Pesona Mantan

Pesona Mantan
Kurang Baik Apa Aku?


__ADS_3

Satu lagi masalah dapat dipecahkan oleh staf Kailash. Pihak yang berwajib tidak lagi menahan Santi Khan karena kesaksian wanita tersebut. Perbuatan artis senior itu murni sebagai tindakan spontan untuk menyelamatkan diri dari ancaman suami wanita itu.


Santi yang ditemani oleh kuasa hukum serta managernya diperbolehkan meninggalkan kantor polisi setempat setelah lebih dari empat jam melalui proses interogasi.


Senyum kepuasan tak mudah begitu saja mereka dapatkan. Selesai menyingkirkan masalah tabrakan, kini muncul masalah lagi. "Wartawan telah memenuhi kantor polisi ini," ucap salah seorang petugas polisi yang melaporkan hal tersebut pada Santi serta Sandra.


Mereka bertiga pun memutar otak agar bisa menyelinap keluar tanpa harus melalui kerumunan pihak media. Namun, tidak ada celah sama sekali.


"Anda pengacara Bu Santi?" Seorang petugas polisi lain yang lebih muda mendatangi Sandra dengan membawa secarik kertas yang dilipat segitiga.


"Benar," jawab Sandra sopan.


"Seseorang pria menitipkan ini, untuk Anda." Polisi tadi memberikan sebuah lipatan kertas pada Sandra.


Usai polisi tadi pergi, Sandra membuka kertas yang dilipat tersebut dan membaca isi dari selembar kertas tersebut.


Sepucuk surat itu bertuliskan "450 KUHP ayat (4)"


Sandra menyadari siapa pengirim pesan tersebut. Tulisan yang sudah lama dia kenal, mudah dipahami olehnya. Sesaat, senyum indah muncul di permukaan wajah Sandra.


"Ayo, Bu Santi. Kita keluar! ada bala bantuan di mobil."


Mengutip bunyi pasal 450 Kitab Undang-undang Hukum pidana, "Seorang warga negara Indonesia yang tanpa izin Pemerintah Indonesia menerima surat bajak, maupun menerima atau menjalankan pekerjaan sebagai nakoda sebuah kapal, padahal diketahui bahwa kapal itu diperuntukkan atau digunakan untuk pelayaran pembajakan tanpa izin Pemerintah Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun."


Dan ayat empat sebagai kode jika kapal itu beroda empat. Karena sejatinya ayat (4) dari pasal tersebut tidak ada, otak encer Sandra bisa langsung menebak sandi yang dikirim oleh Kailash.


"Bu pengacara tahu dari mana?" tanya manager Santi Khan pada Sandra.


"Pemilik firma mengirimkan bantuan, ayo kita segera keluar!" Sembari mengajak keluar, Sandra memejamkan mata sebagai tanda agar kedua orang itu mempercayai dirinya. Karena sebagai seorang kuasa hukum, dirinya akan selalu melindungi kliennya.


"Baiklah," sahut Santi Khan.

__ADS_1


Dengan formasi manager berada di depan lalu disusul oleh Santi. Kemudian Sandra berjalan di belakang, mereka bertiga keluar dari pintu samping yang mengarah jarum jam pukul lima seperti ancaman hukum pada pasal tersebut.


Kode-kode seperti ini, sering digunakan oleh alumnus fakultas ilmu hukum untuk berkomunikasi. Seperti dua orang seperti Sandra dan Kailash tersebut.


Di luar, Kai telah berjaga bersama sejumlah orang yang dia suruh yang kini membaur jadi satu bersama para wartawan agar tidak mencolok. Sedangkan Kailash sendiri, berdiri dengan cemas di samping X4M miliknya.


Akhirnya, penantian Kailash pun berakhir, begitu dia melihat tiga orang yang berjalan dengan cepat keluar dari kantor polisi tersebut.


Para wartawan tidak tinggal diam, mendengar jika bahan berita mereka keluar melewati pintu lain, mereka berbondong-bondong mengejar Santi Khan. Namun, beberapa orang suruhan Kai langsung sigap dan segera mengamankan ketiganya.


Meski terjadi tarik menarik antara wartawan dan pegawai Kailash, namun Santi berhasil masuk ke mobil diikuti oleh managernya.


Tetapi, bagaimana dengan Sandra? Pengacara wanita itu terlepas dari barikade pengawal, tangannya tak lagi bergandengan dengan Santi. Dan tubuhnya terdorong ke arah lain karena desakan dari pihak pengawal dan wartawan.


Untung saja, dengan sigap Kailash mampu menahan tubuh Sandra agat tidak terhuyung jatuh. "Kamu tidak apa-apa?"


"A-aku ... aku baik-baik saja." Sontak saja Sandra tak menyangka jika Kailash telah membantunya. Untung saja ada pria itu, sehingga Sandra tidak terjerembab.


Walau masih dalam keadaan canggung, Kai tetap akan melindungi Sandra dari sasaran empuk pencari berita. Pria itu mendekap Sandra yang telah tertinggal dari rombongan kemudian membawanya ke sedan milik Kailash.


"Oh, orangku sudah mengamankan Santi dan managernya ke tempat yang lebih kondusif. Biarkan mereka istirahat, Sandra."


"Di mana? Sebagai pengacaranya, aku perlu tahu."


Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Sandra, Kailash lebih memilih menghidupkan mobil dan membawa wanita itu meninggalkan kantor polisi dengan segera.


"Bang Kai, aku serius! di mana Bu Santi?"


"Sandra, aku lebih dua rius. Santi kulempar ke tempat aman agar dia tidak membuat onar lagi." Napas Kai memburu. Karena dia tahu semua ini adalah perbuatan sembrono Santi hingga menyebabkan dirinya dan Sandra keluar malam-malam.


"Bang Kai ... aku tidak bercanda." Sandra berteriak hingga menganggu pendengaran Kailash karena suara nyaring itu.

__ADS_1


"Diam, dong. Aku sedang konsentrasi mengemudi. Perjalanan kita masih jauh." Kai tidak salah, jarak Jakarta dan Puncak tidak bisa dianggap dekat.


Barulah setelah suasana lebih kondusif, Kai menjelaskan jika orang yang dia pekerjakan telah melaporkan bahwa Santi dan managernya telah mengambil kamar yang telah dipesan sebelumnya oleh Kailash.


"Jadi mereka sudah beristirahat di hotel? Kenapa tidak bilang dari tadi sih, Pak?" Baru ketika sudah tahu kebaikan hati Kai, Sandra meredakan amarahnya dan dengan lembut memanggil Kailash dengan sebutan Bapak seperti seharusnya.


"Bagaimana aku bisa menjelaskan jika kamu terus berteriak seperti petasan Imlek? Bukanya terima kasih?"


Sandra menyadari kesalahannya, dia dengan mengumpulkan segenap gengsi dan rasa canggung mengucapkan, "Terima kasih, Pak Kailash."


"Sekarang duduk diam, aku mau mengemudi."


"Malam ini? Ini sudah pukul satu dini hari, kenapa tidak beristirahat seperti Santi saja di hotel?" Karena lamanya perjalanan dan sialnya pada malam hari yang notabene waktu untuk berusaha, Sandra tidak tega melihat bosnya kesulitan karenanya.


"Kamu ngebet banget pengen aku pesan kamar dengan kamu, ya?"


Sandra cengo, "Jika tidak ada ancaman hukuman bagi pasal 340 KUHP, pasti aku sudah melakukannya."


Benar, jika mem bunuh dilegalkan, mungkin saat ini Sandra sudah melakukannya.


"Bukan begitu, Pak. Jakarta masih jauh, bukan? Lagipula Bapak juga harus beristirahat. Karena besok masih harus bekerja."


"Bekerja atau tidak itu terserah aku, kamu lupa kantor itu milik siapa?"


"Iye deh, iye .. ntu kantor milik elu. Kali aje lu amnesia." gumam Sandra dengan pelan.


"Jangan mengutukku, aku sudah menyelamatkan kalian. Lagipula jika tidak ada aku ... " Kalimat Kai dihentikan oleh Sandra dengan menutup mulut pria itu dengan tangannya.


"Udeh diam, ya? Aku ngantuk. Kita berantemnya besok aja." pinta Sandra dengan memohon. Permintaan Sandra itu dibenarkan dengan wanita itu menguap lebar seperti gerbang toll Bogor, Megamendung.


"Tidurlah, jika sudah sampai rumahmu nanti, aku akan membangunkan." Kurang baik apa Kailash ini? Bantuan sudah, perhatian sudah. Tetapi, apakah hati Sandra tidak tergerak?

__ADS_1


Jawabannya, tunggu episode selanjutnya, ya!


Terima kasih.


__ADS_2