
singkat cerita sudah berminggu-minggu aku selalu menghindari mereka karna aku nggak mau sampai ada konflik & masalah lagi antara Zian & Agas. tapi nggak tau kenapa perasaan ku malah jadi semakin gelisah & aku jadi selalu gusar, serba salah & seperti ada beban berat di hati ku ini.
"hah..." aku mengela nafas dengan berat.
"kenapa jadi kayak gini sih? semuanya malah kacau." gumam ku sambil menatap ke arah luar jendela kelas.
"aku jadi selalu ngerasa serba salah & setiap ketemu mereka perasaan ku malah jadi semakin nggak karuan!"
"semua terasa jadi berantakan & nghak semestinya terjadi." gumam ku dalam hati dengan fikiran yang terus melayang-layang.
"Amara?" Dea yang tiba-tiba datang langsung menepuk pundak ku.
"eh ayam..." ucap ku spontak karna terkejut.
"Dea... kamu ngagetin aja sih." pekik ku kesal.
"lah kamu kenapa ngelamun terus? kaget kan jadinya? padahal aku manggil kamu pelan kayak biasanya. makannya jangan ngelamun terus." sahut Dea sedikit kesal sambil duduk di sebelah ku.
"kamu tu sebenernya kenapa sih Ra? kok aku perhatiin sekarang itu kamu jadi suka ngelamun?"
"aki nggak apa-apa. aku cuma lagi banyak fikiran aja kok. tapi swear aku nggak apa-apa kok beneran deh." jawab ku dengan senyum terpaksa.
"Ra... kemarin kan kamu udah janji sama aku, kalau kamu bakalan cerita sama aku kalau emang lagi ada masalah?!"
"iya Dea... tapi maaf banget ya untuk masalah kali ini aku bener-bener nggak bisa ceritain ke kamu. aku sendiri juga bingung gimana cara buat ngomong ke kamunya? aku sendiri juga bingung harus ngedepin masalah ini tu kayak gimana. 😔" ucap ku lirih.
untungnya Dea mau mengerti sama kondisi ku saat ini & berhenti buat nanyain masalah yang lagi aku alami.
"ya udah aku nggak akan maksa kamu buat cerita kok. tapi kalau emang kamu mau cerita jangan sungkan ya, aku siap kok buat dengerin kamu kapan aja."
"ih kamu tu apaan sih Dea! bahasanya itu lo udah kayak dialog sinetron aja. hahahaha..." aku pun langsung tertawa melihat tingakah absurd Dea.
saat jam istirahat tiba aku berjalan ke kantin untuk membeli beberapa cemilan yang akan aku & Dea makan di kelas karna kami berdua lagi males makan berat hari ini, di tengah jalan aku nggak sengaja berpapasan dengan Zian.
"aku mau ngomong sama kamu Ra? tolong jangan acuhin aku lagi" ucap Zian memohon sambil memegang tangan ku.
"aku mau ke kantin. nanti aja kita ngomongnya." sahut ku sambil berusaha melepaskan tangan ku dari pegangan tangan Zian.
"nggak! aku nggak bakalan lepasin kamu!" Zian semakin menarik ku lebih dekat dengan dia.
"pokoknya aku mau kita ngomong sekarang juga!" ucapnya yang mulai kesal.
"aku laper Zian... aku mau makan! nanti aja kalau memang mau ngomong!" Tegas ku sambil menepis tangannya dengan kuat & aku pun langsung berbalik badan untuk menuju kantin.
"kamu selalu bilang kayak gitu setiap aku mau ngomong tapi tetep aja kamu nggak pernah mau nemuin aku ujung-ujungnya Ra!" ucapnya dengan marah sedikit berteriak.
saat coba menghindari Zian aku malah jatuh pingsan g aku juga nggak tau kenapa aku sampai bisa pingsan gitu. waktu saat siuman aku udah di ruang UKS & aku juga nggak inget apa-apa.
"Ra..." Zian memanggil ku pelan dengan lirih. matanya juga berkaca-kaca.
"kok aku sampai bisa pingsan kayak gini sih?" gumam ku pelan sambil menunduk & memegang kepala ku yang sedikit terasa pusing.
"kata perawat kamu kecapean & lagi stres." sahutnya sambil menyeka air matanya yang mau jatuh ke pipi.
"emmmmh." aku langsung memalingkan wajah dari Zian setelah dia bicara.
"hah..." Zian menghela nafas panjang & berat.
"kalau karna aku kamu jadi kayak gini... aku minta maaf Ra."
"aku juga janji nggak akan deketin & ganggu kamu lagi, aku nggak mau kamu jadi sakit kayak gini Ra. lebih baik kita jauh asal kamu sehat & baik-baik aja." Zian langsung berdiri setelah bicara seperti itu.
"ini vitamin dari perawat jangan lupa di minum & kamu juga harus jaga kesehatan, kalau kamu sampai sakit apalagi pingsan kayak gini aku bakalan tarik janji ku tadi." dia memalingkan badan & berjalan ke arah pintu.
aku hanya bisa memandangi punggung Zian yang perlahan menghilang. kata-katanya membuat hati ku terasa sakit & tanpa ku sadari aku menangis.
"apa aku salah karna udah ngabaiin dia?" ucap ku lirih & pelan.
"Amara." teriak Agas yang tergesa-gesa masuk ke dalam ruang UKS sampai terjatuh.
"kamu kenapa Ra?" Agas langsung memeluku dengan erat sambil sesekali mengecup pelan puncak rambut ku.
"A-Agas..." mata ku sontak membulat & wajah ku langsung merona karna pelukan Agas.
"kenapa kamu sampai bisa pingsan? kenapa jadi kayak gini sih Ra!" pekiknya sambil menangkup wajah ku dengan tangan putihnya itu.
"Aku... aku nggak apa-apa kok Gas. aku cuma kecapean doang." jawab ku pelan sambil melepaskan tangkupan tangan Agas pada wajah ku.
"kalau kamu emang marah sama aku karna aku kemarin ngungkapi perasaan aku ke kamu harusnya kamu bilang! marah aku! pukul aku! tapi jangan kayak gini Ra..." ucapnya lirih sambil tersedu-sedu.
"Agas... kamu kenapa nangis?" tanya ku bingung.
melihat Agas yang selalu ceria & konyol tapi hari ini di depan mata ku tiba-tiba dia nangis kayak gini sontak hal itu bikin aku jadi bingung & semakin ngerasa bersalah.
"aku nggak mau lihat kamu kayak gini Ra... jangan diemin aku jangan sakit kayak gini. aku hancur kalau kamu kayak gini" ucapnya semakin lirih sambil menundukan kepalanya & semakin terisak.
"kalau kamu emang nggak suka sama aku & nggak mau kita pacaran ya udah lupain aja semuanya. ayo kita kayak dulu lagi Ra, aku mau kita jadi sahabat lagi ketawa bareng-bereng lagi bercanda terus. tapi tolong Ra jangan kayak gini sama aku."
"aku nggak suka kamu jauhin, aku nggak suka kamu cuekin & aku nggak suka kami diemin kayak gink... aku mau kita kayak dulu lagi karna seenggaknya aku nggak kehilangan senyum kamu & nggak kehilangan kamu sebagai sahabat ku." ucapnya lirih sambil tersedu-sedu & mentap mata ku dalam.
"aku minta maaf, aku tau aku udah jahat sama kamu. aku juga udah bersikap nggak baik ke kamu & nyakitin kamu lewat sikap ku." ucap ku pelan & aku menyeka air matanya.
"tapi aku juga bingung Gas, aku harus gaimana? aku nggak mau memilih satu di antara kalian berdua."
"aku sayang sama kalian berdua tapi sayang ku itu hanya sebatas sahabat nggak lebih, aku nggak bisa ngasih harapan apapun ke kalian." ucap ku sambil menangis.
"ya udah, kalau gitu kita lupain aja semuanya. ayo kita kayak dulu lagi & kita sahabatan lagi kemana-mana bertiga lagi kayak pertama kali kita ketemu. aku nggak mau kehilangan kamu Ra & aku juga nggak mau kamu jauh dari aku." ucap Agas dengan lirih.
aku menangkup wajah Agas & menyeka air matanya untuk menghentikan tangisannya. lalu aku melihat Zian yang berdiri di depan pintu ruang UKS membawakan surah izin untuk aku pulang lebih awal, setelah melihat aku & Agas dia terlihat sangat marah & dengan gusar dia pergi meninggalkan ruang UKS.
"sepertinya dia lebih memilih bulek itu di bandingkan aku!?" gumam Zian pelan sambil berjalan pergi.
"Zi-Zian..." gumam ku pelan saat aku melihat Zian pergi dengan wajah masam.
"Ra kamu kenapa kok bisa pingsan? tadi aku masih di ruang kepsek terus Ali ngasih tau aku kalau kamu pingsan & lagi di UKS." tanya Dea menggebu-gebu karna khawatir.
"aku nggak apa-apa kok. cuma kecapean aja." sahut ku singkat sambil mengusap wajah ku.
"Gas... kamu kenapa? kok kamu kayak habis nangis gitu?" Dea yang tambah khawatir saat melihat Agas yang habis menangis.
"aku nggak apa-apa kok, aku tu cuma sedih aja karna lihat Amara sakit kayak gini." Agas coba ngeles biar Dea nggak mikir apa-apa & langsung mengusap air matanya.
"ih... kamu tu ya nyebelin banget sih!" Dea secara tiba-tiba marah & langsung memukul kepala Agas dengan kuat.
__ADS_1
PLAAAAAK.
"sakit Dea!" teriak Agas histeris.
"gila ya ni anak! tiba-tiba mukul?!." Agas mengusap-usap kepalanya yang habis di pukul Dea.
"kemarin waktu aku sakit kamu biasa aja tu! jangan kan nangis nanyain kondisi aku aja kamu nggak! pas di suruh Mami nganterin aku chek up aja kamj males-malesan!" Dea marah dengan menggebu-gebu.
"ini sekarang giliran Amara pingsan aja kamu sampai segitunya! pakek acara nangis segala lagi! nyebelin kamu!" ucap Dea semakin kesal langsung memiting leher Agas.
"sakiiiiiit... iya-iya maaf Deol?"
"rasain ni!" Dea semakin menguatkan pitingannya di leher Agas.
"sakit Dea... Ampun!" Agas memohon sambil menepuk-nepuk ranjang UKS dengan kuat.
aku tertawa geli melihat tingkah Dea & Agas. namun di sisi lain aku juga masih terus kefikiran sama Zian. Agas & Dea mengantar ku pulang.
"kalau kamu masih belum ngerasa baikan mendingan besok nggak usah sekolah dulu." ucap Agas sambil memegang bahu kanan ku.
"lebay ih. kamu tu kenapa sih Gas kok perhatian banget sama Amara? atau angan-jangan kamu...🤔" lirik Dea dengan tatapan tajam menelisik.
"apaan sih Deol..." sahut Agas sinis dengan pipi yang sedikit merona.
"ayo ah kita pulang biar Amara bisa langsung istirahat. kami pulang dulu ya." Agas mendirong-dorong Dea untuk mengajaknya pulang.
"Agas ih... jangan dorong-dorong nanti aku jatuh!" ucap Dea kesal.
"kami pulang dulu ya Ra..." ucap Dea sambil melambaikan tangan & masuk ke dalam mobil.
"kami pulang dulu. langsung istirahat ya Ra..." teriak Agas yang juga ikut masuk ke dalam mobil.
"assalamu'alaikum Umma... Amara pulang."
"wa'aalikumsalam." Umma langsung membuka pintu begitu mendengar suara ku.
"kamu tadi kenapa Ra? kok bisa sampai pingsan gitu?" tanya Umma penuh kekhawatiran.
"Amara nggak apa-apa kok Umma, cuma kecapean sama sedikit stres doang. Oh iya Umma tau dari mana kalau tadi Amara pingsan?."
"tadi wakil kelas kamu nelpon Umma buat kasih tau, Umma khawatir banget tau Ra untung aja Agas langsung nelpon Umma & jelasin semuanya sama Umma. jadi Umma sedikit tenang deh." ucap Umma sambil mengelus kepala ku.
"emmmh..." aku tersenyum simpul.
"kalau memang mereka cuma jadi beban fikiran buat kamu mendingan kamu jauhin mereka!" ucap Umma ketus sambil memapah ku masuk kamar.
"Umma kok ngomongnya gitu sih?!" aku sedikit kesal mendengar ucaoan Umma.
"mereka itu temen Amara & mereka juga bukan beban buat Amara! lagian sekarang semua udah baik-baik aja kok. jadi... Umma tenang aja."
"Umma nggak mau lagi ya Ra denger kamu pingsan-pingsanan kayak gini!" ketus Umma semakin pedes sambil menjewer kuping ku pelan.
"aw... sakit Umma..." rengek ku manja sambil tersenyum lebar.
"pokoknya mulai dari sekarang kamu harus bener-bener jaga kesehatan & makanan kamu ya Ra. Umma nggak mau kamu kayak gini lagi!?"
"iya Umma ku sayang." aku memeluk erat Umma.
"iya." jawab Umma sedikit ketus sambil menarik selimut untuk menyelimuti ku.
"ya udah kamu istirahat, Umma bikin makanan buat kamu dulu nanti Umma anterin ke kamar." Umma pun beranjak pergi.
di dalam kamar aku terus melamun & fikiran ku terus aja melayang-layang memikirkan tentang gimana keadaan Zian sekarang.
"dia pasti kesel gara-gara ngelihat aku berduan sama Agas di ruang UKS. dia juga pasti sedih banget karna perlakuan ku ke dia belakangan ini yang nggak baik."
"hah..." aku menghela nafas pelan.
"aku harus gimana ke dia? aku harus minta maaf atau apa? atau... malah membiarkan semuanya seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa?"
"tapikan kasihan Zian kalau aku masih diem aja & nggak berlaku adil ke dia. sementara aku sama Agas udah baik-baik aja sekarang?"
"aaa... aku bingung banget... aku harus bagaimana..." ucap ku kesal sambil memukili wajah ku dengan bantal beberapa kali.
Pagi hari.
"Amara... bang..." ucap Umma sambil membuka pintu kamar ku, namun Umma langsung yerdiam setelah melihat aku yang udah siap mau ke sekolah.
"loh nak. kamu udah siap-siap? Kamu mau sekolah?"
"iya umma." sahut ku pelan sambil mengikat rambut ku.
"tapi kan kamu masih sakit lo Ra?" tanya Umma sambil memegang pundak ku.
"Amara udah baikan kok Umma... ☺"
"ya udah deh terserah kamu aja Ra, percuma juga nanti Umma tahan-tahan kamu juga nggak bakalan dengerin Umma." ketus Umma sambil merapikan tas ku.
"tapi mulai sekarang kamu harus bawa bekal & nggak boleh jajan di kantin lagi ya Ra?"
"siap 86 Umma ku sayang..." jawab ku manja sambil mengerlingkan sebelah mata ku untuk menggoda Umma.
"ya udah Umma siapin bekal kamu dulu. nanti berangkatnya bareng sama mas Alkan aja ya, kamu jangan naik bus dulu sampek kamu bener-bener sehat."
"terserah Umma aja. gimana baiknha." jawab ku pasrah sambil merapikan seragam ku.
aku pun sampai di depan gerbang sekolah di antar mas Alkan.
"Amara masuk dulu ya mas." ucap ku manja sambil menyalami mas Alkan.
"iya. kamu jangan banyak gerak dulu Ra inget kamu itu masih sakit lo." ucap mas Alkan sambil mengelus-elus rambut ku.
"oke boss. 😉" ucap ku sambil berlari masuk ke sekolah
"pagi Ra..." sapa Agas dengan senyum khasnya saat aku tengah berjalan.
"pagi..." aku menyapa balik.
"sini aku gandeng, nanti kamu bisa kesandung lo." ucap Agas dengan manis sambil menggandeng tangan ku.
"aku nggak apa-apa Agas..." jawab ku pelan sambil tersenyum.
"nggak apa-apa aka tuntun kamu biar lebih aman aja. hehehe."
__ADS_1
"kamu tu bikin aku jadi ngerasa kayak udah nenek-nenek tau Gas!" ucap ku sinis sambil memutar bola mata ku.
"nenek Amara. hahahaha." ledek Agas pada ku sambil tertawa terbahak-bahak.
Agas dengan polosnya berjalan sambil menggoyang-goyangkan pegangan tangan kami hal itu sontak membuat aku tersenyum geli, karna aku ngerasa kami berdua kayak anak kecil yang lagi janjian mau pergi main bareng. 😅
saat jam istirahat tiba aku mencoba mencari keberadaan Zian untuk bicara dengannya & menyelesaikan masalah kami, namun aku tak menemukan dia di mana pun bahkan aku sudah mencari di tempat biasa dia duduk umtuk menikmati kesendiriannya.
"apa dia nggak sekolah ya?" gumam ku pelan.
"siapa yang nggak sekolah?" tanya Dea yang tiba-tiba aja udah ada di samping ku.
"Zian." jawab ku singkat.
"kenapa kamu nyariin Zian? tumbem banget?"
"aku mau bicara hal penting sama dia. tapi... dari tadi pagi aku nggak ada lihat dia di sekolah?"
"aku juga nggak ada lihat dia sih. mungkin aja dia lagi nggak masuk kali."
"iya kali ya." jawab ku pelan sambil terus celingukan.
"udah kamu tenang aja, besok mungkin dia udah masuk sekolah lagi & kamu bisa langsung nemuin dia buat bicara deh." ucap Dea coba menenangkan ku.
"iya..." aku hanya bisa tersenyum kecut dengan persaan yang masih tidak jelas.
singkat cerita udah beberapa hari ini aku nggak ngelihat Zian di sekolah, aku jadi makin khawatir sama dia, entah kenapa saat nggak ngelihat dia aku selalu ngerasa resah & nggak tenang terus selalu ada rasa kangen di hati yang kayaknya menggebu-gebu gitu.
saat jam istirahat tiba Agas menghampiri ku dengan wajah kecut.
"tadi pagi aku lihat Zian. dia ada di taman sekolah." ucap Agas dengan nada sedikit sinis.
"yang bener?" jawab ku spontan langsung berdiri & tersenyum lebar.
"iya." jawabnya ketus.
"aku nggak bisa lihat kamu uring-uringan terus Ra. lebih baik kamu ketemu sama Zian biar kamu tenang & bisa senyum kayak gini terus." batin Agas dalam hati sambil menatap tajam ke arah ku.
"makasih ya Gas udah ngasih tau aku di mana Zian." jawab ku senang sambil mencubit pipi Agas gemas & langsung berjalan keluar buat nemuin Zian.
...
"hai..."
aku langsung nyapa Zian sambil tersenyum lebar dari arah samping tempat Zian duduk, Zian sontak terkejut mendengar suara ku.
"hai." jawabnya singkat.
"kamu kemana aja? udah berhari-hari aku nggak lihat kamu di sekolah?" tanya ku dengan eksaited.
"kamu sakit? atau kenapa? kenapa nggak sekolah?"
"aku nyariin kamu terus tau."
"aku sekolah terus kok." jawabnya singkat lagi.
"kalau kamu sekolah kenapa kita nggak pernah papasan?"
"aku sengaja menghindari buat nggak ketemu sama kamu." jawabnya ketus.
"kenapa?" jawab ku penuh kebingungan.
"karna aku nggak mau kamu sakit lagi & aku juga nggak mau bikin kamu sedih lagi. lagian aku kan udah janji buat nggak ganggu & nemuin kamu lagi." jawabnya ketus sambil terus menunduk membaca novel anime kesukaannya.
"terus, selama ini kamu ngumpet di mana? aku sering ke sini tapi kamu selalu nggak ada." ucap ku coba melucu.
Zian hanya diam & terus membaca novelnya.
"maafin aku ya." ucap ku pelan sambil menatap dalam ke arahnya & memegang punggung tangannya.
"aku tau kemarin-kemarin itu aku udah bersikap nggak baik ke kamu & Agas, aku tau aku salah karna udah bersikap egois ke kalian berdua. aku cuma mikirin perasaan ku tapi nggak sama perasaan kalian berdua."
"cuma aja aku nggak punya pilihan lain selain menghindari masalah kemarin. karna jujur aja aku juga nggak tahu harus berbuat apa & harus apa buat ngedepin masalah kemarin."
"tapi sekarang aku sadar kalau aku nggak boleh lari dari masalah & malah ngacuhin kalian, makasih karna kamu udah sayang sama aku tapi aku bener-bener nggak bisa pilin salah satu dari kalian karna aku sayang kalian berdua. tapi sebagai sahabat nggak lebih."
"aku tau perasaan kamu Ra. makannya aku nggak mau lagi gangguin kamu & bikin kamu susah, aku lebih milih menjauh dari pada bikin kamu sedih terus." jawab Zian sambil menatap dalam ke mata ku.
"aku mau kita kayak dulu lagi, bersahabat & selalu baik-baik aja & mulai sekarang kamu harus ikut kemana aku & teman-teman ku pergi."
"maaf Ra. tapi aku nggak bisa ikut kamu & teman-teman mu!" jawabnya kesak & langsung menolak keinginan ku.
"ya udah kalau kayak gitu!" aku langsung berdiri & melipat ke dua tangan ku.
aku berniat menggoda Zian dengan pura-pura ngambek & mau pergi.
"kalau kamu emang nggak mau nuruti permintaan aku buat ikut aku, Dea & Agas. berarti kamu juga nolak permintaan aku buat jadi sahabat aku." aku langsung membalik badan berniat pura-pura ingin pergi.
"jangan pergi!" Zian menarik tangan ku untuk mencegah ku pergi. dia sempat lama diam & seperti berfikir.
"oke. aku mau nuruti semua permintaan kamu asalkan kamu nggak jauhin aku & pergi dari aku." ucapnya manis sambil tersenyum & menggenggam erat tangan ku.
aku tersenyum dengan lebarnya karna di hari itu juga semua masalah antara aku, Zian & Agas seketika selesai & semua baik-baik aja. aku pun bisa kembali ceria seperti diri ku biasanya karna aku merasa semua jadi lebih baik sekarang ini. aku berlari-lari kecil menuju kelas sambil terus tersenyum puas.
"dooooor..." aku coba mengagetkan Dea & Agas yang lagi duduk di dalam kelas.
"we..." Agas sontak kaget.
"ngagetin aja sih Ra!" pekik Dea kesal.
"kamu kenapa Ra? kok cengar-cengir gitu sih? kamu kesambet apa gimana?" tanya Dea menelisik.
"dia udah ketemu & bicara sama Zian, jadi pasti sekarang dia udah ngerasa baik-baik aja & tenang." ucap Agas dengan senyum sinis.
"iya. kok kamu tau anak dukun ya? 😜" jawab ku meledekya.
"sekarang rasanya semua beban ku hilang seketika & aku jadi merasa jauh lebih baik & tenaaaaang... ☺"
"beban apa emangnya?" tanya Dea yang tidak mengetahui masalah antara kami bertiga.
"A... nggak. nggak apa-apa kok." jawab ku sambil terus tersenyum.
"Amara-Amara." gumam Agas pelan sambil mengelus rambut ku.
__ADS_1