
"dia nggak ikut?" tanya Agas sambil merangkul ku dari samping.
"eggak. dia bilang lagi ada urusan." jawab ku sedikit kecewa dengan mata berkaca-kaca.
"kamu nggaj usah sedih Ra. jangan nangis ah." ucap Agas sambil menyeka air mata di sudut mata ku.
"kita pergi berdua aja ya?" ajak Agas lalu menggandeng tangan ku.
"akhirnya hari ini aku bisa berduaan aja sama Amara." celetuk Agas dalam hati dengan senyum licik.
kami naik bus buat ke toko ice cream. setibanya kami di sana kami duduk di tempat biasa kami duduk saat berkunjung yang kebetulan kosong.
"mbak pesen ice cream rasa coklat sama vanila combi stoberi ya." Agas memesan.
"itu aja mas?" tanya pelayan.
"iya mbak. oh sama cookies coklatnya satu deh."
"di tunggu ya mas pesanannya." pelayan pun meninggalkan kami.
"Ra..." Agas memanggil ku namun aku tak menjawab panggilannya karna melamun.
"Amara...!" pekik Agas kesal yang sontak membuat ku kaget.
"ayam..." aku tergelenjat kaget.
"kenapa?" aku bertanya dengan linglung.
"kamu kenapa ngelamun? lagi mikirin Zian ya?!" ketus Agas.
"aku nggak ngelamun! aku juga nggak mikirin Zian!" bantah ku dengan nada kesal.
"kamu masih sedih ya gara-gara Zian nggak bisa ikut kita ke sini?" tanya Agas dengan gusar melirik ke arah ku.
"nggak kok." jawab ku singkat lalu mengalihkan pandangan dari Agas.
"ini pesanannya?" ucap pelayan sambil meletakan pesanan kami di atas meja.
"ini cookies coklatnya." Agas menyodorkan cookies ke depan ku.
"kamu kan lagi bad mood jadi aku pesenin ini buat kamu. ya... kali aja bisa bantu kamu lebih good mood sedikit."
"makasih..." sahut ku sedikit merasa senang karna perhatian dari Agas.
"ya... seenggaknya ada Agas di sini jadi aku nggak usah mikirin Zian terus." gumam ku dalam hati untuk menyemangati diri ku sendiri.
kami lanjut memakan ice cream sambil bercanda gurau, selesai makan ice cream kami langsung pulang karna hari juga udah mulai gelap.
hari ini hari minggu. hari favorit ku kalian tahu lah agenda minggu ku kayak apa. 😁
"Ra bangun nak..." ucap Umma mencoba membangunkan ku.
"emmmh..." aku menghela sambil meregangkan badan.
"Umma ah..." keluh ku.
"ini kan hari minggu Umma... kenapa bangunin Amara pagi-pagi gini sih!" gumam ku kesal.
"di depan ada Zian tu." sahut Umma sambil membuka horden kamar ku.
"apa...!" aku langsung beranjak duduk.
"nga-ngapain anak itu pagi-pagi dateng ke sin?! gumam ku.
"katanya sih mau ajak kamu jalan." sahut Umma yang mendengar gumaman ku.
"hah... jalan?! 😳" aku tertegun.
"udah... kamu cepetan siap-siap sana." ucap Umma sambil beranjak keluar.
"hah..." aku hanya bisa terdiam & mengangguk pelan.
...
"Amara masih siapa-siap." ucap Umma.
"Zian mau ngeteh dulu nggak?" tanya Umma.
"boleh Umma." Zian mengiyakan tawaran Umma.
Umma & Zian pun minum teh di depan rumah sambil berbincang-bincang.
"Umma..." aku memanggil Umma dengan perasaan grogi.
"eh anak gadis Umma udah siap dandannya." celetuk Umma.
"Umma..." rengek ku pelan sambil meremat ujung dres ku karna malu.
"ih... pipinya teh jadi merah kituk." ledek Umma semakin menjadi-jadi.
Zian hanya diam & melongoh tak bergerak saat melihat ku yang untuk pertama kalinya memakai dres di depannya. Zian dengan wajah anehnya malah bikin aku makin tersipu malu.
"kamu kenapa?!" tanya ku menelisik.
"kamu..."
"aku kenapa?" tanya ku sedikit bingung.
"kamu..."
"iya... aku kenapa emangnya!" aku mulai sedikit kesal karna Zian aneh.
"kamu... cantik banget." ucapnya dengan polos.
"makasih." jawab ku singkat lalu mengalihkan pandangan dari Zian dengan pipi ku yang makin merona.
"kalian mau pergi kan? terus kok malah pada bengong gitu?" celetuk Umma menggoda kami.
aku & Zian yang langsung tersadar kemudian jadi saling salah tingkah.
"kalian hati-hati & jangan pulang malam-malam ya." ucap Umma.
"iya Umma. Kami pamit keluar sebentar." ucap Zian sambil menyalami Umma.
"Amara pergi dulu." aku juga pamitan & menyalami Umma.
"hati-hati di jalan ya ganteng cantiknya Umma..." teriak Umma dari depan pintu.
di atas motor aku hanya diam & berpegangan ujung jaket Zian, begitu juga dengan Zian yang hanya diam & fokus menyetir motornya. cukup lama kami berkendara menuju tempat yang ingin di tuju Zian.
"kita mau kemana?" ucap ku memecah keheningan dengan perasaan gugup.
"kamu tenang aja di belakang. nanti kamu pasti suka sama tempatnya." jawab Zian sambil tersenyum.
"emmmh..." gumam ku.
__ADS_1
"pegangan yang kuat aku mau ngebut biar kita cepet sampek & nggak pulang kemaleman."
"jangan ngebut aku takut. Zian..." teriak ku histeris saat Zian memacu motornya dengan cepat.
"makannya kamu pegangan yang kuat biar nggak takut..." Zian berteriak sambil menarik tangan ku untuk memeluknya.
saat Zian membuat ku memeluknya dari belakang jantung ku langsung berdegup kencang seperti mau meledak. 😱 wajah ku juga semakin merona & memanas.
"jantung kamu kenapa Ra?" tanya Zian tiba-tiba. "degupannya kok kenceng banget? kamu takut karna aku ngebut ya...?" ucap Zian khawatir sambil menggenggam erat tangan ku dengan sebelah tangannya.
"hah!" aku langsung panik mendengar pertanyaan Zian.
"aku nggak apa-apa kok. jantung ku juga biasa aja?!" aku langsung ngeles dengan groginya.
"tapi aku denger detakannya kenceng banget lo Ra..." Zian semakin menggoda ku.
"Zian... udah deh kamu diem aja! fokus aja bawa motornya!!! 😠" pekik ku kesal karna Zian godain mulu.
"hahahaha..." Zian tertawa terbahak-bahak.
"nyebelin banget sih! ni lagi jantung nggak bisa banget di ajak kompromi. 😣 kenapa harus kenceng banget sih berdetaknya! bikin aku malu aja!" gumam ku kesal dalam hati.
"jangan ngomel dalam hati Ra... ungkapi aja langsung kalau emang kamu kesel sama aku." Zian semakin menggoda ku.
"bisa diem nggak hah!" aku langsung marah & melepaskan pegangan tangan ku dari pinggangnya.
"iya-iya maaf... aku nggak ngeledekin kamu lagi deh. 😋" celetuknya.
Zian pun meletakan tangan ku kembali di pinggangnya. telapak tangannya yang besar & lentik itu mengelus lembut punggung tangan ku & hal itu langsung membuat aku tiba-tiba merasakan nyaman & bahagia sampai aku nggak bisa nahan senyum ku yang pengen lepas nengembang bebas.
Aku nggak tahu sebenernya aku ini kenapa? aku juga bingung kenapa aku jadi aneh gini setiap kali deket sama Zian. perasaan ku selalu jadi nggak menentu.
"pelan-pelan Zian aku takut..." teriak ku sambil memeluk erat Zian & terus memejamkan mata saat dia memacu motornya dengan cepat.
"kalau pelan-pelan nanti kita sampeknya lama... Umma kan bilang kita nggak boleh pulang malam."
"tapi..." gumam ku pelan
"udah kamu pegangan aja yang kuat ke aku. percaya sama aku Ra lagian sebentar lagi kita juga nyampek kok..."
singkat cerita akhirnya kami pun sampai di tempat yang Zian mau datengi & ternyata Zian mengajak ku main ke taman hiburan di deket balai kota. pantesan aja jauh banget perjalanannya.
"wah..." aku langsung terkesan gitu lihat biang lala besar, komedi putar, rasing box & kora-kora besar yang ada di sini.
"suka nggak?" tanya Zian sambil mengelus rambut ku.
"suka banget..." teriak ku histeris.
"aku udah lama banget nggak main ke taman hiburan. 😍"
"ya udah kamu pilih mau main apa?" ucapnya sambil menggandeng tangan ku.
"emmmmh... naik apa ya? 🤔" bingung ku.
"aku mau naik biang lala boleh nggak?" rengek ku manja sambil menggoyang-goyangkan tangan kanan Zian yang sedari tadi aku gandeng.
"hari ini apa pun yang kamu mau aku bakalan turuti." ucapnya lembut sambil mencubit hidung ku gemas.
"yang bener?" tanya ku eksaited.
"selam sehari ini semua tentang kamu Ra. 😊" ucapnya dengan senyuman manis.
KRIIIING...
handphone ku berbunyi & ternyata Agas yang menelpon.
"wa'alaikumsalam. kamu di mana Ra?" Agas bertanya sarkas.
"aku lagi di taman hiburan deket balai kota..."
"apa...? aku nggak bisa denger suara kamu berisik banget di situ. Kamu di mana sih!?" teriak Agas sedikit kesal.
"aku lagi... di taman hiburan... pergi sama Zian..." reriak ku.
"apa! 😱 kamu lagi di taman hiburan sama Zian?!" teriak Agas histeris.
"iya... Zian ngajak aku ke sini. udah dulu ya aku mau naik biang lala nanti aku telpon lagi. sampai ketemu besok di sekolah." aku pun memutuskan panggilan telpon.
"gila Amara sama si resek itu mau naik biang lala! mereka bakalan berdua dong di dalam biang lala! bikin kesel aja ah! 😠"
"ih... nyebelin banget sih! ngapain coba mereka pakek acara main ke taman hiburan segala?! kayak bocah aja sih!" Agas marah-marah sambil mengacak-ngacak rambutnya karna frustasi.
"whait... apa aku susulin mereka aja ya? ah tapi males ah yang ada aku cuma bakalan sakit hati doang karna lihat mereka yang lagi beduaan!"
...
"dua tiket mbak." Zian membeli tiket untuk naik biang lala.
"selamat menikmati." ucap kasir sambil memberikan 2 tiket untuk kami.
"ayo naik?" ucap Zian sambil menyodorkan tangannya untuk membantu ku naik kedalam kotak biang lala.
"asik..." aku kegirangan & langsung naik.
biang lala berputar pelan agar kami bisa menikmati pemandangan kota dari atas. karna sangking bahagianya aku sampek nggak bisa nahan senyuman ku & mata ku terus saja terbelalak melihat ke kanan & kekiri.
"pemandangannya bagus banget Zi kalau di lihat dari atas sini. iya kan?" ucap ku bahagia.
"iya..." sahut Zian singkat sambil terus menatap ku. ya dia dari tadi emang terus aja lihatin aku mulu.
"kamu kenapa sih dari tadi kok ngelihatin aku terus? kamu malu ya jalan sama aku karna tau ternyata aku kayak anak kecil gini?" ketus ku dengan wajah merona.
"siapa bilang." tanyanya seperti tak terima akan persepsi ku.
"aku lihatin kamu karna aku bahagia bisa lihat kamu yang hari ini kelihatan cantik & bahagia."
"ih... udah pinter ngegombal kamu ya." ketus ku sambil mencubit gemas hidung mancung Zian.
Zian menggenggam erat tangan kanan ku yang tadi ku gunakan untuk mencubit hidungnya lalu berlutut di hadapan ku mendekatkan wajahnya pada wajah ku yang sontak membuat mata ku terbuka lebar & jantung ku berdetak.
"kam-kamu... kamu mau ngapain?" tanya ku terbata-bata dengan mata yang semakin melebar & wajah yang panas merona.
"Zi-Zian.. kamu jangan macem-macem ya!" pekik ku ketakutan.
"Zian..."
Zian hanya diam & malah semakin maju untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah ku, jarak bibir kami hanya tinggal 1 centi saja itu deket banget gila & sontak bikin jantung ku makin meledak-ledak.
"kamu..." aku langsung mengepit bibir ku masuk ke dalam & memenjamkan mata ku dengan kuat karna ketakutan.
satu ciuman dari bibir Zian pun akhirnya mendarat mulus ke dahi ku dengan begitu lama. pada saat Zian mendaratkan ciumannya mata ku langsung sontak terbuka lebar & aku mematung.
"Ra... aku sayang banget sama kamu, tapi... aku bingung karna Agas juga sayang sama kamu. aku nggak mau nyakiti perasaannya karna dia juga temen aku."
"tapi aku juga nggak bisa lepasin kamu & nggak mau kehilangan kamu, aku mau miliki kamu seutuhnya tanpa harus takut kehilangan kamu & jauh dari kamu. tapi... aku juga nggak bisa kalau harus lihat Agas aku harus apa Ra?" Zian tiba-tiba menagis.
__ADS_1
Zian menggenggam erat tangan ku seakan ingin menumpahkan semua beban di hatinya. mendengar kata-kata Zian aku langsung tersadar dari lamunan ku akan ciumannya & tanpa sadar malah ikut mengungkapkan perasaan ku padanya yang akhirnya hanya menjadi sebuah penyesalan.
"aku juga sayang sama kamu." ucap ku sambil menangkup wajah oval Zian.
"aku nggak salah denger Ra? kamu juga sayang sama aku..." ucap Zian dengan senyum kecil.
"tapi... aku juga sayang sama Agas." gumam ku pelan sambil sedikit menunduk.
mendengar hal itu Zian langsung mengalihkan pandangannya dari ku & seketika melonggarkan gengaman tanganya.
"aku sendiri juga bingung harus gimana sama perasaan ku ke kalian?! makanya kemarin aku sempet coba buat menghindar & jauhin kalian."
"karna jujur aja, aku nggak mau ngerusak persahabatan kita & nggak mau kehilangan kalian berdua. aku sadar aku egois karna udah bersikap mau milikin kalian berdua tapi... kenyataannya emang kayak gitu."
"aku... juga masih mau sekolah dengan tenang & mau gapai semua cita-cita aku buat bikin bangga keluarga aku. makanya aku nggak mau mikirin masalah percintaan & milih buat mendem semua perasaan ini."
cukup lama kami hanya diam & masih dalam posisi itu.
"Zian... aku bisa minta satu hal nggak ke kamu?" tanya ku pada Zian dengan lembut.
"apa?" jawab Zian singkat lalu menundukan kepalanya tepat di atas pangkuan ku.
"aku mau kamu sisihin & simpen dulu perasaan sayang kamu ke aku sampai nanti waktunya tiba buat kita bisa saling ngerti & nerima perasaan satu sama lain." ucap ku lembut sambil mendengakan kepala Zian & manangkup pipinya dengan kedua tangan ku.
"apa aku sanggup & bisa Ra?" jawab Zian dengan mata sayup & basah.
"aku nggak akan pergi ninggalin kamu sampai waktu itu dateng. jadi aku yakin kamu pasti bisa ngelakuin semua itu."
"untuk saat ini kita bersahabat dulu, sampai nanti aku siap buat nerima perasaan kamu & bikin komitmen masa depan kita." saran ku pada Zian sambil mengelus lembut rambut ikal gondrongnya itu
"kamu juga harus janji buat jangan berhenti sayang & perduli sama aku. aku nggak mau jauh dari kamu Ra." ucap Zian lirih sambil meneteskan air mata.
"im promise." aku memencet hidung Zian dengan gemas.
Zian bangkit lalu duduk di sebelah ku & langsung memeluk ku dengan erat. entah kenapa jantung ku lagi-lagi berdegup dengan sangat kencangnya seolah selalu pengen meledak. 😱
"jantung kamu berdegupnya kenceng lagi Ra? apa ini tanda kalau kamu sayang sama aku?" goda Zian jail sambil berbisik di telingaku.
"ZIAN...!" pekik ku kesal lalu melepaskan pelukan & memukul gemas dada bidangnya.
"aku cuma bercanda kok." humamnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak ku & memejamkan matanya.
"jail banget sih." ketus ku sambil mencubit perutnya gemas.
"aw... sakit Ra..." pekiknya sambil mengusap perutnya yang tadi aku cubit.
"makannya jangan jailin aku mulu." ketus ku.
...
"morning Agus... 😁" sapa ku manis pada Agas sambil tersenyum lebar.
"yang baru dari taman hiburan! girang amat sih!" ketusnya dengan sinis.
"cie... yang nggak di ajak ke taman hiburan sewot banget sih. 😝" ledek ku gemas.
"tau ah!" pekiknya.
"nyebelin banget sih kamu!!!" sinis Agas sambil beranjak pergi.
"sensi amat sih Gas? hahaha..." aku terkekeh melihat ngambeknya Agas.
"eh ibu negara mana oleh-oleh buat aku?" tanya ku pada Dea sambil mencubit pipinya.
"kamu kayak tukang palak tau Ra." ketus Nuna.
"tau tu! dateng-dateng udah langsung aja malakin oleh-oleh." sambung Aya tak kalah sinis dari Nuna.
"kalian nggak boleh sirik. 😝" celetuk ku meledek.
"ni-ni oleh-oleh kamu. sama ini titipan dari Mami buat Umma." ketus Dea sambil memberikan tiga bingkisan besar untuk ku.
"wah... banyak banget Dea." celetuk ku bahagia.
"uh... Manis banget sih sahabat aku ini. makasih ya Dea sayang." sambung ku sambil memeluk Dea erat-erat.
"bukannya nanyak dulu sehat apa nggak? seneng nggak liburannya? gimana kabarnya atau apa gitu! ini dateng malah langsung malakin oleh-oleh." sinis Dea menatap ku.
"namanya juga kang palak. 😅" ketus Aya & lily serentak.
"ih... pada resek banget deh..." ketus ku sambil melipat kesua tangan ku.
jam istirahat tiba, saat kami sedang di kantin buat jajan nggak lama Zian datang & langsubg menghampiri kami.
"hai semua..." sapa Zian dengan manis.
"hai kak Zian... 😜" goda ku.
"ih... mulai deh reseknya ya Ra." ketus Zian sambil mencubit pipi ku gemas.
"aw.. sakit Zian! hobby banget sih nyubitin pipi orang!" teriak ku kesakitan & mengelus-elus pipi ku.
"aku balik ke kelas duluan ya." Agas tiba-tiba beranjak pergi.
"Gas... makanan kamu belum habis lo?" teriak Dea namun tak di hiraukan Agas.
"kamu kan tadi nggak sarapan... nanti magh kamu bisa kumat Agas...!" teriak Dea dengan kesal.
"udah Dea... jangan tetiak-teriak ah berisik tau. sini makanannya biar aku yang kasih ke Agas." aku pun menyusul Agas ke dalam kelas sambil membawakan makananya.
"Agus... nakan dulu ni, sayang kan makananya udah di beli masak nggak di makan. mubazir nanti Allah marah lo..." ucap ku sambil menyodorkan makanan milik Agas.
"nama ku Agas bukan Agus!" sinisnya sambil memalingkan wajah dari ku.
"Agus BTS lo Gas... alias Suga yang kecil imut, putih, senyumnya manis, ganteng persis kayak mochi. 😉" aku mencoba mencairkan suasana.
"emmmmh..."
"mirip kayak kamu, kamu kan juga imut kayak mochi... mochi khas Turki. 😁" celetuk ku.
"apaan sih nggak lucu tau!" ketus Agas sambil melipat kedua tangannya namun tak bisa menahan senyum tersipunya saat aku bilang dia imut kayak mochi.
"yaa udah deh kalau kamu emang nggak mau makan... aku buang aja makananya sekalian!" ancam ku.
"ya udah. buang aja sana!" sahut Agas sinis.
"ya udah terserserah kamu aja! kalau gitu aku juga bakalan mogok makan sampai kamu mau makan!" ancam ku. aku berdiri pura-pura mau peri tapu tiba-tiba Agas menarik tangan ku.
"aku mau makan." ucapnya kecut.
"nah... gitu dong." sahut ku senang.
"tapi aku mau di suapain..." manjanya.
"hah..." aku menarik nafas panjang.
__ADS_1
"manja deh. dasar! Agus-Agus..." ketus ku sambil menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut Agas.