Promise? Stay With You

Promise? Stay With You
7. Fakta Tersembunyi


__ADS_3

Flashback on


"Mas, Bisakah kamu jelaskan semua ini mas?" tanya Dina pada Surya Pangalila sambil menunjukkan foto pernikahan Surya dengan wanita lain dan juga foto-foto lainnya hingga mereka memiliki seorang putra yang hampir seusia dengan Dio.


"Iya, semuanya memang benar, tapi aku melakukannya untuk pekerjaan juga Dina"


"Apa tidak cukupkah bagimu, hanya aku wanita yang mendapingimu mas?" isak Dina


"Kapan kalian menikah?" Dina bertanya lagi oada sang suami.


"5 bulan setelah pernikahan kita"


Mendengar itu, Dina sangat syok, tak kuasa menahan tangisnya, ternyata selama ini, hampir 10 tahun pernikahana mereka hingga mempunyai seorang anak laki-laki, Surya menyembunyikan sebuah fakta yang sangat menyakitkan baginya.


"Kamu tahu aku Mas, aku sudah pernah bilang ke kamu mas, aku tidak siap membagi cinta Mas, sekarang kamu bisa pilih, Tinggalkan dia atau ceraikan aku Mas!" ucap Dina bergetar, ia menangis menahan rasa sakit telah dibohongi oleh suaminya sendiri. Tanpa mereka sadari, anak laki-laki berusia 9 tahun mendengar percakapan mereka, dia merasa sakit hati melihat Mamanya menangis di depan Papanya. Tak ingin membuat suasana semakin kacau, ia hanya bisa bersembunyi mendengar apa yang bisa ia dengar, tanpa harus diketahui oleh kedua orangtuanya.


"Dina, dengarkan aku dulu Dina, aku tidak bisa menceraikannya, saat ini Clarisa sedang mengandung putri keduanya, aku.. aku


"Apa Mas, dia sudah mengandung lagi" Dina memotong penjelasan suaminya, dan akhirnya memutuskan sendiri


"Baiklah Mas, silahkan lanjutkan pernikahanmu dengannya, aku bisa mengurus Dio sendiri disini"


"Dina, dengarkan dulu penjelasanku"


"Cukup Mas, sekarang kamu keluar dari sini, pergi ke rumah istrimu, dan aku meminta cerai darimu, cukup sampai disini perjalanan cinta kita, dan cukup sampai disini juga kamu membohongi aku Mas, Hari ini aku rela dan aku ikhlas kau tinggalkan Mas" ucap Dina Pangestika dengan tabah dan jelas terdengar oleh Surya Pangalila. Mereka terdiam cukup lama tanpa berkata apa-apa, akhirnya Surya memutuskan untuk menyetujui kemauan istrinya


"Baiklah, jika itu keinginanmu, tapi jangan pisahkan aku dengan putraku, aku akan tetap bertanggung jawab dan membiayai kehidupan nya, sampai aku tidak bernafas lagi" balas Surya pada istrinya dan meninggalkannya sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat, dan akan mengajukan surat perceraian damai diantara keduanya.


Falshback off


"Mama, Mama, Mama dimana?" teriak Dio saat memasuki rumahnya, dan menuju dapur


"Iya, sayang, mama sedang di dapur" balas Mama Dina, karena pembantu nya (bi Ipah) sedang cuti selama dua pekan untuk menemani suaminya yang sedang sakit.


"Mengapa tidak cari pengganti bi Ipah saja Ma?" ujar Dio


"Tidak perlu, Mama masih bisa melakukan semuanya, hanya dua pekan saja, tidak perlu mencari pembantu lain, selain Bi Ipah"


"Atau jangan-jangan Bi Ipah sudah lelah mengerjakan ini semua Ma" ujar Dio lagi


"Ah.. sayang, apa kamu menyalahkan Mama, karena hanya menggunakan satu pembantu saja"


"Tidak Ma, bukan seperti itu, hemm Ma, kenapa Bi Ipah tidak tinggal disini saja bersama dengan suaminya?"


"Mama pernah tawarkan, bahkan Mama menawarkan keduanya untuk kerja disini, tapi Bi Ipah menolak"


"Mengapa?"


"Apa kita perlu tahu alasan mereka menolak tawaran kita sayang?" tanya sang Mama


"Hmm.. ya tidak juga Ma, tapi setidaknya, Bi Ipah tidak terlalu lelah untuk pulang-pergi di malam hari, lalu sudah ada disni pagi-pagi lagi"


"Rumah Bi Ipah tidak terlalu jauh dari sini, ia juga perlu mengurus suaminya sayang"


"Apa pekerjaan suaminya Ma?"


"Kerja menjadi kuli bangunan"


"Hmm... Baiklah Ma, kalau begitu Dio ke kamar dulu" ujarnya sambil mencium pipi Mamanya dan berlalu menuju kamarnya.


"Jangan lupa, antar Mama belanja siang ini sayang"

__ADS_1


"Iya Ma" jawabnya


Di rumah Dea, Bi Imah sedang bersiap-siap untuk pergi membeli kebutuhan dapur dan kebutuhan rumah lainnya bersama Pak Eko yang merupakan suami dari Bi Imah, mereka sudah sangat setia dengan keluarga Pratama hingga betah bekerja sampai saat ini, tanpa ada keluhan sama sekali.


Dea yang baru saja turun dari kamarnya setelah membersihkan diri, melihat bi Imah yang sedang siap-siap bertanya


"Kemana Bi?"


"Ke Supermarket Non, beli kebutuhan dapur dan juga kebutuhan lainnya Non"


"Dea boleh ikut?"


"Izin Nyonya dulu Non, takut saya lancang mengiyakan kemauan Nona"


Dea pun pergi mencari Mamanya ke taman samping rumah, karena itu merupakan tempat favorit Mamanya untuk melihat bunga-bunga dan tanaman lainnya.


"Mama, Dea boleh ikut dengan Bi Imah untuk pergi belanja"


"Serius, anak Mama mau ikut pergi belanja dengan Bi Imah?"


"Iya Mama, Dea juga mau sesekali belanja keperluan untuk kita di rumah ini"


"Baiklah, tetap ikut dengan Bi imah, jangan pisah"


"Iya Mama, Dea juga bawa HP Ma, tenang saja, kalau hilang Mama bisa telpon Dea, atau telpon polisi" tutur Dea asal.


"Husstt... ngomongnya kok gitu sayang"


"Hehe.. ya udah Dea berangkat dulu Ma"


"Eiittss, ganti bajunya sayang, masa keluar pakai baju pendek begitu"


"Ayo Bi, Dea sudah siap" ujar Dea pada bi Imah dan bergegas menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan


Sesampai di tempat tujuan, Dea meminta sebagian daftar kebutuhan yang akan dibeli, untuk mempersingkat waktu belanja, Bi Imah pun memberi kertas kepada Dea, dan di foto oleh Dea.


"Ya udah, Bi Imah beli keperluan yang sebagian ini, Dea yang ini" tunjuk Dea pada kertas tersebut.


Mereka berdua berpencar untuk mencari kebutuhan yang diperlukan.


Di sisi lain, Dio juga sedang menemani sang Mama untuk pergi belanja, karena pak Tamrin ditugaskan untuk diam berjaga dirumah saja.


Dio hanya memerhatikan Mamanya mengambil semua kebutuhan yang diperlukan, ia hanya bisa mendorong teroli belanjaan yang diambil Mamanya, karena tidak tahu menahu akan keperluan yang akan dibeli Mamanya. Tapi, beberapa saat kemudian Dio merasa harus segera menuju toilet sebentar, ia pun memberitahu Mamanya.


"Ma.. Dio cari toliet sebentar yah"


"Iya jangan lama-lama"


Ditempat yang sama, Dea sedang sibuk mencari daftar belanjaan yang sudah tertera di ponsel nya, ia sudah menemukan sebagian kebutuhan yang diperlukan, dan masih beberapa lagi. Karena hanya fokus pada daftar keperluan yang tertera di ponselnya, Dea tanpa sengaja menabrak troli belanjaan seorang ibu yang mungkin seusia dengan Mamanya, dan ibu tersebut adalah Mama Dio yang tentu saja belum dikenal oleh Dea.


"Maaf, saya tidak sengaja Tante" ucap Dea


"Iya tidak apa-apa, kamu sedang mencari apa?"


"Hmm, nama bahan ini Tante" tunjuk Dea malu pada Mama Dio, karena memang ia hanya bisa mencari bahan sesuai dengan nama dan gambar yang tertera pada pencariannya di google.


"Oh, Rempah-rempah untuk penyedap makanan yah, ada di sebelah kanan, tinggal liris sedikit pasti sudah banyak pilihan seperti yang kamu cari" tutur Mama Dio ramah pada Dea,


"Makasih Tante, kalau begitu saya ke sana dulu" ujar Dea dan menuju arah yang sudah di tunjukkan oleh Mama Dio.


Tak lama kemudian Dio sudah kembali dari toilet, dan melihat Mamanya seperti sedang memerhatikan seseorang.

__ADS_1


"Lihat siapa Ma" tanya Dio


"Lihat gadis cantik, sedang mencari rempah-rempah bahan penyedap makanan"


"Mana Ma?"


"Ih, anak Mama kok jadi kepo, mentang-mentang Mama bilang ada gadis cantik" goda Mama Dina pada anak semata wayangnya itu


"Aiishh Mama, Dio hanya penasaran saja" sambil menengok arah yang tadi dilihat oleh Mamanya.


"Sudah menghilang" ucap Mamanya dan melanjutkan mencari yang akan dibelinya.


Akhirnya Dea sudah membeli semua keperluan yang dibutuhkan, dan bergegas mencari keberadaan Bi Imah,


"Aduh, Bi Imah nunggu dimana yah, pasti tidak membawa ponselnya" sambil menghubunginya kontak bi Imah


"Oh ya Pak Eko" sambil mencari kontak Pak Eko dan tersambung


"Pak.. Bi Imah sudah ke mobil kah?"


"Belum Non"


"Baik Pak, makasih" tutupnya, dan mencari Bi Imah di tempat awal mereka berpencar, dan benar saja, Bi Imah sedang terdiam seperti menunggu seseorang yang sudah jelas memang sedang menunggu Dea.


"Aduh.. Bi, maafin Dea yah, kelamaan nunggunya"


"Gpp Non" senyum Bi Imah menimpali anak majikannya itu. yang tak malu pergi berbelanja dengan nya yang hanya seorang pembantu.


"Ya udah, ayo ke kasir Bi, takut Pak Eko juga sudah terlalu lama menunggu Dea"


Keduanya pun mengantri pembayaran di kasir.


Tanpa disadari Dea, Mama Dio dan Dio pun sedang mengantri dibelakangnya, Dio yang merasa tak asing dengan gadis yang berdiri di antrian pembayaran tersebut ingin mencoba untuk menyapanya, namun didahului oleh seorang Ibu-ibu yang merupakan Mamanya sendiri,


"Hei Gadis cantik" ujar Mama Dio, sambil menepuk pelan bahu Dea.


"Dea, yang menoleh karena merasa ada yang menepuk pundaknya pun menyadari Tante yang tadi bertemu dengan nya sedang mengantri di barian pembayaran.


"Oh Iya Tante, yang tadi Dea tabrak" ucap Dea malu sambil tersenyum dan melihat anak laki-laki seusianya berdiri di samping Tante tersebut.


"Ah.. Kamu?" tunjuk Dea


"Apa" sahut Dio dengan dinginnya


"Dio kenal gadis cantik ini"


"Hmm"


"Kok gitu jawabnya sayang, yang ramah dong"


"Temen sekolah Dio Ma, namanya Dea"


"Oh kalian satu sekolah ternyata"


"Iya Tante, Kalau gitu Dea duluan yah Tante, sepertinya Bi Imah sudah selesai bayarnya.


"Iya, Hati-hati yah, lain kali main ke rumah Tante" ujar Mama Dio dan hanya dibalas anggukan oleh Dea sambil menoleh Dio yang membuang muka padanya.


"Gadis yang cantik, dan lucu, hmm menggemaskan" gumam Mama Dio


Mendengar hal itu, Dio ikut tersenyum karena bukan hanya dia yang merasa Dea menggemaskan, tapi Mamanya pun mengakui itu.

__ADS_1


__ADS_2