Pesona Mantan

Pesona Mantan
Lupa Nada


__ADS_3

Sandra harus menyingkirkan setiap gundah yang menyesakkan da danya. Sebagai pengacara yang profesional dalam bekerja, Sandra harus fokus menangani kasus yang tengah menimpa Santi Khan.


Usai berdebat pagi bersama dengan Bang Kai, masalah tak terselesaikan begitu saja. Sempat ada hal kritis yang menimpa keduanya.


Semua itu karena kedatangan secara mendadak mama Sandra. Sekonyong-konyongnya, wanita ayu itu menarik Bang Kai masuk ke dalam lemari di kamar Sandra untuk segera bersembunyi.


"Tetap di sini! jangan bikin suasana makin runyam. Nyokapku tidak menyukaimu." kata Sandra waktu pagi tadi.


"Aku akan menemui mamamu, Darling. Sekalian minta restu."


"Restu? Ke laut aja!"


Dan kini, Sandra bisa tersenyum lega. Senyum indah itu tersungging di wajah ayunya. Bagaimana tidak, usaha selama hampir sebulan ini tidaklah sia-sia. Berkali-kali dia mencoba berbagai metode pendekatan tentang kasus kliennya dengan berkonsultasi dengan rekan pengacara lainnya. Kini, Sandra bisa mengusap peluh kekhawatiran usai memenangkan sidang perceraian Santi Khan.


Majelis hakim mengabulkan gugatan cerai Santi dan menolak laporan tidak kriminal mantan suami artis itu yang mengatakan jika Santi sengaja merusak dan mencelakai mantan suaminya.


Beberapa saksi yang menguatkan pihak Santi, bersaksi dengan lancar di persidangan. Bahkan yang membuat Santi Khan memberi acungan jempol kepada Sandra adalah karena keberhasilan wanita itu mengajukan tuntutan nafkah bulanan yang disetujui oleh majelis hakim.


Nafkah bulanan sekaligus kompensasi karena telah berlaku tidak menyenangkan yakni menuduh mantan istri dengan berita perselingkuhan, membuat Sandra dan Santi meminta dana kompensasi yang tidak sedikit. Setidaknya, uang yang jumlahnya bisa untuk membeli satu unit penthouse di kawasan Senopati itu bisa melegakan Santi Khan.


"Kamu keren, Sandra. tidak sia-sia aku memilihmu sebagai kuasa hukumku." puji Santi usai sidang dinyatakan selesai.


Keduanya kini berjalan beriringan menuju pintu keluar pengadilan agama dengan pakaian yang senada.


Tak hanya pakaian mahal, mereka berdua juga menambahkan kacamata hitam agar penampilan kedua wanita itu bisa on point.


"Itu sudah tugas saya,"


"Aku akan menjadikanmu pengacara langgananku, Sandra. Katakan saja biaya per jammu pada managerku. Jika perlu, pindah saja dari kantor Pak Kailash dan jadilah pengacara pribadiku!" Santi menawarkan Kesepakatan pada Sandra atas rasa puasnya.


"Hmm ... mohon maaf sekali, Nyonya. Saya hanya mengambil kasus perceraian saja. Lagipula, saya sudah menandatangani kontrak dengan firma hukum Pak Kailash." Angan Santi harus pupus untuk menjadikan Sandra kuasa hukum pribadinya.


"Setidaknya, jika aku butuh konsultasi masalah hukum, bisakah aku menghubungi kamu?"


"Sure, kita sudah seperti keluarga."


Keduanya sepakat untuk tetap menjaga hubungan baik setelah Kasus terselesaikan.


Bahkan ketika awak media mengerubungi Santi dan Sandra, dua wanita itu dengan mudah mengatasinya.

__ADS_1


Para wartawan berebut wawancara eksklusif atas Santi yang sudah memenangkan perceraiannya. Mereka tak ubahnya seperti penjilat yang hanya makan dari berita panas.


"Di mana keberadaan kalian ketika aku down karena pemberitaan yang dilempar mantan suamiku? Kalian sebagai umpan media play sudah menyudutkan aku, bukan?" Santi menyindir awak media yang sudah memberitakan dirinya dengan gosip murahan.


Sandra membetulkan posisi kacamata yang dia kenakan sembari berdehem, "Pantas saja Indonesia tidak maju, jika SDMnya rendah seperti kalian." Tak kalah nyelekit, Sandra memojokkan wartawan dengan argumentasinya.


Jika beberapa hari yang lalu, keduanya susah payah keluar dari kantor polisi di Puncak karena wartawan memburu mereka, maka saat ini keadaannya berbanding terbalik.


Sandra mengantar kepergian Santi dengan mudah menuju mobil artis senior itu. Sedangkan Sandra sendiri, bersiap meninggalkan pengadilan agama sesegera mungkin karena Ajeng sudah menunggunya di dalam mobil.


**


"Mbak sandra keren banget tadi, penampilan kalian berdua luar biasa." puji Ajeng sebelum keduanya turun dari mobil menuju kantor hukum.


"Alah, Jeng tar pesenin aku latte, ya? Aku bikin laporan dulu sebelum bos kita berkacak pinggang." Padahal jangankan memarahi Sandra karena tidak melapor, berangkat siang saja Kai tidak akan mempermasalahkan hal seperti itu.


"Tapi kayaknya Pak Kailash akhir-akhir ini lebih seperti manusia mbak. Mungkin sedang jatuh cinta kali, ya?"


Sontak atas pernyataan Ajeng tadi, Sandra menghentikan langkah kakinya sebelum masuk ke pintu kaca yang menjadi pintu utama masuk ke firma hukum Kailash.


"Lu ada-ada aja,"


"Ih serius, Mbak. Jarang-jarang loh Pak Kailash bengong waktu meeting. Kadang garis bibirnya terangkat secara tidak sadar." bujuk Ajeng lagi.


"Paling gara-gara Audy, kali." imbuh Ajeng lagi.


Namun, kali ini Sandra kurang setuju. Bagaimana mungkin karena Audy? Padahal kenyataan Kai sempat mengajak Sandra untuk menikah meski berakhir dengan penolakan.


"Tidak, bukan karena Audy. Karena dia sudah tidur dengan ... " Hampir saja Sandra membocorkan rahasia mereka berdua.


"Tidur? Pak Kailash? Dengan siapa, Mbak?" Ajeng mencerca banyak pernyataan pada Sandra persis seperti seorang jaksa yang mendesak pengakuan terdakwa.


"Hahaha ... aku hanya bercanda, Ajeng. Mana aku tahu." Untung saja, Sandra bisa memperbaiki suasana sehingga Ajeng tidak terus memburunya.


Usai meletakkan berkas sidang, Ajeng si pegawai junior firma hukum keluar membeli pesanan Sandra dan juga memesan makan siang rekannya yang lain. Sedangkan Sandra? Kini, wanita itu tengah bergelut dengan keyword di depannya untuk menulis laporan hasil kinerjanya.


Meskipun sedikit telat, setidaknya Sandra tidak mau harus bersitegang dengan Kailash lagi.


**

__ADS_1


Lama tidak melihat keberadaan Sandra, membuat si empunya firma mendesak pegawai istimewanya. Entah sudah ke sekian kalinya, Kai menghubungi Sandra hingga membuat wanita itu menjerit pelan.


"Ada apa?" Nada Sandra terdengar jutek.


"Kamu ini di mana saja? Kenapa belum melaporkan hasil sidang?"


"Hasil sidang sudah saya kirim ke alamat email Bapak lima belas menit yang lalu, pasti belum dibuka, kan? Makanya jangan bisa buka baju orang aja, buka email gak bisa." Lancar sekai Sandra memarahi atasannya.


"Sebenarnya yang bos di sini aku atau kamu, Sandra? Aku hitung sampai tiga jika kamu belum ke ruanganku, aku akan menghukum kamu."


Sontak, Sandra buru-buru menutup telepon dari Bang Kai dan segera berlari dengan heels ke ruangan Kailash.


"Satu,"


"Dua ,,, "


"Ti --"


Untung saja sebelum hitungan ke tiga, Sandra berhasil membuka pintu ruangan Kailash dengan napas tersengal-sengal. "Bajing an ini cari mati saja." maki Sandra di dalam hatinya.


"Kangen banget, ya?" Dengan wajah berseri, Kailash menyapa wanita yang kini sedang mengatur napasnya.


"Gak lucu, tau!"


"Kita lihat saja, Sandra sampai kapan kamu bisa berkeras hati?"


Segera saja Kailash mengeluarkan setumpuk dokumen yang telah tersusun rapi dan menyerahkannya kepada Sandra.


"Kasus lagi? Kamu sarap ya ngasih aku sebanyak itu, Bang Kai?"


"Nyerah nggak? Jika bersedia, aku bisa melonggarkan tugas ini."


Kesal, Sandra lalu merebut tumpukan berkas dari tangan Kailash. Empat berkas yang dikemas rapi dalam file task kini berada di tangan Sandra.


Namun, tak satupun di antaranya berisi kasus perceraian. Ada kasus penipuan, perdata serta sengketa lahan. Semuanya tidak berhubungan dengan perpisahan.


"Nggak, ah. Ini bukan kasus perceraian." tolak Sandra.


"Kamu kenapa terobsesi dengan perceraian, Darling? Empat kasus ini harus kamu selesaikan dalam kurun waktu satu bulan."

__ADS_1


Sarap memang Bang Kai, begitulah isi hati Sandra saat ini. Empat kasus dalam satu bulan berarti satu kasus harus diselesaikan dalam waktu 1 minggu. "Yang benar saja,"


Sandra hendak memelas dan memohon dengan halus kepada Kailash. Tetapi, dia lupa nada merayu pria itu.


__ADS_2