
Malam hari di kediaman Dea, ia sedang membaca novel di balkon rumahnya, duduk manis sambil melihat keindahan langit malam dan hamparan lampu malam disetiap rumah sepanjang mata memandang.
Setelah menghentikan aktivitas bacanya, Dea mengambil ponsel genggam ke dalam kamarnya lalu keluar lagi untuk menikmati indahnya malam hari. ?
"David? David membalas pesanku?" girangnya.
@David.P : Dea Anastasya?
^^^Ini aku Dea David, teman kecilmu"^^^
@David.P : Ku harap kamu baik-baik disana.
^^^Tentu saja, aku harus selalu baik dan sehat, agar saat tiba waktunya, kita dipertemukan kembali^^^
@David.P : Aku merindukanmu.
(Dea tersipu malu dan terharu dengan pesan David. bagaimana tidak? Dea juga sangat merindukan David dan teman kecilnya itu pun begitu)
^^^Hmm David (replay Dea)^^^
@David.P : Apa kau tidak merindukanku Dea?
^^^Ah.. tentu,, tentu aku sangat merindukanmu.^^^
^^^7 tahun bukanlah waktu yang singkat saat berpisah denganmu bukan?^^^
@David.P : 7 tahun itu bahkan terasa sangat lama bagiku Dea.
^^^Kapan lagi ?^^^
@David.P : Secepatnya pasti kita akan bertemu lagi.
^^^Aku menantikan itu David^^^
@David.P : Tidurlah.!! disana sudah malam Dea.
^^^Aku belum mengantuk^^^
@David.P : Tidur!
^^^Belum saatnya tidur, tidak akan jadi masalah jika aku tidur larut malam, ini malam minggu 🙄^^^
@David.P : Lalu, apa yang akan kau lakukan?
^^^Membalas pesanmu^^^
@David.P : Hanya itu?
^^^Iya, hanya itu.^^^
@David.P : Sepertinya Mama dan Papa tidak akan membiarkanmu tidur larut malam.
^^^Memang, tapi hanya sekali dalam sepekan tidak akan jadi masalah, asal tidak ketahuan 😎^^^
@David.P : Baiklah, hanya semalam dalam sepekan.
Bolehkan aku menelponmu?
Hmm... (xxxxxxx) silahkan hubungi kontak ini.
(Dea salah tingkah sendiri membalas pesan dari David)
Drrtt.... panggilan masuk dari David, Dea segera menerima nya.
"Halo" suara David diseberang sana.
"Iya Halo David, ini Dea"
__ADS_1
"Ya aku tau, kau sedang dimana, seperti suara semilir angin malam"
"Oh.. iya aku sedang di balkon rumah, menikmati suasana malam"
"Mengapa tidak masuk saja? suasana malam di sana sepertinya lumayan dingin"
"Hmm,, t-tidak juga"
"Dea"
"Ah Iya David kenapa?"
"Tidak ada"
"Hmm,,, yap tidak ada topik pembahasan"
"Ada"
"Apa?"
"Tentang Kita"
(Dea semakin salah tingkah, apa maksudnya dengan kata 'tentang kita') ia menutup mukanya malu, padahal David tidak bisa melihat tingkahnya itu.
"Hmm.. kita?"
"Yah kita, siapa lagi"
(Dea bungkam, tak tau harus bilang apa lagi, sambil menutup mukanya lagi dan lagi).
Tanpa disadari oleh Dea, sedari tadi seseorang memperhatikannya. Dio sudah lama berdiam di atas motornya depan rumah Dea yang berhadapan pas dengan kamar Dea.
Dio merasa, weekend pertamanya di tempat tinggal mamanya terasa sepi, padahal dulu selama masih di kota J, ia selalu menghabiskan weekend nya di rumah Mama nya ini, namun tak merasa hampa seperti ini, setelah mengenal Dea, ia merasa dirinya berbeda, selalu memperpanjang masalah jika bersangkutan dengan Dea, dan ingin selalu mengganggu Dea, bahkan ingin selalu dekat gadis lesung pipi itu. Dio yang dulu adalah laki-laki yang sangat dingin, angkuh, cuek pada perempuan, tapi tidak berlaku setelah ia melihat Dea.
Masih memperhatikan Dea yang terlihat sangat asyik mengobrol dengan lawan bicaranya di handphone, bahkan tak henti2 nya melakukan gerakan aneh saat dia menelpon, seperti seseorang yang sedang kasmaran.
Tanpa disengaja, usahanya untuk pergi melihat Dea tak sia-sia. Tebakannya 99% Dea pasti berada di balkon rumahnya saat malam hari tiba dengan bulan dan beribu-ribu bintang menghiasinya. Namun gadis yang dilihatnya dengan diam-diam itu ternyata sedang asyik dengan seseorang yang mungkin saja sangat berharga baginya.
Bagaimana Dio bisa menebak Dea yang terlihat salah tingkah saat menelpon dengan seseorang? bahkan menebak bahwa orang itu mungkin saja laki-laki yang diidamkannya.
Jelas saja Dio bisa menebaknya, karena dia berada di sana saat Dea masih membaca bukunya dan memegang Hp hingga sampai detik ini, ia masih melihat Dea yang menutup mukanya malu seperti dilihat orang banyak melakukan sesuatu yang memalukan.
Ia menghidupkan motornya dan berlalu begitu saja.
Mendengar suara motor di depan samping rumahnya Dea menoleh sejenak, namun tidak ada rasa ingin tahu siapa malam-malam yang menyalakan motor di depan rumahnya. Ia pun melanjutkan percakapan nya dengan David.
"Masuklah Dea" perintah David jauh di sana.
"Oh,, ya aku akan segera masuk" Dea membawa masuk kursinya dan menutup pintu balkon kamarnya lalu merebahkan diri di kasur.
"Masih belum mengantuk?"tanya David
"Tentu saja belum"jawab Dea semangat
"Ingin aku temani?"
"Boleh, aku masih ingin mendengarkan ceritamu di sana" Dea menimpali
"Baiklah, ingin mendengar cerita ku tentang..."
"Tentang gadis yang seusia dengan kita di postingan sosial mediamu" potong Dea saat David ingin bercerita tentang sesuatu yang lain.
"Hmm.. siapa?" David bertanya
"Lihat yang ku kirimkan" ujar Dea setelah mengirim gambar Screenshot akun sosial media David.
"Oh,,, ini Tiffany teman satu sekolahku, kami sering bersama dan berteman baik" ujar David saat melihat gambar yang dikirim Dea.
__ADS_1
"Hmm,, seperti itu"
"Kenapa? kau ingin berkenalan dengannya?"
"Ah,, tidak juga, aku hanya penasaran saja"
"Apa lagi yang ingin kau dengar dariku?"
"Semua tentangmu di sana"
"Tidak ada yang spesial, di sini biasa saja"
"Kamu pasti memiliki banyak teman"
"Tentu"
"Aku ingin mengatakan sesuatu Dea" Ucap David lagi
"Katakanlah!"
"Aku begitu merindukanmu"
"Kamu sudah mengatakan itu David"
"Aku ingin mengulangnya"
"Hm,, David"
"Apakah kau malu mendengarkan aku mengatakan hal itu?"
"Iya" jwab Dea jujur
"Mengapa malu? bukannya kita sama-sama saling merindukan?" Ujar David.
"Iya aku mengakuinya"
"Lalu, mengapa harus malu?"
"Aku belum terbiasa"
"Suatu saat pasti akan terbiasa" ujar David
"Bagaimana keadaan Mama dan Papa?"
"Mereka sehat, dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing"
"Sampaikan salam rinduku pada mereka"
"Akan ku sampaikan"
Mereka melanjutkan obrolan panjang yang tak tau kapan akan berakhir.
Sedangkan di tempat lain, Dio masih melajukan motor gedenya dan sampai di tempat balapan, ia belum berminat ikut hobi masa lalunya, hanya menyaksikan teman-teman lamanya yang sedang bertanding.
"Dateng juga lo" ujar Alex
"Rio jadi ikutan malam ini?" tanya Dio saat sudah melapas helmnya.
"Jadi, bentar lagi mulai" ujar Alex
"Tumben mau dateng kesini lagi" ujar seseorang yang memang dikenal oleh Alex maupun Dio
"Lagi pengen nonton aja"
"Gak nyoba tanding lagi?"
"Eh,,, lo dicariin tuh" pangkas Alex berbohong, agar temannya itu tidak membahas kejadian masa lalu yang dirasakan Dio, memang itu adalah kesalahan Dio sendiri, tapi ada alasan kenapa ia hilang kendali saat bertanding dulu, hingga mengalami kecelakaan.
__ADS_1
...----------------...