Promise? Stay With You

Promise? Stay With You
3. David Prayoga


__ADS_3

..."Karena Dia Teman Masa kecilku"...


...(David)...


David sudah mulai bosan mengelilingi toko buku untuk menemani Tiffany menemukan buku pelajaran yang dicarinya.


"Berapa buku lagi yang dibutuhkan?" tanya David pada Tiffany


"Wait a minute David, hanya 3 buku lagi, tapi aku belum menemukannya" jawab Tiffany geram


"Ini sudah 2 jam berlalu Tiffany, bisakah untuk menunda beli sebagian buku itu?, lain waktu aku akan menemanimu lagi" ujar David dengan bosannya menunggu sang teman untuk membeli buku.


"Baiklah David, aku akan menagih janjimu itu, kapanpun aku mau" ucap Tiffany lalu berjalan menuju kasir untuk membayar sebagian buku pelajaran maupun buku novel yang telah dipilihnya.


"Apa kamu tidak lapar?, kita belum makan dari sore hari David" Tiffany menengok David yang sedang fokus mengendarai mobilnya


"Baiklah" jawabnya


David Prayoga Putra. Anak dari keluarga yang memiliki bisnis di negara B dan beberapa negara lainnya. tinggi 172cm, manis, alis tebal, humble, baik, moodyan, dan setia.


Mereka berdua sedang menikmati makan malam mendadak itu untuk mengisi kekosongan perut dari sore hari tadi.


Tiffany pun memulai obrolan singkat mereka setelah menghabisi makanan malamnya.


"Aku sudah lama memperhatikan foto dua anak yang ada di walpaper HP mu, walaupun itu foto cetakan yang di foto ulang" tutur Tiffany


"Siapa anak perempuan itu David?" tanyanya lagi


"Itu temanku" jawab David singkat


"Apakah dia begitu berarti bagimu?"Tiffany menambah lagi pertanyaan nya


"Iya" jawabnya singkat lagi


"Iya...??? " tanya Tiffany agar mendapatkan jawaban yang meyakinkan


"Karena dia adalah teman masa kecilku"tegas David


"Oh... apa dia masih mengingatmu?"


"Tentu, kami pasti saling mengingat satu sama lain"


"Mengapa begitu yakin?"


"Kami tak bertemu hanya 8 tahun saja, kurasa ingatan seseorang masih tajam hanya dengan jarak tak lama itu, terutama aku dan dia, karena usia kami terbilang masih cukup muda, hanya untuk melupakan masa-masa itu" jelas David pada Tiffany yang hanya dibalas dengan anggukan saja.


"Mari kita pulang" ajak David pada sang teman yang mengiyakan tanpa bersuara


Rumah Tiffany


"Terimakasih untuk hari ini David, dan jangan lupa janjimu padaku" ucap Tiffany untuk mengingat janji David


Hanya di balas dengan tanda OK pada jarinya.


"Aku berangkat pulang" ujar David


Diperjalanan pulang, David teringat akan sosok anak perempuan yang ditanyakan oleh Tiffany.


"Dea Anastasya, apakah kau masih mengingatku, Dea pasti tumbuh menjadi gadis yang baik dan tentunya cantik" batin David yang tengah membayangkan, bagaimana sosok teman masa kecilnya saat ini.


"Bisakah untuk tetap merahasiakan semua kenyataan ini Pa?


"Sampai kapan kita harus menyembunyikan nya dari David,? aku tahu ini semua salahku, tapi mereka juga masih tanggung jawabku"


"Tidak dengan wanita itu Pa, tanggunganmu hanya anakmu itu"

__ADS_1


Sedikit keributan yang tertangkap oleh indra pendengaran David, yang membuat nya menghampiri kedua orangtuanya.


"Siapa Pa, Ma?" seketika sang Mama terkejut dengan kehadiran David


"Maksud David apa sayang?"


"Itu, perkataan Mama yang tadi" ujarnya


"Oh... Mama sama Papa lagi bahas e.. anak tetangga, sayang"


"anak tetangga yang mana Ma,?


"Hmm.. itu.. apa David ingat anak tetangga yang dulu teman David sering bermain waktu kecil?" ucap Mama David


"Oh... Dea Ma... Iya.. David selalu mengingat nya, sambil membuka wallpaper HP nya, lalu menunjukkan pada Mamanya.


"Iya Dea, Mama dan Papa sedang membahas Dea" ucap Mama David beralasan.


"Tumben, memang kenapa dengan Dea Ma?"


"Tidak ada, Mama hanya... mengingatnya saja"


"Hmm,, Seperti itu, baiklah David ke kamar dulu Ma"


"Tapi.. tunggu dulu David, darimana sampai pulang malam begini?"


"David menemani Tiffany ke toko buku Ma, ada beberapa buku pelajaran yang belum Fany punya dan mampir sebentar di restoran untuk makan malam" ujar David sambil berlalu meninggalkan Mamanya di ruang tamu


Di satu sisi yang lain pada kediaman Dea.


Suasana malam yang hening, hanya mendengar hembusan angin malam, serta melihat taburan bintang dan satu bulan yang bersinar menerangi malam walaupun hanya sebagian saja, salah satu pohon di taman bunga yang menjulang hingga disamping balkon kamar Dea.


"Malam yang indah" ujar Dea yang sedang berada di balkok rumahnya


Drrtttt..... Drrttt....


"Ini aku, Tya Dey"


"Kenapa pakai telpon umum?"


"Aku sedang diluar Dey, aku.. aku lagi sama teman-teman keluar buat rayain ulang tahun teman lama, yang aku ceritain pulang sekolah tadi pagi " jelas Tya


Dea mengingat ulang kejadian tadi pagi


"Aku duluan balik yah Dey, Dinda, ada acara ulang tahun teman lama" ujar Tya pada dua sahabatnya


"Kenapa gak sekalian bareng ma aku Tya?" tanya Dea


"Kita gak searah Dea" jelas Tya


"terus mau balik sama siapa?" tanya Dea lagi


"Nanti aku naik angkutan umum aja, kalau searah pasti aku bareng kalian, tapi untuk hari ini sepertinya tidak searah"


"Baiklah, hati-hati, kabari kita kalau ada apa-apa"


"Hati-hati Tya, jangan pulang larut malam yah" Dinda mengingatkan sahabatnya sambil melihat Tya berlalu meninggalkan mereka berdua


"Ayo Din, sepertinya pak Eko sudah menunggu" ujar Dea sambil melihat-lihat mobil jemputan nya. Begitulah kejadian pulang sekolah antara 3 sahabat tersebut.


Dan mulai tersadar kembali saat Tya memanggil namanya diseberang sana


"Dea... Dea... "panggil Tya


"HP kamu mana, lowbat kah?" Dea bertanya usai sadar dari ingatannya

__ADS_1


"Aku kecopetan Dey, makanya nelpon pakai telpon umum," jelas Tya lagi


"Oh God...tidak salah aku menyuruh kalian berdua menghafal no ku, sekarang kamu dimana?


"Aku ada di jln xxx, tempat telpon umum"


"Tunggu aku disana"


Dea melihat jam di HP nya, pukul 21.35.


"Papa dan Mama pasti gak bakalan ngizinin aku keluar malam-malam begini" batin Dea


Dia pun mengendap-ngendap keluar dari kamarnya setelah mematikan lampu kamar dan membuat samaran dengan bantal guling yang diselimuti.


Akhirnya dia bisa keluar dari rumahnya, lalu menuju taman di samping rumah besar itu, terdapat pintu berukuran kecil, tak sebesar gerbang depan rumahnya, lalu memesan taxi online untuk menuju tempat dimana Tya berada.


Akhirnya Dea menemukan Tya yang sedang duduk sendirian di dekat telpon umum tersebut.


"Tya.. bagaimana bisa kecopetan sih, kamu gak diapa-apain kan, terus teman-teman lama kamu pada kemana?" tanya Dea khawatir pada Tya


"Tadi aku pamit duluan ma teman yang lain, takut kemaleman, pas dijalan kecopetan deh" Tya bercerita dengan malasnya


"Yaudah sekarang aku pesan taxi dulu" kita ke rumah kamu dulu"


"Kok bisa keluar jam segini Dey, memang diizinin sama Papa Mama kamu?"


"Aku keluar gak izin, kalo izin gak bakal bisa keluar"


"Aduh Dey.. nanti diomel Papa Mama kamu, akunya kena semprot juga nih"


"Gak bakalan, tenang aja"


Akhirnya mereka sampai di rumah Tya, Tya memang tinggal sendiri karena orangtua nya sudah lama bercerai dan hidup dengan keluarga mereka masing-masing. Tak heran jika dia selalu bersikap jutek dan judes, tidak ada keluarga yang menemani.


"Kamu pakai HP lama aku aja, untung sempat bawa tadi pas keluar"


"Gak usah Dey, nanti aku bilang ke bokap aja HP nya ilang"


"Gpp.. Tya, kalau ada apa-apa nanti bagaimana?"


"Baiklah, kamu memang paling mengerti aku," ujar Tya


"Kita sudah seperti keluarga, ya udh aku balik dulu sekarang, sepertinya taxi yang ku pesan sudah datang"


"Terimakasih Dey, hati-hati, kalau nanti di omel Papa Mama kamu panggil aku juga, biar diomel bareng" teriak Tya pada Dea yang berlari menuju taxi yang sudah menunggu di pinggir jalan


Dipertengahan jalan, tiba-tiba taxi yang ditumpangi Dea berhenti mendadak


"Kenapa pak?"


"Saya cek dulu yah"


Sambil menunggu bapak sopir taxi melihat keadaan mobilnya, Dea melirik jam di HP nya sudah menunjukkan pukul 23.17.


"Sepertinya ban mobil saya yang didepan dua-duanya tertancap paku neng" ujar pak sopir yang terlihat bingung dengan kondisi taxinya


"Aduh.. bagaimana dong pak, tapi masih bisa jalan pelan-pelan kan pak?"


"Bisa Neng, tapi tidak jamin bakal cepat sampai tujuan,"


"Ya udah pak, ini ongkosnya, nanti saya pesan taxi lain saja pak"


"Maaf yah Neng" Ujar Pak Sopir tak enak


Sudah setengah jam menunggu ditemani Pak sopir, belum ada satu pun kendaraan yang lewat, padahal mereka berada di jalan daerah pemukiman warga, namun sudah terasa sangat sepi.

__ADS_1


Tiba-tiba Dea mendengar suara motor yang mendekat, lalu berhenti tepat di samping Dea.


__ADS_2