Pesona Kiana Andini

Pesona Kiana Andini
Episode.35


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Sudah dua bulan lamanya, namun Alan masih saja mendiami istrinya. Setiap hari pulang telat dari kantor. Sedangkan saat pagi selalu berangkat sebelum istrinya bangun. Kiana merasa sebagai orang asing untuk suaminya. Perhatian-perhatian kecil yang biasa suaminya berikan kepadanya kini tidak ada lagi.


Bu Sintia melihat Kiana yang baru menuruni tangga. Wajahnya terlihat pucat sekali, tubuhnya pun terlihat kurus.


''Nak, kamu mau kemana?"' Bu Sintia bertanya kepada menantunya.


''Kia mau pergi keluar sebentar, Mah.'' jawabnya sambil memperlihatkan senyumnya.


''Nak, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Badan kamu kurus sekali loh.''


''Tidak kok, Mah.'' Kiana menjabat tangan Bu Sintia lalu bergegas pergi.


Kiana pergi ke kantor suaminya. Dia berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan suaminya.


Dengan menaiki taxi online, kini Kiana telah sampai di kantor suaminya.


Kiana sempat ragu untuk mengetuk pintu ruangan suaminya. Karena takutnya suaminya malah mengusirnya.


Kiana mengangkat satu tangannya hendak mengetuk pintu, namun tak jadi saat mendengar obrolan laki-laki dan perempuan dari dalam ruangan itu. Ternyata pintu ruangan tertutup namun tak terlalu rapat. Kiana mencoba melihat ke dalam dari celah itu. Hatinya sakit ketika melihat wanita lain sedang merapikan dasi suaminya. Bahkan jarak wanita itu begitu dekat.


Kiana pergi dari sana dengan berlinang air mata. Mungkin saja hubungannya dengan suaminya tak bisa di perbaiki lagi. Terlihat dari suaminya yang mau di dekati wanita lain, sedangkan istrinya sendiri di abaikan.


Kiana tak tahu akan pergi kemana, Seolah tak ada arah yang dituju.


'Kenapa kamu tega seperti itu, Mas. Kenapa kamu mau saja ketika wanita lain memakaikan dasi. Sedangkan istrimu sendiri tak kau hiraukan saat ingin memberi perhatian,' gumam Kiana dalam hati.


Sejak tadi Kiana berjalan di pinggir jalan. Dia belum tahu kemana arah tujuannya. Yang pasti untuk saat ini dia butuh untuk menenangkan diri.


Tin tin


Sebuah mobil hampir saja menabrak Kiana, karena Kiana yang jalan tak lihat-lihat. Untung saja mobil itu mengerem mendadak, jadinya tak sampai menabrak Kiana.


''Hei, kalau jalan pakai mata dong,'' ucap seorang lelaki dari arah depan Kiana.

__ADS_1


''Maaf,'' ucap Kiana sambil menunduk.


''Sepertinya kita pernah ketemu,'' lelaki itu memperhatikan Kiana.


Kiana mengangkat kepalanya sehingga kini menatap ke depan. Dia pun merasa tak asing dengan lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.


''Apa kamu Leo?'' tanya Kiana.


''Benar, tapi kamu siapa? Wajahmu tak asing, tapi aku lupa pernah melihatmu dimana?'' Leo tampan mengingat-ingat.


''Saya Kiana teman kuliah kamu di London dulu,'' ucapnya.


''Wah benarkah? Sekarang kamu cantik sekali ya, tapi sayang badan kamu kok jadi kurus gini.''


''Ya beginilah aku.''


''Btw kamu mau kemana?'' Leo bertanya kepada Kiana.


''Entah, aku ingin pergi jauh dari sini.''


Kiana tampak mempertimbangkan. Mungkin tidak ada salahnya jika dia menerima tawaran dari Leo. Lagian Leo itu orang baik.


''Baiklah,'' Kiana menerima tawaran itu.


Sepanjang jalan Kiana hanya diam saja menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca mobil.


Leo memperhatikan Kiana seperti sedang ada masalah.


''Kamu kenapa, Kia? Sejak tadi aku perhatikan kok diam saja?''


''Hanya ingin diam saja kok,'' jawabnya.


Kini mobil yang Leo kendarai berhenti di sebuah cafe yang cukup terkenal di ibukota.


''Ayo turun! Kita sudah sampai loh,'' ucap Leo.

__ADS_1


''Kenapa mengajakku kesini?''


''Hanya ingin sekedar bersantai saja sambil mengobrol sama teman lama, memangnya tidak boleh?''


''Boleh sih,'' Kiana keluar dari dalam mobil. Dia dam Leo berjalan berdampingan memasuki cafe.


Dengan hadirnya Leo saat ini membuat Kiana bisa tertawa. Leo memang suka melawak, dan pintar menghibur orang.


Dari kejauhan, terlihat rekan bisnis Alan yang sedang bertemu dengan klien di cafe yang sama dengan Kiana. Orang itu memfoto Kiana lalu mengirimkannya kepada Alan.


...


...


Suasana hati Kiana jauh lebih tenang dari biasanya. Saat ini Kiana sedang bercermin sambil menyisir rambutnya.


Brak


Kiana melihat pintu kamar yang di buka secara kasar. Terlihat suaminya masuk ke dalam kamar. Sorot matanya terlihat sedang menahan amarah.


''Mas, kamu kenapa?'' Kiana memperhatikan suaminya yang sedang mengunci pintu kamarnya.


Alan tak menjawab, dia melempar asal tas kerjanya. Lalu mendekati Kiana yang masih berdiri di depan meja rias.


''Sini kamu!'' Alan menarik paksa tangan Kiana lalu mendorongnya ke atas tempat tidur.


''Mas, kamu kenapa?'' Kiana tak tahu kenapa suaminya terlihat marah sekali.


''Beraninya kamu jalan sama lelaki lain. Apa karena aku mendiamimu, jadi kamu haus belaian?''


Hati Kiana terasa sakit karena suaminya tega menuduhnya bermain api.


''Apa maksud Mas Alan? Aku tidak seperti itu,'' Kiana mengelak, karena memang dia tidak merasa seperti itu.


Alan tak percaya dengan istrinya. Kecemburuan sudah memenuhi pikirannya. Alan menyerang istrinya, dia memaksa istrinya untuk melayaninya. Kiana hanya bisa menangis karena suaminya melakukannya secara kasar.

__ADS_1


Alan tertidur karena kelelahan, begitu juga dengan Kiana yang merasa sakit sekujur tubuhnya. Kiana tidur dengan posisi membelakangi suaminya. Jujur saja dia sangat kecewa kepada suaminya.


__ADS_2