
Dio memperhatikan Dea, yang sedang bermain tenis meja, dengan gelak tawa yang terlihat bahagia sekali bersama Anton yang merupakan teman sekelasnya. Melihat intraksi keduanya, Dio mencoba manghampiri Anton saat bola jatuh tak bisa ditangkis oleh Dea.
Dio bisa melihat ekspresi terkejut dari Dea yang malihatnya menggantikan Anton bermain dengannya. Dea protes, namun tak bisa mundur sebelum bermain dengan Dio.
"Dasar lemah, cepat nyerah" gumam Dio yang bisa didengar oleh Dea
Mendengar hal itu, Dea terpancing dan tak ingin mengalah di depan Dio, mereka tetap melanjutkan permainan, walaupun Dea sudah tau ia memang tidak terlalu pandai bermain tenis meja, tapi tak ingin mengalah didepan Dio.
Sudah berapa kali Dea bolak-balik memungut bola yang tak bisa ia tangkis, sampai akhirnya tak bisa mengelak lagi untuk melawan Dio, ia melempar bet tenis meja yang dipegangnya dan berlalu meninggalkan Dio yang merasa puas melihat Dea yang sudah kewalahan dan menyerah bertanding dengannya.
"Dasar lemah" ejeknya lagi pada Dea, namun tak dihiraukan oleh Dea dan memilih pergi jauh meninggalkan Dio.
Melihat tak ada respon dari Dea, Dio mengembalikan bet itu pada Anton dan Viola yang masih setia menyaksikan keduanya sejak tadi.
Tanpa sepengetahuan Dea, Dio menarik lengan Dea untuk mengikutinya, sontak saja Dea berontak dan tak ingin mengikuti Dio, berusaha untuk melepaskan tangannya yang digenggam Dio, namun tak kunjung bisa.
"Hey menyebalkan, lepasin!!" ujar Dea dengan tetap berusaha melepas tangannya dari genggaman Dio
"Ikut gw sebentar"
"Jam pelajaran olahraga belum selesai" tutur Dea, karena ia tak mau mendapat hukuman dari guru olahraga nya itu.
"Bolos sekali tak apa"
"Aku gak mau, lepasin Dio, tangan aku sakit"
Dio meregangkan genggamannya namun tetap menyeret Dea untuk mengikutinya.
"Aku gak mau dihukum lagi"
"Terus?"
"Kenapa mengajakku bolos pelajaran Pak Darwis?"
"Olahraga 3 jam membosankan bukan?, mengapa tidak memanfaatkan waktunya untuk membolos, ke kantin, atau kemana saja?"
Akhirnya mereka berakhir di kantin, Dio yang tak melepaskan genggamannya pada Dea hanya bisa diam sambil menikmati jajanan kantin sekolah mereka. Dea sudah sangat kesal, menahan amarahnya, tidak bisa berontak, dan harus siap siaga dipanggil Pak Darwis karena tidak mengikuti jam pelajaran olahraga hingga selesai.
"Makan nih!!" perintah Dio
"Gak, makasih" ujar Dea buang muka
"Atau lo mau gw suapin" Dio membujuk Dea agar ikut makan jajan yang sudah di belinya.
"Gak" sahut Dea sambil menutup mulutnya dengan satu tangan bebasnya.
"Lo kenapa menghindar?"
"Maksudnya?"
"Iya, setiap gw deketin lo kenapa menghindar?"
"Kita gak dekat, untuk apa juga harus dekat"
"Kalau gw mau kita dekat, lo bisa apa?"
__ADS_1
"Kalau aku nolak buat dideketin kamu, kamu bisa apa?" tangkas Dea membalik pertanyaan Dio.
"Emang gw gak bisa deket ama lo"
"Gak"
"Kenapa?"
"Kamu hanya bisa bikin masalah"
"Gw gak pernah ngerasa buat masalah tuh"
"Ini buktinya"
"Memang ini masalah?"
"Iya, ini masalah, karena membolos kelas Pak Darwis"
"Sekali-sekali menjadi murid nakal berprestasi itu hal yang wajar bukan?"
"Kalau kamu mau nakal, ya nakal sendiri, gak usah ngajak orang lain"
Priiiittt.... terdengar suara pluit milik Pak Darwis menandakan waktu untuk absen, Pak Darwis Sengaja melakukan pengabsenan diakhir jam pelajaran, agar bisa tahu mana siswa/i yang membolos saat jam pelajarannya.
Mendengar suara itu, Dea berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Dio
"Dio,, ini sudah waktunya pengabsenan olahraga"
"Sudah telat, lo lari ke lapangan olahraga pasti pengabsenan dah kelar, bakal tetap ketahuan membolos juga"
Beberapa menit kemudian, mereka berdua dipanggil menuju kantor oleh Pak Darwis. Mengintrogasi keduanya, alasan membolos di jam pelajaran olahraga.
"Dea Anastasya, Dio Andreas, bisa kalian jelaskan, mengapa membolos di jam pelajaran saya? dan ini adalah pertama kalinya bagi kalian membolos di jam pelajaran saya" tanya Pak Darwis
"Dan menurut hasil laporan yang saya dapatkan, kalian menghabiskan waktu jam pelajaran olahraga di kantin" jelas Pa Darwis lagi
"Bosan Pak" jujur Dio
"Maaf Pak, Saya tidak akan mengulanginya lagi Pak dan siap menerima sanksi dari Bapak" janji Dea pada Pak Darwis
mendengar dua jawaban yang berbeda dari keduanya, Pak Darwis tahu dalang dari semua ini pasti Dio, karena Dea memang dikenal siswi yang disiplin dan berprestasi, tak ada catatan pelanggan yang dilakukan. Sedangkan Dio memang anak yang berprestasi, tapi memiliki catatan pelanggaran yang cukup banyak di sekolahnya terdahulu.
"Baiklah, saya tetap memberikan hukuman kepada kalian berdua, seperti anak-anak kelas lain yang membolos di jam pelajaran saya, silahkan membersihkan rumput-rumput di halaman samping sekolah, itu sudah lama belum dipangkas rumputnya, kalian berdua kerjakan hingga rata dan rapi"
"Baik Pak" jawab Dea, Dio hanya diam saja, padahal semua ini ulahnya sendiri.
"Oh ya, alat pemangkas rumputnya ada di gudang ruang peralatan sekolah, tapi sepertinya belum diperbaiki, jadi kalian pakai parit dulu, setidaknya dipangkas sedikit demi sedikit" jelas Pak Darwis
Sebelum menuju je temoat hukuman, Dea berlari mwnuju kelasnya, dan mengambil ponselnya untuk mengabari pak Eko agar tak perlu menjemput nya dengan alasan kerja kelompok di rumah Dinda bersama Tya. Dinda dan Tya yang siap menunggu sahabatnya sampai kelar melaksanakan hukuman ditolak oleh Dea.
"Kalian pulang duluan aja, maaf yah aku bawa-bawa nama kelian buat boongin orang rumah" ujar Dea, karena pelajaran hanya olahraga saja, untuk kelas 11 IPA 1 dan IPS 1 mereka sudah banyak meninggalkan sekolah selepas olahraga berakhir.
"Iya Dey, tapi kita mau bantuin kamu juga biar kelar cepat sanksinya" Tya menawari bantuannya untuk Dea
"Gak usah, kalian duluan aja" tolak Dea, karena memang tak ingin merepotkan kedua sahabatnya
__ADS_1
"Ya udah, kita duluan yah Dey, kamu kabarin kita kalau ada apa-apa, apalagi kalau sampai di apa-apain sama handsome boy itu" ujar Dinda yang langsung di jotos oleh Tya.
"Aiishh Tya,,, sakit tau"
"Kamu sih, ngomong nya aneh-aneh aja, kirain tu orang apaan, mau apa-apain Dea"
"Hehe.. Gurau saja" seringai Dinda pada kedua sahabatnya itu.
"Ya udah sana, hati-hati di angkutan umumnya banyak jambret" ujar Dea dan kembali menghampiri Dio mengambil parit dan alat lainnya.
Setelah membawa peralatan yang dibutuhkan, mereka berdua menuju ke halaman samping sekolah.
Dea tak mengatakan apa-apa sedikitpun, ia fokus memangkas rumput yang ada dihadapannya. Sedangkan Dio sedang menghubungi Alex untuk tidak menunggunya. Dio beberapa kali mengajak Dea mengobrol untuk lebih akrab lagi, tapi Dea hanya membalas seperlu nya saja.
"Lo bisa mangkas rumput gak sih? dari tadi sebelah situ gak kelar-kelar"
"Bisa"
"Kenapa gak pindah tempat dari tadi?"
"Ini belum selesai"
Dio menghampiri Dea di tempatnya memangkas rumput, namun dengan cepat Dea menghindar merubah posisi agar berjauhan dengan Dio, melihat reaksi Dea tersebut, Dio menghampiri nya lagi, Dea balik menjauh lagi, Dio mendekat lagi, Dea menghindar lagi, begitu seterusnya, hingga tanpa sengaja Dea mengenai jari telunjuk nya dengan parit.
"Ahh.. " keluh Dea
"Lo kenapa?"
"Gpp" ia menyembunyikan luka jari telunjuk nya, namun Dio lebih cepat menyadari tetesan darah dari telunjuk Dea walaupun ia berusaha untuk menahannya.
"Jangan sok kuat deh, itu darah di jari telunjuk lo makin banyak"
"Sini, bawa ke UKS" tawar Dio
"Gak usah, aku bisa sendiri"
"Bener??"
"Iya, aku gak lemah" sambil berjalan menuju ruang UKS yang tepat di dekat mereka memangkas rumput sekolah.
Sudah lumayan banyak Dio memangkas dan merapikan rumput yang sedari tadi ia kerjakan sendiri, namun Dea belum juga keluar dari ruang UKS.
"Apa jangan-jangan tuh anak kabur ninggalin gw" batin Dio sambil berjalan menuju ruang UKS, namun tuduhan batin Dio 100% salah, karena Dea masih berada di UKS, membersihkan darahnya yang tak kunjung berhenti mengalir, setelah diliat oleh Dio, ternyata luka Dea lumayan panjang dan sedikit melebar.
"Butuh bantuan gw?"
"Gak"
"Cuman beresin luka dikit gitu aja lo lama banget, ampe dah kelar tuh rumput diluar gw beresin"
"Yah makasih" ucap Dea dan tetap fokus pada luka jari telunjukkanya yang lumayan panjang dan lebar itu. Sebenarnya Dea kewalahan membersihkan lukanya itu, namun kesal dengan perkataan Dio yang tidak peka hanya menawarkan dan tidak merasa kasihan dengan luka yang dialaminya.
Dio benar-benar menyebalkan, ia hanya melihat luka di jari Dea, tanpa berniat membantu gadis cantik itu, dan tanpa berkata apa-apa, Dio keluar dari ruang UKS meninggalkan Dea sendiri disana.
Dea tak habis pikir, Dio benar-benar tidak ingin membantunya, dan salah sendiri tidak menerima tawaran Dio karena kekesalan nya pada anak menyebalkan itu.
__ADS_1