Promise? Stay With You

Promise? Stay With You
12. Hujan Reda


__ADS_3

"Kenapa Jongkok?" tanya Dio heran


"Kamu ngapain?" tanya Dea balik, tanpa menjawab pertanyaan Dio.


Mendengar Dea bertanya seperti itu, membuat Dio gemas, dan ingin lebih menggodanya lagi.


Dio sengaja duduk tepat dihadapan Dea, sambil mengitari tempat Dea jongkok dengan menggunakan kakinya.


Dea semakin gugup, melihat tingkah aneh Dio, ditambah lagi mereka hanya bersua dirumah Dio.


"Kamu mau apa?" tanya Dea lagi sambil terus menutup dirinya.


Dea merasakan tangan Dio memegang kepala Dea, sontak saja Dea semakin tegang, dan berteriak,


"Aaaaahhhhhhhh........ "


"Hahahaha" terdengar gelak tawa dari Dio, seketika Dea menghentikan teriakannya dan melihat Dio yang masih tertawa terbahak-bahak.


"Ini anak gila apa ya?" batin Dea


Sudah puas menertawakan Dea, Dio menatap Dea kembali lalu hendak memegang rambut Dea yang lurus itu lagi, Namun sontak Dea menghindar lagi.


"Rambut lo basah" ujar Dio lalu bangkit dari duduknya, dan pergi mengambilkan Dea handuk.


Dio kembali dengan handuk dan baju kaos hoodie untuk sementara di pakai Dea.


"Nih, sementara pakai punya gw dlu" sambil memberikan Dea handuk dan hoodie nya.


"Kamar mandinya dimana?" tanya Dea


"Mau ke kamar mandi khusus tamu, atau yang di kamar g..?"


"Tamu" sahut Dea memangkas perkataan Dio.


"Mau sekalian mandi?"


"Gak" ujar Dea, apa ia harus mandi ditempat orang lain, tanpa mengganti pakaian dalamnya. Dea membayangkannya saja malu-malu ngeri.


Dio menuntun Dea menuju kamar mandi khusus tamu dekat dengan dapur rumahnya.


Sudah siap dengan pakaian hoodie milik Dio, Dea bergegas menuju tasnya, membawa seragamnya yang hampir basah seluruhnya.


Ingin menghampiri Dio yang tengah di dapur sedang menghangatkan sesuatu, namun Dea mengurungkannya.


"Ah,,, Dea bisa-bisanya ada di rumah dia, mau menjauh tapi kok makin banyak terlibat masalah sama dia" batin Dea sambil mengeringkan rambutnya asal-asalan.


"Nih, minum" Dio menyodorkan minuman hangat (sejenis teh/wedang jahe) pada Dea.


"Gak ada racunnya, apalagi obat tidur" Dio menebak isi pikiran Dea yang terlihat ragu menerima minuman hangat dari Dio.

__ADS_1


"Makasih" ucap Dea.


Mereka hanya duduk di ruang tamu, menikmati minuman hangat dengan suara hujan yang masih belum reda diluar sana.


Sudah hampir menghabiskan minuman mereka, Dio menarik Dea menuju tempat makan, disana sudah dihidangkan beberapa menu makanan yang terlihat baru dihangatkan.


"Makan dulu, sambil nunggu hujannya reda, baru gw anter lo pulang"


Dea hanya menurut saja, namun tak berbicara sedikitpun.


Menikmati makan siang yang menjelang sore, mereka hanya fokus makan, tanpa ada obrolan sedikitpun. Dea terlihat masih merasa risih berada dirumah Dio, ia bahkan makan hanya sedikit saja dan terus menundukkan.


Dio mencuri pandang di sela-sela ia makan, melihat Dea yang tak bersuara sedikitpun, membuat Dio memikirkan topik apa yang ingin dibahasnya.


Jika berniat mengerjai Dea, tanpa berpikir pun Dio pasti mendapatkan ide jahilnya untuk mengganggu Dea. Namun beda halnya dengan saat ini, dimana ia berusaha menjadi baik sementara kepada Dea yang kehujanan akibat dari ulahnya sendiri, karena memaksa Dea untuk pulang bersamanya.


"Dea,,, " Dio membuka suara untuk memulai obrolan diantara keduanya. Tapi tak bisa melanjutkan perkataannya, karena respon Dea yang hanya mendongak sejenak tanpa mengatakan apapun, lalu melanjutkan lagi makanannya.


"Nih cewek kaku amat, serasa lagi nyulik orang gw" batin Dio


"Apa sih, manggil-manggil gak jelas, hmm hujan kapan redanya, biar bisa pulang" batin Dea juga dengan bimbangnya.


Sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing, Dea menuju ruang tamu lagi dan mengambil ponselnya.


"Hmm... aku pesan taxi online aja, kayaknya hujan masih deras diluar" ucap Dea, mendengar hal itu, Dio diam-diam menghampiri Dea dan berniat untuk menahan ponsel Dea lagi, namun dengan sigap Dea menyembunyikan handphone nya.


"Nanti bareng gw aja, bakal susah nyari taxi online hujan-hujan begini" bujuk Dio, padahal ia memang sengaja ingin Dea berlama-lama di rumahnya.


"Lo nginep juga gpp, kamar kosong banyak disini, besok juga gak sekolah" tawar Dio yang sudah pasti akan ditolak oleh Dea.


"Gak.. Aku naik taxi aja" ucap Dea sambil menunggu pencarian taxi terdekat.


Namun, lagi-lagi Dio menyambar ponsel Dea dan mengamankan ponsel Dea di saku celananya.


"Dio,,, gak ada kerajaan banget sih, aku mau pulang" tukasnya pada Dio


"Tunggu hujan reda, nanti gw anter sampai depan pintu rumah lo, kalo bisa sekalian sampai depan kamar lo" ujar Dio meyakinkan Dea agar menerima tawarannya.


Dea semakin dibuat bingung oleh sikap Dio, baru saja 3 hari bertemu, dan belum terlalu kenal saja sikapnya seperti ini.


Setelah mengamankan ponsel Dea, Dio menyalakan televisi yang ada diruang tamu.


"Biar lo gak bosen, nonton film sambil nunggu hujan reda" ujar Dio, bukannya menemani Dea menonton film, Dio berlalu meninggalkan Dea di ruang tamu dan menuju kamarnya.


"Huh menyebalkan, mengapa dia begitu semena-mena, tidak bisa dibayangkan jika menjadi kekasihnya mungkin aku tidak bisa menentang kemauannya" batin Dea.


"Ah apa yang aku pikirkan, untuk apa harus membayangkan dia menjadi kekasihku" geram Dea dalam batinnya sambil menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Dio yang masuk ke dalam kamarnya hanya ingin mengambil ponsel di dalam tasnya, dan hendak keluar lagi menemani Dea, namun teringat ia sedang menahan ponsel milik Dea. Tanpa ragu ia membuka ponsel milik gadis cantik itu, dan bahkan diponselnya saja ia tidak menggunakan password sama sekali.

__ADS_1


Dio membayangkan wallapaper ponsel Dea adalah foto Dea sendiri, namun tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan Dio, wallpaper ponsel Dea adalah foto dua anak yang sedang tersenyum menghadap kamera.


"Menggemaskan" gumam Dio melihat foto lama Dea.


Dio pun menulis kontak ponselnya di handphone Dea lalu menyentuh tanda calling.


"Oke" gumamnya sambil menyimpan kontak ponsel Dea dengan nama "Si cengeng" sambil tersenyum dan menghampiri Dea menuju ruang tamu.


Dio hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat Dea yang sudah tertidur di ruang tamunya sambil memeluk bantal sofa, bukan Dea yang menonton film, tapi sebaliknya.


Cekrek,,, cekrek,,,


Dio mengabadikan gambar Dea yang sedang tertidur di rumahnya.


Puas dengan hasil jepretannya, Dio menaruh ponsel miliknya lalu duduk di samping Dea dan menikmati film yang sedang berlangsung.


Pukul 15.35


Dea terbangun dari tidurnya, dan sontak saja menegakkan duduknya.


"Sudah puas istirahatnya nona?" tanya Dio yang sedang duduk disampingnya menikmati film yang diputar untuk Dea beberapa waktu lalu.


"Maaf aku gak sengaja tertidur" ucapnya malu


"Sengaja tidur juga gpp" balas Dio


"Boleh balik sekarang? hujannya sudah reda" Dea menanyakan janji Dio yang membolehkannya pulang setelah hujan reda.


"Redanya 1 jam yang lalu" sahut Dio


"Hah.. kenapa gak ngebangunin aku?" tanyanya.


"Terlalu pulas" jawab Dio


"Ponselku mana?" tanya Dea pada Dio


"Nanti gw kasih kalo udah nyampe rumah lo"


ujar Dio


"Aiishh,,,," keluh Dea dan bersiap untuk keluar rumah Dio.


"Naik, dan jangan duduk menyamping" perintah Dio.


Dea tak menyahut, tapi mendengarkan perintah Dio.


Dea teringat dengan laki-laki cerewet yang mengantarkannya pulang larut malam beberapa hari yang lalu.


"Mereka sama-sama menyebalkan" batin Dea

__ADS_1


Sudah merasa pas dengan posisi Dea di atas motornya, Dio pun melajukan motor gedenya menuju rumah Dea.


...----------------...


__ADS_2