Pesona Mantan

Pesona Mantan
Sandra Berhasil


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Sandra bisa mengatasi permasalah yang dihadapi oleh kliennya. tetapi, bagaimana dengan permasalahan yang dihadapi oleh diri Sandra sendiri?


Usai pertemuan yang berakhir dengan perdebatan antara diri Sandra dan mamanya, hingga detik ini baik Sandra maupun wanita yang telah melahirkan dirinya belum juga tampak bertegur sapa.


Mama Sandra masih bersikukuh menganggap jika anaknya itu tidak boleh lagi dekat dengan Kailash. Meskipun sudah berulang kali Sandra menjelaskan kepada sang mama jika dirinya dan Kailash hanya sebatas rekan kerja saja.


Seperti pagi ini saja, ibu dan anak itu masih berperang dingin satu sama lain. Bahkan hingga Sandra berangkat bekerja pun, mamanya masih belum bersedia menegur putri satu-satunya itu.


**


Memang cukup telat Sandra tiba di kantor. Semua itu juga atas kemauan Kailash. Pria itu mengatasi jika Sandra tidak perlu datang pagi-pagi sekali. Karena jam kerjanya sudah dipotong dari ketika Sandra berada di puncak semalam.


Girang ... tentu saja. Bahkan wanita itu tidak menaruh curiga sama sekali ketika Kailash memberinya sedikit kelonggaran. Karena pria itu juga berdalih jika dirinya tidak akan masuk pagi juga seperti dunia ini miliknya.


"Jeng, sorry ya ... aku datang telat," ucap Sandra ketika melenggang melewati Ajeng yang tampak sibuk menduplikat dokumen.


"Iya, Mbak ... kita udah tahu, kok!"


"Tahu dari mana?" Sandra menduga jika Bang Kai-nya sudah mengizinkan dirinya melalui divisi HR. "Pak Kailash ya?" tebak Sandra.


"Ini loh, Mbak." Ajeng mengutak-atik handphone-nya dan menunjukkan salah satu artikel yang membahas Santi Khan yang telah dilepaskan karena kurangnya bukti.


Ajeng juga menunjuk satu bari berita pada kanal berita online yang mengatakan kuasa hukum Santi Khan. "Mbak Sandra 'kan pengacara Bu Santi."


"Lagipula, hari ini Pak Kailash juga gak hadir, kok."


"Oh," Sandra bisa bernafas lega. "Syukurlah Pak Kailash kagak ada. Bos kematian itu ribet." bisik Sandra memaki Kailash karena dia kembali teringat kebijakan Kai mengenai seragam kerja.


"Emang, sih," sahut Ajeng.


"Ya udah, aku bikin laporan dulu." Sandra meninggalkan Ajeng dan bergegas menuju ruang kerjanya sebelum kuping wanita itu panas dengan ocehan Kailash.


**


Kasak-kusuk mengenai Sandra kembali mencuat. Sebuah akun anonim menulis komentar miring pada salah satu akun berita online yang menyebut jika Sandra adalah Pengacara gila yang hanya tertarik dengan perceraian. Bahkan ada balasan lain yang menyebut jika dirinya adalah orang yang mengenal Sandra.

__ADS_1


Akun anonim itu membanjiri kolom komentar dengan ketikan kasar, hingga mengatakan jika Sandra memiliki kelainan dengan lawan jenis hingga dia berambisi mengakhiri semua pernikahan orang.


Marah .. tentu saja. Sandra bahkan ingin membalas semua komentar jahat itu. Namun, semua itu dia urungkan karena ada panggilan masuk dari Kailash.


"Kenapa masuk kerja lebih awal? Aku sudah mengatakan masuklah lebih lambat atau tidak perlu masuk sekalian."


"Bukan gitu, Pak. Saya harus menyiapkan berkas sidang Bu Santi."


"Jangan masukkan hati rumor di internet!" Kailash yakin jika Sandra sudah mengenai kabar yang menjelekkan dirinya.


Sandra hendak membalas, tetapi dia urungkan, "umm ... soal itu,"


"Bagian Humas firma akan mengurusnya, aku masih ada pekerjaan lain di luar."


"Tapi, Pak ... " Kailash memotong kalimat Sandra sebelum wanita itu melanjutkannya, "Jangan mikir yang aneh-aneh."


**


Selain menjadi bulan-bulan di media sosial, Sandra juga menjadi bahan gosip di kantor. Bahkan pegawai lain juga ada yang membicarakan dirinya. Hanya Ajeng dan Leon lah yang tidak tampak ikut bergabung.


"Keterlaluan sekali," Sandra mengurungkan niatnya dan berbalik kembali ke ruangan meski dia hendak ke pantry. Usai menjadi bahan gosip, mental Sandra sedikit goyah. Karena berita buruk itu semakin dia pikirkan.


Bahkan pekerjaan tidak membuatnya fokus. Wanita itu kini mematung di depan cermin kamar mandi.


"Apa karena aku tidak tertarik menikah', lalu aku ini tidak tertarik pada laki-laki?" gumamnya pelan sembari membasuh wajahnya dengan lembut.


Suaranya tertahan, ingin sekali Sandra berteriak. Bahkan jika perlu, dia ingin memaki semua orang-orang yang menuduhnya.


Begitu dia keluar dari kamar mandi, beberapa mata terus memandang tajam ke arahnya. "Hei aku bukan, les bian." batin Sandra bergejolak.


Tidak fokus dengan pekerjaan, hingga membuat Sandra meminta ijin pulang lebih awal. Wanita itu beralasan ada sesuatu yang harus dia kerjakan mengenai kasusnya. Padahal, kenyataannya Sandra telah membuat janji temu dengan seorang psikolog yang dia kenal.


Sandra berniat mencari tahu perihal kebenaran tentang tubuhnya yang selama ini menolak berdekatan dengan laki-laki. Bahkan Sandra sangat berambisi ingin tahu lebih lanjut tentang penyakitnya.


Sehingga, dengan mantap Sandra meninggalkan kantor dan mengemudikan mobilnya menuju praktik psikolog tersebut.

__ADS_1


Sebelumnya, Sandra telah membuat janji temu agar dia tidak perlu antre lagi. Usai mendaftar sebelumnya, Sandra langsung dipersilakan masuk oleh perawat yang bertugas.


Wanita itu masuk ke ruang praktik psikolog tersebut. Di dalam ruangan berukuran 4x5 yang tampak nyaman dengan sinaran mentari sore itu, Sandra duduk di dekat ahli jiwa untuk melakukan sesi konsultasi dan mendeteksi adanya gangguan pada dirinya.


Usai menyapa, Psikolog tersebut memberi pertanyaan yang harus Sandra isi untuk mengetahui masalah wanita itu. Dengan patuh, Sandra mulai menulis kata demi kata dengan saksama.


"Rileks saja, Nona." pinta Psikolog berhijab itu pada Sandra.


"Oh, iya."


Tak sampai sepuluh menit, Sandra telah mengisi semua kolom pertanyaan dari ahli kejiwaan tersebut. Sandra lalu mengembalikan kertas itu kepada wanita berhijab tersebut.


"Bu, apa saya ada indikasi menderita gangguan mental atau gejala lain?" selidik Sandra.


"Coba Nona, ceritakan dengan rileks mengenai keadaan yang menyulitkan Nona, misalnya."


"Kejadian itu dimulai ketika saya dicampakkan oleh mantan pacar saya. Sehingga saya tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap laki-laki. Dan saya tidak tertarik pada lelaki. Apa saya menyukai gender yang sama?" Sandra mulai meluapkan isi dari hatinya.


"Apa selama ini Nona merasa tertarik terhadap sesama? Jika iya, tolong ceritakan."


"Saya tidak tahu itu bisa dibilang iya atau tidak, tetapi saya ingin membantu baik pria maupun wanita yang terlibat masalah dengan rumah tangga mereka. Saya ingin membantu mereka memutuskan hubungan pernikahan. Apa itu termasuk gangguan mental, Bu?"


Wanita yang ditaksir Sandra berumur lebih dari empat puluh tahun itu tersenyum, "Apa trauma Nona yang mengubah pandangan Nona? Sebelum Nona mengakhiri hubungan dengan mantan pacar, apa Nona juga suka membantu bercerai?"


"Tidak, dahulu saya mengambil beberapa kasus baik perdata maupun pidana. Karena saya adalah lawyer yang tak pandang bulu."


Wanita itu menjelaskan kepada Sandra, "Dari yang saya dengar, dapat saya simpulkan bahwa kandasnya hubungan Nona lah yang menyebabkan semua ini. Sebaiknya Nona perbaiki hubungan dengan sesama dan kita bertemu lagi untuk menyembuhkan traumatik yang Nona miliki."


Usai berkonsultasi dengan ahli kejiwaan tadi, tidak menjadikan Sandra berpuas diri. Wanita itu terus dihinggapi rasa was-was. Sehingga Sandra memutuskan untuk pulang ke apartemen lamanya untuk menyendiri. Wanita itu akan bermalam di sini, selain itu Sandra juga ingin menghindar dari mamanya. Meski begitu, sebagai anak yang berbakti, Sandra tak lupa menjelaskan keberadaannya yang tak pulang kepada kedua orang tuanya.


Sepulang dari tempat praktik kejiwaan tersebut, sama sekali Sandra tidak mengintip media sosial miliknya. Selain tidak disarankan oleh psikolog tadi, Sandra juga enggan melihat dirinya dihujat yang tidak-tidak.


Bahkan untuk beristirahat lebih nyaman, Sandra sengaja mengaktifkan mode senyap untuk ponselnya, hingga beberapa kali panggilan dari Kai dia abaikan.


...****************...

__ADS_1


Untuk visual, kalian bayangin aja gimana enaknya ya, karena serius aku nggak ada bayangan sama sekali.


__ADS_2