
Hal yang paling disesali oleh Sandra bukanlah sebuah kegagalan. Melainkan ketidakmampuan memperteguh pendirian agar tidak kembali menoleh ke belakang.
Meskipun masih berusaha menolak Kailash, nyatanya Sandra kesulitan mengatakan tidak pada Kailash. Semua itu bukan karena Sandra masih mengharap kembali bersama dengan pria itu. Melainkan, Sandra tidak ingin terhubung sekali lagi dengan Kai.
"Kau masih punya waktu, Sandra. Silakan pikiran baik-baik. Karena aku tidak memiliki niat buruk terhadapmu."
Untung saja, sebuah panggilan masuk ke ponsel Kailash. Hingga Sandra tidak perlu menjawab permintaan Kai lagi.
Kedua alis Kai berkerut, napasnya keluar dengan kasar seolah enggan mengangkat panggilan yang kini sudah dia hubungan ke head unit di mobilnya.
Dalam beberapa detik kemudian, wajah Kai tampak gusar. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu berkata, "ada apa?"
Hingga, Sandra tersadar jika dirinya masih berada di dalam mobil mantan kekasihnya itu. Usai mendengar Kailash menutup telepon, Sandra berkata,"Turunkan aku di sini saja!"
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang, jalan di sini sepi."
Lucu sekali, sejak kapan Kailash mulai memikirkan tentang Sandra? Jika mungkin iya, itu sungguh sangat terlambat.
"Kau sibuk, aku bisa pulang sendiri." tolak Sandra lagi.
Tidak salah memang jika Sandra mengira Kailash tak memiliki banyak waktu. Benar saja, meski sudah jauh dari jam kerjanya, pria itu masih menerima panggilan dari klien yang tadi sempat tercuri dengar oleh Sandra.
Kailash juga tidak bisa memaksa kehendaknya, dia tahu seperti apa kerasnya pendirian Sandra. Wanita yang sudah lama dia kenal itu, selain keras kepala juga sulit ditaklukkan.
"Baiklah, tapi .... " Ingin sekali Kailash mengatakan sesuatu. Namun, dia jengah.
Kai seperti tidak memiliki muka lagi di depan Sandra usai memutuskan tali kasih yang telah mereka rajut.
__ADS_1
Sandra sendiri tidak terlalu peduli dengan niat baik Kai. Pasalnya, Sandra memang sudah menutup semua celah di hatinya dengan memukul rata semua pria. Sandra telah mengambil keputusan bahwa dia tidak akan dekat dengan lelaki serta tidak ingin menikah dalam hidupnya.
**
Usai kasus yang Sandra tangani telah berakhir, wanita itu kini banyak memiliki waktu luang. Terlebih lagi, selain berprofesi sebagai pengacara, Sandra juga memiliki kesibukan lain yakni mengunjungi bisnis kecil di bidang makanan yang dia punya.
Merasa bosan di rumah, Sandra memutuskan mengunjungi toko roti guna melihat sejauh mana bisnisnya berkembang.
Tak hanya itu saja, wanita yang kini menggunakan transportasi umum karena mobilnya belum keluar dari bengkel itu, juga menyalurkan hobi ringannya.
Selain bersenang-senang di toko roti, Sandra juga gemar berbelanja. Sudah sewajarnya, wanita seperti Sandra dan memiliki penghasilan sendiri untuk menghamburkan sedikit uangnya.
Ketika wanita berambut kecokelatan itu memilih barang yang dia rasa bagus, sebuah panggilan mengganggu aktivitas Sandra hingga wanita itu menoleh ke belakang.
"Tante Greta?"
"Sandra ... lama kita tidak bertemu!"
Kini, Sandra tidak lagi niatan untuk bersembunyi seperti malam kemarin. Semalam Sandra bersembunyi karena dia bersama dengan Kailash, putra Greta. Semua itu dilakukan oleh Sandra karena dia tidak ingin Greta salah paham padanya.
Nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlanjur basah, sehingga Sandra tidak bisa mundur lagi. Akhirnya, Sandra terpaksa mengobrol bersama Greta untuk mengobati rasa rindu mereka.
Greta mengajak Sandra duduk bersama di kedai kopi di dalam pusat perbelanjaan usai keduanya berhasil menenteng setidaknya dua atau tiga kantong kertas belanjaan.
Jika dirinya masih memendam kekesalan terhadap Kailash, tetapi Sandra tidak bisa menolak keinginan Greta.
"Tante minta maaf atas nama Kailash, ya, Sayang."
__ADS_1
"Aih, Tante ... jangan ngomong gitu. Kita udah tidak ada apa-apa lagi, kok!"
Tetapi, Greta sebenarnya masih menyimpan harapan terhadap gadis yang disukai oleh Kailash. Meskipun Greta juga tahu Sandra dan kedua orang tuanya tidak menghendaki demikian.
"Jika Tante boleh ngomong, sebenarnya Tante masih berharap kamu dan Kai bisa bersama, Nak. Meskipun dia pria jahat, tapi Tante percaya jika Kai masih menyimpan rasa padamu."
"Tante, Please ... jangan bahas kami lagi!"
"Meskipun dia terlihat menyedihkan dan kere, sebenarnya dia sedang berjuang agar layak dijadikan pemimpin rumah tangga. Kailash banyak berubah, Nak. Untuk pegawai negeri seperti Kai, tidakkah kamu merasa dia sudah cukup sukses?"
Dilihat dari keluarganya, semua orang pasti tidak akan meragukan harta serta kekayaan Kai. Tetapi, siapa sangka jika Kai tidak ingin dikenal sebagai pewaris semua kekayaan keluarganya. Dia ingin menjadi sosok pria yang bisa diandalkan oleh keluarganya kelak.
Karena hal itulah, Kailash belum siap menikah beberapa tahun yang lalu. Dia ingin menjadi suami dan ayah yang dibanggakan oleh anak serta istrinya.
"Iya, Sandra yakin jika Kailash akan berhasil. Dan berbahagia bersama keluarganya kelak." Kalimat mengejutkan ini mampu membuat hati Greta teriris.
Ibu mana yang tak berduka jika anak lelakinya gagal dalam impian terbesarnya, "Sayang, Kai masih berharap padamu."
Sandra mengangkat sudut bibirnya, kemudian dia tertawa dengan spontan. Hal ini cukup lucu karena Greta tidak tahu seperti apa putranya, "berharap kembali padaku? Yang ada dia akan mengeksploitasiku." keluh Sandra dalam hati.
"Tapi maaf, Tante ... Sandra tidak berencana untuk menikah baik itu dengan Kailash ataupun dengan pria lain."
Deg ... da da Greta terasa sesak mendengar Sandra mengatakan ketidaksediaannya menikah.
Hati Sandra telah hancur. Kalbunya terhimpit derita penyesalan. Dia tak lagi memiliki cahaya keceriaan, karena semua telah direnggut dengan penuh senyum kemenangan.
Dia terkalahkan oleh ego. Dia dikalahkan oleh idealis. Hingga Sandra rela melepas cintanya.
__ADS_1
Dan kini, Semua telah menjadi puing puing sampah yang tak memiliki arti apa apa.
****************