
Sayup-sayup Sandra mendengar kedatangan seseorang ke apartemennya. Atas rasa kantuk yang mendesaknya, Sandra enggan untuk membuka mata hingga membuat pengacara wanita itu tetap terpejam meskipun tubuhnya diangkat dan dipindah dari sofa ruang tamu ke bagian lain dari apartemen milik wanita itu.
"Kamu pasti ketakutan, maafkan aku!" ucapnya pelan sembari menyingkap anak rambut yang menutupi sebagian wajah Sandra.
Alih-alih menjawabnya, Sandra sama sekali tidak merespon apapun karena tengah terlelap dalam buaian mimpi.
"Aku akan melindungimu apapun yang terjadi."
**
Kesal karena Kailash telah berkali-kali menerobos masuk daerah kekuasaannya, membuat Sandra mantap untuk merubah password akses masuk ke apartemennya.
Wanita itu kurang begitu nyaman jika Kailash keluar masuk rumahnya. Terlebih lagi, sempat mama Sandra hampir menangkap basah keduanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Sandra menoleh ke belakang ketika kegiatan merubah password itu diketahui oleh Kailash. Wanita cantik itu tidak takut sedikitpun, karena bangunan ini adalah miliknya sendiri. Sehingga mau diapakan saja, itu terserah Sandra, bukan?
"Aku merubah password pintu," jawabnya tanpa ragu.
Kailash menarik tangan Sandra agar wanita itu mengurungkan niatnya untuk mengganti akses masuk apartemen, "Sandra, apa kamu akan terus seperti itu padaku?"
"Maksud kamu apa, Bang Kai? Aku merasa terusik dan perlu menjaga diri. Jadi, aku tidak ingin orang lain bisa keluar masuk rumahku."
"Tapi aku bukan orang lain, Sandra. Bukankah kita sudah menghabiskan malam bersama? Aku juga ingin bertanggungjawab." Kailash tetap kekeuh dengan pendiriannya bahwa dia akan menikahi wanita itu setelah semua urusannya kelar.
Bukannya mengangguk bersedia, Sandra malah menatap Kailash dengan tatapan sendu, "Aku tidak butuh tanggung jawabmu, Bang Kai."
Kembali dua orang itu berada dalam keadaan sengit dengan argumen masing-masing. Berprofesi yang sama sebagai pengacara, membuat keduanya tidak ingin mengalah satu sama lain.
__ADS_1
Sandra melipat kedua tangannya ke dalam da da seraya berkata, "Kamu tidak peru menyusahkan dirimu, semua itu karena permintaanku. Jadi, tidak ada yang dirugikan ataupun merugikan."
"Kenapa kamu keras kepala sekali, Sandra? Apa menikah denganku itu suatu kegagalan bagimu?"
Sandra mulai meluluh, wanita itu paham jika dia terus bersikap keras kepada Kailash, tidak akan berakhir bahkan hingga lebaran kuda. Sehingga, sudah sebaiknya Sandra melunak atas sikapnya terhadap Kailash.
"Bukan seperti itu, menikah bukan prioritasku. Tidak hanya dengan kamu. Aku tidak berminat menikah dengan siapapun juga."
Kailash tersentak, "Begitu sulitkah baginya menerimaku kembali?"
Merasa bersalah, sehingga Kailash hanya bisa mencoba menarik ulur perasaan Sandra saat ini, "Jika kamu tidak menikah, lalu bagaimana dengan hidupmu? Kamu tidak ingin memiliki keturunan?"
Sandra terkekeh, dia merasa jika ucapan serta pertanyaan dari Kailash tadi sangat konyol hingga tak bisa dia terima dengan akal sehatnya, "Di jaman ini, negara cukup membantu dengan merevisi undang-undang perwalian. Aku bisa mengadopsi bayi."
"Tidakkah kamu ingin memiliki anak dari rahimmu sendiri?" Meskipun Kailash tahu jika Sandra pasti akan mematahkan argumentasinya tentang keturunan dengan alasan surogate mother .
"Bagiku, pernikahan itu hanya memperkeruh keadaan. Kita akan terikat dengan hubungan bersama seseorang. Dan bahkan jika kita akan berpisah, kita harus menjalani proses perceraian yang pelik di persidangan. Bukankah itu hanya membuang waktu?"
Kailash berjalan mendekati tempat berdirinya Sandra dengan muka masam, "Jadi kamu mau kita seperti ini terus? Hubungan tanpa ikatan? Atau hanya pacaran seperti anak bau kencur saja?"
"Kita? Bang Kai dengarkan aku! hubungan kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu." Nyatanya saat ini, keduanya memang tidak memiliki kesepakatan apapun selain hubungan rekan kerja.
"Jadi ... menurut kamu seperti itu? Baiklah, karena hubungan kita sudah berakhir, maka aku akan memberikan hubungan baru untuk kita." Usai berkata demikian, Kailash menangkap tengkuk Sandra agar dia bisa dengan mudah menguasai wanita itu.
Tak hanya memiliki, Kailash ingin lebih dari itu. Dengan sedikit memaksa, Kai men cium bibir tipis wanita itu tanpa make up sedikitpun.
Sandra mencoba melepaskan diri dari kuasa Kailash, tetapi cukup sulit. Dengan tenaganya, Kailash mampu menangkup dan membenamkan kepala Sandra agar kecupannya semakin dalam dan dalam lagi.
Nafas Sandra semakin memburu. Namun, Kailash tidaklah peduli. Tekad pria itu sudah bulat, dia tidak akan melepaskan Sandra begitu saja.
__ADS_1
Serangan di bibir Sandra semakin dalam. Selain meningkatkan ritme serangan itu sendiri, Kailash juga mengingatkan lebih. Tangan pria itu berhasil menerobos punggung mulus Sandra di balik baju wanita itu.
"Ah ... Sandra." rutuk Kailash karena ide gila Sandra yang menggigit lidahnya agar bisa menggagalkan khilaf Kailash.
Usai berhasil lepas, Sandra mulai mengajur nafasnya. Wanita itu terengah-engah atas ulah Kailash. Namun, Kailash tidak berhenti begitu saja, tidak ada satu keinginannya yang tak dia dapatkan.
Perlawanan dari Sandra itu tampak manis baginya, "Nakal, ya?" Meskipun dia tahu jika Sandra tidak menganut paham hardcore. Namun, percobaan tadi semakin menaikkan geloranya.
Kailash semakin berani, bahkan kini dia terus mendesak Sandra hingga wanita itu terhimpit di antara Kailash dan juga tembok apartemennya.
"Kamu, ca bul ... aku bisa melaporkan kekerasan ini."
Kini, bukan lagi bibir tipis Sandra yang menjadi sasarannya. Leher jenjang nan mulus tanpa ditutupi rambut indah wanita itulah yang menjadi target Kailash. Pagi ini, Sandra memang tidak menggerai rambutnya, sehingga bagian tubuhnya itu tampak sek si di mata Kailash.
Ke cupan serta ji latan dirasakan oleh Sandra di titik-titik sensitif tubuhnya.
Kailash sendiri semakin berani mengeksplorasi bagian tubuh Sandra yang lainnya. Terlebih lagi, sepertinya wanita itu sudah tidak memiliki tenaga untuk berontak.
"enak 'kan?" bisik Kailash pada Sandra.
Makian, umpatan serta sumpah serapah tadi sudah tak terdengar lagi. Keduanya sudah mencapai tahap awal dalam kegiatan menuju puncak.
Deru nafas keduanya bersatu dengan setiap tetes keringat kenikmatan. Gengsi untuk mengeluarkan era ngan yang awalnya terjadi, kini tak tampak lagi.
TKP pun sudah mulai bergeser dari ruang tamu menuju kamar Sandra. Busana yang menutupi bagian atas masing-masing sudah mulai ditanggalkan. Hanya tersisa pakaian da lam pada keduanya.
"Kita akan terus bersama, Sandra. Kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku!"
"Bang Kai, kau orang paling brengsek di dunia ini."
__ADS_1
You and I and nobody else. Feeling feelings I've never felt. The way you got me under your spell. Don't you keep it all to yourself. So won't you take it?
I feel like for the first time I am not faking. Fingers on my buttons and now you're playing. Master of anticipation, don't you keep it all to yourself.