
..."Menjauh, dan jauh-jauh"...
...(Dea)...
Jum'at, 07.35
"Pagi Pa, Ma" sapa Dea setelah turun dan bersiap untuk pergi sekolah
"Pagi sayang"
"Bagaimana sekolah Dea kemarin?"
"Memalukan Ma"
"Anak Papa kenapa?"
"Dea telat Pa"
"Kenapa bisa telat? bukannya selalu tidur tepat waktu, dan tidak bergadang sayang!" tukas Papanya
"Dea mengerjakan tugasnya mendadak Pa" bela Mama Dea untuk sang anak, karena memang Papanya orang yang sangat disiplin, dan ingin Dea menjadi anak yabg disiplin dan taat peraturan juga. Walaupun begitu, Putra Pratama sangat sayang dan memanjakan anak gadisnya yang hanya satu-satunya itu.
"Maaf Pa, Dea tidak akan telat lagi" ujarnya dengan muka memelas dan sangat imut itu.
Melihat itu, Papa dan Mama Dea tersenyum dengan tingkah anak gadis mereka.
"Papa berangkat dulu, Dea sama Pak Eko yah" ujar Papa Pratama berpamitan (beri kecupan) pada dua gadis tercinta nya itu.
"Siap Pa" sambil berpamitan pada Mamanya juga, tak lupa memberi satu kecupan manis pada sang Mama.
Di perjalanan menuju sekolah, Dea membuka tasnya, lalu mengeluarkan seragam Dio yang ia cuci dan rapikan kemarin.
"Ah, bagaimana cara memberikannya pada anak menyebalkan itu" gumam Dea
"Kasih saja, tinggalkan dan beres" batin Dea menyarankan.
"Titip saja pada Andre, agar tidak bertemu anak menyebalkan itu lagi" batinnya lagi dengan saran yang lebih cocok untuknya, agar tidak berurusan lagi dengan Dio.
"Ah,,, sudahlah, kenapa harus ribet memikirkan cara mengembalikan seragam ini, hanya perlu bertemu, berikan, lalu tinggalkan" Dea mengoceh sendiri, tanpa sadar membuat Pak Eko tersenyum melihat kelakuan anak majikannya, namun tak ingin bertanya dengan apa yang sedang di alami oleh Dea.
__ADS_1
Sampai di depan SMA Alexandria, Dea turun dan berpamitan pada sang sopir, ia tak pernah menyuruh sopirnya untuk masuk membawanya sampai ke tempat parkiran, tak ingin terlalu diperhatikan oleh para siswa dan siswi Alexandria, Dea memilih untuk berjalan sedikit menuju gerbang sekolahnya, dan dari awal berkenalan dengan dua sahabatnya pasti mereka sudah menunggu Dea di gerbang untuk sama-sama berjalan menuju kelas mereka.
"Sekarang jadwal olahraga dengan kelas IPS 1" ujar Dinda memulai percakapan mereka
"Mengapa kita selalu dipasangkan dengan kelas IPS 1?" ujarnya lagi
"Tanya Pak Darwis, jangan tanya kita" respon Tya dan ditanggapi senyuman oleh Dea
Breemmm breemmm.....Suara beberapa motor membuyarkan para siswa-siswi yang baru saja tiba di sekolah. Mereka semua oasti tau dibalik helm dan diatas motor gede itu adalah Alex, Andre, Luis, dan bertambah satu lagi pastinya Dio.
Dea merasa, motor milik Dio tak begitu asing, seperti pernah melihatnya. namun tak dihiraukan olehnya, karena motor tersebut bukan hanya Dio saja yang punya, pasti banyak orang diluar sana bisa memiliki nya, ia dan dua sahabatnya berjalan lagi menuju kelas mereka untuk bersiap-siap ke ruang ganti dengan menggunakan seragam olahraga.
"Ah,,, iya seragam Dio kan masih di aku, tapi sepertinya tadi dia juga memakai seragam ke sekolah" gumamnya, karena memang di SMA Alexandria, mereka minimal harus memiliki 3 seragam yang sama untuk digunakan saat ke sekolah.
"Kira-kira seragam ini kasih ke Dio langsung atau titip di Andre saja?" tanya Dea pada kedua sahabatnya.
"Kasih ke Dio langsung" Dinda menyarankn
"Titip Andre aja" Tya menyarankan
"Hmm,, kok beda"
"Ah nanti saja, ayo ganti pakaian" ujarnya dan mereka bergegas ke ruang ganti untuk mengganti seragam sekolah dengan seragam olahraga.
"Baik, karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai olahraga kita, sebelumnya pemanasan masing-masing" ujar Pak Darwis
"1..2..3.. (dan seterusnya)" Pak Darwis memimpin olahraga tersebut.
Setelah melakukan peregangan otot, mereka (IPA 1 & IPS 1) diarahkan untuk mengelilingi lapangan olahraga, sebelum memilih alat-alat permainan olahraga yang sudah disiapkan oleh sekolah. Mereka berbaur satu sama lain diantara dua kelas unggulan namun beda jurusan tersebut.
"Ah, Dinda dan Tya dimana?" gumam Dea lirih sambil berlari dan mengamati teman-teman yang sedang berlari juga, namun tak kunjung melihat dua sahabatnya itu, dan malah bertatapan dengan Dio, Dea yang merasa kaget bertemu tatap dengan Dio yang ada dibelakangnya buru-buru mengalihkan pandangannya.
Tak tau sejak kapan Dio berlari tepat di samping Dea, membuat Dea berlari lebih cepat lagi agar tidak berdekatan dengan Dio yang menyebalkan itu. Melihat Dea yang mendahului nya, Dio mengejar gadis cantik itu agar tetap sejajar dengannya, namun Dea tetap menghindari Dio, menyadari Dea yang manghindar lagi, Dio semakin mengejar nya lagi, entah kenapa hal itu membuat Dio semakin ingin mengganggu Dea yang terus-terusan menghindar.
Masih tak ingin berdekatan dengan Dio, Dea mencoba lebih pelan berlari agar tidak sejajar dengan Dio, dan cara itu berhasil membuat ia menjauh dari Dio.
"Menjauh, dan jauh-jauh" gumam Dea lirih, karena memang tekadnya ingin menjauh dan tak mau berurusan lagi dengan anak menyebalkan tersebut.
Dio merasa, hari ini Dea benar-benar menghindarinya, namun tetap saja, Dio semakin ingin mengganggu nya. Karena setiap melihat Dea, Dio selalu memikirkan ide-ide jahilnya agar bisa berurusan dengan Dea.
__ADS_1
Priiitt....
Suara pluit Pak Darwis mengisyaratkan bahwa sesi pemanasan sudah berakhir dan dilanjutkan dengan permainan olahraga yang lainnya.
"Tidak ada yang boleh meninggalkan lapangan olahraga, sebelum jam pelajaran olahraga selesai (3 jam, dua kelas gabungan).
Lapangan olahraga SMA Alexandria cukup luas, bisa memuat lapangan basket, Voly dan badminton, tenis meja, dan futsal.
SMA Alexandria juga memiliki gedung olahraga. Karena memang merupakan SMA ternama dengan akreditasi A yang memiliki fasilitas mumpuni serta para siswa-siswi yang berprestasi dan berbakat di berbagai bidang pendidikan.
Mereka mengambil alat olahraga yang sudah disiapkan sekolah, dan mengambil posisi masing-masing.
Dinda dan Tya bermain Voly dengan anak-anak yang lain, sedangkan Dea hanya duduk saja sambil meminum air, karena harus menunggu giliran bermain dengan yang lain.
"Dea.. mau gantian main tenis meja" ujar Viola teman satu kelas Dea
"Hmm boleh" jawab Dea dan mulai bermain dengan Anton anak kelas IPS 1
Dea begitu menikmati permainan nya dengan Anton yang memang terkenal humoris itu, Viola memberikan semangat untuk Dea agar bisa mengalahkan Anton, tak jarang ia melegakkan tawanya karena sikap Anton dan Viola yang saling beradu mulut.
Bola pingpong tenis meja tak bisa iya tangkis kembali, membuat Dea harus memungutnya.
Saat akan memulai lagi permainannya, Dea begitu kaget dengan lawan mainnya, orang yang berusaha ia hindari sejak tadi berada di hadapannya saat ini.
"Kenapa diam, ayo mulai mainnya" ujar Dio dengan senyuman jahilnya
"Anton, kok udahan mainnya" tanya Dea pada Anton yang berdiri menjadi penonton Dio.
"Hehe.. Gantian Dea, tadi kan aku sama Viola, sekarang kamu sama Dio" jawab Anton beralasan, padahal memang Dio tiba-tiba menghampiri dan meminta main bersama Dea.
"Kalau gitu Viola gantiin aku" ujar Dea.
"Ah.. tadi saat main sama Anton, tangan aku gak sengaja salah cara mainnya, mungkin keseleo, makanya gantian main sama kamu" Viola ikut-ikutan beralasan karena melihat cara Dio tadi yang memang hanya ingin bermain dengan Dea.
"Lo takut main ma gw?" ujar Dio pada Dea
"Siapa takut!" jawabnya dan memulai bermain tenis dengan Dio.
Mereka bermain dengan sunyi, tanpa beradu mulut. Dea yang sudah mulai kesusahan dengan permainan Dio yang memang sengaja membuat nya banyak bergerak itu menjadi kesal dan ingin menyerah, namun Dio selalu menyalakan api permusuhan, dan lagi, Dea terpancing akan omongan Dio yang mengatakannya lemah dan cepat menyerah itu. Mereka terus-terusan bermain dengan diamnya dan tak ingin menyerah satu pun.
__ADS_1