
Sandra tidak bisa menahan rasa kantuknya, sehingga pengacara wanita itu tertidur di dalam perjalanan pulang.
Dalam mobil berjenis sedan itu, Sandra meletakkan semua rasa lelah serta kecemasan hingga tanpa wanita itu sadari, dia telah tidur dengan nyaman di dalam mobil mantan kekasihnya.
Berharap agar Sandra bisa meletakkan semua keluh kesah padanya, Kailash tak tega lagi berdebat dan membiarkan wanita itu untuk beristirahat sebelum tiba di rumahnya. Kai juga mengatur tempat duduk Sandra agar lebih nyaman lagi dengan menarik tuas sehingga posisi Sandra bisa bersandar dengan leluasa dan merasa nyaman.
Semua itu dilakukan Kai tanpa embel-embel apapun, dengan harapan agar wanita itu bisa lebih terbuka lagi mencurahkan isi hati padanya, Kai tidak keberatan jika harus bertindak sejauh ini. Karena, Kai tahu betapa kerasnya watak mantan kekasihnya itu.
Bahkan, Sandra sama sekali tidak memberitahunya masalah Santi ini. Dan berniat menangani dengan caranya sendiri. Untung saja, manager Santi sempat mengabarinya, sehingga Kailash bisa langsung bertindak cepat menangani Sandra. "Kalau diam gini 'kan enak,"
Selama perjalanan pulang, Sandra benar-benar terbuai dalam mimpi. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan apapun, karena Sandra mereka aman ketika masalah telah diatasi. Dan kehadiran Kai juga turut berpengaruh juga.
Wanita itu mulai membuka mata mana kala merasakan mobil yang dikendarai oleh Kai berhenti. Benar adanya, Kailash berbelok ke rest area sekaligus untuk mengisi bahan bakar.
Sandra mulai mengucek kedua maniknya, lalu wanita ayu itu melihat jam di ponsel yang masih menunjukkan pukul dua dini hari. Di sampingnya, sudah tidak ada Kailash. Kedua mata kecokelatan Sandra melihat pria itu berdiri di samping tangki bahan bakar bersama seorang operator.
Kemudian, Sandra pun ikut keluar dari mobil. "Aku keluar bentar, ya?" Lalu diikuti anggukan kepala Kailash seperti sudah mengizinkan.
Kai melihat kepergian Sandra dengan langkahnya menuju mini market di area tersebut. Pria itu berpikir, "Mungkin dia haus,"
**
Sandra keluar dari mini market dengan membawa kopi kaleng dan juga sebotol yogurt. Ditolehnya ke kanan dan ke kiri guna menemukan keberadaan Kailash.
Dan Sandra sama sekali tidak menemukan batang hidung Kai beserta mobilnya. Dia mulai berjalan dan mencari di mana Kailash berada.
Untunglah, seorang petugas pengisian bahan bakar menyapanya, "Mbak nyari suaminya? Ditunggu suami mbak di smoking area,"
"Suami?"
"Romantis sekali, baju aja samaan."
Sejenak, Sandra menundukkan kepalanya guna memastikan busana yang dia kenakan. Saat ini Sandra masih mengenakan piyama yang ditutup oleh outer berupa coat tebal. Dan sialnya, piyama Sandra ini senada dengan pakaian Kai, meskipun pria itu tidak menggunakan motif alias polos.
__ADS_1
"Oh, makasih ya, Pak!" ucap Sandra dan bergegas menuju tempat yang disebutkan oleh pegawai pengisian bahan bakar tersebut.
Benar adanya, sosok pria yang dia cari kini duduk bersandar di kursi kayu dengan sebatang rokok di tangannya.
Begitu sampai, Sandra mengulurkan sekaleng kopi untuk bosnya itu. "Terima kasih, " respon Kailash karena Sandra sudah mengingatnya.
Wanita itu kemudian duduk di depan Kailash, "Mau istirahat dulu?" tanya Kailash tanpa ragu. Dia tahu jika Sandra memang butuh beristirahat.
Sandra mengangguk, "Minumlah kopi ini dulu, supaya kamu tidak mengantuk."
Kedua mata kehitaman Kailash berbinar, "Kamu menghawatirkan aku, Sandra?"
"Tentu saja, kamu bosku. Bagaimanapun juga semua ini karena membantu klien kita. Aku tidak mau jika kamu kecapekan."
Ada getir yang terasa sesak di dada, usai Sandra mengatakan kalimat seperti itu. "Apakah hanya itu saja?"
Wanita itu tiada menjawab, dia membuka botol yogurt dan mulai meminum fermentasi susu favoritnya.
"Kamu berubah, Kai. Kamu bukan lagi Kailash yang cuek dam tidak peduli dengan apapun. Bahkan kini, aku tidak bisa menduga semua tindakanmu." monolog Sandra dalam hatinya.
Lamunan Sandra, berakhir seketika karena Kai menegurnya, "Udah puas lihatnya? Aku tahu aku ini tampan."
"Bisa nggak sih, Pak sedikit jadi manusia?"
Kailash pun melongo, karena wanita itu bangkit dan berjalan dengan wajah masam. Mau tidak mau, Kai harus mengikuti Sandra yang sedang ngambek menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat keduanya.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta tanpa harus beristirahat. Bahkan Kai baru meminum sedikit kopinya dan mematikan rokok yang sempat dia hisap tadi karena kemarahan Sandra padanya.
Keduanya diam tanpa suara sepanjang perjalanan, bahkan hingga memasuki kawasan rumah keluarga Sandra, baik Kailash ataupun Sandra masih setia membungkam mulutnya.
"Mau diantar sampai depan rumah?" Suara Kai memecah dinginnya suasana.
"Nggak usah, Pak. Ini sudah malam. Bapak pulang saja."
__ADS_1
Tapi, Kailash tidak membiarkan Sandra pulang begitu saja. Lelaki itu menemani Sandra bahkan juga membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya itu.
"Udah sampai sini, aja. Makasih, Pak."
Namun, belum sempat Kailash membalas kalimat Sandra, lebih dulu keluarlah kedua orang tua Sandra.
Baik papa ataupun mama Sandra menatap muda-mudi itu. Tak hanya itu saja, Mama Sandra juga berteriak memanggil anak kesayangannya usai Sandra membuka gerbang sendiri.
"Kalian bersama lagi?" tegur mamanya.
Papa Sandra hanya diam saja, tetapi Kailash tahu jika papa Sandra kini sedang mengamati serta menganalisis keadaan.
"Tidak, Ma ... Pa. Kami hanya bekerja."
"Bekerja?" selidik papanya.
"Iya, Om. Kai mohon maaf sudah menganggu waktu istirahat Om dan Tante. Kailash mengantar Sandra pulang karena dia tidak membawa mobil."
"Kenapa bisa?" Emosi Mama Sandra kini semakin berapi-api.
"Mama, Sandra 'kan udah bilang, jika Sandra kini bekerja di firma hukum orang. Dan Kai adalah pemilik firma hukum itu."
"Maaf, Tante ... Om. Kailash tidak ada maksud apa-apa. Semua ini murni karena Kai ingin melindungi salah satu karyawan firma."
Semakin naik pitam, Mama Sandra menarik masuk putri satu-satunya itu ke dalam rumah. Tidak sampai di situ saja. Mulutnya masih mengomel sepanjang jalan.
Tetapi, Papa Sandra yang berpikir lebih logis, ingin berbicara dengan Kailash sebelum mantan kekasih anaknya itu pulang.
"Tidak pantas rasanya, Kai. Kamu malam-malam seperti ini mengantar Sandra. Terlebih lagi hubungan di antara kalian sudah berakhir."
"Maaf, Om. Mungkin kata ini sudah tidak ada gunanya lagi di depan keluarga Om. Tapi, jujur saja saya mengkhawatirkan Sandra. Dan seperti janji Kai dengan Om sebelumnya, bahwa saya akan terus melindungi Sandra."
"Nak, semua sudah berakhir. Jika kau terus seperti ini, kasihan Sandra. Dia akan merasa terbebani. Apalagi jika dia mengharapkanmu."
__ADS_1
Kailash menyela Papa Sandra, "Kailash tidak keberadaan jika Sandra mengharapkan Kai lagi, karena pada kenyataannya kita memang memiliki takdir yang sama."
****************