Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.37


__ADS_3

Kiana sudah berada di London. Kebetulan dia berangkat kemarin. Sebenarnya Bu Sintia melarang Kiana untuk pergi. Namun Kiana tetap pergi karena dia ingin melupakan semuanya. Kiana pergi tanpa menggugat cerai Alan. Entah apa yang ada di pikirannya, dia sama sekali belum memikirkan itu. Yang terpenting untuk sekarang dia bisa pergi jauh dari Alan.


Kiana menghampiri Leo yang sedang duduk sambil menonton acara kesukaannya.


''Leo, bolehkah aku meminta tolong?''


Leo mengalihkan arah pandangnya, tersenyum menatap Kiana.


''Apa pun akan aku lakukan untukmu cantik,'' ucap Leo.


''Aku meminta pekerjaan.''


''Boleh, besok kamu ikut ke kantorku. Kamu bisa kerja disana mulai besok,'' ucapnya.


''Wah terima kasih, kamu memang teman yang terbaik.''


Kiana merasa beruntung memiliki teman seperti Leo yang ada di saat dia membutuhkan. Berkat Leo, kini Kiana sudah bisa tertawa lepas.


Kiana kembali ke kamar untuk beristirahat. Dia harus mengumpulkan tenaga untuk besok. Karena besok adalah hari pertamanya bekerja. Semoga saja dia bisa menjadi karyawan yang baik di kantor Leo.


Leo mendengar ponsel miliknya berdering. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ternyata itu panggilan masuk dari temannya yang ada di London. Lebih tepatnya teman tongkrongannya. Mereka saling mengobrol. Leo mengatakan jika saat ini dia sudah bersama dengan wanita yang dia cintai. Temannya memberikan selamat dan meminta untuk di kenalkan dengan wanita yang Leo maksud.


Leo tersenyum saat baru selesai dengan panggilan teleponnya.

__ADS_1


'Kiana, aku akan mengawalmu sampai kamu menjadi janda,' gumam Leo dalam hati.


....


....


Sudah beberapa hari ini Alan tak bisa tidur nyenyak. Dia terus memikirkan Kiana. Dia merasa bersalah atas sikapnya selama ini. Sungguh dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika tidak bisa membuat Kiana kembali lagi ke rumah itu.


Bu Sintia memperhatikan anaknya yang sedang duduk termenung. Akhir-akhir ini anaknya lebih suka menyendiri. Tentu itu membuat Bu Sintia khawatir. Anaknya mendadak pendiam setelah kepergian Kiana. Sebenarnya Bu Sintia kasihan kepada anaknya yang selalu berusaha mencari keberadaan Kiana, namun sampai sekarang masih belum di temukan juga. Padahal Bu Sintia tahu dimana keberadaan Kiana. Hanya saja Kiana yang meminta agar jangan memberitahu Alan.


''Al, kamu kenapa?'' Bu Sintia menepuk bahu anaknya sehingga Alan menoleh.


''Alan kangen sama Kiana, Mah. Alan menyesal karena sudah menyakiti hatinya.''


Alan bertambah lesu, seolah tak ada semangat hidup. Memang yang namanya penyesalan itu selalu datang belakangan.


Alan berlalu pergi begitu saja dari hadapan ibunya. Hari ini sungguh tak bersemangat untuk melakukan apa pun. Bahkan pekerjaan pun dia limpahkan kepada asistennya.


Alan yang baru berbaring, dia mendapat telepon dari asistennya.


''Hallo, ada apa?''


''Maaf, Pak. Di kantor ada sedikit masalah, bisakah bapak datang kesini?''

__ADS_1


''Kamu urus saja. Saya sedang malas melakukan apa pun,'' setelah mengatakan itu Alan memutuskan panggilan telepon itu lalu mematikan ponselnya.


Alan berbaring lalu mulai memejamkan ke dua matanya. Akhir-akhir ini dia memang malas untuk melakukan apa pun.


Baru juga beberapa menit memejamkan mata, Alan mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.


''Siapa sih mengganggu saja? Baru juga mau tidur,'' gumam Alan.


Alan membuka pintu kamarnya, dia melihat ibunya yang sedang berdiri di depan pintu.


''Ada apa sih mamah menggangguku?''


''Al, tadi asistenmu menelepon mamah, katanya kamu sekarang lalai dengan pekerjaan kamu. Jika kamu terus seperti ini, bisa-bisa perusahaan keluarga kita bisa bangkrut. Ayolah sedikit berpikir, apa jadinya jika kita tak memiliki apa-apa? Apa kamu pikir jika kita jadi gelandangan, Kiana masih mau sama kamu?''


''Tidak mungkin, Mah. Harta kita itu banyak jadi tidak mungkin habis secepat itu.''


''Ini bukan masalah harta, Al. Tapi keseriusan kamu dalam mengelola perusahaan. Jika kamu malas-malasan, yang ada perusahaan kita tak terurus dan bisa rugi besar.''


''Kan ada asistenku, Mah.'' Alan terus saja beralasan.


''Kamu ini ya keras kepala sekali. Ya sudah jika kamu tidak mau berangkat ke kantor, semua saham kamu di perusahaan mamah tarik. Mamah cari saja anak angkat yang rajin, dari pada kamu yang malas-malasan jadi merugikan perusahaan.''


''Baiklah, Alan akan pergi ke kantor sekarang,'' Alan sedikit menghela napasnya. Rasanya masih malas untuk melakukan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2