Pesona Mantan

Pesona Mantan
Malu-malu Meong


__ADS_3

Sandra sama sekali tidak menduga jika usahanya mengaktifkan mode senyap pada ponsel milik sendiri berimbas dengan kemarahan Kailash.


Selain mengkhawatirkan Sandra, Kai juga memiliki sebuah hal yang harus disampaikan kepada anak buahnya itu. Karena, sebagai bos firma Kailash juga berhak mengevaluasi kinerja pegawainya.


Tepat ketika Sandra terbangun di pagi hari, wanita itu melihat ponselnya berpendar yang menandakan ada notifikasi masuk. Segera saja wanita berambut hitam itu membuka kunci layar.


Sekonyong-konyongnya, mata Sandra membulat, kemudian dia menutup mulut dengan tangan kirinya, "Banyak sekali panggilan dari Bang Kai."


Dia menduga jika ada sesuatu yang penting hendak Kai sampaikan padanya, sehingga dengan kesadaran penuh, Sandra berbalik menghubungi Kailash, yang saat ini menjadi bosnya.


"Hallo?"


"Hallo? Kamu masih hidup, Sandra?"


"Samsul, gue tahu gue salah. Tapi apakah ya harus seperti itu?" Sandra menahan emosinya, agar tidak meluap hingga memaki Kailash pada sambungan telepon ini.


Hingga, wanita itu hanya mampu mengepalkan tangannya saja dan mulai meremas sprei.


"Kamu tahu kesalahan apa yang telah kau perbuat?"


"Tahu, Pak. Saya tidak mengangkat telepon dari Bapak."


Kailash menarik napas, lalu mengembuskan dengan kasar. Dia mencoba menenangkan dirinya dalam menghadapi Sandra. Jika terlalu keras, wanita itu bisa enyah begitu saja. Namun, jika terlalu memanjakan Sandra, dia akan bekerja dengan semaunya..


"Itu salah satunya, Sandra ... aku tahu kamu sedang ada masalah. Namun, apa kamu yakin akan membawa berkas kasus Santi yang kau buat ke persidangan?" cecar Kailash dengan nada sedikit melemah agar Sandra tidak lari tunggang langgang jika dia langsung mengultimatum mantan kekasihnya itu.


"Iya, apa ada yang salah, Pak?" Justru, Sandra masih belum menyadari kesalahannya.


"Kamu membuat laporan penyelidikan atau hasil putusan sidang? Isi berkasmu tak ubahnya seperti putusan pengadilan, Sandra. Kamu bertindak menghakimi pihak lawan seperti seorang hakim."


Meski agak sedikit lebih tinggi dari sebelumnya, nada bicara Kailash sudah jauh dari kata kasar. Tidak seperti cara bicaranya dengan rekan ataupun mantan terdakwa yang dia adili ketika Kai bertugas menjadi Jaksa.


"Maaf, Menyusahkan Bapak. Nanti akan saya revisi. Bapak tidak perlu repot-repot berulang kali menelpon saya juga 'kan?"

__ADS_1


Angin sepoi-sepoi dari embusan AC di rumah Kailash nyatanya tidak bisa mendinginkan hati pria itu, bukan naik pitam, Kai justru ingin mengikat otak Sandra yang tidak bisa berpikir jernih karena masalahnya.


"Repot-repot? Kau pikir aku ini punya banyak waktu luang? Jika kau tidak melakukan kesalahan, aku juga tidak akan menghubungimu."


"Iya, Pak. Jika begitu, terima kasih sudah diingatkan."


Bukan menutup telepon, Kai justru ingin memberi peringatan kepada Sandra agar bangun dari mimpi buruknya. Karena Sandra yang dia kenal dulu tidak akan tumbang dengan mudah hanya karen kasus seperti itu.


"Sandra, ingatlah. Bukan berarti karena kita kenal satu sama lain lalu kamu bisa bekerja dengan seenaknya. Bukan juga karena aku menyukaimu lalu justru kamu bisa bebas menulis karanganmu."


"Kok Bapak jadi bahas masa lalu, sih? Aku juga tidak peduli meskipun kita kenal satu sama lain. Dan aku juga tidak peduli jika Bapak suka atau tidak padaku." maki Sandra sebelum menekan tombol end call.


"Sa-Sandra ... " Kai membanting ponselnya, "Wanita ini menyusahkan saja.".


"Be debah itu kira dia siapa mengatakan hal seperti itu padaku? Dia pikir aku mau disukai olehnya dulu." gumam Sandra.


Namun, ada kata yang janggal bagi Sandra. Dia tadi tidak mendengar kata dulu dari mulut Kailash. "Iya, dulu 'kan dia sukanya sama aku? Bukan sekarang 'kan?"


**


Bahkan pada akun media sosial perusahaannya, Sandra tidak lagi menemukan komentar negatif tentang dirinya.


"Mungkin departemen Humas telah membereskan masalah ini," Atas kerja keras rekan-rekannya, Sandra berniat menghadiahkan bingkisan kecil kepada temannya.


Sebelum tiba di kantor tempat dia bekerja, lebih dulu Sandra mampir ke toko roti miliknya yang dikelola oleh staf. Sandra meminta pegawai toko rotinya untuk membungkus semua roti di toko dan menyuruh mereka untuk memasukkan ke bagasi mobil Sandra.


"Bu Sandra, semua sudah siap."


"Makasih, ya."


**


Suasana kantor sangat berbeda dengan kemarin ketika Sandra terlibat masalah dan meninggalkan tempat kerja lebih awal. Pagi menjelang siang ini, beberapa karyawan tidak lagi memandangi Sandra dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Justru, banyak pegawai yang menyapa Sandra. Jika dulu hanya beberapa asisten pengacara serta OB, maka kini banyak yang memberi wanita itu dengan senyum merekah.


"Apa matahari terbit dari barat?" Dia bermonolog dalam hati.


Untung saja, ada OB yang membantu sandra menurunkan barang-barang yang dia bawa. Ditemani oleh OB itu dan Rosi pun datang membantu, Sandra membagikan roti beserta teh susu yang dia bawa untuk pegawai di kantor.


"Apa ini suap?" goda Ajeng yang baru saja datang dengan tergopoh-gopoh mendekati temannya.


"Hus sembarangan," sanggah Bu Rosi.


"Tidak, ini hanya hadiah kecil saja. Karena kalian semua telah membantuku mengatasi rumor tak enak itu."


"Tenang aja, Mbak ... Pak Kailash sendiri yang memerintahkan bagian Public Relationship dan meminta awak media membungkam berita itu dengan media play." jelas Ajeng dengan mulut sebesar panci presto.


"Pa-Pak Kailash? Be debah iblis itu? Membantuku?"


Sandra masih kesulitan mencerna satu persatu kalimat dari mulut Ajeng.


"Ih, dibilangin. Dalam rapat virtual sore kemarin, Pak Kailash sendiri yang membagi tugas. Mbak Sandra, sih ... pulang gak bilang-bilang, ',kan kita jadi khawatir loh."


"Sudah-sudah, yang penting masalah ini beres. Lagipula, kamu harus berkonsentrasi dengan kasusmu, Sandra." Ucapan Bu Rosi yang menengahi memang benar.


Namun, sebelum Sandra kembali bekerja, wanita itu masih menimbang apakah tindakan yang akan dia ambil benar ataukah terlalu berlebihan.


"Haruskah aku mengatakan terima kasih?" Alhasil, wanita itu hanya mondar-mandir di ruangannya sebelum pergi rapat pagi.


Namun, niat menghaturkan terima kasih itu gagal, lantaran Pak Kailash lagi-lagi off hari ini. Bahkan rapat pagi yang seru dilakukan, diurungkan untuk hari ini, baik itu secara virtual atau tatap muka.


"Jika aku menghubunginya, tidakkah itu terlalu canggung bagi kami yang baru saja bertengkar seperti tadi pagi?" Sandra kembali dihinggapi rasa bersalah dengan Kailash.


"Tapi, jika tidak ... dia akan menganggap aku tidak tahu diri."


Sesaat kemudian Sandra bergumam lagi, "Tapi, jika aku menelepon duluan, dia akan besar kepala, bukan?"

__ADS_1


Ya elah Sandra, mau nelpon duluan aja udeh kaya mikir delegasi perdamaian negara. Kalau kalian gimana?


****************


__ADS_2