Promise? Stay With You

Promise? Stay With You
18. Jalan Berdua


__ADS_3

Dea masih saja membisu tak bergairah untuk melakukan apapun saat ini.


"Gak mau turun nih?" Dio bertanya oada gadis cantik yang ada dibelakangnya


Dea mendengar itu masih tidak mau membuka suara untuk berbicara sedikitpun pada Dio, ia bergerak turun dari kendaraan roda dua tersebut.


Setelah memarkir motornya dengan aman, Dio menghampiri Dea yang berdiri dalam diamnya, melihat itu Dio berpikir keras untuk membuat Dea berbicara padanya.


"Serasa bawa mayat hidup" gumamnya


"Ayok jalan" ajak Dio, mereka pun jalan beriringan melihat tempat pusat perbelanjaan (pameran Sabtu-Minggu) setiap pekannya.


Semakin sore, pengunjung semakin ramai, mereka berdua seperti pengunjung yang terpisah, tidak berbicara satu sama lain, hanya berjalan beriringan yang berjarak diantara keduanya.


Alih-alih memilih makanan atau barang yang ingin dibeli, Dea hanya bisa fokus pada arah jalannya kedepan, tak menghiraukan pameran yang banyak itu.


Menyadari pengunjung yang semakin memadati tempat tersebut, Dio dengan sigapnya memegang pergelangan Dea, seperti yang dilakukannya jika menarik Dea (beda dengan bergandengan tangan).


"Rame, takut lo ilang" ujar Dio setelah melihat semakin padatnya pengunjung.


Dea bahkan tidak menyadari pengunjung yang semakin banyak, setelah Dio memegang tangannya, barulah ia melihat sekitar yang memang sudah mulai terasa ramai.


"Lo bisu?" tanya Dio pada Dea yang sedari tadi tidak mengatakan apapun saat bersamanya.


"Gak" jawabnya singkat


"Terus kenapa gak ngomong dari tadi?"


"Males"


"Kenapa?"


"Aku Mau pulang"


"Ya udah pulang sana!" ujar Dio


Mendengar perkataan Dio, tanpa berpikir panjang Dea melepaskan tangannya dari genggaman Dio lalu berbalik arah.


"Emang lo hafal jalanan disini?" Dio berucap lagi untuk menyadarkan gadis cantik itu, yang sudah terbiasa kemanapun diantarkan oleh sopirnya atau memesan taxi online sesuai alamat rumahnya, dan tidak ada niat untuk mengetahui arah ataupun jalan yang ditempuh untuk menuju rumahnya.


Dea menghentikan langkahnya membelakangi Dio yang masih memantau keberanian gadis yang sedang berdiri di depannya.


Setelah menunggu beberapa detik, Dio tidak melihat tanda-tanda Dea berbalik menghadapnya, ia menarik tas gadis lesung pipi itu.


"Lo bengong diem gitu mau mancing maling apa? " tukas Dio


"Ya"

__ADS_1


"Apa, ulangi?"


"Ya lagi ngasih umpan buat maling" ujar Dea sedikit panjang membalas perkataan Dio.


Dio tersenyum menanggapi perkataan Dea yang akhirnya mau menjawab percakapannya dengan sedikit lebih banyak kata yang keluar dari Dea.


Dio mengajak Dea berhenti di tempat aksesoris (perhiasan) mainan namun terlihat elegan, Dea hanya mengikuti saja dan melihat pengunjung yang makin ramai, hingga menemukan tempat menjual makanan, Dea pun menjauh dari Dio untuk membeli sesuatu (makanan).


Lalu beberapa saat kemudian Dio memberikan sesuatu pada Dea yang sedang mengantri makanan, awalnya ia hanya diam tak bergairah untuk malihat apapun di pusat pembelanjaan pameran tersebut, tapi berusaha membeli sesuatu mengantri di tempat yang berbeda dengan Dio.


"Pakai" perintah Dio pada Dea saat memberikan sebuah cincin palsu dan juga gelang yang terdapat inisial nama mereka yaitu huruf D dan A.


Tanpa sepengetahuan Dea, Dio mengambil huruf D dan diberikan huruf A pada Dea. Cincin yang dibeli olehnya pun berinisial DA yang memang bisa meminta bantuan penjual untuk mengukir apa yang diminta pembeli.


Dea mengambil gelang dan cincin tersebut tanpa menolaknya, mengetahui bagaimana perlakuan Dio yang tak ingin ditolak dan selalu memaksa, hendak menyimpannya di dalam tas, Dio mengambil kembali gelang dan cincin tersebut lalu memakaikannya pada Dea.


"Pakai, bukan disimpan" Dio mengingatkan Dea sambil memasangkannya pada pergelangan Dea.


"Cincin mainannya terserah lo mau di pakai apa gak" ujarnya lagi.


"Hmm,,, " terdengar suara helaan nafas dari Dea setelah memasangkan gelang inisial di pergelangan tangannya.


Sudah sekian lama mengantri makanan yang ingin dibeli, akhirnya Dea mendapatkannya dalam satu cup sedang (Tteokbokki/Topokki).


Dea mencicipinya dan meresa takjub dengan rasa makanan ala Korea tersebut.


"Aaa.. "Dio mengisyaratkan Dea untuk disuapi


"Coba sendiri, ada dua sumpit" ujar Dea dan menyuruh Dio mengambil sumpit lainnya untuk digunakan Dio.


Dengan sekali lempar, Dio memasukkan sumpit yang lainnya ke dalam tong sampah dan hanya menyisakan sumpit yang dipegang Dea.


"Kok dibuang sih?" keluh Dea semakin kesal dengan ulah Dio.


"Pakai satu aja" ujar Dio


Dea hanya mengalah dan menyuapi Dio dengan jengkel.


Mereka berjalan lagi menyusuri tempat pembelanjaan tersebut.


Jam menunjukkan pukul 16.20, mereka berjalan menuju tempat parkir motor Dio.


"Kamu kan orang baru pindah, kenapa bisa tahu banyak tempat disini" Dea sudah bisa mengobrol lagi setalah mencoba untuk tidak berbicara sebelumnya.


"Gw sering kesini, walaupun tinggal di kota J" jawab Dio


"Hmm"

__ADS_1


"Gak kayak lo, gak pernah hafal jalanan disini, apalagi mau naik angkutan umum" sindir Dio


"Huh menyebalkan, mengapa jadi mengejekku" gumamnya lirih.


Akhirnya sampai di rumah Dea, Dio tak pernah ditawari untuk masuk oleh Dea dan selalu meminta berhenti di gerbang samping rumahnya yang yang terhubung dengan taman bunga Mama Dea.


"Gw dah beberapa kali kesini, lo gk pernah tawarin buat masuk" ucap Dio


"Aku gak pernah bawa teman laki-laki luar ke rumah selain tetangga disini" sanggah Dea


"Ya bagus dong, kalo gw yang pertama berkunjung" Dio menimpali


"Gak"


"Why?"


"Karena aku gak mau"


"Kalo gw maksa buat masuk suatu saat nanti, apa itu boleh?" Dio menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban dari Dio.


"Gak boleh dan masuk secara paksa itu pencuri, aku masuk dulu" jawab Dea dan berlalu masuk meninggalkan Dio.


Sudah memastikan Dea masuk ke rumahnya, Dio pun pergi dari kediaman gadis yang sering diganggunya itu.


Tidak berniat untuk langsung pulang, Dio menghampiri Alex yang sudah mengabari keberadaannya di suatu tempat.


"Mama,,, Dea pulang" Sahutnya setelah memasuki rumah dan menghampiri sang mama.


"Iya sayang, bagaimana jalannya dengan Dinda dan Tya?" tanya Mama yang sedang berada di ruang tamu.


"Senang" jawab Dea singkat lalu mencium pipi Mamanya.


"Dea ke atas dulu yah Ma"


"Iya sayang, segera mandi"


"Oke Mama" jawab Dea sambil berlalu menuju kamarnya.


Dea melihat pergelangan tangannya yang sudah dilingkari oleh gelang berinisial A dari Dio, ia juga mengeluarkan cincin mainan yang diukir dengan inisial nama Dea yaitu DA.


"Semakin hari semakin aneh, aku seperti memiliki pengagum rahasia yang selalu menguntit" ucapnya


"Mengapa harus inisial A? apa tidak ada inisial D sesuai namaku" protea Dea, tapi ia langsung menyadari perkataannya.


"Aahh,,, Dea mengapa kamu jadi kesal? padahal ini hanya barang mainan, ia pun meletakkannya di atas meja dan berlalu menuju kamar mandi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2