
Kailash tak bisa mengenyahkan pikiran tentang Sandra dari benaknya. Entah sudah kesekian kalinya dia menatap nanar penunjuk waktu di pergelangan tangan pengacara itu.
Semua itu bermula ketika salah satu karyawan Kai membagikan momen traktiran dari Sandra ke story yang kebetulan terlihat oleh bos mereka.
Karena momen keakraban antar karyawan itulah yang membuat Kai terus naik pitam. Terlebih lagi, untuk menemani acara, mereka sengaja memesan aneka minuman beralkohol yang bisa Kailash lihat dari foto momen tersebut.
Dan demi masa depannya, Kailash menyingkirkan segala macam ego untuk menghubungi Sandra. Atasan Sandra itu mengirim sebuah pesan yang berisi tentang pertanyaan kapan acara akan selesai.
Namun, karena sibuk mengobrol dengan rekan sesamanya, Sandra tidak menyadari pesan dari Kailash tersebut.
Rosi, pengacara wanita yang dituakan oleh rekan-rekannya, memuji Sandra dengan sikap ramah dan perhatian. Bahkan Rosi juga sempat bertanya pada Sandra sudahkah wanita itu memiliki kekasih, karena Bu Rosi hendak menjodohkan Sandra dengan salah satu keponakannya.
"Wah, Bu ... Sandra kebetulan tidak mencari pacar. Karena Sandra tidak berminat menikah." Jawaban dari Sandra itu, sontak mengentikan semua aktivitas rekan kerja Sandra yang kini duduk berhadapan.
"Loh, Mbak. Kenapa? Mbak Sandra 'kan cantik, pasti banyak yang suka." Ajeng tak sanggup lagi menahan rasa kepo atau rasa ingin tahu yang terus bersautan di dalam benaknya.
"Ya, aku pengen aja, Ajeng. Selama menangani beberapa kasus perceraian, aku jadi berfikir bahwa menikah bukan satu-satunya jalan untuk bahagia dalam hidup."
"Yah nih anak, kamu bisa ngomong seperti itu karena masih muda, Sandra. Lihatlah aku! seorang janda ditinggal mati tanpa anak dengan umurku sekarang, hidupku terasa hampa." terang Rosi mulai menasihati Sandra.
Janda tanpa anak itu merasa kesepian di umur menjelang lima puluh tahun ini. Bahkan dia menyesal kenapa dulu Rosi mengenakan alat kontrasepsi agar terhindar dari kehamilan selama suaminya masih hidup. Dia sungguh menyesali hal itu. Namun, kini di depannya ada wanita muda yang enggan menikah dengan alasan tidak ingin berakhir di depan persidangan.
"Mungkin belum jodohnya," imbuh Leon sembari memecahkan keheningan
Semua orang kini menatap pria muda yang menjadi personal assisten Kailash tersebut, "Jika dilihat-lihat, Leon tak kalah ganteng dari selebritas tanah air. " Teman kerjanya memuji Leon dengan dalih agar pria muda itu tergerak untuk mendapatkan hati Sandra.
Tetapi, lagi-lagi di dalam hati Leon tak pernah terbesit mendekati Sandra. Bahkan siang tadi ketika dia membelikan Sandra kopi, tak pernah ada rasa lain di dalam hatinya. Leon hanya menganggap Sandra sebagai senior dan dia harus banyak belajar dari Sandra.
"Nggak tahu, Aku belum tertarik soalnya." pungkas Sandra.
Tak berselang lama, pengacara wanita itu meminta ijin ke kamar mandi dari rekan kerjanya.
Sepeninggalan Sandra, wanita itu menjadi bahan pembicaraan teman kerjanya. Bukan lantaran keburukan Sandra, namun justru karena pemahaman serta ideologi yang dimiliki oleh Sandra yang membenci sebuah pernikahan.
__ADS_1
"Anak itu kalau dibiarin bisa tidak memiliki kepercayaan pada pria, makanya dia hanya mengambil kasus perceraian karena dia membenci pernikahan." Rosi mulai membuka percakapan.
"Kasihan sekali ya, Bu. Padahal dia cantik dan baik." Ajeng menambahi.
"Leon, kamu majulah. mumpung ada kesempatan." bujuk Bu Rosi guna memberi semangat pemuda itu.
"Tapi ... " belum sempat Leon melanjutkan kalimatnya, ponsel Sandra yang berada di depan tempat duduknya tadi berdering.
Nama Bangkai tertulis di layar ponsel milik wanita itu. Semua teman Sandra diam saja tidak ada yang berani mengambil ataupun mengangkat panggilan itu.
Usai berhenti berdering, tak sampai dua detik ponsel Sandra kembali berbunyi dengan nama Bangkai lagi yang menelepon.
Merasa risih dan terganggu dengan bunyi panggilan dari ponsel Sandra, terpaksa Rosi yang mengangkatnya. Itupun atas kesepakatan bersama.
"Halo, maaf pemilik hape ini sedang ke toilet."
Mendengar jawaban dari suara yang telah dikenali oleh Kailash, pria itu jadi semakin yakin jika semua pegawainya masih belum pulang.
Sehingga dengan kerasnya hati, Kai bangkit dan menjambak kunci mobil untuk bersiap menangkap mantan kekasihnya itu.
Rosi memberitahu pada Sandra jika seorang yang bernama Bangkai telah menghubungi dirinya. Wanita itu tidak menduga jika Bangkai adalah bos mereka semua.
"Ya udah biar aja, paling orang itu iseng."
"Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, langsung menutup panggilan begitu aku mengatakan jika kau ke kamar kecil, Sandra."
"Udah, biarin aja." Kembali Sandra melarang mereka membahas Bangkai dan lebih baik melanjutkan mengobrol meski malam sudah larut.
Dan siapa sangka jika Kailash telah datang menyusul mereka di tempat nongkrong para anak buahnya. Tetapi, Kai tidak masuk begitu saja. Pria itu berdiri di samping jendela dan dia bisa mengamati bagaimana serunya anak buahnya dalam bercengkrama.
Tak ingin memberi kesempatan Sandra untuk terus larut, membuat Kai kembali menghubungi Sandra. Kali ini, Sandra mengangkat telepon dari Kai. Itupun juga karena tidak enak dengan teman-temannya.
"Keluar saat ini, detik ini juga! jika tidak, aku akan membongkar rahasia kita di depan stafku." ancam Kailash.
__ADS_1
Namun, Sandra tidak bisa percaya begitu saja. Pekerjaan sebagai seorang pengacara membuat tidak boleh lengah dan gegabah.
Hening tak ada jawaban, Kai melanjutkan kalimatnya, "Aku hitung sampai tiga, jika kau tidak keluar, maka aku akan masuk dan memberitahu mereka."
Sekonyong-konyongnya, Sandra bangkit dan permisi keluar sebentar untuk mengangkat panggilan. Kali ini dia sengaja membawa serta tasnya tidak seperti ketika ke toilet tadi.
Sandra langsung bisa menemukan keberadaan Kailash begitu dia keluar dari tempat itu. "Kamu ini kenapa, sih?"
"Kamu yang kenapa? Ini sudah malam, Sandra." bentak Kailash sembari mengendus sekujur tubuh Sandra.
Semua itu Kai lakukan, karena ingin tahu sebanyak apa Sandra minum. Namun, kecurigaan Kai tak terbukti. Dia tidak men cium aroma minuman beralkohol dari tubuh Sandra.
"Ayo pulang!" ajak Kai dengan menarik tangan Sandra agar mengikuti dirinya.
"Aku bawa mobil, aku akan pulang sendiri."
"Tidak perlu, besok sopirku akan mengambil mobilmu dari sini. Berikan kuncinya padaku!"
Sandra menarik napas dengan kasar. Pria yang menariknya ini, kembali lagi dengan stelan pabrik. Suka memerintah dan menang sendiri. "Pak Kailash, Anda tidak perlu seperti ini!"
"Kau itu karyawanku, dan keselamatanmu menjadi tanggung jawabku."
"Wah ... sakit nih orang!" Sandra keberatan, dan berusaha melawan.
Kali ini dia tidak bisa merelakan Kailash mencampuri urusannya. Dalam jam kerja, dia memang bosnya, tapi di luar jam kerja, ini keterlaluan.
Sehingga Sandra berusaha dengan keras dan menggigit tangan Kailash yang sedang menariknya. "Auuuh ... " Kai mengaduh kesakitan.
"Rasakan,"
"Kau ini manusia atau anjing, Sandra?" Dengan kesal, Kailash menghentak tangannya hingga mampu melepaskan gigitan Sandra.
Usai melihat wanita itu lebih tenang, Kailash dengan sengaja mendekati Sandra dan mengangkat tubuhnya lalu membawa wanita itu di pundaknya. Kailash terus berjalan tanpa peduli Sandra berteriak dan memberontak.
__ADS_1
Sandra dibawa masuk ke dalam mobil pria itu dan didudukkan tepat di samping kursi mengemudi.
...****************...