
Kiana sudah menyiapkan makan siang spesial untuk suaminya. Dia berniat untuk pergi ke kantor suaminya. Namun sengaja tak memberitahukan suaminya karena dia ingin memberikan kejutan.
"Semoga saja Mas Alan suka dengan makanan yang aku masak ini," gumam Kiana sambil tersenyum menatap kotak makan siang yang sedang di pegang.
Kiana melangkah keluar dari rumah. Dia menghampiri sopirnya yang sedang nongkrong bersama dengan satpam.
"Pak, ayo antar saya ke kantor suami saya!" Pinta Kiana.
"Baik, Non." Jawabnya.
Saat ini Kiana sedang berada di perjalanan. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan suaminya. Kiana melihat ada penjual buah potong yang ada di pinggir jalan. Entah kenapa dia jadi ingin buah potong itu.
"Pak, berhenti!" ucap Kiana.
Setelah mobil itu menepi di pinggir jalan, Kiana langsung turun dan menghampiri penjual buah potong itu.
"Pak, saya mau beli buah melon sama mangga," ucap Kiana.
"Sebentar, Neng." ucap sang penjual yang sedang melayani pembeli lain.
Kini penjual itu menatap Kiana yang berdiri di sebelahnya.
"Mau beli berapa Neng?"
"Semua mangga dan melon saya borong. Tapi di potong-potong semua ya," pinta Kiana.
__ADS_1
"Baik, Neng." Jawabnya.
Sang penjual terlihat senang karena Kiana memborong dagangannya.
Kini Kiana sudah kembali ke mobil. Dia menyuruh Pak Sopir untuk kembali mengemudikan mobilnya.
Akhirnya Kiana sampai juga di kantor suaminya. Kedatangannya di sambut oleh dua resepsionis yang sedang berjaga. Kiana yang memang sangat ramah, dia pun menyapa mereka.
Kiana sedang berdiri di depan ruangan suaminya. Dia langsung menerobos masuk saja tanpa mengetuk pintu.
"Suamiku," ucap Kiana kepada suaminya yang sedang fokus menatap layar laptop.
Saat mendengar suara istri tercinta, tentu Alan menghentikan pekerjaannya. Alan tersenyum senang melihat kedatangan istrinya. Di saat dia merasa lelah karena banyaknya pekerjaan, namun istrinya datang ibarat sebagai pengobat rasa lelahnya.
"Sayang, kamu datang?" Alan beranjak dari duduknya. Dia mendekati istrinya yang baru datang.
Alan menatap kotak makan siang yang ada di tangan kanan istrinya. Namun di tangan kiri, istrinya membawa buah potong yang di taruh di dalam plastik berwarna putih tembus pandang. Jadi Alan bisa melihat isi di dalamnya.
"Itu buah dari mana sih, sayang? Kok bungkusnya pakai kresek?" Alan bertanya kepada istrinya.
"Tadi ada penjual buah di pinggir jalan yang pakai gerobak itu."
"Astaga, apakah itu higienis?"
"Mas Alan tenang saja, Kia yakin kok kalau buah potong ini higienis."
__ADS_1
Alan mengajak istrinya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Nah, sekarang kita makan siang dulu yuk!" Ajak Alan.
"Mas saja deh yang makan, aku makan buah saja," Arini membuka kresek berisi buah. Lalu dia mulai melahap buah itu.
Alan terlihat heran melihat istrinya yang begitu lahap menikmati buah potong. Padahal selama ini istrinya tak terlalu menyukai buah melon. Namum sekarang begitu lahap.
Setelah selesai makan, Alan mengajak istrinya mengobrol. Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
''Siapa itu?" gumam Kiana.
"Masuk!" ucap Alan.
Terlihat seseorang membuka pintu. Dia adalah Risa sang sekretaris. Dengan gaya anggunnya Risa melangkah mendekati Alan yang sedang duduk dengan Kiana.
"Permisi, Alan. Eh maksudnya Pak Alan, ini saya antar berkas yang bapak minta," ucap Risa.
"Taruh saja di atas meja," ucapnya.
"Baik, Pak. Sekalian saya permisi dulu," setelah menaruh berkas ke atas meja, kini Risa berlalu pergi dari ruangan itu.
Sejak tadi Kiana memperhatikan Risa. Entah kenapa dia terlihat tak suka. Padahal Risa tak punya salah kepadanya.
"Sayang, kamu lihatin apa?" Alan menatap ke arah pandang istrinya. Ternyata istrinya sedang menatap pintu.
__ADS_1
"Tidak kok, Mas." jawabnya.
Alan kembali mengajak istrinya mengobrol. Dia malah melupakan pekerjaannya yang masih menumpuk. Berdua dengan istrinya memang membuatnya lupa segalanya.