
Seorang wanita berumur lima puluh tahunan berdiri menghadap jendela. Di sebuah kamar yang sunyi, wanita itu membelakangi seseorang yang tengah duduk.
Wanita itu terus saja berbicara kepada pemuda yang kini sedang menundukkan kepalanya, "Kamu harus tega, Nak. Hancurkan semua orang yang telah menghancurkan kehidupan mama."
"Tapi, Ma ... mereka baik padaku," sanggah pemuda yang memanggil wanita itu dengan sebutan mama.
Suaranya hampir tercekat di tenggorokan, hatinya bergemuruh jika mengingat semua kenangan buruk, "Jika mereka baik, mereka tidak akan merusak reputasi mama dan kakekmu. Mereka semua pantas mendapatkan apa yang mama rasakan."
Selama ini, Amora telah merasakan hidup yang menyedihkan. Dia kehilangan semua yang wanita itu punya. Kemewahan, teman-teman bahkan papanya masuk penjara hingga meninggal di dalam penjara. Semua itu karena ulah Pradabhasu dan wanita yang telah menikah dengan papanya.
Rosaline atau bekas mama tirinya, tega menghancurkan kehidupan Amora dan papanya. Sehingga wanita itu harus memulai hidup baru dengan sisa-sisa tabungan yang mereka miliki. Tak banyak memang, karena semua aset milik papa Amora telah disita oleh negara.
Hingga sampai detik ini, wanita yang telah dikaruniai seorang putra dari pernikahannya memendam luka dan berniat membalas dendam
"Kamu terus awasi anak Prada, jika ada celah, segera hancurkan semua usahanya. Rebut apa yang dia punya. Selebihnya, biar mama yang akan turun tangan."
"Ma, tolonglah! dendam tidak akan memuaskan hati Mama. Yang ada balas dendam akan semakin merusak hati Mama."
Nasihat dari sang putra tak dia hiraukan. Bahkan naf su untuk membalas dendam, semakin membara. Karena Amora telah bersumpah akan menuntut balas atas perbuatan Prada dan sekutunya.
**
Usai meluapkan semua sesak di dada, Sandra bisa bernapas lega. Meskipun dia tahu apa yang telah Sandra lakukan berimbas pada karier pengacaranya di kantor hukum Kailash. Sandra tidak begitu peduli, toh jika dirinya dipecat oleh pria edan itu, Sandra akan dengan senang hati menerimanya.
Banyak rekan kerja yang mendukung penolakan Sandra karena kasus seragam kerja. Mereka menilai jika Kailash tidak memberi kebebasan berbusana pada pegawainya.
Kai dinilai menjadikan otoritas kepemimpinannya untuk mendiskriminasi pegawai. "Dia pikir kantor itu sekolah dasar?" maki Sandra sebelum dia berbaring dan mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Dan, Kailash sendiri dengan keteguhan serta keyakinan hati, akan tetap memberlakukan peraturan baru perusahaan yang mewajibkan semua pegawainya memakai baju seragam jika sudah selesai dibagikan.
Semua itu Kai lakukan, agar pegawai wanita di lingkungan tempat kerjanya tidak mendapatkan pe le cehan verbal dan non verbal. Atas perhatian Kailash itulah, beberapa karyawan laki-laki di kantor membenarkan ide Kailash.
Jika bukan karena Sandra yang terlalu mencolok dalam berpakaian hingga membuat kepala Kai berkedut, mungkin pria itu tidak akan berbuat hingga sedemikian rupa.
Sandra adalah satu-satunya alasan bagi Kai untuk terus melindungi wanita itu apapun masalahnya. "Yah, setidaknya dia aman jika ada aku di sampingnya." ucap Kai usai dirinya dan Sandra bertengkar hebat.
**
Tak sampai satu jam jarak Sandra tertidur, wanita itu kembali membuka mata. Semua itu karena gangguan dari bunyi ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur Sandra.
Dengan menahan rasa kantuknya, Sandra membaca nama si penelpon. Nama klien Sandra, Santi Khan berusaha menghubungi mantan kekasih Kailash itu.
"Malam-malam seperti ini, ada perlu apa?" gumam Sandra sebelum mengangkat panggilan tersebut.
Sandra mendapatkan berita bahwa Santi kini berada di kantor polisi Puncak karena telah menabrak mobil yang dikendarai oleh suaminya. Atas kejahatan itu, Santi kini ditahan oleh polisi setempat.
Tak ingin membuang waktu, Sandra mengambil sebuah coat tebal untuk membungkus tubuhnya dari pelukan udara dingin di Puncak.
Buru-buru wanita itu keluar dari kamar dan berlari menuruni anak tangga menuju mobilnya terparkir. Kedua orang tua Sandra yang kebetulan melihat anak gadisnya hendak keluar sendiri, tak kuasa untuk tidak khawatir.
Papa Sandra bersikeras agar diijinkan oleh sang putri mengantar. Namun, Sandra justru menolak papanya. Dia tidak tega menganggu istirahat malam papanya.
"Sandra, jangan buat papa dan mama khawatir, Sayang." Mama Sandra juga keberatan jika anak gadisnya keluar malam sendiri ke luar kota.
"Kalau kamu keberatan papa antar, biar Mang Saeful aja yang antar gimana?" Papa memiliki ide agar Sandra diantar Mang Saeful, supir keluarga Sandra.
__ADS_1
"Jangan! kasihan Mamang. ini udah malam. Ya udah kalau gitu, Sandra naik taksi aja, deh." Ongkos taksi yang berat itu diterjang oleh Sandra karena wanita itu tidak mau menyusahkan seisi rumah karenanya.
"Ya udah, tapi hati-hati, ya?" Mama dan Papa Sandra akhirnya menyetujui kepergian anak satu-satunya itu.
Menggunakan taksi, Sandra bergegas menuju kantor polisi di mana Santi Khan telah dimintai keterangan. Sebagai kuasa hukum artis tersebut, sudah selayaknya dia bertanggungjawab atas keselamatan kliennya.
Sehingga, Sandra akan mempertahankan hal yang bisa membuat dia dan kliennya memenangkan persidangan mendatang.
"Pak lebih cepat lagi bisa? Ini darurat!" pinta Sandra pada pengemudi taksi tersebut.
**
Memasuki daerah Puncak, Sandra meminta supir taksi tersebut untuk mengantarnya ke kantor posisi yang telah menahan Santi Khan.
Sesampainya di pelataran kantor polisi, Sandra memindai tarif taksinya melalui aplikasi pembayaran yang diterima oleh armada taksi itu. Tak ingin terlalu lama, Sandra keluar dan berlari masuk ke kantor polisi untuk menemui Santi Khan.
Begitu masuk, Sandra langsung bisa menemukan di mana Santi di interogasi. Sorot mata wanita itu begitu sayu, segera Sandra menghampiri Santi dan mengatakan jika dirinya adalah kuasa hukum Santi Khan.
Sandra memperkenalkan dirinya sebagai lawyer Santi dan akan menjadi juru bicara Santi. "Tenanglah, Bu! Anda pasti akan keluar dari sini. Saya janji."
Mudah saja bagi Sandra membalik keadaan, meskipun kliennya mendapatkan laporan berupa pengerusakan dengan kesengajaan, Sandra tidak masalah.
"Klien saya terdesak, semua itu karena dia melihat suaminya mengemudi bersama WILnya. Sehingga secara spontan, klien saya melakukan hal secara mendadak untuk membongkar keburukan pasangannya." jelas Sandra menyanggah tuntutan pihak berwajib.
Selain itu, Sandra juga membawa bukti visum dari Rumah Sakit Polri yang menyebutkan jika kliennya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Santi diancam oleh sang suami agar mengaku berselingkuh, jika tidak Santi akan dipukuli seperti sebelum-sebelumnya.
Bukan hanya itu saja, Sandra juga membawa rekam medis yang menjelaskan jika suami Santi mengidap penyakit bipolar hingga menjadikan penyebab keretakan rumah tangga artis tersebut.
__ADS_1
...****************...