semuanya tidak ada.''


''Itu keputusan yang bagus. Harusnya dari bulan-bulan yang lalu dia pergi saja dari rumah ini. Dari pada punya suami tapi seperti tak di anggap. Apa kamu puas karena sekarang di tinggal oleh istrimu?''


Alan terdiam penuh penyesalan. Jujur dia tidak ingin ini terjadi. Dia mendiami istrinya karena ingin membuat istrinya sadar dan tak lagi ceroboh. Namun sikapnya itu justru melukai hati istrinya.


''Kiana tidak boleh pergi dariku. Aku harus mencarinya, Mah.'' Alan pergi mengambil kunci mobil, lalu bergegas pergi mencari keberadaan istrinya.


Alan mengendarai mobilnya entah kemana arah tujuannya. Dia tidak tahu istrinya itu sekarang dimana.

__ADS_1


Sudah hampir dua jam Alan di jalanan, namun dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Kiana. Alan sama sekali tidak tahu teman atau saudara Kiana. Karena Kiana pernah memberitahu jika tidak memiliki sanak saudara di ibukota selain ayahnya yang sudah meninggal.


Alan pulang ke rumah tanpa membuahkan hasil. Terpaksa dia menghentikan pencarian Kiana karena memang sekarang sudah malam.


Bu Sintia melihat anaknya yang terlihat lesu. Alan sama sekali tak menyapa ibunya yang sedang duduk bersantai.


''Al, apa kamu menemukan Kiana?'' tanya Bu Sintia.


Alan menggelengkan kepalanya.


''Sekarang kamu rasakan akibatnya kalau kamu menyakiti hatinya. Dia pergi karena sudah tidak sanggup lagi hidup denganmu, Al.''


Sebenarnya Bu Sintia juga merasa khawatir terhadap Kiana. Namun mau bagaimana lagi, mungkin Kiana merasa tersiksa hidup bersama dengan anaknya.


...


Kiana terlihat jauh lebih baik. Berkat bantuan Leo yang membantunya dan memberikan tumpangan di rumahnya. Ke dua orang tua Leo juga baik kepadanya. Kiana senang karena masih di kelilingi oleh orang-orang baik.


Saat ini Kiana sedang duduk berdua dengan Leo sambil mengobrol.


''Leo, bisa bantuin aku nggak?''


''Bantuin apa, Kia?''


''Aku ingin ke London untuk menatap disana. Apa kamu bisa menemaniku?''


''Kebetulan sekali, aku juga kerjanya disana. Hanya saja saat ini sedang pulang untuk menengok orang tuaku. Tapi kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi ke London?''

__ADS_1


''Aku ingin pergi kesana untuk memulai hidup baru. Untuk melupakan semua kenangan di kota ini.''


''Kamu ada masalah di kota ini? Jika ada masalah lebih baik di selesaikan dulu, jangan main kabur begitu saja?''


''Aku rasa tidak perlu ada yang aku selesaikan lagi karena semuanya memang sudah selesai,'' ucap Kiana.


''Baiklah, jadi kamu ingin pergi kapan?''


''Secepatnya saja, tapi besok aku ingin menemui mertuaku dan berpamitan sebelum pergi.''


''Jadi kamu sudah menikah? Siapa suami kamu?''


''Tidak perlu tahu. lagian itu tidak penting. Aku juga malas membahasnya.''


Leo mengira jika Kiana ada masalah dengan suaminya jadi mau pergi ke luar negeri untuk menghindar.


''Aku tidak ingin membawa pergi istri orang begitu saja.''


''Baiklah, akan aku jelaskan kenapa aku ingin pergi jauh dari sini,'' Kiana mulai menceritakan semuanya. Dari awal dia keguguran, hingga dia yang di diamkan oleh suaminya. Bahkan suaminya yang mengira jika dia bermain apa dengan lelaki lain.


Leo tampan mengangguk-anggukan kepalanya. Mungkin kali ini dia memang harus membawa pergi Kiana. Karena jika dia dengar dari ceritanya, Kiana terlihat tertekan berada di sisi suaminya.


''Baiklah, dua hari lagi kita pergi. Nanti di London kamu bisa tinggal di rumahku. Jika kamu mau, kamu juga bisa bekerja di kantorku,'' ucap Leo.


''Terima kasih, Leo. Kamu sudah berbaik hati membantuku.''


''Sama-sama, namanya juga teman jadi sudah sepantasnya saling membantu.''

__ADS_1


Kiana senang karena selangkah lagi dia akan pergi dari kehidupan Alan dan memulai lembaran baru. Entah keputusan yang dia ambil saat ini sudah benar atau tidak. Namun dia butuh waktu untuk menenangkan diri.


__ADS_2