
..."Penyemangat untuk diganggu"...
...(Dio)...
Dirumah Dio, pukul 21.00
"Mama, Dio keluar bentar yah" izinnya pada Mama tercinta
"Kemana malam-malam begini sayang?, Baru saja beberapa hari pindah dari kota J, sudah tidak betah diam dirumah" ucap Mamanya
"Hanya menyusuri jalan tanpa tujuan Ma"
Mama Dio mengernyitkan dahi merasa bingung dengan alasan putra semata wayangnya itu, dengan terus berlalu menuju garasi motornya.
"Jangan kebut-kebutan, jangan pergi balap liar, dan...
"Iya... siap Mama" jawab Dio memotong ucapan mamanya sambil menancap gas meninggalkan sang Mama yang masih geleng-geleng melihat kelakuan anaknya yang tak suka di atur itu.
Suasana malam yang cukup indah, Dio menikmati perjalanan tanpa tujuannya dengan mengendarai motor gede miliknya.
Sudah dua jam lebih berlalu, Dio masih tetap mengendarai mogenya, hanya berhenti sejenak untuk melihat keindahan susana malam kota, lalu melanjutkan perjalanannya.
Di pertengahan jalan, dari kejauhan Dio melihat taxi terparkir di pinggir jalan tempat pemukiman warga yang sudah mulai sepi. Dio pun berhenti tepat di samping seorang gadis yang mungkin seusia dengannya. Tanpa basa-basi, Dio pun menanyakan situasi yang sedang dialami oleh sopir taxi dan seorang gadis yang merupakan penumpang taxi tersebut.
"Taxinya kenapa?" tanya Dio pada sopir taxi yang terlihat masih kebingungan
"Ban depan dua-duanya tertancap paku nak, jadinya bocor" jawab sang sopir
"Perjalanan masih jau...
"Bolehkah aku menumpang dimotormu" pangkas Dea pada Dio tanpa mengetahui bahwa dibalik helm itu adalah Dio.
Begitu pula dengan Dio, yang baru menyadari gadis yang berdiri disampingnya adalah Dea.
"Maaf... ulangi sekali lagi" godanya sambil tersenyum dibalik helm.
Dea tak berani melihat sang pengendara motor, malah melirik pak sopir dengan memelas.
"Begini nak, sepertinya saya tidak bisa mengantarkan penumpang saya menuju tujuannya, apa boleh saya minta bantuan untuk diantarkan ke tujuannya nak?" pinta sang sopir pada Dio
"Nanti aku akan bayar ongkosnya" tutur Dea memelas, karena malam yang semakin larut, ia khawatir, jika ketahuan keluar rumah tanpa seizin Mama Papanya tengah malam seperti ini, walaupun kunci rumah sudah dipegangnya, tetap saja Dea merasa bersalah dengan orangtua tercintanya.
"Rumah lo masih jauh dari daerah sini?"
"Tidak terlalu jauh" ujar Dea meyakinkan
"Ya sudah, lo masih bisa jalan kaki kan" ingin lebih menggoda gadis cantik di sampingnya
"Masih jauh, kalau jalan kaki" ucap Dea dengan buru-buru
"Naik" ujar Dio singkat
Dengan hati-hati Dea menaiki moge Dio dengan duduk menyamping yang membuat Dio sedikit geram akan cara duduk Dea.
Bukan bermaksud untuk modus, tapi memang bahaya duduk menyamping dengan mengendarai moge yang digunakan Dio.
"Ubah posisi duduk lo" perintah Dio
"Hah... tapi, pakaianku.. " ujar Dea pelan
"Ckk... lo dari mana sih malam-malam gini pakaian kayak gitu?" Dio merasa gusar dengan pakaian baju kaos panjang sampai atas lutut yang dikenakan Dea.
Dio pun memberikan jaketnya untuk dijadikan lapisan rok sampe selutut pada Dea, agar bisa mengubah posisi duduknya.
Dea menaiki moge Dio sesuai dengan cara duduk yang diinginkan empunya.
"Pegangan, bakal ngebut nih" ujar Dio namun tak dihiraukan Dea.
__ADS_1
"Pak.. duluan yah" pamit Dio pada sang sopir taxi.
"Baik nak, terimakasih sudah mau mengantar penumpang saya.
Tak ada satupun yang memulai pembicaraan diantara keduanya.
Dea yang membuat jarak duduk antara dia dan Dio, sedangkan Dio sudah tersenyum licik ingin mengerjai Dea yang tidak rileks dengan posisinya saat ini.
Wajar saja, siapapun pasti merasa kurang enak hati diboceng oleh orang yang tak dikenal, bahkan meminta bantuan tanpa basa-basi. Itulah yang saat ini dirasakan Dea, malu, takut, canggung bercampur jadi satu, dan juga sedikit merasa lega ada orang yang masih ingin membantunya.
Dengan senyum jailnya, Dio tiba-tiba menancap gas moge nya dan melajukannya dengan sedikit lebih cepat untuk mengagetkan Dea.
Alhasil mengundang teriakan yang kuat dari belakang Dio, dan merapatkan duduknya dengan sekali hentakan yang dihasilkan dari tancapan gas moge Dio.
Reaksi itu membuat Dio tidak bisa menahan tawanya, dan semakin melajukan mogenya lebih cepat lagi, membuat Dea mau tak mau mencengkram bahu Dio dengan kuat, bahkan seperti di cakar. Karena kesal atas tindakan Dea yang memegang bahunya, membuat Dio semakin ingin lebih kencang melajukan motornya, dan lagi-lagi yang dipeluk erat oleh Dea adalah lehernya, membuat Dio mendongak bahkan terbatuk2 susah untuk bernafas lega,
Awalnya Dio yang ingin mengerjai Dea, malah sebaliknya, ia merasa lebih susah dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dio pun berhenti di pinggir jalan, untuk melepaskan cengkraman Dea yang membuatnya sesak napas.
"Lo mau bunuh gw, dicekek ampe gak bisa napas gitu?"
"Maaf" ujar Dea sambil melepas cengkramannya
"Rumah lo dmna sih?"
"Lurus aja nanti belok kanan terus belok kiri, luruusss.. nyampe rumah aku" tutur Dea untuk memperjelas alamat rumahnya
"Masih jauh?" tanya Dio lagi
"Iya masih jauh"
"Ya udah turun, gw cuman bisa nganterin sampe sini, kalo emang masih jauh"
"gak.. gak terlalu jauh kok"
"Ya udah turun, tidak jauh dari sini bukan?, berarti bisa jalan kaki" goda Dio pada Dea.
Dengan sigap Dio menahan tubuh Dea agar tidak turun dri mogenya, dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Pegangan yang bener, gak usah pegang pundak, gak usah cekek leher" perintahnya pada Dea, membuat Dea semakin canggung pada orang yang tak dikenalnya itu.
Tanpa mengatakan sepatah katapun Dea memegang jok belakang tempat ia duduk, melihat hal itu, Dio semakin gusar, tak habis pikir dengan gadis dibelakangnya ini.
"Apakah dia begitu polos, tak pernah diboceng dengan motor oleh laki-laki kah? , atau memang menjaga jarak dengan orang asing" batin Dio
"Pegangan yang benar" Dio mengulang lagi perkataannya.
"Lo, mau pulang apa gak sih, sekarang sudah pukul 00.00,"
"Iya, mau"
"Pegangan yang benar, gw gak nyuruh lo buat meluk gw, tapi setidaknya pegangang yang benar biar lo aman sampai rumah" jelas Dio, yang membuat Dea mau tak mau memegang baju Dio di daerah pinggang nya.
Dio pun melajukan mogenya kembali dengan kecepatan rata-rata
"Sebenarnya lo dari mana sih, keluar malam dengan pakaian kek gitu? memulai obrolan tanpa rasa canggung.
"Tempat teman"
"Cowok atau Cewek" tanya Dio lagi, hingga tak sadar membuat Dea merasa heran dengan pertanyaan Dio yang terdengar begitu akrab, padahal mereka adalah dua orang yang belum saling mengenal.
"Oh.. dari tempat pacar lo yah, memang yah, anak muda sekarang, melakukan segala cara hanya untuk bertemu kekasihnya"
Dea tidak menanggapi ocehan Dio, dia hanya fokus menunjukkan arah jalan menuju rumahnya.
Akhirnya Mereka sampai juga di gerbang samping rumahnya Dea, karena ia meminta untuk tidak diturunkan depan gerbang rumahnya. Hal itu membuat Dio semakin yakin, Bahwa Dea pergi diam-diam menemumi Kekasihnya.
__ADS_1
Dea perlahan turun dari moge Dio, lalu memberikan jaket yang dipakai nya untuk dijadikan rok.
"Thanks ya, maaf sudah merepotkanmu" ujarnya sopan
"Oh iya, dan satu lagi aku tidak bertemu dengan kekasihku, aku hanya mengunjungi teman yang baru saja terkena musibah.
"Kenapa kabur?"
"Aku gak kabur, aku hanya pergi keluar sebentar saja,"
"Kenapa gak izin Bokap Nyokap lo"
"Mereka sudah tidur, takut menganggu, makanya aku tidak meminta izin untuk keluar malam"
"Lain kali, kemanapun pergi jangan sendiri, dan gak usah pakai pakaian tidur seperti itu"
"Aku buru-buru, nih ongkosnya nya, makasih ya" ujar Dea dan buru-buru berbalik menuju pintu untuk segera masuk, namun Dio menahan tangan Dea, dan kembali menggoda Dea lagi
"Gw gak butuh duit lo, simpen aja buat modal kabur lagi ketemu pacar lo" ppfftt... Dio terkekeh melihat ekspresi Dea yang menggemaskan.
"Whatever, aku mau masuk, sekali lagi terimakasih" lalu berjalan menuju pintu samping, dan ia berbalik sekali lagi
"Semoga kita tidak bertemu lagi, begitu menyebalkan"
Dio yang memang masih memperhatikan Dea seketika terkekeh mendengar perkataan Dea yang tidak akan terjadi itu.
"Menggemaskan" gumamnya, Ia pun melajukan motornya kembali untuk pulang.
Sedangka Dea, masih mengendap-ngendap di taman samping rumahnya menuju pintu depan, ia hanya membawa kunci pintu depan, tidak membawa kunci pintu samping yang langsung terakses menuju dapur.
Dengan perlahan Dea memutar kunci pintu dan KLEKK.. membuka secara perlahan dan masuk melihat rumah yang memang sudah sangat sepi, akhirnya ia sampai di kamarnya.
Beda halnya dengan Dio yang masih membayangkan kembali pertemuan tak terduga nya dengan Dea, bahkan ia tak henti-hentinya tersenyum saat membayangkan betapa menggemaskannya Dea.
"Penyemangat untuk diganggu" gumamnya lirih dan mulai menancapkan gas motornya agar lekas sampai dirumah.
Triingg....Triingg... seketika membuat Dea terperanjat akan alarm paginya, dan betapa kagetnya, jam menunjukkan pukul 07.36 dan ia harus sampai ke sekolah sebelum jam 08.00.
"Akh... mengapa Mama tidak membangunkanku" gumamnya kesal, padahal Mamanya sudah beberapa kali membangunkan anak gadisnya, padahal Dea tidak pernah telat bangun pagi, dan selalu tidur tepat waktu.
"Sayang, sudah bangun juga akhirnya "
"Mama kok gak ngebangunin Dea sih" proteanya
"Mama kira Dea sedang gak enak badan, tumben telat bangun, dan Mama beberapa kali ke kamar Dea, bahkan bibi juga ke atas, tapi Dea yang susah bangun, apa semalam begadang?" jelas Mama dan bahkan bertanya pada putrinya.
"Dea... Dea ngerjain tugas Ma, emm tugas mendadak, nah iya, tugas mendadak dan harus dikumpulkan hari ini Ma"
"Ooh... ya udah sarapan dulu, nanti berangkat sama Pak Eko"
"Papa sudah berangkat ke kantor?"
"Iya, ada rapat mendadak dengan klien"
"Dea juga langsung jalan aja Ma, ini udah telat banget, nanti gak bisa ikutan kelas kalo gerbangnya di tutup Ma" Dea buru-buru pamitan dan langsung menyuruh pak Eko berangkat setelah memasuki mobil.
Namun, lagi-lagi hari ini nasib Dea tidak begitu menguntungkan, setelah berlari menuju gerbang dan menyuruh pak Eko untuk kembali, ternyata sudah telat 13 menit. Dea hanya menunggu guru piket untuk datang membawanya ke kantor untuk diinterogasi. Ini merupakan telat pertama yang dilakukan Dea selama sekolah di Alexandria.
Sudah hampir satu jam menunggu, akhirnya guru piket menghampiri kami yang masih menunggu di depan gerbang. Dea tidak telat sendiri, namun tak ada satu pun teman dekat Dea yang telat hari ini, ia hanya tahu beberapa kaka kelas dan adik kelas yang juga telat seperti nya. Tak sedikit siswa dan siswi yang telat meninggalkan sekolah dan membolos kemanapun yang mereka mau. Hany menyisakan 11 orang, 8 siswi dan 3 orang siswa. Merekapun di bawa ke ruang BK + diberikan sanksi, jika ingin mengikuti jam pelajaran kedua dan tidak akan dinyatakan bolos.
"Dea.. ada apa dengan kamu hari ini" tanya Bu Tuti guru BK yang sudah siap mengintrogasi
"Maaf bu, sedang tidak vit" jawabnya bohong, dan merasa bersalah serta kesal pada dirinya sendiri.
"Baiklah, lain kali jika kurang sehat kabari pihak sekolah, dan jangan telat lagi Dea"
"Baik Bu"
__ADS_1
"Laksanakan sanksi kalian"
Plokk Plookk,,, Dea mendengar suara tepukan dari belakangnya. Niat berbalik tapi tak jadi, karena dua sahabat di depannya menghampiri Dea saat keluar dari ruang BK.