Pesona Mantan

Pesona Mantan
Pulang ke Rumahmu


__ADS_3

Dari keempat berkas yang dibawa oleh Sandra, tidak satupun ada yang menarik perhatian dirinya. Pengacara wanita itu terus menelisik halaman tiap halaman dari berkas tersebut. Namun, tetap saja tidak ada yang berkesan padanya.


Tetapi, apakah Sandra akan mengalah dengan membiarkan dirinya menyerah dengan Kailash serta menerima bantuan pria itu agar bisa kembali padanya? Tentu saja, tidak. "Enak saja," kata Sandra singkat.


**


Semenjak kedatangan pengacara wanita baru itu di kantor ini, Leon menangkap ada hal lain yang memengaruhi bosnya. Oleh sebab itu, atas kemauannya sendiri, Leon mencari tahu identitas Sandra secara menyeluruh.


Personal Assisten Kailash itu menelusuri almamater Sandra. Dan sesuatu yang tak dia duga telah Leon kantongi.


Leon tidak menyangka jika Sandra memiliki hubungan di masa lalu dengan Kailash. Sehingga, Leon kini ingin mendekati Sandra dengan maksud dan tujuan yang sangat jauh berbeda dengan Kailash.


"Mau kubantu, Mbak Sandra?" Leon mengajukan bantuan kepada Sandra ketika pria itu melihat seorang wanita cantik di pantry tanpa meminta tolong kepada OB kantor.


"Gak usah, deh. Cuma bikin kopi aja? Pak Leon mau bikinin kopi Pak Kailash, ya?" tebak Sandra begitu dia melihat pria muda dengan penampilan rapi itu berdiri di sampingnya hendak mengambil bubuk kopi untuk dia masukkan ke mesin pembuat kopi kantor.


"Iya, nih. Pak Kailash suka kopi tubruk."


"Gulanya satu setengah sendok teh untuk campuran kopi satu sendok teh." sahut Sandra.


Mulut Sandra kelepasan mengatakan racikan kopi favorit Kailash. Sehingga, untuk menyelamatkan diri, buru-buru Sandra menyingkirkan rasa canggung itu.


"Mbak Sandra tahu banget perbandingan kopi Pak Kailash?"


"Kemarin aku udah dua kali bikin, kali. Jadi apal deh!" Dengan mudah Sandra berdalih agar Leon tidak menaruh kecurigaan padanya.


"Ya udah, aku kembali dulu, Pak Leon." Segera saja Sandra keluar ruangan untuk menghindari pertanyaan berikutnya dari Leon.


Leon tersenyum manis. Namun, siapa sangka jika ada hal yang tak terduga di balik senyum manisnya. "Rupanya dia adalah ancaman bagimu, bos? Kini, aku tahu kelemahanmu." gumamnya pelan usai punggung Sandra tak lagi terlihat karena menghilang di balik pintu keluar pantry.


Tak ingin Kailash menunggunya terlalu lama, segera saja Leon membawa masuk kopi buatannya ke ruangan Pak Kailash mereka.


"Pak ini kopinya,"


"Letakkan saja, oya kasus tabrakan di toll Jagorawi tadi, sudah kamu dapatkan rekaman kamera pengawasnya?" tegur Kailash pada Leon anak buahnya.

__ADS_1


Selain Sandra dan pengacara lain, Kailash sendiri juga mengambil kasus kecelakaan yang menimpa anak pejabat Kementerian Keuangan. Selain fee yang diwartakan sungguh menggiurkan, Kai mengambil kasus ini lantaran orang tua dari anak tersebut merupakan relasinya.


"Bapak yakin mau ambil kasus ini?"


"Yakin,"


"Kasus ini akan bergulir dan diawasi oleh warga Indonesia, Pak." nasihat Leon.


"Aku tahu, kasus ini bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita. Satu sisi bisa mem bunuh kita, dan sisi yang lain bisa menjadi senjata untuk mem bunuh lawan."


Benar yang dikatakan oleh Kailash, kasus kecelakaan ini akan berkembang menjadi bola panas karena banyak dari pegawai kementerian keuangan yang tertimpa kasus akhir-akhir ini. Sehingga, gerak-gerik pejabat yang berwenang, kini disorot dengan tajam oleh mata nitizen.


"Bapak pasti punya cara?"


"Ada, kembali bekerja dan dapatkan keterangan dari berbagai sumber. Aku akan menyusun permohonan penangguhan penahanan."


**


Selain Kailash dan juga Sandra, para pengacara lain juga disibukkan dengan tugas mereka. Sandra terus saja menolak kasus yang Kailash beri. Bahkan kini, wanita itu tak ragu lagi mendatangi ruangan Kailash untuk menolak kasus itu.


Sandra kembali menunduk, "Ini bukan passion saya, Pak!"


Mendengar hal demikian, Kai yang tengah mempelajari berkas di depannya kini menatap Sandra dengan lebih intens lagi, "Kenapa?"


"Ini kasus keluarga, sulit bagi saya untuk memenangkan yang seharusnya menang."


Karena dua orang yang berduel pada kasus yang dibawa oleh Sandra itulah, Kai memberikan kesempatan ini untuk Sandra yang notabenenya sangat dia percaya kemampuan wanita itu.


"Kalian bertiga adalah wanita, jadi akan lebih baik jika kamu yang ambil alih. Bukankah wanita bisa mengimplementasikan dengan sesama wanita?"


Bagi sesama wanita, mereka akan mudah berkomunikasi satu sama lain secara heart to heart . Karena sebagian besar wanita selalu mengambil keputusan dari hati dan perasaan dan mengesampingkan logika.


"Bagaimana bisa aku membela istri ke dua atau pelakor yang jelas-jelas telah menghancurkan rumah tangga istri pertama?"


Kembali Kai mengingatkan job desk Sandra, "Sebagai seorang pembela hukum, sudah sepantasnya kita meringankan kasus yang menimpa klien, bukan? Jika perasaanmu mengkerdilkan logikamu, aku yakin kamu akan menyesal, Yang."

__ADS_1


Sebenarnya niat Sandra mendatangi Kailash adalah untuk merayu pria itu agar memberinya hanya kasus perceraian saja, bukan mendapat kuliah umum dari atasannya itu.


"Jangan deh, Pak. Nggak tega aku."


"Honor kali ini tidak ada potongan management, deh." bujuk Kailash agar Sandra bersedia menerimanya.


Diiming-imingi bayaran mahal, tak membuat hati Sandra tergugah. Wanita itu tetap berkeras hati. "Atuh Bang Kai, yang lain aja deh."


"Kalau kamu terus merengek seperti itu, aku akan mengulangi olah raga semalam." ancam Kailash.


Sandra memundurkan langkahnya mendengar ancaman Kailash padanya, sehingga Kailash menahan tawanya agar tidak meledak di depan Sandra. "Sana pelajari! aku sibuk, Yang. Paling tar pulang ke rumah juga kemalaman." imbuh Kailash.


Sandra cengo mendadak seperti kambing congok, "Gak ada hubungannya dengan aku,"


"Nanti kamu pulang sendiri, ya! tunggu aku pulang di rumahmu."


Sandra mengepalkan kedua tangannya, "Lu kate rumah gua rumah singgah? Kagak punya rumah, ya?"


"Aku sudah mengubah password apartemenku, jangan harap bisa masuk lagi."


Waduh ... "Kok gitu, sih? Kamu gak bisa kaya gitu, Sandra."


"Terserah aku, itu rumahku." Sandra membalik badannya karena gagal bernegosiasi dengan Kailash.


"Sandra ... " Kailash berteriak memanggil nama wanita yang sedang berjalan keluar dari ruangannya.


"Mulai dari semalam, aku sudah pindah ke apartmenmu. Di mana kamu tinggal, aku akan ada di sana." Namun, Sandra sama sekali tidak menghiraukan Kailash dan memilih terus berjalan keluar ruangan.


"Begini, nih kalau spatula Spongebob dikasih nyawa." umpat Sandra memaki Kailash meskipun pria itu adalah bosnya.


"Kenapa marah-marah, sih Neng? Cepet tua, loh!" ejek Bu Rosi pada Sandra.


"Bu Rosi kok betah, sih kerja sama dia?"


"Dia siapa? Pak Kailash? Meskipun rada aneh, tapi Pak Kailash sangat perhatian kepada pegawainya. Buktinya kita aja seragaman kaya gini?" nasihat Bu Rosi diiringi tawa khas pengacara senior itu.

__ADS_1


Masalah seragam hanya sebagian kecil saja, mereka belum tahu arogansi Kai serta suka bertindak semaunya. Bahkan berbicara hal vul gar kepada Sandra.


__ADS_2