Promise? Stay With You

Promise? Stay With You
11. Kekesalan Dea


__ADS_3

Masih merasa sangat kesal pada Dio, yang meninggalkannya sendiri di ruang UKS, membuat Dea geram, kesal, marah, namun tak bisa ia lampiaskan pada siapapun, karena tak bisa menahannya lagi, air mata Dea mengalir perlahan. Dea menangis bukan karena luka yang dialami, tapi kekesalan, kemarahan, yang hanya bisa ia lampiaskan dengan tangisan. Tak habis pikir, mengapa harus bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan.


Darah pada lukanya sudah tidak terlalu banyak mengalir lagi, ia membalutnya dengan asal, lalu mencari plester luka, namun tak menemukannya pada kotak P3K ruang UKS.


"Ah.. ini gimana sih, Sekolah segede ini plester luka saja tak punya" Dea mengomel seorang diri dan terus mencari di lemari ruang UKS, Dea semakin tak bisa membendung tangisannya lagi, ia menangis tersedu-sedu, kesal, marah, merasa hari-hari baiknya seakan hilang setelah bertemu dengan Dio.


Setelah merapikan kotak P3K, Dea hendak beranjak dari ruang UKS sambil mengusap air mata kekesalannya, namun Dio tiba-tiba datang lagi.


Memperhatikan Dea yang terlihat jelas sembab di matanya, efek dari tangisannya tadi, membuat Dio makin ingin mengejeknya


"Gak lemah, kok nangis" ledek Dio, ia menarik tangan Dea yang luka, dan merapikannya sambil membalut luka Dea dengan plester yang entah darimana didapatkan oleh Dio.


"Gw tadi keluar bentar nyari plester" ucap Dio


"Mkasih" Dea berlalu meninggalkan UKS untuk menuju kelasnya dan segera pulang.


Sekolah masih diramaikan oleh para guru dan beberapa siswa/i yang belum beranjak pulang. Dea hanya berjalan terdiam, tak ada gairah untuk mengatakan apa-apa lagi, Dio hanya bisa mengekori Dea yang berada di depannya, karena kelas mereka sejajar, namun terpisah satu kelas saja.


Sesampai di kelas, Dea menyadari bahwa seragam Dio masih ada di tasnya, buru-buru mengambil tas lalu keluar kelas dan mencari Dio yang mungkin saja berada di kelasnya.


Benar saja, ternyata Dio sedang duduk memainkan ponselnya sendiri didalam kelas.


"Nih seragamnya" Dea menaruh seragam Dio di atas meja depannya, langsung berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.


"Masih nangis gadis cengeng?" ledek Dio lagi tanpa berterima kasih pada Dea yang sudah mau mencuci seragamnya.


Tetap saja tak dihiraukan Dea, dan terus berlalu meninggalkan Dio seorang diri.


Buru-buru merapikan tas dan seragamnya, Dio mengejar Dea yang sepertinya akan memesan taxi online.


"Gw anter"


"Gak, makasih"


"Mendung, khawatir hujan"


"Mendung belum tentu hujan bukan?" ujar Dea sambil fokus pada ponselnya untuk memesan taxi online.


Namun, karena Dio tipe laki-laki yang tidak suka ditolak tawaran baiknya, akhirnya mengambil ponsel Dea secara tiba-tiba dan memasukkannya pada saku celana seragamnya.


"Dio... kembaliin ponsel aku"


"Pulang bareng gw"


"Gak da kerjaan banget sih, ngurusin hidup orang" ketus Dea.


"Seharusnya lo berterimakasih ma gw, dah nawarin lo naik motor gw"


"Aku gak pernah berharap"


"Kalau aku maksa"


"Gak mau"


"Ya udah sana balik sendiri"


"Kembaliin dulu ponsel aku"

__ADS_1


"Pulang bareng gw dulu"


"Ih,,, apa-apaan sih kamu tuh, gak puas apa bikin kesel terus"


"Belum puas, baru aja 3 hari ketemu" jujur Dio.


"Mau kamu apa sih?"


"Pulang bareng gw"


"Gak" sambil berlalu meninggalkan Dio, Dea menuju halte bus depan sekolahnya.


Sedangkan Dio balik ke parkiran untuk mengambil motornya.


Dio hanya melihat dan menunggu tindakan Dea, Apakah mau pulang bareng Dio, atau malah nekat naik bus angkutan umum atau sebagainya.


Tak lama kemudian Bus xxx angkutan umum berhenti di depan Dea, tanpa pikir panjang ia beranjak naik ke bus tersebut dan nekat untuk pulang dengan angkutan umum.


Ini merupakan pengalaman pertama bagi Dea naik angkutan umum, karena jika tidak dijemput Pak Eko, dia pasti memesan taxi online.


Tidak tahu akan turun di pemberhentian mana, Dea hanya mengingat alamat rumahnya, namun tak terpikir olehnya untuk mengetahui nama jalan menuju alamat rumahnya.


Alhasil, dia turun di pemberhentian ke 5 dari keberangkatan bus di depan sekolahnya.


Makin dibuat bingung lagi, ia hanya bermodalkan uang saja, karena ponselnya ditahan sembarangan oleh Dio.


Mencari tempat telpon umum zaman sekarang cukup sulit untuk ditemukan.


Dea hanya mengingat pernah melewati pemberhentian yang ia singgahi.


Melihat cuaca yang semakin gelap, mendung yang sedari tadi belum menumpahkan air hujan ke bumi, nampaknya sebentar lagi akan benar-benar jatuh.


Benar saja, tak lama setelah itu, hujan turun dengan rintik-rintik annya, membuat Dea berlari mencari tempat berteduh.


Tanpa ia sadari sebenarnya, Dio mengikuti Bus angkutan umum yang dinaiki Dea dengan mogenya.


Melihat Dea yang yang berteduh berdesak-desakan dengan pejalan kaki yang lain, Dio menghampiri Dea, dan menyuruhnya untuk segera naik.


"Cepet naik" teriak Dio ditengah rintik hujan.


Dea sudah tak bisa menolak lagi, ia menghampiri Dio dan buru-buru naik, sebelum hujan turun lebih deras lagi.


Dio pun melajukan motor nya menerobos rintik hujan yang sudah mulai deras.


"Mampir ke rumah gw dulu"


"Ngapain?"


"Rumah gw lebih deket dari sini"


"Rumah aku juga dekat kok dari sini"


Tanpa berpikir panjang lagi, bahkan tidak menghiraukan ocehan Dea yang protes, mereka sudah tiba di rumah Dio. Benar saja, tak sampai 5 menit berada diatas motor, mereka sudah tiba di rumah Dio.


Entah kemana Pak Tamrin, rumah terlihat begitu sepi.


Dea sudah mulai merasakan kedinginan, karena memang mereka berdua basah kuyup diguyur hujan. Dio menarik Dea masuk ke rumahnya, tapi Dea menahan dirinya, merasa tidak pantas untuk bertamu ke rumah teman laki-lakinya.

__ADS_1


"Ada Mama gw di dalam, gak usah mikir aneh-aneh deh"


"T-tapi.. "


Dio mengambil kunci cadangan rumah yang memang sengaja di siapkan oleh Mama Dio untuknya.


Dio menarik Dea lagi hingga masuk ke dalam rumahnya


"Dio, bajunya basah nih, jadi kotor kan lantainya"


"Nanti bakal dibersihin"


"Ma.. Mama..."


"Mama... Dio pulang, Mama dimana?"


Dio mengecek ponselnya, dan ternyata benar-benar tidak ada orang dirumah. Melihat 3 pesan 2 jam yang lalu dari Mamanya.


My Mom ❤ : "Sayang, Mama ada urusan sebentar, bahas masalah pembangunan villa di daerah xxxx dengan Pak Tamrin. Sepertinya Mama pulang larut malam.


My Mom ❤ : "Oh iya, jangan lupa makan siangnya Mama sudah siapkan di dapur, hanya perlu dihangatkan saja"


My Mom ❤ : See u sayang ❤, kabari Mama jika kamu sudah di rumah.


Begitu lah pesan Mamanya yang baru sempat dilihat oleh Dio. Mereka hanya berdua dirumah saat ini, karena Pa Tamrin pasti mengantarkan Mamanya, sedangkan Bi Ipah masih cuti mengurus suaminya, jika tak cuti mungkin mereka bersama Bi Ipah, karena Bi Ipah pulang dimalam hari saja.


Drrrrtttttt.... Suara ponsel yang lain bergetar, sepertinya itu milik Dea, segera dilihat oleh Dio dan tertulis Mama is calling. Dea langsung mengambil ponselnya dan segara menjawab panggilan dari Mamanya.


"Sayang, masih kerja kelompok nya?"


"Mm.. iya Ma, Dea masih kerja kelompok, dan hujan masih belum reda, mungkin Dea pulang agak terlambat Mama"


"Apa perlu Pak Eko jemput ke rumah Dinda"


"Oh.. jangan Ma, nanti Dea pesan taxi aja, ini masih lama ngerjain tugasnya Ma, khawatir Pak Eko menunggu lama"


"Hmm baiklah, segera pulang jika sudah selesai mengerjakan tugas"


"Iya, Ma.. "


"Ya udah kalau begitu Mama tutup, hanya memastikan putri Mama aman-aman saja"


"Iya, Mama"


"Mama kamu mana?" tanya Dea pada Dio


"Sedang tidak dirumah" jawabnya


"Lalu?"


"Hanya ada kita disini" ujar Dio dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Dea.


Dio semakin mendekat menghampiri Dea yang berdiri dihadapannya, semakin Dio mendekat Dea mundur menjauh, hingga tak Dea menabrak tembok rumah Dio.


Dio semakin mendekat lagi, membuat Dea menahan nafasnya, saat tangan Dio terangkat menuju depan wajah Dea, sontak membuat Dea duduk tiba-tiba dan berjongkok menutup dirinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2