Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Hari kelulusan.


__ADS_3

pagi ini aku masuk sekolah buat ambil kertas kelulusan, sumpah aku deg-degan banget karna takut dapet nilai jelek & nggak bisa masuk ke universitas impian aku. 😔


liburan kemarin cukup memuaskan buat mengistirahatkan otak setelah menghadapi ujian kemarin & sekarang alhamdulillah aku lebih santai & siap menghadapi apapun tentang nilai ku. 💪


"pagi... 😊" sapa ku manis pada Dea.


"pagi Ra... gimana?"


"gimana apanya? 😟"


"siap nggak buat lihat hasil ujian kita? 😁"


"siap dong... 😉 karna aku yakin banget kita semua pasti lulus." ucap ku percaya diri.


"kamu jangan terlalu percaya diri Ra." ucap Dea.


"ini tu ujian buat kelulusan jangan di samain sama ujian sehari-hari kita yang biasa. 😒"


"ih... Dea ah... kamu tu bikin aku takut aja tau. 😫"


"why?"


"ya kamu suka banget bikin orang ngedown. pedes banget kalau ngomong." gumam ku sebal lalu melipat kedua tangan ku & memalingkan wajah ku.


"hehehehe... canda Ra jangan baper atuh. 😁" Dea langsung memeluk ku dari samping.


"aku takut banget kalau nggak lulus. 😩"


"kenapa? 😕" tanya Dea bingung.


"ya aku takut kalau nggak bisa lanjutin kuliah, terus gimana aku bisa jadi dokter. 😔"


"hey... calm down Amara anggraini. aku yakin kamu pasti lulus & bisa lanjutin kuliah buat jadi dokter. 😊" Dea menyemangati ku.


"makasih my best friend, memang cuma kamu yang ngertiin aku Dea." aku memeluk erat Dea.


"pagi semuanya..." sapa wali kelas ku.


"pagi pak..." sahut kami satu kelas serentak.


"hari ini pasti jadi hari yang mendebarkan buat kalian semua ya. 😏" ledek wali kelas ku.


"hahahaha..." suara tawa kami menggelegar.


"yang sedang bapak pegang ini adalah surat kelulusan kalian." ucap wali kelas ku yang membuat kami satu kelas menjadi tegang.


kami semua (sekelas) hanya terdiam cemas & berdebar menunggu hasil yang akan di beri tahu oleh wali kelas kami tentang kelulusan kami.


"kalian udah siapa mengetahui hasilnya?" ucap wali kelas ku.


"siap pak..." sahut kami serentak.


"kalian..." cukup lama wali kelas ku diam.


"kami apa pak?" tanya Dea.


"jangan bikin kami senewen deh pak. 😒" ketus Jodi.


"cepetan pak kasih tau hasilnya..." rengek Lily.


"pak... jangan drama deh ah." ketus Anna.


"udah tau muridnya lagi deg-degan semua, tapi bapak malah drama king gini... 😣" ketus Brayen.


"😊" wali kelas ku hanya menguntai senyum teka teki.


"bapak..." teriak kami satu kelas serentak.


"kalian semua lulus, selamat. 🙂" ucap wali kelas ku dengan senyum bahagia.


"alhamdulillah..." suara teriakan syukur kami serentak menggema.


sangking bahagianya kami pun langsung melompat-lompat kegirangan & saling berpelukan satu sama lain menumpahkan rasa bahagia. 😍


"makasih ya pak karna udah bimbing kami sampai kami bisa lulus." ucap kami serentak.


"sama-sama, bapak juga seneng bisa lihat kalian semua bahagia kayak gini. semoga kedepannya kalian semua bisa sukses buat gapai cita-cita kalian. 🙂" ucap wali kelas ku bahagia.


...


"Amara lulus..." teriak ku kuat & kegirangan sambil masuk kedalam rumah.


"alhamdulillah..." sahut Umma penuh bahagia.


"Amara seneng banget Umma, Amara nggak sabar pengen cepet2 kuliah. 😆"


"iya sayang, semoga semua lancar ya nak sampai kamu bisa gapai semua cita-cita kamu. 😗" Umma mencium pipi kiri ku.


"😙" aku balas mencium pipi Umma penuh bahagia.


"ya udah sana bersih-bersih habis itu kita makan siang."


"siap boss..."


setelah bersih-bersih aku pun keluar untuk makan siang bareng Umma. sore hari saat mas Alkan & Abba pulang aku langsung eksaited memberi tau tentang kelulusan ku.


"assalamu'alaikum..." Abba mengucap salam.


"wa'alaikumsalam, Abba... Amara lulus..." aku langsung lari & memeluk Abba erat.


"alhamdulillah ya Allah..." Abba balas mencium ku & langsung mencium pipi & kening ku.


"mas mana? biasa pulang bareng Abba kan?" aku celingukan mencari mas Alkan.


"nggak tau, dari tadi Abba tungguin tapi nggak dateng-dateng padahal biasanya mas kamu itu selalu mampir ke bengkel dulu."


"apa mas masih lembur ya? 🤔"


"udah-udah, Abba bersih-bersih dulu sana sekalian nunggu Alkan pulang nanti baru kita makan malam."


"siap nyonya besar." celetuk Abba lalu ke kamar.


kurang lebih setengah jam kemudian mas Alkan akhirnya pulang.


"assalamu'alaikum." mas Alkan mengucap salam.


"mas..." teriak ku kencang sambil berlari ke arah mas Alkan.


"jawab salamnya mana dek. 😒" ketus mas Alkan.


"hehehe... sampek lupa, wa'alaikumsalam mas ku tersayang. 😊"


"kenapa? kok seneng banget gitu lihat masnya pulang? tumben banget."


"Amara lulus... nilai Amara juga bagus. 😁" aku langsung memeluk erat mas Alkan.


"alhamdulillah... seneng banget mas dengernya." mas Alkan lalu mengecup pipi kanan ku.


"bangga nggak sama Amara?" tanya ku manja.


"bangga dong... kan anak Abba." celetuk Abba yang baru keluar dari kamar.


"Umma yang lahirin lo ya Ba... 😒" ketus Umma dari dapur.


"tapi kan hasil karyanya Abba. 😏" celetuk Abba.


"his... ngomongnya itu lo. ndak malu sama anak-anak. 🙄" ketus Umma.


"hehehehe..."


"tapi ini adeknya mas lo, mas yang selalu jagain dari kecil sampek sekarang." celetuk mas Alkan.


"huh... sombong banget kamu Alkan narendra, mentang-mentang selalu jagain adek kamu. 😒" celetuk Abba.


"iya dong. 😏"


"udah-udah... bercandanya di sambung nanti lagi sekarang kita makan dulu." titah Umma.


selesai makan kami pun menonton TV di ruang keluarga & ngobrol santai.


"mau lanjut kuliah di mana Ra?" tanya mas Alkan.


"emmmmh... 🤔"


"masih bingung ya?"


"iya mas, temen banyak yang kasih refrensi tapi..."


"tapi kenopo?" sambung Abba.


"Amara masih bingung cocok di mana?"


"oalah ndok-ndok... ngapain bingung-bingung sih, kamu tu tinggal tanya hati kamu mau kuliah di mana & mau ngerasai suasana kayak gimana." sahut Umma dari dapur.


"di Gadjah mada aja dek."


"Gadjah mada..."


"kata temen mas sih good univ, tata kerjanya & jam belajarnya teratur terus urusan skripsi nggak ribet." saran mas Alkan.


"mas maunya Amara kuliah di situ?" tanya ku dengan polosnya.


"semua pilihan ada di kamu, mas cuma kasih saran."


"nurut mas mu aja ndok." saran Abba.


"ya udah deh kalau mas maunya gitu Amara nurut aja sama mas. 😊" ucap ku semangat.


"kamu memang anak baik Ra." ucap mas Alkan sembari mengelus lembut rambut ku.


"kamu selalu nurut sama apapun kata mas, Abba juga Umma & kamu juga nggak pernah sekali pun bikin repot keluarga karna ngelakuin hal yang aneh-aneh. mas bangga sama kamu." mas Alkan mengecup pipi ku.


"Amara sayang banget sama mas karna mas selalu nuruti apapun permintaan Amara & selalu jagain Amara dengan penuh kasih sayang, Amara juga sayang banget sama Abba sama Umma karna selalu limpahi kaosh sayang buat Amara." ucap ku bahagia.


"Amara janji nggak akan kecewain Abba, Umma & mas Alkan, Amara bakalan kuliah dengan bener & gapai cita-cita Amara buat banggain kalian." aku merangkul Abba & mas Alkan.


"sekarang kita harus mulai persiapan buat kuliah Amara 😊" ucap mas Alkan.


"Amara juga bakalan cari kerja buat tambahan ngekost. 😊" ucap ku semangat.


"nggak! kamu nggak boleh kerja. kamu cuma harus fokus kuliah masalah biaya & uang sehari-hari kamu biar mas sama Abba yang atur." titah mas Alkan.


"tapi..."


"dengerin mas kamu & percaya sama dia." ucap Umma.


"iya Umma..." walaupun agak sedikit kecewa tapi aku harus tetap nurut sama pilihan keluarga ku.


"anak gadis Abba harus jadi dokter yang hebat & baik, harus selalu mengutamakan menolong orang lain di bandingkan keperluan diri sendiri karna janji yang kamu buat harus kamu tepati. bikin kami bangga nak." ucap Abba penuh harap.


"iya Abba, Amara bakalan selalu ingat semua pesan-pesan Abba & bakalan selalu berusaha nggak akan kecewain kalian. 🙂"

__ADS_1


"itu baru anak Abba. 😁"


kami pun hanyut dalam kebahagiaan & obrolan tentang pandangan akan masa depan ku nantinya, semua hal seperti berjalan dengan sangat baik & sempurna rasanya. sampek aku ngerasa semua ini kayak mimpi yang manis... banget yang bikin aku nggak mau bangun dari tidur ku.


aku juga banyak banget dapet ucapan selamat buat kelulusan ku mulai dari Mamanya Zian, Maminya Dea, satpam & guru-guru di sekolah ku. ucapan yang paling bikin aku bahagia & seneng banget ya dari 2 sosok laki-laki yang sangat aku hargai & sayangi Zian & Agas.


TLING.


satu pesan masuk ke phonsel ku.


(hari ini mungkin hari kelulusan kamu atau juga sudah lewat? entah lah aku juga lupa kapan tepatnya waktunya. sekarang ini aku nggak bisa buat gubungin kamu Via telpon karna aku masih sibuk banget jadi aku cuma bisa kirim pesan ini ke kamu.)


(selamat ya Amara anggraini buat ke lulusan kamu, semoga kamu lebih semangat lagi kedepannya buat menggapai semua mimpi & cita-cita kamu. aku sayang kamu semangat belajarnya ya mata besar kesayangan ku. 😊)


isi pesan selamat dari Zian.


"sweet banget sih..." gumam ku dengan wajah yang mulai merona.


nggak lama setelah aku baca pesan dari Zian kayak udah di takdirkan tiba-tiba aja Agas video call.


"Agas video call." gumam ku bahagia.


"assalamu'alaikum." aku langsung angkat panggilan dari Agas.


"wa'alaikumsalam, cepet banget angkat panggilan aku Ra?"


"hah..." malu pulus salah tingkah.


"itu... itu tadi..." aku terbata-bata.


"segitu kangennya sama aku, sampek-sampek gitu tau aku nelpon langsung di angkat? baru juga dua deringan. 😏" goda Agas.


"ih... apaan sih...!" wajah ku langsung merona.


"dari raut wajahnya yang berseri-seri... pasti lulus ni bocah. 🤔" gumam Agas.


"lulus dong aku kan anak pintar. 😎"


"ih... sombong banget sih. 😒" ketis Agas.


"kalau kamu gimana? lulus nggak?" tanya ku sedikit khawatir.


"alhamdulillah aku lulus, walaupun dengan nilai yang pas-pasan. 😅"


"alhamdulillah..." aku mengucap syukur.


"lagian ujian di sini itu sedikit gampang karna cuma beberapa mata pelajaran aja, nggak sebanyak kayak ujian di sana."


"aku ikut seneng dengernya, padahal aku udah takut banget kalau-kalau kamu nggak lulus."


"ya elah Amara... aku juga nggak sebod*h itu kali sampek nggak bisa lulus. 😤" kesal Agas yang langsung ngambek.


"hehehe... maaf-maaf, aku cuma bercanda kok."


"nyebelin." Agas merajuk.


"kamu mau lanjutin kuliah di mana?" tanya ku penasaran.


"aku mau lanjut kuliah di sini aja."


"kamu mau ambil jurusan apa?"


"komunikasi internasional, keren kan. 😏"


"wah... keren banget jurusan yang kamu mau ambil."


"Agas gitu lo. 😎"


"tapi... 🤔"


"why? 😕"


"apa kamu bisa nyelesaiin kuliah kamu dengan kepinteran yang cuma sejengkal itu. 😂" canda ku.


"eh... ni bocah ya!" Agas langsung tersinggung.


"kamu kira aku sebod*h itu apa hah! sampek nggak bisa nyelesaiin kuliah aku! 😡"


"hehehehe..." aku cuma cengengesan.


"aku yakin aku pasti bisa selesaiin kuliah aku dengan sempurna, karna aku nggak mau kalau sampai kalah dari Zian!" ketus Agas berapi-api.


"hemmmh... mulai deh mulai. 🙄" gumam ku.


"apa-apa! why hah!" celetuk Agas.


"santai kali Gas... sewot amat."


"aku nggak sewot kok. 😒"


"masak..." goda ku.


"iya... aku cuma nggak mau aja kamu nantinya lebih merhatiin Zian kalau dia bisa buktiin kesuksesan dia & lupain aku karna aku gagal."


"kok kamu ngomongnya gitu sih..."


"itu yang aku rasain. 🙁"


"aku nggak bakalan lupain kamu apapun yang terjadi, mau kamu sukses ataupun gagal kamu tetep Agas aku yang selalu bikin aku ketawa & bahagia. 😊" aku coba menenangkan Agas.


"🙂" Agas tersenyum manis.


"kesayangannya Amara." sahut Agas dengan polosnya yang sontak membuat wajah ku merona.


"muka kamu merah Ra kayak tomat. 😆" goda Agas.


"Agas..." pekik ku kesal.


"ya udah aku mau tidur, kamu tidur juga ya."


"iya... good night."


"good night Amara..." Agas pun memutus panggilan.


...


KRING...


handphone ku berdering & itu panggilan drai Dea.


"assalamu'alaikum." aku mengucap salam.


"wa'alaikumsalam, lagi apa Ra?"


"baru bangun tidur." sahut ku santai.


"astaga Amara... udah siang gini kamu baru bangun." keluh Dea.


"masih juga jam 09 Dea..."


"tapi ini udah siang Amara..." kesal Dea.


"iya-iya ini aku bangun, bawel banget deh." keluh ku.


"mandi terus siap-siap."


"siap-siap? 😕"


"iya, aku mau ajak kamu ngemall."


"ngemall?"


"aduh Amara... nggak usah banyak tanya deh buruam siap-sipa nanti aku jemput."


"ya tapi ngemall itu mau ngapain?"


"ya mau belanja lah Ra... buat persiapan kuliah nanti."


"hah... 😟"


"hah hoh hah hoh... udah nggak usah banyak mikir setengah jam lagi aku ke sana."


"iya-iya bawel."


aku pun bersiap-siap & keluar kamar setelah rapi.


"mau kemana Ra kok udah rapi?" tanya Umma.


"mau nemenin Dea ke mall Umma."


"oh..."


"Dea bilang dia mau belanja buat keperluan kuliah nanti." ucap ku sembari duduk buat sarapan.


"berarti kamu juga harus belanja buat keperluan kamu kuliah nanti Ra." saran Umma.


"belanja apa? 😕"


"ya belanja baju-baju, tas, sepatu, buku & kawan-kawannya."


"baju Amara masih banyak yang baru Umma, kalau masalah tas sama sepatu punya Amara pada masih bagus semua jadi buat apa beli."


"ya nggak apa-apa ndok, namanya juga mau ke tempat baru ya harus pakai yang baru-baru juga."


"nggak usah Umma, buang-buang uang aja." tolak ku.


"kamu belanjanya juga kan nggak tiap hari Ra... ya udah tunggu bentar Umma ambilin uangnya." kekeh Umma.


"hah..." aku menghela nafas panjang.


"Umma-Umma... kalau udah kemauannya nggak bisa di enggakin. 😔" gumam ku.


"ini uangnya." Umma memberikan uang kepada ku.


"ini banyak banget Umma. 😳" mata ku langsung membulat lebar melihat uang yang banyak banget di kasih Umma.


"Umma udah lama nabung uang ini, sengaja buat kamu beli perlengkapan kuliah. 🙂"


"Umma..." mata ku mulai berkaca-kaca.


"beli semua yang kamu suka & perlu." titah Umma.


"tapi ini banyak banget Umma uangnya?"


"itu cuma 2jt Amara."


"2jt itu banyak Umma..." rengek ku.


"udah cepet sarapan, nanti Dea jemput kamu belum siap sarapannya."


nggak lama setelah aku selesai sarapan Dea datang.

__ADS_1


"assalamu'alaikum..." Dea mengucap salam.


"wa'alaikumsalam... anak gadis Umma." sahut Umma.


"Umma... Dea kangen..." Dea langsung memeluk Umma manja.


"Umma juga kangen banget sama Dea..."


"Amara mana?"


"di meja makan masih sarapan, Dea mau sarapan juga?" ajak Umma.


"nggak deh Umma tadi Dea udah sarapan, ini cuma mau jemput Amara aja."


"oke deh..." sahut Umma.


"Ra... udah siap belum sarapannya?" teriak Dea memanggil ku dari ruang tamu.


"udah..." aku berlari ke depan.


"yuk..." ajak Dea.


"Umma Amara pergi dulu ya." aku menyalami Umma.


"Umma kami pergi ya." Dea juga menyalami Umma.


"hati-hati, pulangnya jangan malam-malam ya." titah Umma.


"siap boss..." sahut ku & Dea serentak lalu memberi gerakan hormat.


"kalian ini." gumam Umma gemas.


...


"aku haus, cari minum yuk." ajak Dea.


"aku juga haus."


"ke cafe biasa mau." saran Dea.


"let's go..." aku langsung menarik tangak Dea.


kami pun pergi ke cafe biasa kami datangi setiap ke mall.


"mas..." Dea memanggil pelayan.


"mau pesen apa mbak?" tanya pelayan.


"cake coklat 2, bubble tea 1 sama jus stobery 1."


"di tunggu ya mbak."


"makasih..." sahut Dea.


"mau kuliah di mana Ra" tanya Dea.


"Gadjah mada, mas Alkan yang saranin."


"kamu emang keren Ra. 😍" celetuk Dea.


"mulai deh. 🙄" gumam ku.


"kamu sendiri mau kuliah di mana?" tanya ku penasaran.


"aku mau lanjut kuliah di Busan."


"what...! 😨" aku kaget banget denger ucapan Dea.


"kamu serius Dea..."


"yes..." sahut Dea santai.


"tapi... kenapa harus jauh-jauh ke Korea? jangan bilang karna oppa-oppa." ketus ku.


"nggak lah Ra, kamu kira hidup aku cuma sebatas oppa-oppa doang apa. 😒"


"terus kalau bukan karna oppa-oppa kenapa kamu milih kuliah di Korea?" aku yang masih tidak percaya sama pilihan Dea.


"gini ya Amara anggraini, sekarang ini Korea itu kan jadi kiblat mode dunia selain Paris jadi itu paling cocok buat aku. kamu kan tau aku mau ambil jurusan disainer."


"iya... tapi kan kampus di sini juga bagus-bagus Dea."


"I know I know, tapi aku mau ngembangi imajinasi aku lebih jauh lagi makannya aku pilih kuliah di luar. kalau kuliah di Paris aku kurang berminat & paling pas di Busan. 😁"


"Pakde sama Bukde?"


"Mami Papi setuju sama permintaan aku. 😊" Dea terlihat sangat bahagia.


"aku nggak mau jauh dari kamu lagi Dea... 😔" rengek ku.


"cuma 3 tahun kok Ra... lagian juga setiap libur aku pasti pulang & aku janji bakalan langsung nemui kamu." Dea memeluk ku & coba menenangkan aku.


"makin lengkap kesendirian aku, Zian sama Agas pergi & sekarang kamu. 😞" rasanya hati ku hancur.


"jangan mikir yang aneh-aneh Ra... aku bukannya ninggalin kamu buat selamanya lagian juga kita bakalan ketemu kalau aku balik ke sini pas liburan. udah ah jangan sedih gitu." Dea coba menenangkan ku lagi.


"ini pesanannya mbak." ucap pelayang tiba-tiba sambil meletakan pesanan kami di atas meja.


"oh... iya mas." sahut Dea sedikit kaget.


"selamat menikmati." ramah pelayan


"terimakasih." ucap ku & Dea serentak.


kami pun minum & makan cemilan sembari ngobrol-ngobrol masalah kuliah dengan cukup banyak perdebatan.


...


"kamu mau beli apa sih sebenernya? dari tadi kita tu cuma muter-muter & keluar masuk toko doang tapu nggak beli apa-apa." keluh ku.


"aku belum nemu yang cocok." sahut Dea santai.


"hah... 😩" aku menghela nafas dalam.


"kamu mau cari apa?" tanya Dea tiba-tiba.


"aku mau cari perlengkapan tulis sama beberapa tas buat kuliah nanti, ini semua karna Umma yang suruh kalau nggak aku nggak akan beli."


"why?"


"ya... karna baju, tas sama sepatu aku di rumah udah banyak & masih layak pakai menurut aku."


"kamu itu terlalu sederhana." ucap Dea tiba-tiba.


"oke... hari ini kamu boleh beli apa aja yang kamu mau aku yang traktir. 😁" titah Dea.


"nggak usah nggak usah, aku udah terlalu sering kamu belanjain. lagian juga aku bawa uang sendiri yang tadi di kasih sama Umma." aku langsung menolak keras.


"nggak ada bantahan! uang itu bisa kamu simpen buat tambahan biaya kuliah kamu nanti, sekarang buat belanja aku yang bayar semuanya & kamu nggak boleh nolak." kekeh Dea.


"aku nggak mau!" kekeh ku.


"Mami yang suruh lo Ra, yakin mau nolak? nggak takut di omelin Mami? 😏" ancam Dea.


"tapi..." gumam ku.


"udah nggak usah tapi-tapian, ayok ke sana kita pilih-pilih baju." Dea langsung menarik tangan ku.


kami belanja banyak banget & sampai habis isya baru kelar, selesai belanja & makan malam kami pun langsung pulang.


...


"nggak mampir?" tanya ku.


"nggak usah deh udah malam juga, takut nanti Mami nelpon terus ngomel. 😄"


"ya udah kalau gitu." aku langsung turun dari mobil.


"lusa kamu ikut anter aku kebandara kan?" tanya Dea.


"pasti dong, aku nggak mau lewati moment perpisahan kita."


"aku sayang kamu."


"aku juga sayang kamu." sahut ku.


"ya udah aku pulang ya, good night Amara..."


"good night to. hati-hati."


"bye..." Dea melambaikan tangan & mobil berjalan.


"bye..." aku balas melambaikan tangan.


aku berjalan masuk ke dalam rumah.


"assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam, udah makan Ra." tanya Umma.


"udah..." ucap ku lesu lalu merebahkan tubuh di atas kursi ruang keluarga.


"kenapa sayang?" tanya Abba karna melihat ku murung.


"Dea mau kuliah di Korea Ba..." mata ku mulai berkaca-kaca.


"kamu sedih ya karna mau di tinggal Dea keluar negri." tanya Umma.


"iya..." aku mengangguk lesu.


"kamu nggak boleh gitu sayang, kamu tu harusnya dukung Dea buat gapai cita-cita dia & dukung semua keputusan dia. kamu kan sahabat dia jadi harus selalu dukung dia selagi itu bener." nasehat Abba.


"Amara dukung ko Ba. cuma aja..."


"Abba tau kamu pasti sedih karna harus jauh dari Dea lagi, tapi kalian nantinya juga bakalan sibuk masing-masing sama pendidikan kalian. sama aja bakalam jarang ketemu kan."


"iya sih."


"justru bagus dong kalian pisah buat sementara kayak gini." sambung Umma.


"bagusnya. 😕" aku bingung.


"ya karna nanti kan pas kalian ketemu lagi kalian bakalan bisa kangen-kangenan & habisin waktu berkualitas berdua. karna rasa rindu yang numpuk pertemuan pun jadi lebih berasa bahagia." sambung Umma.


"bahasa Umma udah kayak komentator aja." ledek Abba.


"udah jangan sedih lagi. nikmati aja gimana yang di kasih sama Allah biar kerasa ringan." ucap Umma.


"banyak-banyak bersyukur dek buat apa yang udah kita punya & yang lagi kita jalani, biar Allah makin sayang sama kita." sambung mas Alkan.


"iya mas..."

__ADS_1


__ADS_2