
flashback on
"Daripada lo gabut merenung kayak gini, mending ke tempat biasa yuk" ajak Alex pada Dio dan juga teman-temannya.
"Gw mau ikut tanding" ujar Dio dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Semenjak kepergian Papanya 5 tahun yang lalu, ia menjadi kaku, dingin, bahkan tidak berperasaan.
Bremmm... Bremmm... suara aba-aba motor yang akan bertanding, Dio sudah siap dengan moge nya dan terdengar suara seirang wanita mengibarkan bendera untuk bersiap-siap lalu..
one.. two.. three... go..... ia mengibaskan bendera kebelakang pertanda untuk melaju.. Dio sudah menduduki posisi pertamanya, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Dio mengungguli pertandingan jauh di depan teman tandingnya yang lain, hingga saat ia tiba di jalan yang tidak satu pun teman mengontrol di sana, ia mengalami kecelakan (tabrak lari).
Kawasan yng mereka gunakan untuk balap liar memang bukan jalan umum, namun ada beberapa titik area balapan tersambung dengan akses jalan umum, tidaj ada yang tau kronologisnya seperti apa, namun bisa dilihat dari TKP bahwa iya saling menabrak dengan pengendara yang lain, entah motor atau mobil tapi sama sekali tidak menemukan siapa pun.
Dio terkapar tengah2 aspal dengan luka dab darah yang bercucuran, dua teman pembalap liar di posisi setelahnya menemukan Dio beraimbah darah seperti itu sangat syok, tidak bisa berkata apa-apa, salah satu dari mereka menahan darah mengalir dari tubuh Dio yang terluka, dan satunya pergi mengabarkan teman-teman yang lain hingga Dio dibawa oleh teman yang berkendara mobil lalu menuju Rumah Sakit.
Alex yang mendengar kabar temannya kecelakaan langsung bergegas menuju lokasi, dan ikut membawa Dio ke Rumah Sakit, Alex satu-satunya teman yang diinterogasi oleh keluarga Dio, karena memang ia yang paling dekat dengan Dio maupun keluarganya.
Flashback off
"Tumben kalah" ujar Alex pada Rio setelah pertandingan berakhir.
"Kurang kenceng" Balas Rio
"Nongkrong ke caffe nyokap gw yuk" ajak Alex pada teman-temanya.
Tanpa mengatakan apapun Dio menyalakan motornya, membuat Alex bertanya.
"Mau kemana lo?" tanya Alex
"Caffe nyokap lo o*n" tukasnya dan melajukan motornya
Setelah sampai di caffe Dio hanya terdiam melihat ponselnya, namun sama sekali tidak memainkan apa-apa, hanya melihat gambar seorang gadis yang entah siapa, karena kurang jelas terlihat oleh Alex, namun ia bisa menebak jika itu adalah foto sworang gadis yang sedang tertidur dengan posisi duduk.
"Woy,,, bengong aja lo, ada masalah kah?"
Dio membalas dengan gelengan kepala lalu mengambil minuman yang telah disajikan di atas meja mereka.
"Patah hati kali" ujar Rio
"Ngacok lo" balas Dio
"Pinjam hp lo boleh kan" ujar Alex namun menyambar ponsel milik Dio.
Ia awalnya keberatan dengan kemauan Alex itu, namun Dio tetap tidak mengubrisnya, mulai terdiam lagi, ia hanya mendengarkan celotehan Alex yang bertanya kenapa memiliki banyak sejali foto Dea.
__ADS_1
"Ini Dea kan? kok bisa tidur di rumah lo? wah parah sih ampe lo ngajak dia tidur di rumah lo, dan gak cuman satu gambar, diam2 jadi pengagum Dea lo yah, pantesan penasaran" ujar Alex panjang lebar sambil memperlihatkan foto gadis yang berada di ponsel Dio kepada temannya yang lain.
"Bucin banget lo" Rio menimpali
Dio tak berkata apa-apa dan hanya mengambil kembali ponsel miliknya.
Dio melihat foto-foto Dea yang diambilnya diam-diam, sata tertidur di rumahnya dan saat Dea berada di balkon kamarnya.
Dio menghapus beberapa foto lalu, dan hanya menyisakan dua foto Dea, saat posisi tertidur Dea yang oaling lucu dan momen ia menikmati malam dengan memejamkan mata di Balkon kamarnya.
"Dihapus gak tuh" sindir Alex
"Bawel lo kek emak-emak kang gosip" ujar Dio.
Mereka pun melanjutkan obrolannya dengan topok yang lain sambil menikmati minuman di caffe milik nyokap Alex.
Di sisi lain, Dea masih saja betah berbicara dengan seseorang yang jauh di sana, senyumannya tak pernah pudar dan bahkan sudah merasa tidak canggung lagi, entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tapi terlihat jelas sekali, bahwa Dea sangat bahagia malam ini.
"Sempai disini cerita dariku, dan saatnya untuk tidur" kata David di seberang sana.
"Ih David, lanjut lagi dong" pinta Dea
"Bersambung Dey" jawab David
"Lanjutnya kapan nih?" tanya Dea
"Apa kamu memiliki banyak waktu untuk lebih sering menghubungiku"
"Tentu saja, selalu banyak waktu untuk bersamamu Dea"
"Hmm,,, benarkah seperti itu?
"Iya benar sekali, besok aku akan menghubungimu lagi"
"Baiklah aku akan menunggumu, jangan lupa balas pesanku juga"
"Tentu cantik" balas David
"Pandai menggombali perempuan"
"Aku tidak pernah gombal kepada siapapun kecuali kamu, dan adikku Natasya"
"Hmmm"
"Kau tidak percaya denganku Dea?"
"Sedikit percaya"
__ADS_1
"Hey,,, perkataan dari mana itu"
"(Dea tertawa), mana mungkin aku percaya banyak padamu ten ang tidak menggombali siapapun di sana, karena jarak kita terlalu jauh untuk mempercayai itu"
"Ku rasa sepertinya kita harus menjadi pasangan muda"
"Apa yang kamu bicarakan David? itu membuatku malu"
"Yah,, sikapmu menunjukkan seolah-olah aku tidak boleh menggoda siapapun, dan bahkan bertanya bagaimana aku nergaul dengan lawan jenis"
"Aku hanya mengingatkanmu, jangan membuat perempuan terlalu berharap dengan sikap baikmu itu David"
"Aku ingin bertanya padamu, apa kamu pernah berharap lebih padaku?"
"Hoaamm,,,, sepertinya sudah waktunya tidur David, aku sudah mulai mengantuk" Dea mengalihkan topik pembicaraan, hal oyu membuat David tertawa ringan di seberang sana.
"Pintar mengalihkan pembicaraan, baiklah kalau begitu istrahat yang cukup, jangan tidur larut malam walaupun ini malam akhir pekan"
"Baik tuan"
"Dan jangan lupa mengabariku saat kamu sudah terbangun"
"Siap tuan bawel"
"Sebelum tidur cuci muka dan gosok gigi"
"Oke tuan, ada lagi?"
"Ya ada lagi, aku merindukanmu Dea Anastasya"
"Aahh David, sudah,,, sudah,,, aku tutup yah"
"Tidur yang nyenyak dan temui aku dalam mimpimu"
"Baiklah jika tidak bertemu di dalam mimpi, setidaknya bisa secepatnya bertemu secara langsung, night David"
"Night Dea"
Sudah mengakhiri percakapan pertamanya dengan David, Dea masih saja tersenyum bahagia, ia tak membayangkan akan sebahagia ini saat sudah bisa berkomunikasi dengan David.
"Ah,, aku menjadi semakin merindukanmu David"
Dea bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Tak lupa juga dengan perintah dari David ya ang jauh disana. Tanpa perintah dari David pun, Dea memang selalu melaksanakan Rutinitasnya sebelum tidur.
"Dua bulan lagi ujian sekolah, mungkin saja jadwal libur di negara nya dan jadwal libur aku disini sama, aku juga begitu merindukan mu David, tapi aku malu mengatakannya seperti kamu mengatakan rindu berulang kali padaku.
...----------------...
__ADS_1