
"Iya dia memang menggemaskan Ma" batin Dio dan menunggu Mamanya selesai membayar belanjaannya.
"Apa gadis tadi satu kelas denganmu sayang"
"Tidak, dia anak IPA, Dio di kelas IPS"
"Mengapa tidak mengambil kelas IPA sayang?, bukannya kamu sangat menyukai Mapel di jurusan IPA?"
"Sudahlah Ma, mengapa membahas masalah kelas Dio sih" ujar Dio kesal, yang memang Mamanya tidak pernah mempermasalahkan jurusan apa yang ia ambil.
"Apa Dio sering bertemu dengan gadis cantik itu?"
"Namanya Dea Ma, Dea, bukan gadis cantik, Dio jarang bertemu dengannya"
"Iya, Dea, si gadis cantik itu" ujar Mamanya tetap memuji Dea
"Lain kali Dio harus mengajaknya main ke rumah kita"
"Sepertinya dia gadis yang baik, dan lemah lembut" ujar Mama Dio lg
"Ma... Sudahlah, mengapa selalu menyebut nya, baru saja bertemu untuk pertama kalinya, bahkan tidak sampai satu jam bertemu, Mama sudah memujinya, balum tahu bagaimana dia"
"Apa Dio tidak suka dengannya?"
"Dio sama sekali tidak tahu tentang dia, bagaimana Dio bisa menyimpulkan suka atau tidak suka"
"Mama penasaran dengan kesan pertama, ketika Dio bertemu dengannya"
"Tidak ada kesan menarik Ma, Dio belum terlalu kenal dengannya"
"Mama belum mendengar jawaban cerita dari Dio, pertama kali bertemu dengan Dea gadis cantik itu"
"Mengganggu" jawab Dio singkat.
"Maksdu Dio?"
"Iya, mengganggu"
"Mengapa sayang?"
"Ma, bisakah untuk tidak bertanya lagi tentangnya, Dio bahkan belum berkenalan lebih dari 3 hari dengannya"
"Baiklah, sepertinya dia teman yang baik untuk Dio"
__ADS_1
"Terserah Mama" jawab Dio malas
"Ayo kita pulang, sudah sore" ujarnya lagi
"Mengganggu seperti apa sayang?"
"Kenapa masih bertanya lagi Ma"
"Mama ingin tahu"
"Mengganggu sekolah Dio Ma" bohong nya pada Mama Dina.
"Ah.. Apa iya, dia mengganggu Dio, atau jangan-jangan Dio yang mengganggu Dea" tebak Mamanya, namun hanya dibalas helaan nafas oleh Dio dan melajukan mobil mereka untuk pulang secepatnya.
Di dalam mobil, Dea yang duduk di bangku penumpang hanya melamun terdiam saja setelah bertemu dengan Dio, dia tak habis pikir, mengapa sering sekali bertemu dengan anak itu, di sekolah maupun diluar sekolah. Dan sikapnya tadi membuat Dea merasa bingung, Dio seolah-olah seperti tidak mengenalnya, dan menyesali tindakannya tadi.
"Aku harus menjauh dari anak itu, biar masalah tidak terus-menerus datang ketika dekat dengannya" batinnya
"Ah.. seragamnya masih di aku, besok harus segera memberikannya, dan jangan lagi berurusan dengan orang menyebalkan itu" batinnya lagi sambil menyandarkan kepalanya di jok atas mobil.
Beberapa menit kemudian...
"Akhirnya sampai juga" tukas Dea lega sambil membuka pintu mobil dan ingin membantu Bi Imah membawa barang belanjaan ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa Bi, De... "
"Nona ke atas saja, nanti kami yang angkat Non"pangkas Pak Eko pada Dea dengan tersenyum ramah, karena anak majikannya yang begitu baik dan tidak sombong di depan mereka
"Ah, baiklah kalau begitu, Dea ke kamar dulu" ucapnya sambil meninggalkan keduanya.
Dea langsung mengingat baju seragam yang ia cuci sendiri, dan jemur di balkon kamarnya.
Dea tak ingin orang rumah bertanya tentang seragam laki-laki yang lebih besar dari baju seragamnya itu.
"Sudah kering, dan hmm lumayan harum" gumamnya, ketika mencuci seragam Dio itu, Dea menggunakan pengharum pakaian favoritnya, entah apa yang membuatnya ingin mencuci pakaian itu dengan seharum dan serapi mungkin. Apa karena ia merasa bersalah telah mengotori baju Dio?
"Oh iya setrika" lanjutnya sambil mencari setrika di tempat Bi Imah dan merapikan baju Dio.
Selesai merapikan baju Dio, Dea merasa canggung sendiri, kenapa harus mencuci dan merapikan baju orang menyebalkan itu.
"Ah.. Kenapa harus melakukannya" gumam Dea pada dirinya sendiri dan melihat lipatan baju seragam yang rapi setelah di setrika olehnya. Dea pun kembali ke kemarnya dan membawa baju seragam Dio tersebut, khawatir jika tertinggal dan tidak bisa memberikannya besok pagi, karena lusa dan hari setelahnya adalah weekend.
Di kamar, Dea hanya memainkan ponselnya dan hanya scroll beranda Instagram nya, merasa bosan, diapun membuka aplikasi komik, novel, caht story online (Aplikasi MangaToon) yang merupakan aplikasi langganan nya selama ini, dan membaca berbagai komik favorit serta novel yang iya masukan di daftar kesukaan nya, salah satunya adalah novel "Promise? Stay With You" karya El-Kamil.
__ADS_1
"Ah harus menunggu untuk update lagi" ujarnya setelah selesai membaca novel baru yang sedang on going tersebut.
Dea pun kembali membuka aplikasi Instagram nya, hanya melihat akun pengguna IG yang lewat di berandanya.
Hari semakin sore, Dio yang memang sudah berada dirumah sejak pulang dari mengantarkan Mamanya belanja, tidak berniat untuk keluar lagi, Ia hanya melihat langit-langit kamarnya, dan selalu mengingat kejadian yang bersangkutan denga Dea.
"Lagi dan lagi Dea, mengapa selalu bertemu dengannya?, tadi respon ku tak begitu baik sepertinya, hingga Membuatnya cepat menghindar." batin Dio
"Aku semakin ingin mengganggu nya" gumam Dio lagi, dan memejamkan matanya sejenak.
Terdengar bunyi ponsel nya bergetar, Dio pun melihatnya, dan itu merupakan panggilan dari Papanya yang berada di luar negeri
"Halo" terdengar suara diseberang sana
"Iya"
"Bagaimana kabarmu disana sayang?"
"Baik Pa"
"Sekolah barumu apakah cocok denganmu?"
tanya Papanya diseberang sana yang memang sudah mengetahui segala aktivitas anak semata wayangnya dari istri pertamanya itu, mereka memilih untuk berpisah secara damai, dan tetap menjaga komunikasi satu sama lain, demi putra mereka.
"Baiklah, Papa hanya merindukanmu"
"Hmm"
"Ya sudah, Papa akhiri dulu, Jaga kesehatanmu dan ingat selalu temani Mamamu"
"Iya, aku akan temani Mama, dan tidak kan pernah meninggalkan Mama, seperti Papa yang meninggalkan kami disini" jawab Dio seketika membuat Papanya menghela nafas diseberang sana.
"Dio, Papa sayang kamu, Papa tutup dulu" ucap Papanya, tak bisa menanggapi perkataan putranya tersebut.
"Hmm" jawab Dio singkat
"Aku sayang Papa, tapi luka yang lalu, saat melihat Mama menangis di depan Papa, membuatku ingin menjadi orang pertama yang akan menghalangi Papa untuk membuat Mama menangis lagi" batinnya
Dio kembali menatap langit-langit kamarnya, dan kembali merenung memikirkan sesuatu yang masih mengusik nya jika mengingat tentang Papanya.
"Aku mempunyai saudara laki-laki dan saudara perempuan namun dengan ibu yang berbeda, bagaimana aku harus bersikap kelak, jika kami dipertemukan, karena Papa dan Mama yang memang berpisah secara damai, ingin kami memiliki hubungan persaudaraan yang baik, tanpa saling menjatuhkan" batinnya lagi
"Ah.. seharusnya bersikap biasa saja, mengapa harus memikirkan itu?" gumamnya
__ADS_1
Malam pun datang menghampiri, sesuai dengan rutinitas alam semesta yang selalu bergantian siang dan malam. Waktunya beristirahat untuk memulai aktivitas esok hari.