Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Hari-hari yang semakin aneh saja.


__ADS_3

...


Umma membangunkan ku untuk sekolah, tapi dengan berbagai alasan aku berusaha sekuat tenaga buat nolak & memilih libur aja hari ini, karna aku masih bingung banget harus bagaimana kalau nanti ketemu mereka berdua yang sumpah pada nyebelin banget itu. 😤


"Amara... sayang kamu nggak sekolah nak? ayo bangun." tanya Umma sambil membuka tirai jendela kamar ku.


"nggak Umma." jawab ku singkat sambil menutupi wajah ku dengan selimut.


"kenapa? tumben anak gadis Umma yang cantik & rajin ini mau bolos sekolah?" jawab Umma menyindir.


"kepala Amara kan lagi sakit, Amara pusing banget kayaknya nggak kuat deh kalau harus sekolah hari ini. 🤕" aku mencoba mendramatisirkan keadaan.


"hemmmm... 🤔 kalau Umma lihat lukanya kayaknya kecil deh Ra? nggak dalem juga kok. lagian kan udah di obati kemarin sama si Agas?!"


"bukan Agas yang obatin luka Amara." aku membuka wajah ku sedikit.


"terus siapa dong? kan yang nganterin kamu pulang si Agas? 😕" tanya Umma bingung.


"Zian yang obatin luka Amara. 🙂"


entah kenapa tiba-tiba aku jadi senyum-senyum waktu ngingat kejadian Zian lagi ngobatin luka ku di ruang UKS.


"oh... Zian yang ngobatin." gumam Umma sambil menelisik perban di dahi ku.


"wah... si Zian itu anaknya pinter ya Ra."


"kok Umma bisa tau. 😟"


"lihat aja dia bisa obatin & perban luka kamu serapi & sebaik ini?! 😊"


"Umma... ini kan cuma luka kecil siapa pun bisa ngobatinnya. 😒" tegas ku sinis.


"nah... tu kamu tau kalau itu cuma luka kecil, terus kenpa nggak mau sekolah Amara..." ucap Umma.


"aaa... Umma. pokonya hari ini Amara nggak mau sekolah titik! 😤" tegas ku lalu kembali menutupi wajah ku dengan selimut & mencoba untuk tidur lagi.


"ya udah deh terserah kamu aja, kalau emang kekeh nggak mau sekolah hari ini ya nggak usah sekolah." gumam Umma sambil keluar dari kamar ku & menutup pintu.


siang hari Umma ngajak aku buat makan siang, tapi aku malah di kejutkan karena tiba-tiba aja dua makhluk aneh bin nyebelin itu datang ke rumah ku. mereka langsung bikin nafsu makan ku hilang & bikin hari ini semakin kacau aja rasanya. 😩


"Ra... makan siang dulu yuk nak? dari kemarin malam kamu belum makan lo?" pujuk Umma.


"nggak mau ah. Amara nggak selera makan."


"nanti kamu bisa beneran sakit lo sayang. perban kamu juga harus di ganti kan? ayo makan siang dulu habis itu Umma bantu ganti perbannya. kamu juga nggak sarapan tadi pagi."


"Umma... tapi Amara beneran nggak selera makan!? Amara nggak mau makan." aku merengek karna benar-benar lagi nggak nafsu makan.


"ayo makan!" paksa Umma sambil menarik tangan ku & mengajak ku ke ruang makan.


di meja makan.


"enak kan? 😏" goda Umma saat melihat aku yang lahap banget makannya. jujur aja setelah lihat masakan Umma aku jadi langsung lapar kuadrat. 😂


"hehehe... iya Umma. masakan Umma emang yang paling the best lah pokoknya. 👍" aku bicara dengan mulut penuh.


"jangan bicara kalau mulutnya lagi penuh Ra ,nanti kamu bisa keselek lo." ucap Umma sambil menuangkan air ke gelas & memberikannya kepada ku.


"iya Umma ku yang cantik..." jawab ku setelah menelan makanan yang tadi aku kunyah.


"bisa aja gombalin Ummanya si gadis ini. gini ini kalau lagi di kasih makanan enak. 😏" Umma meledek & geleng-geleng lihat tingkah ku.


"ya udah makan yang banyak Umma mau ambil kotak P3K dulu."


waktu aku lagi asik makan terdengar suara ketukan pintu & ucapan salam dari Zian, dia juga berulang kali manggil nama ku.


"assalamu'alaikum." Zian mengucap salam.


"😳" aku langsung mode pause.


"Amara... Amara..." Zian terus memanggil ku sembari mengetuk pintu.


"Amara... aku bawain obat buat kamu."


aku sontak nyemburkan sembarang makanan yang ada di mulut ku & semuanya berhamburan di meja, aku juga jadi kesedak karna terkejut dengar suara Zian.


"uhuk...uhuk...uhuk..." aku batuk-batuk.


"Zi- Zi-Zian... 😳" aku refleks langsung sembunyi di bawah meja makan karna nggak pengen ketemu sama dia.


"ih... ngapain sih dia kemari! nyebelin banget sih! di hindari di sekolah malah nongol di rumah! 😫" gumam ku kesal sambil menutup mulut ku.


"duh... gimana ini dong?!" aku langsung celingak celinguk nyari cara buat ngindarin dia.


"sayang? itu kayaknya ada yang ketok-ketok pintu deh, kamu kok nggak bukain sih?" teriak Umma sambil berjalan ke arah meja makan.


"loh anak itu kemana? tadi perasaan lagi makan? 😕" gumam Umma bingung celingak celinguk mencari ku.


mendengar gumaman ku Umma langsung melihat ke bawah meja & terkejut saat mendapati ku yang lagi sembunyi di bawah meja.


"kamu ngapain di bawah meja Ra?" Umma jongkok & langsung bertanya yang sontak membuat ku terkejut.


"ayam..." aku spontan kaget.


"Umma... bikin kaget Amara aja." aku bicara sambil berbisik.


"kamu ngapain di bawah sini?" tanya Umma yang juga ikut berbisik.


"itu di luar ada Zian, di depan rumah kita."


"terus... 😕" tanya Umma bingung.


"Amara nggak mau ketemu dia. Umma tolong suruh dia pulang ya please..." aku merengek & memohon bantuan Umma. 🙏


"kenapa kamu nggak mau ketemu dia?"


"ceritanya panjang, nanti Amara ceritain ke Umma. pokoknya sekarang suruh dia pulang dulu ya ya ya..." aku kembali merengek.


Umma mengiyakan & membukakan pintu buat ketemu sama Zian .


"wa'alaikumsalam. eh ada tamu ternyata." sapa Umma dengan ramah.


"pagi Tante. 🙂" Zian menyalami Umma & terseyum ramah.


senyumnya Zian lumayan manis lah kalau buat ukuran seorang Zian yang jarang banget senyum ya... walaupun tetep masih manisan senyum Agas yang super duper lebar & lucu itu. 😁


"saya Zian Tante. temen sekolahnya Amara."


"iya Umma tahu kok. kamu dulu pernah nganterin Amara pulang waktu hujan kan?"


"iya Tante. maaf kemarin Zian nggak sempet mampir & nyapa Tante karna lagi buru-buru. 🙂"


"panggil Umma aja. yuk masuk dulu Amara ada di dalam kok." ajak Umma.


mendengar ucapan Umma aku lansung melotot & seketika jantung ku langsung berdegup kencang kayak mau copot & meledak rasanya.


"nggak usah Umma Zian di luar aja, Zian ke sini cuma mau anterin obat sama bantu gantiin perban lukanya Amara."


"oh... ya udah kalau gitu Umma panggilin Amaranya, sebentar ya. 😊" Umma tersenyum sangat lebar & sontak hal itu bikin aku takut.


"temuin sana Ra, kasihan lo dia udah jauh-jauh dateng tapi malah kamu cuekin gini." Umma menggoda ku sambil berjalan menuju dapur dengan ekspresi wajah yang nggak bisa di tebak.


"aaa... Umma tega banget sih sama anaknya! 😭" aku frustasi & langsung berdiri.


ku tarik nafas panjang & memberanikan diri buat nemui Zian, perlahan aku jalan ke arah pintu dengan perasaan yang campur aduk. 😵


"mau ngapain kamu kesini?! 😒" tanya ku sinis dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"kanget aku Ra." ucap Zian spontan kaget saat mendengar ku.


"aku mau anterin obat sama perban ini buat kamu, sekalian mau bantuin kamu ganti perbannya." jawabnya dengan manis.


"emmmh. sini obatnya. 😒" aku mengulurkan tangan kanan ku untuk menerima obatnya.


"duduk sini dulu." Zian langsung menarik tangan ku yang membuat aku langsung duduk di kursi sebelahnya.


"boleh aku lihat lukanya?" dia bertanya sambil jongkok tepat di depan ku.


"😳"


kalian tau nggak sih wajah kami berdua itu deket banget lo nggak sampek sejengkal tangan. 😱 sontak aja hal itu bikin pipi aku jadi merona lagi.


"pipi mu merah lagi Ra? mata mu juga kenapa jadi makin besar?" gumamnya bercanda sambil mengambil obat.


"apa?!" aku langsung mengedip-ngedipkan mata ku & sedikit menunuduk karna malu.


"kenapa kamu tadi nggak sekolah?" Zian bertanya sambil mengoleskan obat.


"aku masih sedikit pusing." sahut ku ketus.


"sekarang masih pusing?"


"kamu... kenapa kamu perduli mau aku sekolah atau nggak! 😒" aku mencoba bersikap judes.


"ya perduli lah. gimana hari-hari ku bisa indah kalau aku nggak lihat kamu. 😏"


"apaan sih! nggak lucu tau!" gumam ku kesal dengan pipi yang semakin merona.


"ya tuhan jantung ku kenapa ini! 😱 rasanya jantung ini kayak mau meledak. kenapa kamu tiba-tiba jadi salah tingkah kaya gini sih Amara anggraini." gumam ku dalam hati.


waktu Zian mau nempelin perban di luka ku tiba-tiba aja Agas dateng & teriak dengan kencangnya yang sontak aja bikin aku sama Zian kaget.


"tunggu!" teriak Agas kencang sambil berjalan ke arah kami dengan tergesa-gesa.


"😐" mendengar teriakan Agas aku & Zian refleks melihat ke arah Agas.


"ngapain kamu di sini!" ucap Agas sinis sambil narik bahu Zian buat menjauh dari aku.


"aku mau ngasih obat & bantu ganti perban luka Amara." jawab Zian dengan santai.


"aku sayang sama kamu Ra & aku mau kamu jadi pacar ku." ucap Agas tiba-tiba & langsung memeluk ku.


"😳" mata ku seketika langsung membulat besar & aku mematung.


aku hanya terdiam begitu juga dengan Zian, mata sipit Zian seketika membulat besar & dia ikut mematung saat melihat Agas yang dengan tiba-tiba menyatakan perasaannya lalu memeluk ku.


"aku udah lama suka sama kamu, bahkan dari pertama kali kita ketemu. tapi karna kita sahabatan aku jadi takut mau nyatain perasaan aku ke kamu." ucap Agas tanpa basa-basi.


"aku takut kamu bakalan jauhin aku setelah kamu tahu tentang perasaan aku ke kamu. makannya selama ini aku mendam & nahan semua perasaan itu."


"tapi... semenjak kamu dekat sama dia aku malah jadi semakin takut kehilangan kamu Ra. aku nggak bisa nahan lagi makannya aku ngambil semua resiko & beraniin diri buat ungkapin semua perasaan aku ke kamu."


"aku tahu kita kenal baru beberapa bulan, tapi jujur dari pertama kali aku lihat kamu aku langsung tertarik sama kamu terutama sama senyum mu itu. makin hari perasaan ini jadi makin kuat & besar Ra, aku takut kehilangan kamu Ra aku nggak mau kehilangan kamu."


Agas gungkapin semua perasaannya sambil megang erat kedua tangan ku. mendengar semua itu aku jadi makin bingung & nggak tau harus apa, akhirnya aku mutusin buat menghindari semua konflik aneh ini buat menghentikan semua permasalahan ini.


"aku masuk dulu." jawab ku kaku sambil menuju ke arah pintu.


DUUUUK.


karna ceroboh & lagi ngebug aku nggak sengaja menabrak pintu. sontak itu mengejutkan Zian & Agas.


"Ra..." teriak Agas & Zian serentak karna panik.


"stop! berhenti di situ. aku nggak apa-apa!" jawab ku sinis & langsung menghentikan mereka biar nggak mendekati ku.


padahal sebenernya kepala aku sakit banget rasanya. gila aja nabrak & kejedot pintu gitu ya jelas sakit banget lah. 😵 di satu sisi aku juga malu banget jadinya. 😱


"kenapa mereka berantem terus setiap ketemu. bikin kesel aja deh!" gumam ku kesal sambil masuk ke rumah & langsung bergegas menuju kamar ku.


aku mulai masuk sekolah lagi, karna udah beberapa hati ini aku nggak sekolah gara-gara kejadian yang super duper nyebelin kemarin itu.


"Amara..." sapa Dea yang terlihat bahagia saat melihat ku.


"pagi Dea..."


"aku kangen kamu." Dea langsung memeluk ku.


"aku juga kangen banget sama kamu Dea." aku balas memeluknya. pagi ku jadi terasa cerah karna bertemu dengan Dea.


"kamu kenapa Ra? kok nggak masuk sekolah kemarin?"


"ni..." ucap ku santai sambil menunjukan bekas luka di dahi ku.


"emangnya parah banget lukanya Ra? kata Agas cuma luka kecil doang?" Dea bertanya sambil mengelus-elus dahi ku lembut.


"hehehe... nggak terlalu parah sih lukannya, ini juga udah kering tapi kepala aku masih sering terasa sakit sama pusing."


"tapi kamu nggak apa-apakan?"


"aku nggak apa-apa kok. 😊"


"morning girls." sapa Agas manis.


hari ini Agas kelihatan sedikit lebih tenang & kalem. ya... kalian tau sendiri kan kalau Agas itu anaknya pecicilan banget & nggak bisa diem.


"pagi." sahut ku pelan. aku mencoba sebisa mungkin tetap tenang & biasa aja biar nggak ada kecanggungan di antara kami.


"kamu udah beneran sehat kan Ra?" Agas memasang wajah khawatir sambil menyingkap poni ku untuk melihat luka ku.


"aku udah baikan kok." aku langsung menarik kepala ku untuk menghindari sentuhannya.


"kalau memang kamu belum baikan banget mendingan nggak usah sekolah dulu. aku khawatir kepala kamu sakit atau kamu pingsan." ucap Agas penuh perhatian.


tak lama Zian lewat di sebelah kami berdiri, namun anehnya dengan dingin dia hanya melewati kami tanpa menyapa.


"kenapa dia jadi jutek lagi? apa dia marah & udah nggak mau ketemu sama aku lagi?" gumam ku dalam hati.


"kalau kamu masih lemes atau pusing atau ngerasa nggak enak bilang sama aku ya." ucap Agas lebay.


"iya Agas... udah santai aja aku nggak apa-apa kok. lagian juga luka aku udah kering." ucap ku sambil menepuk pundak Agas pelan.


"aku itu khawatir banget sama kamu lo Ra." Agas sedikit menunduk & begumam.


"udah beberapa hari kamu nggak sekolah & nggak bicara sama aku. apa kamu marah sama aku gara-gara masalah kemarin itu. 🙁" Agas memasang wajah sedih.


mendengar ucapan Agas sontak buat aku jadi merasa bersalah sama dia, aku langsung aja berusaha coba mencairkan suasana biar dia nggak sedih lagi & semua berjalan kayak biasanya.


"aku nggak apa-apa kok Gas, kamu tenang aja nggak usah ngawatirin apa-apa." ucap ku lembut agar menenangkan hatinya.


"aku juga nggak marah kok sama kamu. 😊 ya udah masuk ke kelas yuk..." ajak ku.


"yuk. nanti kita malah keduluan sama pak guru lagi yang ada nanti kita malah di kira telat." ucap Dea yang langsung menarik tangan ku & Agas.


di dalam kelas saat jam kosong.


"kamu lagi berantem sama Zian ya?" tanya Dea kepo.


"hah?!" mendengar pertanyaan dari Dea aku langsung terkejut.


"enggak! aku nggak lagi berantem sama Zian kok. lagian ngapain juga aku berantem sama dia Dea..."


"ya kalau orang lagi pacaran berantem itu wajar kali Ra... 😏" goda Dea.


"what! pacaran! 😨" teriak ku histeris.

__ADS_1


"siapa yang pacaran kunyuk, aku sama Zian maksud kamu?! ya nggak lah Dea aku sama Zian itu nggak pacaran. ngarang aja deh ah!" aku dengan wajah yang merona langsung menolak persepsi Dea dengan tegas.


"tapi... temen-temen pada bilang kalau kalian itu pacaran?" Dea bertanya dengan nada mengejek & memasang wajah sok polos.


"gilak! itu hoax!" tariak ku histeris langsung membantah rumor.


"ini pasti gara-gara kejadian waktu hujan itu? ih... mereka semua pasti salah paham ni & dengan enaknya aja bikin rumor nggak jelas kayak gini! 😤" gumam ku pelan dengan kesal.


"Dea... tolong deh ya. kamu tu jangan terlalu mudah percaya sama gosip kayak begituan! itu semua hoax tau!"


"kalau emang cumaa gosip doang... terus kenapa kamu ngebantah banget gitu sih? 🤔 kamu itu kayak lagi nutupi sesuatu dari aku?!" sinis Dea menelisik ke arah ku.


"enggak! aku nggak lagi nyembunyiin apa-apa dari kamu kok, udah deh nggak usah di bahas lagi! lagian nggak ada gunanya juga." aku yang stres banget lebih milih menghindar & diam.


aku jalan sendirian ke halte bus mau pulang. tiba-tiba aja Zian ngehampiri aku & langsung ngajak aku buat ikut sama dia.


CIIIIIIIIT.


Zian menarik rem untuk menghentikan motornya.


"naik." ajaknya dengan judes.


"naik? 😳" aku yang bingung langsung membelalakan mata.


"kalau aku suruh kamu naik ya naik. bukannya malah buka mata kamu lebar-lebar kayak gitu! 😒" ketusnya.


"emangnya mata kamu itu nggak sakit apa kalau kamu buka selebar itu? nanti copot tau."


"apa?" aku langsung mengedip-ngedipkan mata ku beberapa kali karna merespon perkataan Zian yang aneh itu.


"cepetan naik. panas ni" Zian langsung menarik tangan ku untuk cepat naik di kursi penumpang tepat di belakangnya.


"pegangan yang kuat, nanti kamu jatuh?" ucap Zian dengan suara pelan.


"iya. 😳" sahut ku yang masih ngebug.


aku yang masih ngebug karna tingkah Zian yang aneh itu langsung memegang ujung jakek kulitnya dengan kedua jari ku.


"🙂" Zian tersenyum melihat tingkah ku & langsung menarik kedua tangan ku untuk kemudian di letakannya di pinggangnya.


"😳" jantung ku rasanya kayak mau meledak.


kami naik motor cukup jauh & lama aku juga nggak tahu sebenernya dia mau ngajak aku kemana, sampai akhirnya kami turun di sebuah taman gitu turun dari motor Zian langsung gandeng tangan aku & ngajak aku buat duduk di batu besar dekat kolam di tengan taman.


"aku..."


"aku..."


"aku..."


"hah..." aku menghela nafas pelan.


"Zian... kamu itu udah berkali-kali bilang AKU AKU AKU terus. aku bingung tau sebenernya kamu mau itu mau ngomong apa & mau apa ngajak aku ke sini." ucap ku kesal sambil melipat kedua tangan ku.


"AKU SUKA SAMA KAMU & AKU MAU KAMU JADI PACAR KU!" ucap Zian sambil memejamkan kedua matanya & langsung menundukan kepalanya setelah bicara.


aku begitu terkejut & mata ku langsung terbelalak, jangan lupakan wajah ku yang langsung berubah menjadi sangat merah merona.


"kam-kamu... suka sama aku? 😳" ucap ku pelan dengan wajah bingung & merona.


"iya... aku suka sama kamu & aku mau kamu jadi pacar ku." Zian masih saja memejamkan matanya & menunduk.


"aku takut kamu terima cinta Agas, aku nggak mau hal itu terjadi aku nggak mau kehilangan kamu Ra! jadi aku juga beraniin diri buat ungkapi perasaan aku ke kamu." ucapnya sambil menatap dalam mata ku


"aku... aku harus pulang. Umma bisa marah kalau aku pulang terlambat & nggak kasih kabar." ucap ku sambil celingukan karna grogi plus bingung sama semua keadaan ini.


"aku duluan. sampai ketemu besok." aku langsung berlari menjauh dari Zian & bergegas pulang ke rumah.


...


setibanya aku di rumah dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku langsung nemuin Umma buat ceritain semua keluh kesah ku yang selama beberapa hari ini aku pendam sendiri.


"Umma..." rengek ku langsung memeluk Umma dengan mata yang berkaca-kaca.


"kenapa sayang? kok kamu keringetan gini?" tanya Umma yang khawatir karna meilhat keadaan ku.


"Umma... Amara bingung, Amara harus gimana Umma. 😭" ucap ku sambil menangis.


"mereka. mereka berdua bikin Amara sedih & bingun Umma..." rintih ku menjadi-jadi.


"kamu kenapa sayang? kenapa nangis gini? terus mereka-mereka itu siapa?" tanya Umma yang semakin kebingungan karna tangisan ku.


"Zian & Agas... tingkah mereka berdua jadi aneh & itu semua bikin Amara stres Umma... 😭" aku semakin histeris.


"mereka bilang kalau mereka itu suka sama Amara!? Amara nggak suka itu!"


"sayang... kamu itu harusnya seneng kalau ada orang yang sayang sama kamu & perduli sama kamu." Umma mencoba menjelaskan sambil mengelus-elus kepala ku yang aku taruh di pangkuan Umma.


"tapi Amara nggak suka sama semua ini Umma... Amara cuma mau fokus sekolah. lagian Amara tu cuma anggap mereka sebagai teman doang nggak lebih!"


"tapi kamu juga kan nggak bisa mencegah & ngelarang orang buat punya perasaan sayang sama kamu Ra?"


"iya Umma Amara tahu itu tapi kan tetep aja Umma, dengan mereka kayak gini itu malah bikin Amara nggak nyaman & bikin Amara selalu jadi kesel kalau ketemu mereka."


"itu semua karna Amara nggak mau kasih kesempatan ke hati Amara buat deket & lebih ngenal mereka. Amara juga nggak mau cari tau tentang perasaan mereka." sahut Umma sambil menyeka air mata ku.


"tapi Amara tetep nggak suka sama semua ini Umma... ini semua malah bikin Amara jadi nggak nyaman. 😢"


"ya udah nggak usah terlalu kamu fikirin nanti kamu malah sakit. sana bersih-bersih dulu terus makan siang."


"iya Umma." aku menyeka air mata ku & beranjak ke kamar untuk ganti baju.


...


di sekolah setiap kali aku ketemu sama mereka berdua aku langsung menghindari mereka. karna aku nggak mau ada konflik lagi di antara kami bertiga.


"pagi Amara. ☺" sapa Agas dengan senyum khasnya.


"pagi." jawab ku singkat lalu berjalan menuju kelas.


"Amara kenapa sih? apa dia lagi sebel ya sama aku? 😕" gumam Agas bingung.


"Amara aku mau bicara?" ucap Zian yang dari tadi udah nunggu aku di depan kelas.


"maaf aku mau masuk ke kelas, nanti aja kalau emang mau bicara." jawab ku singkat & langsung masuk ke dalam kelas, aku langsung duduk di bangku ku & meletakan kepala ku di atas meja untuk memejamkan mata barang sebentar agar aku lebih tenang.


"hah..." aku menghela nafas pelan.


"kenapa perasaan ku jadi berat banget gini ya rasanya ya? 😔" gumam ku pelan.


"Amara. kamu sakit." tanya Dea sambil memegang pundak ku.


"enggak. 🙂" jawab ku pelan sambil tersenyum.


"kamu lagi ada masalah ya Ra?" tanya Dea khawatir sambil membenahi rambut ku.


"nggak kok. aku cuma lagi banyak fikiran aja." jawab ku singkat.


"kalau ada apa-apa cerita sama aku jangan di pendem sendiri."


"iya Dea... aku pasti cerita ke kamu kalau emang aku ada masalah." ucap ku sambil mencubit gemas pipi Dea.


"janji ya. kamu nggak boleh sembunyiin masalah apapun dari aku."


"janji my sister. kamu tenang aja aku nggak apa-apa kok & kalau pun ada apa-apa aku pasti cerita ke kamu."


aku sengaja nutupi masalah antara aku, Zian & Agas dari Dea karna aku nggak mau kalau Dea sedih gitu tau tentang masalah ini sebab ini juga menyangkut Agas sepupu yang paling Dea sayangi. aku juha nggak mau Dea jadi sedih karna masalah sepele ini & malam ngerusak persahabatan kami bertiga nantinya.

__ADS_1


__ADS_2