
dengan perasaan gemas aku yuapin Agas sampek dia ngabisin semua makanannya, gaya sok-sokan ngambek & ninggalin makanannya gitu aja padahal aslinya dia itu lagi laper banget karna nggak sarapan tadi pagi. 😏
"enak Ra..." ucapnya dengan mulut penuh.
"gaya banget ngambek-ngambekan padahal aslinya lagi laper kuadrat. 😒" sindir ku sinis sambil terusenyuapinya.
"apalagi kamu suapin gini. wah... makananya jadi 100x lebih enak rasanya. 😍" celetuknya dengan wajah konyol.
"nggak usah mulai ya Gas..." sinis ku.
"kamu jangan suka ngambek-ngambekan kenapa sih Gas." gumam ku kesal.
"suka-suka aku dong!" jawabnya ketus sambil mengalihkan pandangan dari ku.
"ih... kok gitu sih jawabnya!" gemas ku.
"abisnya aku kesel banget sama kamu! ya jadinya aku ngambek dong. kan lagi kesel." ketus Agas sambil melipat kedua tangannya.
"kamu kesel sama aku? 😕 lah kenapa... emangnya aku salah apa ke kamu?" bingung ku.
"pakek nanyak lagi punya salah apa ke aku! dengar ya semenjak kamu semakin deket sama Zian kamu tu jadi lebih perhatian & sayang sama dia di bandingkan sama aku! aku nggak suka tau...!" ketusnya dengan kesal langsung memalingkan wajahnya.
"siapa yang bilang kalau aku lebih sayang sama Zian?" goda ku.
"aku yang barusan bilang!" sinisnya.
"emang kenyataannya kayak gitu kan! kamu lebih sering pergi sama dia, ketawa bareng dia, senyum ke dia & lebih perhatian ke dia ketimbang ke aku" Agas semakin kesal & wajahnya merengut kecut.
"hahahaha..." aku tak bisa lagi menahan tawa geli ku melihat kelucuan Agas.
"aku sayang sama kamu kayak aku sayang sama Zian & Dea, semua porsinya sama. jadi kamu nggak boleh mikir kalau aku lebih sayang sama Zian atau yang lain." aku memberikan pengertian sama bayi besar ku ini.
"tau ah! aku mau ke toilet!" ketus Agas lalu beranjak pergi.
"ampun ah. anak ini kalau udah ngambek susah banget di bujukinnya." gumam ku sambil berjalan kembali ke kantin buat balikin nampan & piring.
sipat Zian & Agas memang saling bertolak belakang. mengingat usia Zian yang lebih tua 2 tahun dari kami dia memiliki sifat dewasa, lebih tenang & nggak banyak ngomong, mengayomi, menjaga dia juga penyayang banget bahkan kalau marah dia bakalan lebih cepet reda terus membaik lagi sikapnya. Zian itu lebih dewasa buat seusianya beda & berbanding terbalik sama Agas yang nggak bisa diem, pecicilan, blak-blakan, manja & suka ngambek yang susah banget buat di bujuknya dia juga selalu berhasil buat aku sama Dea sakit kepala karna semua tingkah konyolnya itu.
...
"gimana Ra... dia mau makan?" tanya Dea penasaran.
"ni habis semua makananya." jawab ku sambil menunjukan piring kosong sisa makanan Agas tadi.
"kayak bocah! 😒" ketus Zian sambil melirik ke arah ku.
"Zian... jangan mulai. 😒" sinis ku balik menatap tajam Zian.
melihat gerak gerik kami yang aneh Dea pun sepertinya mulai merasakan ada ke aneh di antara kami, Dea semakin penuh tanda tanya & berselimut kecurigaan.
"kenapa aku ngerasa kayak ada yang aneh ya sama kalian bertiga? 🙄" telisiknya
"aneh?" jawab ku spontan saat mendengar ucapan Dea.
"appan sih kamu. nggak ada yang aneh kok?! apanya yang aneh?! semua kayak biasa aja kok ya kan Zi?" jawab ku panik sambil menginjak kaki kiri Zian agar mengiyakan perkataan ku.
"ADUH... sakit Ra!" pekik Zian.
"semua normal-normal aja kan?! ya kayak biasa!!?" gumam ku sinis melotot ke arah Zian memberi kode.
"iya-iya... iya!" pekik Zian menjawab dengan kesal karna aku menginjak kakinya.
"udah-udah yuk masuk kelas..." ajak ku panik.
aku yang mulai panik langsung mencoba mengalihkan perhatian Dea dari pertanyaannya tadi & aku langsung mendorong paksa Dea lalu menjakanya masuk ke kelas untuk mengganti topik.
kita singkat aja ya ceritanya, tahun berganti & semua berjalan biasa saja aku, Dea, Zian & Agas sekolah kayak biasanya semua berjalan normal, sementara konflik antara Zian & Agas masih aja terua berlanjut yang selalu berhasil membuat aku & Dea sakit kepala plus setres.
Zian udah kelas 3 & udah semester akhir beberapa minggu lagi dia bakalan lulus. Zian setiap harinya semakin kalut & nggak sabaran karna selalu mikirin aku yang bakal dia tinggal kalau nanti dia udah lulus. pulang sekolah aku nunggu bus di depan gerbang bareng Agas & Dea yang juga lagi nunggu mobil jemputan mereka. nggak lama Zian datang menghampiri kami & langsung ngajak aku pergi.
"Ra..." teriak Zian berhenti di depan kami.
"bisa ikut aku bentar?" ajaknya sambil memegang tangan kanan ku.
"ikut kamu kemana?" sahut ku bingung.
"aku mau bicara penting sama kamu." jawab Zian lalu menarik ku makin dekat dengannya.
"tunggu!" Agas langsung menarik tangan kiri ku.
"kalau mau bicara kenapa nggak di sini aja?! kenapa harus ajak Amara pergi" sinis Agas.
"maaf tapi aku harus bicara berdua aja sama Amara." ketus Zian menguatkan tarikannya di tangan ku.
"kenapa harus bicara berdua?! memangnya kamu mau ngomong apa ke Amara?!" sinis Agas semakin menjadi-jadi.
"ini masalah pribadi antara aku sama Amara! jadi aku minta pengertian kamu buat kali ini aja ijinin aku bicara berdua sama Amara." ketus Zian kesal.
Agas langsung melepaskan tangan ku & diam mematung sementara Dea juga diam karnaelihat pertengkaran Zian & Agas yang semakin jauh.
"ayo naik." ajak Zian sambil menarik tangan ku.
"tunggu..." aku berheti mendadak.
"sebelum kita pergi boleh nggak aku tau kita mau kemana & kamu mau ngomongin apa?" tanya ku ragu.
"aku mau ajak kamu ke taman yang biasa kita datengin, aku mau ngomongin hal yang sangat penting soal kita." sahutnya berbisik.
"itu... kayaknya... kayaknya aku nggak bisa ikut kamu deh. soalnya aku... aku... ada..." aku coba mengindar.
"tolong jangan tolak aku kali ini Ra. kita harus bicara" Zian langsung memotong omongan ku & menarik paksa aku buat naik ke atas motornya.
kami pun pergi ke taman yang biasa kami datengin, di atas motor di sepanjang perjalanann kami hanya diam satu sama lain & hanyut dalam lamunan masing-masih. kami hanya saling pandang lewat spion motor & aku juga sebenernya penasaran banget sama apa yang Zian mau omongin.
"kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan & nggak tenang gini ya?" gumam ku dalam hati.
"sebenernya dia mau ngomongin apaan sih? kenapa ngomongnya nggak di sekolah tadi aja? kenapa malah ngajak aku ke taman coba?" hati ku terus bertanya-tanya.
"kok aku jadi nggak sabaran gini rasanya. aku pengen cepet-cepet denger Zian ngomong."
akhirnya kami nyampek juga di taman, gitu turun dari motor Zian langsung mengandeng tangan ku & ngajak aku ke tempat biasa kami duduk di pinggir danau.
"udaranya seger banget." celetuk ku buat netralin suasana.
"Ra..." Zian memanggil ku pelan sambil menggenggam tangan ku.
__ADS_1
"iya..." sahut ku pelan.
"minggu depan aku udah mulai ulangan akhir & aku cuma punya sisa waktu sekolah 2 minggu lagi."
"iya." jawab ku pelan.
"aku mau hari ini kita bicara serius tentang perasaan kita masing-masing. karna aku rasa ini udah waktunya yang pas buat kita bicara." ucapnya menggebu-gebu.
"tunggu!" ucap ku terkejut & langsung menarik tangan ku dari genggaman tangannya.
"aku... aku... kan dulu aku... udah pernah bilang ke kamu buat nggak ngebahas ini lagi sampai waktu yang tepat." ucap ku pelan dengan perasaan tak menentu.
"kamu... kamu juga bilang kalau kamu mau paham & mau coba kan! terus kenapa sekarang kamu tiba-tiba malah mau bahas ini lagi?!" ucap ku sedikit kesal lalu mengalihkan pandangaan dari Zian.
"setelah lulus aku mau ambil BA buat lanjutin kuliah di luar negri." ucap Zian cepat.
"apa." aku sontak terkejut dengan pernyataan Zian itu.
"ke-ke-kenapa kamu nggak kuliah di sini aja... kenapa kamu malah mau kuliah di luar negri?" ucap ku berapi-api dengan kecewanya.
nggak tau kenapa gitu tau Zian bakalam pergi jauh rasanya aku kayak nggak rela di tinggal dia & nggak mau jauh dari dia.
"Mama mau aku lebih berkembang, jadi Mama mau aku kuliah di luar negri. aku juga belum tahu bakalan di terima di Universitas mana?"
"emmmh..." aku mengeluh pelan.
"kalau itu memang keputusan kamu & Tante aku cuma bisa dukung." gumam ku pelan dengan mata berkaca-kaca lalu mengalihkan pandangan dari Zian.
"sebenernya aku nggak mau jauh dari kamu Ra... tapi aku juga nggak mau kecewain Mama." Zian menunduk lesu dengan mata yang berkaca-kaca.
"hey..." panggil ku sambil menangkup wajah oval Zian.
"dengerin aku Zi. kamu harus lakuin apa pun perintah Mama kamu karna Tante cuma mau yang terbaik buat masa depan kamu makannya Tante mutusin buat kamu lanjut kuliah di luar negri." aku mencoba menyemangati Zian & diri ku sendiri.
jujur aja aku sedikit ngerasa kecewa karna tau Zian bakalan pergi jauh & aku juga di landa ketakutan dalam hati saat bayangin kalau harus jauh & nggak bisa ketemu Zian lagi. aku juga bingung kenapa aku punya semua perasaan itu ke Zian apa... aku sebebernya emang sayang & cinta sama Zian selama ini?
"aku mau kamu jadi pacar aku Ra." ucap Zian tiba-tiba sambil memeluk ku dengan posisi tangan ku yang masih menangkup wajahnya.
"Zi...!" aku terkejut mendengar ucapan Zian sembari menikmati hangatnya pekukan Zian yang entah kenapa buat aku ngerasa nyaman.
"aku nggak mau akhirnya nanti kamu jadi milik orang lain karna aku jauh dari kamu. aku mau kamu jadi milik aku & nunggu aku sampai nanti aku bisa balik lagi kepelukan kamu."
"aku bakalan cari pekerjaan yang bagus & kumpulin uang yang banyak buat kamu. lalu setelah aku udah bener-bener mapan & siap aku bakalan nikahin kamu jadiin kamu istri ku milikin kamu seutuhnya & bahagiain kamu selalu."
"nikah...? istri...?" gumam ku pelan dengan mata yang terbuka sangat lebar.
"aku bakalan nikahin kamu Ra & itu pasti." teguh Zian berapi-api.
"tap-tapi... tapi..." aku ngebug 😵.
"kamu mau jadi pacar aku & mau nungguin aku sampai aku balik ke indonesia?".
"aku..." masih ngebug 😵.
"kamu mau suport & dampingi aku sampai aku mapan & siap nikahin kamu?" Zian terus aja bertanya & aku masih aja ngebug karna spicles.
"nikah!" pekik ku setelah sadar dari lamunan ku.
"kamu ngomong apa sih Zi... buat pacaran aja aku nggak pernah kefikiran tentang hal itu! apa lagi masalah nikah! gila itu jauh banget dari bayangan aku." jawab ku menggebu-gebu karna prustasi.
"aku cuma mau jadi dokter, naiki derajak keluarga aku & bikin mereka bangga punya aku. di luar dari itu semua adalah hal yang nggak penting buat aku & nggak akan pernah jadi penting sebelum semua keinginan ku itu terwujud!" ucap ku kesal.
"termaksud aku?" Zian menatap dalam ke mata ku.
"apa aku juga nggak penting buat kamu Ra?!" tanya Zian dengan kecewa.
"bukannya gitu Zi..." ucap ku lirih.
"cuma aja aku nggak siap buat berkomitmen masalah percintaan, aku juga nggak mau mikirin hal-hal di luar dari sekolah. aku mau bikin keluarga aku bangga & kamu juga masih harus bahagiain & bikin Mama kamu bangga juga kan." aku mencoba memberikan pengertian pada Zian.
"iya aku tau itu kok Ra. tapi... aku juga nggak bakalan bisa fokus kuliah kalau aku juga harus mikrin kamu yang sendirian di sini."
"kamu itu ngomong apa sih Zi?! kamu nggak perlu mikirin aku & juga semua hal-hal yang nggak penting. yang harus kamu fikirin adalah study kamu & karir kamu aja."
"lagian aku juga nggak bakalan pernah mikirin hal-hal kayak pacaran atau jalin hubungan sama seseorang sebelum aku bisa wujudtin cita-cita aku & bikin Abba, Umma, mas Alkan bangga." aku coba meyakinkan Zian.
"kalau nanti ada laki-laki yang datang di hidup kamu & bikin kamu ngerasain perasaan cinta aku harus aku gimana Ra?" pekiknya kesal.
"enggak-enggak! aku nggak mau ambil resiko itu Ra! aku nggak mau kalau harus kehilangan kamu." histeris Zian.
"dengerin aku Zi... aku bakalan nunggu kamu sampai kamu pulang lagi ke sini. kita harus semakin dewasa buat bisa bahas masalah ini dengan lebih dewasa juga." ucap ku pelan sambil menangkup wajah Zian.
"Ra..." Zian sontak melebarkan matanya mendengar ucapan ku & tersenyum dengan lebarnya.
"berarti kamu mau nungguin aku sampai aku pulang & nerima ajakan aku buat nikah?"
"iya."
"kamu juga ngiyain buat nggak akan pernah kasih hati kamu ke orang lain?" tanyanya dengan semangat.
"iya" jawab ku singkat.
"makasih Ra makasih... makasih karna kamu udah mau kasih kesempatan buat aku & mau jaga hati aku." ucap Zian bahagiaan & langsung memeluk ku erat sambil menciumi puncak kepala ku berkali-kali.
entah kenapa dengan sendirinya aku mengatakan semua hal itu, yang seolah-olah aku juga menantikan kepulangan Zian lagi & mau memberikan hati ku untuknya. aku juga nggak tau kenapa aku bisa sebegininya ke Zian.
Singkat cerita kami mulai libur sekolah karna anak kelas 12 yang mulai ujian akhir untuk kelulusan mereka, aku selalu menyemangati Zian dengan selalu rajin menelponnya karna semenjak kejadian di taman itu kami jadi semakin dekat lebih dari sekedar sahabat namun tak bersetatus apa-apa. malam ini seperti biasanya kami telponan.
"hallo. assalamu'alaikum Ra." ucap Zian dengan manis sesaat setelah aku menganggat panggilan telpon darinya.
"wa'alaikumsalam kak Zian." goda ku.
"jangan mulai ya Ra." ketusnya.
"hehehehe... gimana kamu udah persiapan buat ujian besok?" tanya ku penasaran.
"udah beres semua ibu guru... aku udah belajar, udah siapain alat buat ujian & siapin seragam. tinggal tidur biar besok bangunya lebih awal." jawabnya eksaited.
"ya ampun... pinternya... anak siapa sih ini..." goda ku dengan suara lucu.
"anak Mama..." jawab Zian dengan suara lucu.
"kamu udah makan malam?"
"udah. kamu sendiri?" Zian balik bertanya.
__ADS_1
"aku udah makan kok. ya udah kamu tidur gih sana biar besok nggak bangun kesiangan. kamu harus semangat besok." ucap ku.
"pastinya semangat dong..." sahutnya manja.
"good night Amara.. I love eeh... maaf ke ceplosan hehehehe." celetuknya.
"good night to Zian." jawab ku sambil tersenyum geli.
"Zi-Zi... kamu tu gemesin banget sih" gumam ku gemas sambil tersenyum.
...
"Umma... ada yang bisa Amara bantu nggak." ucap ku manis.
"sayang... kamu ngagetin Umma aja deh!" teriak Umma yang terkejut.
"pagi Umma sayang..." aku menyapa Umma lalu mengecup pipi kanan Umma.
"kamu kenapa Ra..." tanya Umma dengan ekspresi bingung.
"emangnya Amara kenapa?" aku balik bertanya sambil menangkup wajah ku sendiri.
"bukannya kamu lagi libur ya sayang?" tanya Umma sambil kedip-kedip.
"iya..." jawab ku santai sambil nyolong tomat cerry yang lagi di potong sama Umma lalu aku makan.
"terus kenapa bangunya sepagi ini? tumben banget" tanya Umma dengan penuh kebingungan.
"Amara mau belajar bangun pagi & mau belajar masak sama Umma..." celetuk ku sambil ngolesin roti dengan butter.
"apa... 😳" Umma seketika kaget mendengar ucapan ku & makin bingung.
"Amara mau jago masak kayan Umma... jadi nanti kalau udah nikah Amara nggak bakalan bikin Umma malu & kecewain suami Amara." jawab ku dengan mata yang berbinar-binar.
"apa! nikah? 😲" teriak Umma makin kaget yang sontak membangunkan Abba & mas Alkan.
"siapa yang nikah Umma?" tanya mas Alkan yang langsung keluar dari dalam kamarnya.
"nikah? siapa yang mau nikah? mas mau nikah?" Abba juga bertanya sambil melipat & merapikan sarungnya.
"Amara Ba." jawab Umma ngebug.
"apa!? 😨" teriak Abba & mas Alkan serentak.
"kam-kamu mau nikah dek?" tanya mas Alkan bingung sambil memegang erat kedua pundak ku & mengguncangkan tubuh ku beberapa kali.
"mas... sakit ah..." teriak ku kesakitan sambil meringis-meringis.
"kamu mau nikah sama siapa Ra? sama Zian? atau sama Agas?" tanya mas Alkan menggoda ki sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"ih... mas apaan sih!" ketus ku.
"kenapa jadi pada ngaco gini sih!?" teriak ku kesal.
"Amara kan cuma mau belajar masak doang. niatnya itu biar nanti kalau udah nikah nggak bikin Umma malu & bisa urusin suami sama anaknya Amara nanti. Umma aja ni yang lebay banget responnya." sinis ku kesal sambil melipat kedua tangan ku.
"hehehehe... 😅 ya maaf sayang. habisnya Umma kaget aja denger kamu udah mikirin tentang masa depan & mau belajar masak buat jadi perempuan yang baik." jawab Umma sambil mengelus-elus rambut ku.
"udah-udah mas sama Abba cepetan siap-siap sana terus kita sarapan." ucap ku sok tegas sambil mengaduk-ngaduk masakan Umma di dalam pengorengan.
"wah... adeknya mas sekarang udah semakin dewasa ya." ucap mas Alkan sambil mencubit pipi ku gemas.
kami pun sarapan setelah mas Alkan & Abba selesai mandi & bersiap buat pergi kerja. habis sarapan aku langsung rapiin meja, cuci piring, sapu rumah & siap-siap mau pergi ke rumah Dea.
"Umma Amara berangkat ya." aku berpamitan pada Umma.
"iya hati-hati di jalan ya sayang. oh iya Umma nitip ini ya buat Maminya Dea." Umma memberikan bingkisan pada ku.
"oky doky... 😉" sahut ku genit
...
"assalamu'alaikum..." aku mengucap salam sambil membuka pintu rumah Dea.
"Bukde... Bukde..." aku memanggil Maminya Dea beberapa kali.
"wa'alaikumsalam. eh sayangnya mami." sahut Mami Dea sambil memeluk ku erat & mencium pipi ku gemas.
"Amara kangen banget sama bukde." ucap ku manja.
"Mami juga kangen banget sama Amara." sahut Mami Dea sambil mencubit gemas pipi ku.
"bukde ini ada titipan dari Umma." aku memberikan bingkisan titipan Umma sama Maminya Dea.
"apa ini Ra?" Nami Dea membuka bingkisannya.
"wah... ini kan lauk kesukaan Mami..." teriak Mami Dea histeris.
"Umma kamu emang yang paling the best deh Ra... tau aj kalau Mami udah lama nggak makan ini."
"Ummanya Amara gitu loh..." celetuk ku.
"kok Amara udah jarang main ke sini sih?" tanya Maminya Dea sambil mencubit pipi ku.
"Amara lagi sibuk ngurusin masalah Beasiswa buat kuliah Bukde. jadi ya jarang ada waktu buat main."
"ehem... ternyata anak kesayanganya Mami dateng." ketus Dea.
"hemmmh... bakalan di cuekin ni aku satu harian." celetuk Dea sambil melipat tangannya.
"iya bener banget tu Deol. bisa-bisa nggak di kasih makan sama Tante ni kita satu harian. 😒" celetuk Agas sambil melipat kedua tangannya juga.
"hemmmh... mulai deh pada baperan anak-anak Mami... 😏" ledek Mami Dea ke Dea & Agas.
"ya udah kalian pada main sana. Mami mau pergi sebentar."
"Bukde jangan lupa ya... 😉" aku langsung kasih kode ke Maminya Dea.
"siap sayang..." jawab Mami Dea dengan manis.
"kamu minta apa sama tante Ra?" tanya Agas dengan wajah bingung.
"ice cream coklat stoberi..." teriak ku, Dea & Maminya Dea serentak.
aku, Dea & Maminya Dea pun langsung tertawa geli karna melihat ekspersi keget Agas yang bikin muka dia jadi lucu banget. 😂
__ADS_1