Pesona Mantan

Pesona Mantan
Keras Hati


__ADS_3

Hati Sandra bergelut dengan logikanya, setiap kali jemarinya berniat untuk menekan tombol hijau, pikiran pengacara wanita itu menyanggah dengan cepat bahwasanya untuk apa dia harus repot-repot mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menyakiti hatinya dulu.


Namun, bukankah sekarang Kai sudah menunjukkan penyesalannya?


Tetapi, hingga detik ini juga tak pernah Sandra mendengar seuntai kata maaf dari mulut Kailash. "Ya sudah, toh melindungi pegawainya yang tidak bersalah sudah tugas pemimpin, bukan?"


Wanita itu mengurungkan dan menyudahi gejolak di hati dengan fokus bekerja..


Sandra harus merevisi pekerjaan yang carut marut akibat tidak adanya konsentrasi kemarin.


Dan sudah sejak kemarin, bos di kantor ini tak jua menampakkan batang hidungnya. Para karyawan telah paham dengan kesibukan Pak Kailash, selain mengurus kantor hukum keluarga, Pak Kailash mereka juga menyebar bisnis lain di luar kota.


Jadi, jika Kailash tidak tampak hadir mereka sudah memahami.


"Hidup terasa aman jika tidak ada Pak Kailash, bukan?" celetuk Ajeng bersamaan dengan wanita itu menyedot minuman yang dia genggam.


"Kamu minum apaan, Jeng? Kayaknya seger." Rosi yang berada di depan wanita muda itu tampak menelan ludah melihat betapa menyegarkan minuman yang di sedot Ajeng.


Teh yang dibuat dari campuran beri itu menggugah dahaga yang lainnya.


"Ajeng tadi pesen Mixed berries ice tea, masih ada kok kalau Bu Rosi mau. Ajeng pesennya satu liter tadi."


Kebiasaan pegawai kantor saat jam istirahat tiba, mereka jarang bisa makan ke luar karena banyaknya tugas yang harus mereka kerjakan. Namun, semua itu tidak memupus impian untuk makan dan minum enak, buktinya Ajeng masih bisa delivery order menu yang dia sukai.


Ajeng membagi minumannya dan menuangkan ke gelas Bu Rosi sambil bertanya, "Mbak Sandra ke mana? Tumben masih betah di ruangan?"


"Ngerjain tugas dari bos kali, Sandra kan pegawai teladan kagak kaya kamu."


"Yah, Bu Rosi. Ajeng mah rajin. Buktinya Ajeng banyak belajar dari kalian."


Pucuk dicinta, Sandra yang menjadi pembicaraan keluar dari ruangan dengan wajah kusut. Tentu saja hal ini menjadi bahan pertanyaan bagi rekan yang lain.


"Ganti metode lagi?" tegur Bu Rosi.

__ADS_1


"Bukan, Sandra mau keluar dulu cari kopi. Kalian mau nitip?"


"Boleh, sekalian cemilan juga, Mbak." pinta Ajeng.


"Nih anak, makannya kaya kuda." Mereka semua menertawakan Ajeng. Karena dianggap mereka jika Ajeng ini masih kekanak-kanakan hingga mudah digoda.


**


Jika di firma tampak aman damai sentosa karena ditinggal oleh Kailash, itu berbanding terbalik dengan Leon. Pria muda yang bekerja sebagai PA Kailash itu tampak sibuk menyiapkan keperluan untuk bosnya.


Sejak pagi tadi, Kailash tampak serius dalam semua urusannya. Bahkan ketika siang ini, semangat bekerja pria berjas abu-abu itu masih belum padam.


Semua itu dia lakukan untuk menyamakan level dengan calon mertuanya. Karena Kai tidak ingin dicap sebagai pria yang hanya bisa menikmati hasil jerih payah Pradabhasu saja.


"Jam berapa pertemuan dengan executive manager proyek, Leon?"


"Setengah dua, Pak. Masih ada waktu sepuluh menit lagi."


Leon menyarankan agar Kailash bisa beristirahat sebelum rapat kembali di mulai. Tetapi, apa yang di dapat Leon? Sia-sia saja.


Sesekali, Kailash memejamkan matanya. Setidaknya dia ingin melonggarkan urat-urat di tubuhnya. Karena selama hampir dua hari ini, pengacara itu tidak bisa tidur dengan nyenyak karena harus mengurusi banyak hal. Termasuk menangani berita miring Sandra.


Sontak Kailash teringat dengan Sandra, "Tapi, bukankah seharusnya dia berterima kasih padaku?" pikir Kailash.


Sepertinya sebuah takdir memang sudah menggariskan nasib kepada mereka berdua, tepat ketika Kai sedang memikirkan Sandra, ponselnya bergetar dan menampilkan notifikasi pesan yang masuk dari wanita itu.


Namun, ada hal yang membuat Kai tercengang bahkan nyaris membuat jantungnya copot. Bagaimana mungkin seorang Kailash bisa hampir tidak bisa bernapas hanya karena pesan dari seorang wanita?


Pesan yang bertuliskan, "Bang Kai, bisakah kita tidur bersama?" Benar-benar mampu mendobrak batas yang dibuat oleh Kailash.


Jika tidak ada Leon, mungkin Kai sudah melempar ponselnya.


Keterkejutan Kailash, mampu ditangkap oleh Leon hingga pria itu bertanya sebab musabab, "Kenapa, Pak? Apa ada yang salah?"

__ADS_1


"Tidak, tidak ada yang salah." jawabnya.


Kailash terus memikirkan pesan dari Sandra hingga dia urung membalasnya. "Apa karena rasa berterima kasih itu hingga dia ingin membalasnya dengan tidur bersamaku? Tapi ini bukan gaya Sandra."


Tetapi, jika dibiarkan, Kai tidak akan tahu maksud dari kalimat Sandra. sehingga pria itu mengetik sebuah pesan untuk membalas Sandra.


"Apa maksudmu, Sandra?" tulis Kailash pada pesan untuk Sandra.


Tak sampai dua menit, sepertinya Sandra sudah menunggu pesan darinya. Sehingga dengan gesit, pengacara wanita itu membalas pesan untuk Kailash.


"Aku ingin tahu bagaimana reaksi diriku. Jadi Bang Kai, ayo kita tidur bersama."


"Apa kamu sudah tidak waras?"


"Aku tahu permintaanku ini keterlaluan, tetapi aku hanya mengenalmu saja. Jika kamu keberatan, aku akan meminta orang lain saja."


Sekonyong-konyongnya, Kailash mengumpat, "Sial."


"Pak, Apa Bapak baik-baik saja?" Wajah Leon tampak khawatir karena jika diperhatikan sejak tadi, Kailash sungguh aneh.


"Dia pikir dia siapa, ha? Berani-beraninya mencari orang lain untuk menggantikan aku." Sungguh di luar planet memang.


Kai tidak marah dengan permintaan nyeleneh Sandra. Dia marah karena Sandra berniat untuk mencari orang lain sebagai gantinya.


"Leon, kita kembali ke Jakarta. Atur ulang pertemuan dengan executive manager Minggu depan.'


"Jadi saya harus pesan tiket Palembang-Jakarta kapan, Pak?"


"Detik ini juga."


"Lewat sedikit saja, wanita itu akan menggila." Kailash sangat paham seperti apa kerasnya kemauan Sandra.


Terlebih lagi, dia juga sudah tahu jika wanita itu sedang berada dalam masalah karena pemberitaan. Bahkan pertemuan Sandra dengan psikolog kemarin juga sudah diketahui oleh Kailash. Dia menuangkan sikap Sandra yang terbawa arus masalah. Padahal kenyataannya, berita itu tidak terbukti benar adanya.

__ADS_1


****************


__ADS_2