
"Makasih" ujar Dea setelah turun dari motor Dio.
"Lo gk nawarin gw masuk"
"Gak"
"Kenapa?"
"Aku gak mau"
"Alasannya?"
"Gak ada alasan buat kamu bertamu dirumahku"
"Ada" sahut Dio
"Apa?"
"Alasannya mau ketemu lo"
"Alasan ditolak, dan lebih baik pulang" usir Dea pada Dio.
"Sesulit itu kah buat lolos masuk gerbang lo itu?"
"Iya, dan lebih sulit kalo tamunya kayak kamu"
"Cewek pelit"
"Iya, aku memang pelit"
"Gini cara lo berterima kasih ma gw yang udah nganterin lo?"
"Aku gak pernah minta buat dianterin kamu"
"Tapi tetap aja lo harua berterima kasih dengan tindakan ke gw"
"Maksudnya?"
"Yah,,, tindakan...
Dea membuka tas dan mengambil beberapa lembar uang dompetnya lalu memberikannya pada Dio.
"Gw gak butuh duit lo cantik" ujarnya sambil menyalakan motor gedenya lalu berkata,
"Gw pastiin, suatu saat bakal bisa masuk ke dalam kamar lo" ucap Dio sambil mengamati kamar Dea di lantai dua, yang memang terlihat jelas dari luar gerbang rumahnya
Mendengar perkataan ngelantur Dio, membuat Dea otomatis memukul punggung Dio, shock akan perkataan Dio yang tak masuk akal itu.
"Gak akan pernah" tukas Dea dan masuk gerbang rumahnya saat motor Dio juga berlalu meninggalkan rumahnya.
"Mama,,, Dea pulang, Mama dimana?"
"Sayang, sampai rumah tidak perlu berteriak seperti sedang di hutan" ujar sang Mama memperingati anaknya untuk tidak berteriak.
"Hehe" Dea hanya terkekeh menanggapi sang mama lalu mencium pipi Mama tercintanya.
__ADS_1
"Tadi pulang sama siapa?" tanya Mama Nindia
"Sama teman belajar kelompok Ma, pakai motor" jawab Dea sebagian berbohong.
"Dea pakai baju siapa?"
"Ini baju teman juga Ma, tadi di jalan saat pulang sekolah Dea kehujanan, dan meminjamkan Dea baju hoodienya" jelasnya pada sang Mama
"Seragamnya?" tanya Mamanya kembali
Dea membuka tasnya dah menunjukkan pakaian basahnya didalam tas.
"Ih.. anak Mama kok jorok, kenapa menaruh baju basahnya dalam tas? bau" ujar Mamanya, dan sengaja mengatakan bau agar anaknya tidak mengulangi lagi hal seperti itu.
"Iya Mama maaf, besok tidak akan jorok lagi" sahutnya dan berlalu menuju kamarnya.
"Langsung mandi, ganti baju dan,,," belum selesai mendengar arahab dari Mamanya, Dea sudah sampai di kamarnya, dan menutup pintu langsung.
"Ahh... melelahkan" ucapnya dan menghempaskan diri di atas kasur kamarnya lalu memejamkan mata sejenak.
"Sudah bertekad menjauh, tapi tetap saja bertemu, bahkan terlibat masalah lagi dengannya" gumam Dea, lalu mengambil ponselnya saat mendengar notif masuk.
Notifikasi masuk disalah satu sosial media yang ada di posel Dea.
Dio : Cengeng
"What,,,, Dio" Dea masih tak habis pikir lagi dengan sikap Dio padanya, Berlaku sesuka hatinya pada Dea.
Masih dalam posisi berbaring di tempat tidurnya, Dea mengamati baju hoodie yang dipakainya itu...
"Hemm.. Dio lagi, Dio lagi" batinnya, lalu beranjak ke kamar mandi.
Dinda : Dea,,, besok nonton yuk
Tya : Besok jalan yuk
Dua message dari kedua sahabatnya yang mengajak Dea keluar untuk menikmati weekend bersama.
"Oke, aku izin ke Mama dulu" replaynya pada kedua sahabatnya.
Dea keluar dari rumahnya sambil membawa pakaian basahnya menuju mesin cuci.
Entah apa yang sedang disaksikan oleh Mamanya yang fokus pada ponsel genggam nya di ruang tamu rumah mereka.
"Mama sedang apa?"
"Membaca artikel" jawaban sang Mama membuat anaknya mebentuk mulut seperti saat mengatakan oh yang panjang.
"Mama, Dinda dan Tya mengajak Dea untuk nonton di bioskop, boleh?" tanya Dea pada Mama Nindia
"Iya" jawab Mamanya singkat
"Jika diizinkan Papa, sayang" sambung Mamanya lagi.
Memang tidak berubah kebiasaan kedua orangtuanya ketika Dea hendak izin untuk pergi kemana saja, dengan siapa saja, dan untu apa, harus jelas dan menunggu persetujuan Papanya, yang bahkan jarang bertemu karena kesibukan Papa di kantornya.
__ADS_1
"Ya udah Mama bilang ke Papa saja" ucap Dea
"Hmm" jawab sang Mama dengan masih fokus membaca artikel di ponsel genggamnya.
Dio yang tengah mampir di sebuah cafe setelah mengantarkan Dea pulang ke rumahnya, menatap message yang ia kirim kepada Dea.
Tebakannya 100% benar, Dea tidak akan membalas pesannya, karena memang Dea terlihat selalu menghindar dan tak ingin terlibat apapun dengan Dio.
"Makin jauh, makin q dekati" batinnya tersenyum, lalu membuka galeri foto dan menampilkan wajah cantik Dea yang sedang tertidur pulas.
"Cantik" ujarnya
Ponsel Dio bergetar dengan panggilan masuk dari Mamanya.
"Halo sayang, Dio lagi dimana?"
"Mampir cafe sebentar Ma, habis dari rumah temen"
"Siapa? Alex?"
"No.. Ma,, tapi gadi cantik" jawabnya
Tentu saja Mama Dio pasti mengetahui, siapa yang dimaksudkan oleh Dio.
"Apakah benar itu Dea?" tanya Mamanya meyakinkan dengan antusias
"Hmm" Dio mengiyakan tebakan sang Mama
"Mengapa tidak menunggu Mama pulang?" tanya sang Mama dari seberang sana.
"Mama ingin Dea menunggu hingga larut malam dengan Dio berdua di rumah?"
"Mmm.. sepertinya tidak buruk dengan menunggu hingga Mama pulang"
"Yayayaya Mama,,, kembalilah dengan kesibukan Mama" ujarnya pada Mama dan izin untuk menyudahi panggilan Mamanya.
"Baiklah, Mama tutup dulu, jangan pergi kemana-mana lagi" pesan Mamanya
"Hmm" jawab Dio singkat.
"Nyokap gw aja jatuh cinta pertama kali ketemu lo, gimana gw gak... hmm gak bisa berhenti ganggu lo" batin Dio sambil tersenyum simpul.
Hari sudah berganti malam, sekarang sudah pukul 19.00 Dea beranjak dari tempat tidurnya dan keluar menuju balkon rumahnya.
Sepertinya hujan siang tadi menjadikan bintang lebih banyak bersinar bertaburan di malam harinya, puas melihat keindahan alam semesta dengan sejuknya angin malam, Dea mendengar suara motor gede yang tak asing bagi Dea.
Ia melihat ke sumber suara, dan memang ada seseorang yang mungkin saja berhenti tepat didekat rumahnya, setelah melihat motor itu berlalu menjauh.
"Apa jangan-jangan itu Dio, tapi ngapain dia malam begini didepan rumah, kurang kerjaan banget, apa Karena dia sendiri di rumah, atau... "
"Aahh.. Dea,,, kenapa Dio lagi yang dipikiranmu, Dio Lagi dan Dio lagi, seharusnya kamu gak usah mikirin orang menyebalkan seperti dia, yang berbuat sesuka hatinya pada orang lain" keluhnya pada diri sendiri.
Ia pun kembali ke kamarnya menutup pintu balkon dan berbaring di tempat tidurnya sambil memainkan ponsel genggam nya.
Entah apa yang akan disaksikan di ponsel genggam nya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu dengan ponselnya, Dea mencoba menulis nama David Prayoga aplikasi sosial media, dan seketika banyak akun bermunculan dengan nama David Prayoga ini.
"Apa aku harus cek satu persatu akun profil dengan nama David ini?" tanyanya pada diri sendiri lalu menghela nafas nya dan berbaring tanpa ponsel genggamnya.