Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Menguatkan diri.


__ADS_3

...


"Amara masih belum mau keluar kamar Umma?" tanya mas Alkan yang sedang bersiap mau pergi kerja.


"belum mas. 😞" sahut Umma sedih.


"mas jadi khawatir Umma sama adek."


"Umma juga mas. Umma takut adek mu sakit atau ngelakuin hal yang nggak baik."


"nggak mungkin." ucap Abba yang berjalan ke meja makan.


"Amara itu anak pintar & soleha jadi dia nggak mungkin ngelakuin hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri." sambung Abba.


"tapi Amara udah dua hari ini nggak mau keluar kamar & nggak makan apapun Ba... Umma jadi khawatir banget sama kondisi dia." ucap Umma dengan mata berkaca-kaca.


"besok dia juga udah masuk sekolah, mas takut itu malah bakalan ganggu fokus dia waktu ujian nanti." sambung mas Alkan.


"kalian tenang aja. Abba yakin seberat apapun masalah yang lagi dia hadapin sekolah akan jadi hal utama buat dia." Abba coba menghilangkan kegelisahan Umma & mas Alkan.


"Abba coba bicara sama Amara dong Ba..." pinta Umma.


"kemarin Abba udah coba bicara sama Amara, dia bilang dia hanya mau sendiri & tenang dulu. dia baik-baik aja kok Umma." ucap Abba.


"udah Umma nggak perlu terlalu khawatir. mas yakin besok dia bakalan baik-baik aja & sekolah kayak biasanya." ucap mas Alkan memeluk Umma dari samping mencoba menenangkan perasaan Umma.


...


"Umma... Amara berangkat ya." aku berpamitan pada Umma untuk pergi sekolah.


"sarapan dulu nak."


"nggak usah Umma." sahut ku singkat.


"kamu belum makan 2 hari lo Ra. apa kamu nggak ngerasa laper?"


"nggak."


"nanti kamu bisa sakit sayang." Umma mulai sedikit kesal.


"Amara makannya nanti pulang sekolah aja. Amara mau soto buatan Umma. 🙂" sahut ku yang sudah bisa mulai tersenyum.


"iya sayang iya. nanti pasti Umma buatin soto ke sukaan kamu." sahut Umma bahagia mendengar aku mau makan selepas pulang sekolah nanti.


"Amara berangkat assalamu'alaikum." ucap ku lalu memyalami Umma.


"wa'alaikumsalam. hati-hati di jalan ya nak..."


aku berjalan pelan ke halte bus di simpang komplek rumah ku, begitu bus datang aku langsung naik & langsung mencari tempat duduk. di dalam bus aku hanya diam & pandangan ku yang kosong hanya tertuju ke arah luar jendela bus di selingi dengan berbagai khayalan tentang hal-hal yang membuat hati ku terasa sakit.


"permisi. bisa geser sedikit nggak?" ucap seorang gadis pada ku.


"silahkan." aku pun menggeser duduk ku menempel lebih dekat dengan jendela tanpa melihat wajah orang yang bicara pada ku tadi.


"kamu sekolah di mana?" tanya gadis itu.


aku tak mendengarkan ucapan gadis itu karna aku sedang asik melamun & hanya diam membisu tanpa menghiraukan keberadaannya.


"lah... dianya malah ngelamun." gumam gadis itu pelan.


"kak. kata Mama aku nggak baik lo kalau anak gadis sering melamun terus. 😊"


"maaf ya tapi saya lagi nggak pengen ngobrol sama siapa-siapa." sahut ku pelan.


"kalau punya masalah harus cepet di selesaiin kak biar nggak nambahin beban hati terus harus di bagi sama yang kain biar nggak berat di hati. kalau kakak pendem sendiri nanti kakak yang jadi sakit fisik maupun perasaan."


"😐" aku hanya diam mendengarkan omongan gadis itu.


"yang dia omongin ada benernya juga." gumam ku dalam hati.


"saya duluan ya." ucap ku sambil beranjak untuk turun dari bus. kemudian berjalan pelan masuk ke dalam sekolah.


"Ra..." panggil Dea.


"kamu udah baikan? kemarin Umma nelpon aku & ceritain semuanya. kamu baik-baik aja kan Ra?" tanya Dea khawatir.


"aku baik-baik aja kok Dea." ucap ku pelan.


"kamu yakin siap buat ujian? aku takut konsen kamu terganggu."


"kamu tenang aja. aku nggak bakalan biarin masalah ini mempengaruhi ujian & sekolah ku." ucap ku berapi-api.


"aku seneng kamu bisa kuatin diri kamu sendiri & semangat lagi." ucap Dea lalu memeluk ku.


"ini juga karna kamu Dea. karna ada kamu di samping aku makanya aku jadi kuat deh." celetuk ku.


"bisa aja sih." ucap Dea sambil mencubit gemas pipi ku.


kami pun ujian seperti biasanya & tanpa kendala apapun. jam istirahat Dea ngajak aku ke kantin buat makan karna dia tau aku udah nggak makan 2 hari ini.


"kamu makan ya Ra." pinta Dea.


"nggak deh Dea. aku lagi nggak selera banget buat makan 🙁"


"kata Umma kamu udah nggak makan 2 hari lo... nanti kamu sakit Ra. aku nggak mau kamu sakit." rengeknya.


"tapi aku bener-bener nggak mau makan." aku membantah.


"kamu sayang kan sama aku Ra."


"iya aku sayang sama kamu."


"kalau kamu sayang sama aku kamu harus makan. kalau kamu nggak mau makan aku juga nggak mau makan!" ancamnya sambil melipat kedua tangannya & manyun.


"jangan gitu dong Dea..."


"makannya kamu harus makan." paksanya sambil manyun.


"ya udah iya-iya. aku makan." aku akhirnya menyerah.


kami pun makan. sembari makan Dea banyak bertanya untuk memancing ku agar mau bercerita tentang keluh kesah ku & membagi kesedihan ku.


"kamu masih sedih tentang Zian & Agas?" tanya Dea membuka percakapan.


"iya." aku mengangguk pelan.


"aku cuma ngerasa kecewa aja sama ke adaan yang bikin mereka ninggalin aku. kehilangan 1 dari mereka aja udah bikin aku sedih banget ini aku harus kehilangan mereka berdua. 😔"


"kan masih ada aku Ra... emangnya aku nggak berarti ya buat kamu? 😔" ucap Dea sedih.


"nggak gitu Dea..." tegas ku lalu memeluk erat dirinya.


"kamu itu berarti banget buat aku bahkan lebih dari mereka, cuma aja... kan kamu tau sendiri udah beberapa tahun ini banyak hal yang kita laluin berempat. jadi ya wajar aja kan kalau aku ngerasa kehilangan mereka banget. 😞" ucap ku sedih.


"iya aku paham kok Ra. karna jujur aja aku juga ngerasa kehilangan Zian & Agas." ucap Dea sambil mengelus-elus pungung ku.


"aku juga sedih banget kalau harus bayangin hari-hari ku tanpa Agas. tanpa candaan & kejailannya yang selalu bisa bikin kita ketawa." sambung ku.


"apa lagi si Zian. kamu pasti sedih banget karna di tinggal sama dia. 😏" celetuk Dea meledek.


"ih... Dea... mulai deh ya" pekik ku.


"sempet-sempetnya kamu godain aku padahal aku lagi sedih banget kayak gini. ya udah lah nggak udah di bahas lagi nanti lama-lama aku juga bakalan terbiasa tanpa mereka." gumam ku sedih & kecewa dengan keadaan.


"oh iya Ra. si Agas udah ganti nomor luar negri kemarin dia chat aku via WA, dia bilang kalau dia belum sempet buat ngubungin kamu karna persiapan pindah sekolahnya belum selesai & dia masih sibuk banget."


"dia juga bilang kalau nanti semua urisan dia udah selesai & dia udah long time dia pasti bakalan ngubungin kamu." ucap Dea.

__ADS_1


"tapi... udah hampir 2 minggu semenjak dia pergi dia sama sekali belum ngubungin aku & kasih kabar ke aku. 😔" gumam ku pelan sambil mengalihkan pandangan ku dari Dea.


"di Australia buat pindah sekolah sistemnya ribet & lama Ra, nggak kayak di sini yang semua legalitasnya lebih simple. Agas chat aku tadi malam cuma buat nanyain kamu doang & titip pesen dari Maminya buat Mami aku."


"ya udah nggak apa-apa kok. 🙂 aku bakalan terus nunggu kabar dari dia."


"terus... kalau si Zian. gimana? kapan dia pergi ke luar negrinya?" tanya Dea sambil mengunyah makanannya.


"nggak tau deh." aku menaikan pundak ku.


"Zian belum ada bilang apa-apa ke aku. ya udah lah nggak usah bahas tentang mereka terus, nanti malah bikin mood aku jadi berantakan lagi." ketus ku.


...


"asssalamu'alaikum. Umma... Amara pulang." aku mengucap salam.


"wa'alaikumsalam. kamu udah pulang." Zian membalas salam ku dengan tersenyum manis & membawa semangkuk nasi.


"kamu. 😮" pekik ku terkejut karna melihat Zian.


"ngapain kamu di sini?" tanya ku bingung.


"mau makan siang bareng kamu." sahutnya santai.


"makan siang bareng aku. 😕" gumam ku bingung.


"tadi Umma nelpon aku. terus ngajak aku makan siang bareng. ☺" jawabnya sok manis.


"terus..." ketus ku.


"ya aku langsung aja dateng ke rumah kamu. aku juga kangen banget sama enaknya masakan Umma hehehehe... 😅" celetuknya.


"emmmh..." gumam ku ketus lalu melengos aja & masuk ke dalam kamar.


"cepet ganti bajunya terus kita makan. aku udah laper banget ni." teriak Zian.


"bawel..." ketus ku.


setelah berganti baju aku langsung keluar untuk makan siang, aku laper banget karna udah 2 hari ini nggak makan sama sekai. tadi makan di kantin juga cuma sedikit karna sambil bahas Zian & Agas aku jadi bad mood buat makan lagi. 😐


"apa-apaan ini Umma? 😨" pekik ku.


"kok Umma banyak banget masaknya? padahal kan tadi pagi Amara cuma minta soto doang!?" omel ku.


"tapi ini semua apa... banyak banget makanannya. 😱" aku kaget banget gitu lihat banyak makanan di atas meja. udah kayak mau Arisan aja.


"kan Zian juga ikut makan sama kita Ra... jadi ya Umma masak banyak deh, nggak salah kan. 😊" jawab Umma.


"tapi kalau makanannya sebanyak ini mah bisa buat kasih makan orang 1 kampung Umma..." kesal ku.


"makanan yang ini, ini, ini sama ini itu Umma siapin spesial buat Mamanya Zian. nanti tinggal di anter aja ke tempat kerja Mamanya Zian pakek ojol." jelas Umma.


"makasih Umma cantik... 😊" celetuk Zian sok manis.


"wah... Umma emang luar biasa. 😒" ucap ku salut sambil bertepuk tangan. 👏 dengan sedikit kesal.


"udah-udah kebanyakan dialog. ayo kita makan dulu." ajak Umma.


...


"wah Umma... ini enak banget beneran deh. 😍" ucap Zian sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.


"enak ya sayang?" tanya Umma.


"enak banget Umma." sahut Zian.


"syukur lah kalau gantengnya Umma suka. 🙂" ucap Umma sambil mengelus lembut kepala Zian.


"suka banget Umma... ini mah enak banget banget banget banget banget. ☺" ucap Zian bahagia sambil makan dengan lahapnya.


"dasar. tukang cari perhatian. 😒" sinis ku.


"ih...!" ketus ku.


"ya udah makan yang banyak ya ganteng & cantiknya Umma. Umma mau siapin buat kirim makanan ke Mamanua Zian." ucap Umma lalu beranjak ke ruang keluarga.


"Ra habis makan ikut aku yuk?" ajak Zian.


"kemana?" sahut ku sedikit ketus.


"aku mau kasih sesuatu buat kamu, tapi nggak bisa di rumah karna ada Umma aku malu. jadi kamu harus ikut aku."


"ikut kamu kemana?" tanya ku dengan wajah tersipu.


"ke taman yang biasa kita datengi."


"dari pada kita jauh-jauh ke sana mendingan kita ke taman deket komplek aja." saran ku.


sebenernya aku hanya mau menghabiskan lebih banyak waktu dengan Zian, kalau naik motor kami hanya akan saling diam. jadi aku lebih memilih banyak ngobrol dari pada naik motor makannya aku ajak Zian ke taman deket komplek aja.


"di sini ada taman?" tanya Zian.


"ada. kalau kita jalan kaki cuma butuh waktu10-15 menit aja."


"boleh juga, kalau gitu kita ke sana aja lumayan juga kan ngirit bensin hehehehe. 😁" celetuknya dengan wajah konyol.


"ya udah kamu makan yang banyak Ra. buat tenaga nanti jalan ke taman."


"iya..." sinis ku.


selesai makan kami pun berjalan santai buat pergi ke taman deket komplek rumah ku. saat di perjalanan tiba-tiba aja Zian mengenggam tangan ku dengan eratnya & berjalan tepat di samping ku.


"jantung ku. 😳" gumam ku dalam hati & seketika melebarkan mata besar-besar.


"jangan lagi..." kesal ku sambil meletakan telapak tangan kanan ku di dada ku untuk mengotrol detakan jantung ku.


"ni jantung aneh-aneh aja deh! gimana kalai Zian denger detakannya? 😱 aku pasti malu." gumam ku pelan.


"kamu bilang apa Ra?" tanya Zian.


"apa..." pekik ku karna terkejut.


"aku... aku nggak bilang apa-apa kok." langsung panik sendiri.


"tapi... tadi aku kayaknya denger samar-samar kamu ngomong sesuatu gitu deh?" tanya Zian dengan wajah bingung.


"apa aku salah denger ya?" gumamnya sambil menarik-narik telinganya.


"iya-iya... iya, kamu pasti salah dengar itu. karna aku nggak ada ngomong apa-apa kok dari tadi." ngeles terus Amara udah kayak supir bajaj. 😂


"emmmh... Iya kali ya aku salah denger." gumam Zian.


DEG DEG DEG.


suara jantung ku berpacu kencang.


"ya Allah jantung ku kayak mau meledak lagi rasanya. aduh aduh aduh... 😵" gumam ku dalam hati.


"tangan Zian itu hangat & nyaman banget. rasanya setiap dia megang tangan aku perasaan ku jadi tenang & jujur aku selalu ngerasa aman banget kalau lagi sama dia."


"apa ini... pertanda kalau aku juga punya perasaan lebih dari sekedar perasaan bersahabat ke dia? tapi... apa iya ini perasaan Cinta? bisa aja cuma petasaan nyaman & sayang sebagai sahabat kan?" fikir ku sambil terus menatap wajah tampan Zian dalam diam.


"udah kali Ra lihatin akunya." celetuk Zian yang langsung menyadarkan ku dari lamunan.


"apa..." ucap ku kelabakan.


"awas nanti kamu jadi suka lagi sama aku. kamu juga bisa kesandung nanti kalau nggak lihat jalan. 😏" ledek Zian.

__ADS_1


"apaan sih!" pekik ku kesal lalu mengalihkan pandangan dari Zian.


"siapa juga yang lihatin kamu! aku nggak lihatin kamu kok! aku cuma..." aku langsung membantah perkataan Zian dengan ucapan bingung.


"hahahaha... 😂" Zian tertawa puas.


"kalau kamu nggak lihatin aku terus lihatin apa? sampek dongak-dongak gitu? lihatin jidat aku." celetuknya.


"ih... apaan sih!" pekik ku kesal lalu meremat kuat genggaman tangan ku.


"aw sakit Ra..." Zian langsung meringis kesakitan.


"tenaga kamu ternyata kuat juga ya Ra? kamu kecil-kecil tenaganya kayak laki-laki. 😜" ledeknya lalu mencubit hidung ku gemas.


"makannya jangan suka jail sama aku!" ketus ku sambil memalingkan wajah.


"di mana sih tamannya? perasaan kita udah jalan jauh banget deh?" protes Zian.


"aku juga udah capek banget Ra..." rengek Zian sambil memijat-mijat kakinya.


"kamu kok jadi manja gini sih Zi? udah kayak Agas aja." ketus ku.


"ya namanya juga capek. 😫 kaki aku juga udah sakit banget ni Ra... pegel." rengeknya makin menjadi-jadi.


"tamannya ada di depan situ tu..." aku menunjuk ke arah taman.


"oh... itu toh." sahut Zian sambil melihat tajam ke arah taman.


"tapi... kok banyak banget orang yang main di taman ini?" tanyanya.


"taman ini tu nggak pernah sepi selalu ramai kayak gini, apa lagi kalau hari minggu taman ini penuh sama anak-anak gemesin yang lagi main. 😊 semua orang di sekitaran sini selalu ke taman ini buat olah raga atau sekedar kumpul-kumpul sama keluarga & temen-temen mereka. ada juga yang ke mari buat bawa hewan peliharaan mereka jalan-jalan."


"Ra... di bawah pohon itu ada bangku. duduk di situ aja yuk?" ajak Zian sambil menarik tangan ku & kami sedikit berlari ke bawah pohon.


kami pun duduk & berbincang-bincang santai untuk beberapa waktu. saat sedang asik ngobrol & bercanda tiba-tiba Zian menyodorkan amplop putih pada ku.


"apa ini?" tanya ku sambil mengambil amplop putih dari Zian.


"buka & baca." perintahnya.


"ini kayak surat? apa sih ini emangnya?" ucap ku sambil membuka & langsung membaca isi surat itu.


setelah nembaca isi surat itu aku pun langsung terdiam & membisu. hati ku juga di penuhi dengan perasaan kalut, sedih & kacau.


"jadi... minggu depan kamu udah mulai kuliah? 😔" tanya ku pelan.


"iya." jawab Zian singkat.


"terus... kapan kamu berangkat ke Sydneynya?" tanya ku dalam kesedihan.


"lusa aku ujian babak 2 & tiga hari setelahnya aku langsung berangkat ke Sydney & mulai kuliah." jawab Zian pelan.


"emmmmh... 😞"


"kamu sedih ya Ra?" tanya Zian pelan sambil mengenggam erat tangan ku.


"sedih sih..." gumam ku pelan.


"tapi... aku tetep ngerasa seneng kok, karna kamu bisa di terima di Universitas yang bagus & bisa lanjutin pendidikan kamu di luar negri. 🙂" ucap ku sambil mencoba menenangkan hati ku.


"aku bakalan suport kamu terus Zi. aku juga nggak bakalan berhenti buat selalu nunggu kamu sampai kamu pulang & jadi orang sukses."


entah kenapa tiba-tiba hati ku jadi terpaku pada Zian & langsung terfikirkan di benak ku buat nunggu dia pulang, bahkan sampai terlintas di benak ku buat bertahan & akhirnya memutuskan menikah sama dia. entah lah... entah apa yang sebenarnya terjadi pada ku & hati ku ini.


di satu sisi ada cinta untuk Zian sementara di sisi lain ada rasa tak rela kehilangan Agas. semua perasaan aneh ini membuat aku jadi wanita plin-plan & tak berpendirian tegas terhadap hati ku sendiri yang akhirnya membuat aku nggak bisa buat nentuin pilihan di antara cinta, sahabat & cita-cita ku. 😢


"makasih ya Ra." Zian semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"makasih karna kamu udah mau jaga hati aku & mau nunggu aku samapi aku pulang buat bisa miliki kamu seutuhnya." ucap Zian bahagia lalu mengelus lembut pipi ku.


"aku harap kamu cepet pulang Zi." ucap ku tersipu.


"aku janji aku bakalan cepet pulang Ra. aku bakalan belajar giat & berusaha sekuat tenaga buat bisa cepet nyelesaiin kuliah ku & bangun karir ku." ucap Zian berapi-api.


"aku bakalan suport semua yang kamu lakuin selagi itu baik." ucap ku.


"aku sayang kamu Ra." Zian memeluk ku erat.


"aku juga sayang kamu." jawab ku untuk cintanya & aku juga balas memeluknya dengan erat.


"jangan pernah tinggalin aku Ra & jangan pernah pergi kepelukan laki-laki lain." ucap Zian penuh arti.


"jangan pernah tinggalin aku Zi. aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu." ucap ku.


"aku memang belum bisa nentuin hati aku apakah aku cinta sama kamu. tapi aku nggak akan bisa bayangin kalau harus hidup tanpa kamu."


"aku bahagia setiap sama kamu & selalu sedih kalau jauh dari kamu." aku mengungkapkan perasaan ku.


Zian melepaskan pelukannya begitu mendengar semua ucapan ku & menatap dalam ke mata ku dengan tatapan yang penuh arti.


"Ra... kamu nggak tau kan gimana bahagianya aku denger semua kata-kata kamu ini."


"aku bahagia banget sampek rasanya aku mau teriak sekuat-kuatnya." ucapnya berapi-api.


"ya udah teriak aja." goda ku.


"oke..."


"AMARA... AKU SAYANG KAMU..." Zian berteriak dengan kuatnya yang langsung mencuri perhatian seisi taman.


"Zian..." pekik ku tertahan sambil menarik-narik tangan Zian agar dia kembali duduk.


"AKU SAYANG KAMU..."


"AKU SAYANG KAMU..."


"AKU SAYANG KAMU..."


"AKU CINTA KAMU AMARA..." teriak Zian makin menjadi-jadi.


"stop Zian! stop!" pekik ku dengan rasa malu karna semua mata tertuju kepada kami berdua.


seluruh pengunjung taman hanya melemparkan senyum geli ke arah kami, karna mungkin menurut mereka kelakuan kami ini aneh & memakluminya karna kami anak muda. tapi tetep aja kau ngerasa malu banget sama apa yang di lakuin Zian.


"biar aja Ra. biar seluruh dunia tau kalau kamu itu cepet atau lambat bakalan jadi milik aku." celetuknya sambil membungkuk & mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah ku.


"aku tadi cuma bercanda Zian..." geram ku dengan wajah yang merah meeona.


"aku sayang kamu." ucapnya berbisik lalu sejurus kemudian sebuah ciuman mendarat di pipi kanan ku.


"😘"


"Zian...!" pekik ku kuat lalu mendorong Zian sampai jatuh.


GEDEBUK...


Zian terduduk di tanah dengan posisi tangan menopang tubuh bagian belakangnya.


"aduh..." pekiknya kuat.


"sakit Amara..." gumamnya.


"malu tau..." teriak ku sambil berlari & aku berniat untuk pulang.


"Ra... kamu mau kemana?" teriak Zian lalu bangkit & mencoba mengejar ku.


"ih... dia itu apa-apan sih." gumam ku kesal tapi ada rasa bahagia juga.

__ADS_1


"bisa-bisanya dia nyium aku di depan umum gitu?! dia udah gila kayaknya." ucap ku yang terus saja memegangi pipi ku yang tadi di cium Zian sambil berlari kencang untuk pulang.


"kenapa rasanya pipi ku ini panas banget ya? kayak mau meledak juga. 😵" gumam ku dalam hati.


__ADS_2