Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.43


__ADS_3

Sekarang sikap Alan ke Kiana sudah mulai berubah seperti sebelumnya. Alan memperlakukan Kiana dengan sangat baik. Dia juga begitu perhatian, sehingga bisa meyakinkan Kiana untuk terus berada di sisinya.


Padahal baru satu jam suaminya pergi ke kantor. Namun Kiana sudah sangat merindu. Tadi sebelum pergi suaminya berkata jika akan menelepon. Tapi sampai sekarang belum juga meneleponnya.


Kiana sudah bolak-balik mengecek ponselnya, namun tidak ada pesan atau pun panggilan masuk dari suaminya.


"Mas Alan masa lupa sih sama janjinya," gumam Kiana.


Kiana memutuskan pergi ke kantor suaminya. Dia penasaran sebenarnya sesibuk apa suaminya sehingga melupakan janjinya kepadanya.


Kiana berpamitan kepada Bu Sintia yang sedang duduk bersantai sendirian.


"Mah, Kia pamit pergi ke kantor Mas Alan ya," Kiana menjabat tangan Bu Susan lalu mencium punggung tangannya.


"Loh ini masih pagi loh, ngapain kamu pergi kesana?"


"Em Kia kangen sama Mas Alan," ucapnya malu-malu.


Bu Sintia tersenyum menatap Kiana, "Ya sudah, tapi hati-hati ya."


"Iya, Mah." Kiana berlalu pergi dari hadapan Bu Sintia.


Dengan di antar oleh sopir, kini Kiana sudah berada di perjalanan menuju ke kantor suaminya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan suaminya. Mungkin karena pengaruh anak di dalam kandungannya yang membuatnya sebentar-sebentar merindukan suaminya.


Kini mobil yang Kiana naiki berhenti di depan kantor suaminya. Kiana meminta sopirnya untuk langsung pulang saja.


Kiana mendekati resepsionis yang sedang berjaga.


"Permisi, apa suami saya ada?" tanya Kiana.


"Maaf, Bu. Pak Alan sedang meeting dengan rekan bisnisnya."

__ADS_1


"Apa mereka di ruang meeting atau meeting di luar?" tanya Kiana.


"Di ruang meeting, Bu."


"Oke terima kasih," Kiana berlalu pergi menuju ke ruang meeting.


Sesampainya di depan ruang meeting, Kiana mengetuk pintunya. Kebetulan sekretaris Risa yang membukakan pintu.


"Permisi, saya mau ketemu suami saya," Kiana langsung menerobos masuk begitu saja. Dia menghampiri suaminya yang sedang memimpin meeting pagi.


"Sayang, kamu kok datang tidak bilang-bilang dulu?" Alan terkejut sekaligus senang melihat kedatangan istrinya.


"Tadi sudah coba menghubungi nomor Mas Alan, tapi tidak di angkat."


"Mas lupa, sayang. Ponsel Mas ada di meja tapi lupa Mas bawa kesini."


"Tidak apa-apa deh," Kiana mendudukkan diri di kursi milik sekretaris Risa.


"Cari kursi lain sana! Saya ingin duduk disini," ucap Kiana.


"Sayang, kamu duduk disini saja. Biar Risa kembali duduk di tempatnya," Alan menepuk pahanya.


"Sepertinya lebih nyaman kalau duduk disitu, Mas." Kiana menurut, dia langsung beralih duduk di pangkuan suaminya.


Alan kembali melanjutkan meetingnya. Semua peserta yang hadir senyum-senyum sendiri melihat tingkah Kiana yang sejak tadi memainkan kancing kemeja Alan.


"Mohon maaf ya atas ke tidak nyamanannya. Istri saya ini sedang hamil jadi dia sedikit manja," ucap Alan.


Mendengar jika Kiana sedang hamil, tentu membuat Risa mengepalkan satu tangannya. Lagi-lagi dia kalah start untuk mencuri perhatian Alan.


"Tidak masalah, Pak. Kalian terlihat begitu serasi," ucap Pak Doni yang merupakan rekan bisnis Alan dari perusahaan lain.

__ADS_1


Setelah selesai meeting, Alan mengajak istrinya pergi ke ruang kerjanya. Baru juga duduk, Kiana merasa mengantuk.


"Sayang, kalau kamu ngantuk, kamu bisa tidur di kamar."


"Em temenin ya, Mas."


"Baik, sayang." Alan menggandeng tangan istrinya, lalu mengajaknya pergi ke kamar pribadinya yang ada di ruangan itu.


Alan menemani istrinya sampai istrinya tertidur. Setelah itu barulah dia keluar dari kamar dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


Satu jam kemudian.


Kiana terbangun dari tidurnya. Dia menatap ke samping, ternyata tidak ada Alan di sampingnya. Kiana memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya.


Hal mencengangkan yang Kiana lihat, yaitu suaminya dan Risa sedang berdekatan. Terlihat tangan suaminya yang memegang rok yang di kenakan oleh Risa.


''Hei, apa-apaan ini?'' Kiana terlihat murka melihat wanita lain mencoba dekat-dekat dengan suaminya.


Spontan Alan langsung menjauhkan diri dari Risa. Sebenarnya tadi Alan hendak mengambil cangkir kopi dari tangan Risa, namun malah tumpah ke rok yang di kenakan oleh Risa.


''Sayang, kamu hanya salah paham saja kok.'' Alan mendekati istrinya memberikan pengertian.


Dari pertama kali melihat Risa, Kiana memang sudah melihat bau-bau pelakor. Sepertinya Risa memang sengaja mencari perhatian dari suaminya.


''Mas, aku minta detik ini juga kamu pecat dia,'' ucapnya sambil menunjuk Risa.


Kali ini Alan tak mempunyai pilihan lain. Karena jika dia tak mengikuti apa yang di katakan oleh istrinya, bisa saja istrinya akan marah kepadanya. Alan tak mau ada masalah lagi dengan istrinya.


''Baiklah, sayang.'' Alan beralih menatap Risa, ''Maaf, Ris. Sepertinya saya harus memecat kamu karena saya tidak mungkin bisa menolak permintaan istri saya,'' ucap Alan.


"Baik, Pak. Saya menerimanya,'' ucap Risa, lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Padahal dalam hatinya, Risa tak terima di pecat dengan tidak hormat seperti itu.

__ADS_1


'Awas saja, Kiana. Saya pasti akan membalasmu,' batin Risa dalam hati.


__ADS_2