
"pagi Ra?" sapa Dea.
"pagi." sahut ku sambil terus fokus merapikan rok ku.
"kamu kenapa? 😕"
"iya enggak." sahut ku pelan sambil terus merapikan rok ku.
"iya enggak? 😕" gumam Dea bingung.
"Amara! kamu kenapa sih? di tanyai jawabanya kok nggak sinkron gitu! 😒" ketus Dea kesal.
"iya... kenapa?" tanya ku balik, aku masih nggak fokus.
"kamu kenapa Amara...!" kesal Dea.
"aku nggak apa-apa kok. ini ni rok aku pendek banget aku jadi nggak nyaman gitu. 😫" jawab ku dengan nada sedikit kesal sambil terus mencoba menarik-narik turun rok ku agar lebih nyaman.
"lah... kalau emang nggak nyaman kenapa masih kamu pakek rok pendek banget kayak gitu?" tanyanya bingung sambil membantu ku merapikan rok ku.
"tadi malam kan udah aku cerita ke kamu, kalau rok yang biasa aku pakai itu robek gara-gara aku coba manjat pagar sekolah kemarin pagi! 😒" gumam ku sedikit kesal.
"masak kamu udah lupa sih! ini itu rok lama yang kemarin itu Umma salah beli, gara-gara kejadian kemarin terpaksa deh aku pakek rok ini lagi karna Umma tadi malam nggak sempet jahit rok yang robek kemarin. 😫"
tiba-tiba dari arah belakang Agas yang tengah berlari langsung aja nabrak aku.
GRUUUUUBUK!
aku langsung tersungkur kedepan & tanpa sadar ternyata aku menindih seseorang. tau nggak? ternyata orang yang aku tindih itu adalah laki-laki tinggi yang kemarin aku temui di pemberhentian bus.
"aduh..." teriak ku ke spontan saat terjatuh.
"Agas apaan sih!" aku langsung spontan mengomel karna tingkah konyol Agas itu.
"sakit tau! lagian kenapa sih kamu lari-larian di lorong kayak gini! bahaya tau... 😡"
"maaf-maaf Ra. tadi rem aku blong deh kayaknya hahahaha... 😂" Agas terbahak-bahak karna melihat aku jatuh.
"sakit tau ih!!!" pekik ku sambil menoleh ke arah belakang mencoba melihat Agas & Dea.
tanpa aku sadari ternyata aku sedang menindih seseorang. 😮
"aku lebih sakit tau." ucap laki-laki tinggi itu.
"hah... 😨" mendengar ada suara dari arah bawah aku langsung terkejut & pandangan ku sontak tertuju ke arah suara di bawah ku.
"😳" mata ku langsung membulat besar.
"cepat berdiri!" ucapnya kesal.
aku berdiri dengan cepat & langsung merapikan rok ku dengan cara menurun-nurunkan rok ku yang sedikit terangkat karna aku terjatuh tadi, hingga membuat shot warna hitam ku sedikit terlihat.
laki-laki tinggi itu lalu melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Agas kemarin itu, dia mengikatkan jaket kulitnya ke pinggang ku untuk menutupi paha ku yang sedikit terlihat.
"jangan di pakai lagi kalau memang kamunya nggak nyaman." ucapnya sambil tersenyum kecut.
"hah... hari yang sangat menyebalkan!" gumamnya kecil sambil berlalu pergi.
"😳" aku hanya bisa diam membisu dengan mata yang terus membesar & wajah merona.
"kamu nggak apa-apa kan Ra?" tanya Dea cemas.
"hehehehe... maaf ya Ra aku tadi bener-bener nggak sengaja maaaaaaaf banget." Agas meminta maaf sambil merangkul ku dari samping & sedikit tertawa.
"wah... pipi mu merah lagi Ra? 😂" teriak Agas menggoda ku.
"kamu kenapa Ra?" tanya Dea yang makin cemas.
"a... aku-aku. aku nggak apa-apa kok." ucap ku linglung setelah sadar dari lamunan ku.
"ya udah kita masuk kelas aja yuk?" aku langsung menarik tangan Dea dengan penuh perasaan canggung.
di dalam kelas aku hanya melamun memikirkan laki-laki tinggi itu & semua perbuatannya pada ku, di satu sisi dia sosok yang menyebalkan tapi di sisi lain dia adalah laki-laki yang cukup baik. semua fikiran-fikiran aneh itu membuat otak ku bingung & kepala ku jadi terasa sedikit sakit.
"kok dia bisa ada di sini? dia juga pakai seragam sekolah ini? apa... apa jangan-jangan? hah... dia sekolah di sini juga... 😱" gumam ku dalam hati.
"engaaaak! 😫" pekik ku & aku juga langsung berdiri, itu membuat 1 kelas jadi melihat ke arah ku.
"Amara kamu kenapa?" tanya guru kepada ku.
"a... nggak kenapa-kenapa kok buk, maaf buk." ucap ku malu.
"kalau kamu mau bikin ribut lebih baik kamu keluar aja sana!" marah guru ku.
"nggak buk enggak... jangan suruh Amara keluar kelas." ucap ku memohon.
"Amara mau belajar buk. maafin Amara ya buk karna udah bikin ribut. 😔"
"hemmmh... ya sudah kamu duduk yang tenang." ucap guru ku.
"kamu kenapa Ra?" tanya Dea berbisik.
"hehehehe... nggak apa-apa kok. 😅" aku tersenyum kecil sambil geleng-geleng karna malu.
"Ra...Ra... ada-ada aja kamu." gumam Dea.
beberapa hari kemudian saat di sekolah aku pergi kesana kemari untuk mencari laki-laki tinggi itu. aku ingin mengembalikan jaket miliknya sekaligus berterimakasih serta minta maaf karna udah ngerepotin & ganggu dia.
"itu dia..." gumam ku sambil berlari ke arahnya.
"kamu... kamu... di-sini rupanya?" ucap ku dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"kamu!" ucapnya ketus & terkejut.
"bikin kaget aja."
"kamu... kamu..." aku masih ngos-ngosan.
"kenapa nyariin aku?! 😐" ketusnya.
"aku dari tadi nyariin kamu kesana kesini... nggak taunya... kamu lagi semedi sendirian di bawah pohon besar ini." ucap ku kesal sambil mencoba mengatur nafas ku.
"kamu mau apa nyariin aku. 🙁"
"aku mau balikin jaket kamu!" ucap ku ketus sambil menyerahkan jaketnya yang di sambut uluran tangannya.
"makasih ya karna kemarin udah minjemin aku jaket kamu. sama ini aku ada minuman dingin buat kamu sebagai tanda terimakasih aku karna kamu udah nolongin aku kemarin." ketus ku sambil memalingkan wajah.
"aku nolongin kamu? 😕" tanyanya dengan nada meledek.
"iya. karna berkat jaket kamu aku jadi lebih nyaman selama pakai rok yang kemarin aku pakai. 🙂" aku coba tersenyum ramah.
"oh... sama-sama." jawabnya cuek.
__ADS_1
"ih... dasar es batu! 😒" ketus ku pelan.
saat aku membalikan badan & berniat mau pergi tiba-tiba aja dia menarik tangan ku.
"tunggu! ini udah kamu cucikan? 😏" tanyanya meledek.
"ih... 😤" aku langsung menghempaskan tangannya karna kesel dengan pertanyaan konyolnya itu
"ya udah lah pakek tanya segala! cium tu udah bau wangi kan! 😡" aku langsung menatap sinis ke arahnya sambil melipat kedua tangan ku.
"nama ku Zian 🙂." tiba-tiba dia menyodorkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"aku Amara. 😊" tanpa sadar aku tersenyum sangat lebar & dengan cepat menyambut jabat tangannya.
entah lah entah apa yang terjadi pada ku, tapi sepertinya aku tertarik ingin mengenal dia lebih jauh & berteman dengannya. pesonanya seperti magnet yang selalu berhasil menarik ku untuk ingin tau lebih jauh tentang kepribadian & kehidupannya.
"eh mata besar?" panggilnya.
"iya. 😳" sahut ku terkejut & sedikit bingung dengan panggilannya.
"jangan suka ngelakuin hal-hal yang aneh-aneh lagi ya? 😏" ucapnya sambil beranjak pergi.
"mata besar? 😕" gumam ku bingung & terpaku.
semenjak hari di mana kami berkenalan kami menjadi lebih dekat, kami berteman & ternyata dia adalah kakak kelas ku.
entah kenapa rasanya aku cepat sekali akrab sama dia, padahal dia itu laki-laki yang sangat dingin,cuek, jutek, pendiam & suka menyendiri. tapi entah kenapa setiap melihat ku dia selalu tersenyum & aku juga akan selalu terseyum saat melihatnya. dia bahkan sering memberiku coklat & cemilan (dia sangat tau kalau aku ini suka nyemil & suka makan). 😅
...
hari itu saat jam pulang sekolah tiba-tiba turun hujan gerimis, aku & teman-teman yang lain sedang menunggu di depan gerbang sekolah namun saat aku bersiap mau pulang tiba-tiba saja Zian menghampiri ku & mengajak ku untuk pulang dengannya naik motor.
"Ra... kamu pulang bareng kita aja yuk?" ajak Dea dari dalam mobil.
"nggak usah Dea lagian rumah aku lebih jauh dari rumah kamu. ya kali kamu harus balik lagi jauh-jauh cuma buat anterin aku dulu. 😊"
"nggak apa-apa kali Ra." bujuk Agas.
"udah buruan masuk. lagian aku juga kangen sama Umma." perintah Agas.
"nggak usah Gas aku nunggu hujan reda aja bentar lagi juga terang, nanti aku bisa naik ojek atau apa kek gitu. lagian juga aku udah SMS Umma & bilang bakalan pulang agak lama soalnya lagi hujan. 😊" jelas ku.
"bandel banget sih bocah satu ini! 😒" ketus Agas kesal.
"ya udah kalau emang kamunya nggak mau, kami pulang duluan ya kamu hati-hati. bye Ra..." Dea melambai dari dalam mobil.
"bye... hati-hati ya." balas ku melambai sambil tersenyum lebar.
"hah." aku menarik nafas pelan saat mobil Dea mulai menghilang dari jarak pandang ku.
aku mendongak melihat ke atas & menatap langit yang menjatuhkan butiran-butiran hujan turun menghantam bumi.
"masih lama nggak ya kira-kira hujannya berhenti?" gumam ku.
"hemmmh... takutnya ni hujan awet sampai sore lagi. terus aku pulangnya gimana dong? 😔" aku menunduk lesu & menghela nafas panjang.
"hai mata besar." Zian tiba-tiba berdiri di sebelah ku lalu bicara pada ku yang sontak membuat aku kaget.
"ayam..." teriak ku karna kaget.
"ih... kamu ngagetin aja sih." ucap ku sambil menepuk pundaknya pelan.
"aduh..." rintihnya kesakitan.
"ih... kamu lebay amat sih, padahal aku mukulnya pelan lo. 🙄" ucap ku sinis.
"tapi sakit lo..." ucapnya.
"kamu belum pulang?" tanya ku bingung karna melihat dia yang masih ada di sekolah.
"lah kamu sendiri? kenapa belum pulang?"
"ish... kebiasaan! suka banget nanya balik kalau lagi di tanya!? 😤" ucap ku kesal.
"aku lagi nunggu hujan reda ni. kalau kamu kenapa belum pulang?" tanya ku lagi sambil menjulurkan tangan ku untuk merasakan air hujan.
"nunggu kamu." jawabnya asal sambil menjulurkan tangannya juga.
"hah. nunggu aku? 😕" tanya ku sambil menoleh ke arahnya.
"iya nunggu kamu?!"
"kenapa?"
"kira-kira... kalau aku ngajak kamu pulang bareng naik motor... kamu mau nggak? 😅"
"hah... pulang bareng? bareng kamu? 😟" aku benar-benar bingung dengan perkataan Zian..
Zian mencipratkan air hujan ke wajah ku yang sontak membuat aku terkejut.
"Zian..." pekik ku kesal sambil menyeka wajah ku yang basah.
"iya pulang bareng. tapi... ya kita nggak naik mobil, soalnya aku kan nggak punya mobil. 😅"
"terus naik apa? 😕"
"naik motor."
"hah... naik motor? hahahaha." aku sontak tertawa terbahak-bahak & dia pun langsung mengerutkan dahi karna bingung.
"😕"
"Zian-Zian... kalau naik motor kita bisa kebasahan dong? kamu ini ada-ada aja ih. hahahaha... 😂"
"ya nggak apa-apa kita basah-basahan, biar seru." ucapnya santai sambil mengelap tangannya yang basah.
"apaan sih kamu, basah-basahan?!" senyum & tawa ku semakin menjadi-jadi.
"kamu tambah manis tambah cantik kalau lagi senyum & ketawa kayak gitu." ucapnya sambil memandang ku lekat & tersenyum simpul.
saat mendengar kata-katanya itu aku langsung terdiam, kaku, membisu & tiba-tiba saja pipi ku merona lagi.
"pipi kamu merah?" ucapnya sambil memencet pipi kiri ku.
"kamu kedinginan?"
"😳"
"Ra... pipi kamu makin merah lo? 😕"
"apaan sih! pipi aku nggak merah kok?" pekik ku malu.
setelah sadar dari lamunan ku aku langsung sigap menutupi kedua pipi ku dengan kedua telapak tangan ku agar Zian tidak dapat lagi melihat pipi ku yang sedang merona ini.
__ADS_1
"hahahaha... gimana nggak merah. itu tu lihat aja merah gitu kok?" Zian semakin semangat meledek ku.
"nggak..." teriak ku heboh.
"apa kamu kedinginan?" tanyanya.
"i-iya kali. eh iya-iya aku emang kedinginan makannya pipi ku jadi merah gini." ucap ku asal untuk mengalihkan pembicaraan tentang pipi ku yang merona.
tiba-tiba Zian memakaikan jaketnya pada ku & sedikit merangkul ku dari samping, sontak hal itu membuat teman-teman yang belum bisa pulang karna hujan pandangan mereka langsung tertuju ke arah kami berdua.
"kalian pacaran?" tanya salah satu teman sekelas ku.
"nggak! 😲" bantah ku langsung sambil menjauh dari Zian.
"pacaran? boleh juga. kenapa nggak kefikiran ya? 😉" ucap Zian sambil tersenyum lebar.
"Zian..." pekik ku.
"kalian cocok kok kalau pacaran." ucap teman sekelas ku yang lainnya sambil menepuk pundak ku.
"ih... apaan sih! siapa juga yang pacaran! ngarang aja deh ah. 😤" bantah ku semakin kesal.
"pacaran juga nggak apa-apa kali." teriak teman yang lainnya.
"tapi aku perhatiin ya... kalian itu makin hari makin dekat lo?" ucap salah satu teman Zian.
"udah deh kalau sama-sama suka pacaran aja kali. hahaha..." goda teman-teman sekelas ku semakin menjadi-jadi.
"hahahaha... 😂" Zian pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"ih... kenapa hujannya nggak berhenti-berhenti sih!" gumam ku kesal.
tanpa berfikir panjang aku langsung berlari menerjang gerimisnya hujan & menuju ke parkiran di mana motor Zian di parkir.
"mata besar... kamu mau kemana?" teriak Zian.
"ya pulang lah..." teriak ku sedikit kesal.
"katanya kamu mau anterin aku pulang, ayok buruan!" ajak ku dengan kesal.
"oke-oke..."
"hah... kalau nggak karna ledekan temen-temen, ogah banget aku hujan-hujanan kayak gini! 😫" gumam ku kesal.
Zian langsung berlari & menghampiri ku dengan senyum yang lebar, aku juga nggak tahu kenapa dia selalu tersenyum selebar itu kalau lagi sama aku beda banget kalau lagi sendirian dia selalu aja diam & cemberut. sepanjang jalan kami hanya diam tak bicara sepatah kata pun.
CIIIIIT.
rem di tarik & sepeda motor pun berhenti dengan sempurna. saat aku lihat ternyata kami udah di depan rumah aku langsung turun dari motor Zian.
"cepetan masuk sana nanti kamu makin basah, nanti kamu sakit." perintah Zian.
"kamu nggak mau mampir dulu? ya... sambil nunggu hujannya bener-bener reda?"
"nggak usah lain kali aja aku mampirnya, Mama aku juga di rumah sendirian aku takut dia khawatir kalau aku pulangnya telat. kamu buruan masuk sana!? 😊"
"ya udah aku masuk ya. 🙂" ucap ku pelan sambil tersenyum kecil...
"kamu hati-hati di jalan ya. sampai ketemu besok." sambung ku.
Zian pun langsung manarik gas motornya & berlalu pergi.
"assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. siapa yang nganterin Ra? 😏" tanya mas Alkan.
"ehem... pacar ya 😉?" ledek mas Alkan.
"ish... mas apaan sih. pacar-pacar! 😑" jawab ku dengan kesal sambil memeras jaket Zian yang basah di depan pintu rumah.
"terus siapa dong?" tanya Umma yang ikut menggoda ku.
"ya udah jelas lah Umma, itu mah calon mantunya Abba pakek di tanyak segala. 😄" sahut Abba yang juga ikut-ikutan meledek.
"ih... apaan sih! itu kak Zian dia kakak kelas Amara." gumam ku kesal.
"kok baik banget mau nganterin kamu pulang?" tanya Umma.
"ya karna dia suka sama Amara lah Umma, dulu mas juga gitu sering nganterin pulang perempuan yang mas taksir. 😒" sahut mas Alkan semakin menggoda.
"tapi tadi kayaknya cakep ya Umma?" tanya Abba ke Umma coba menggoda ku.
"cakep banget Ba tinggi, putih, ganteng & senyumnya juga manis." jawab Umma yang ikut-ikutan menggoda ku.
"ih... pada jail ah! 😤" aku yang makin kesal langsung melilih masuk ke dalam kamar.
...
selesai mandi aku keluar untuk makan malam bersama keluarga ku, setelah selesai makan malam kami pun berkumpul di ruang keluarga untuk menonton TV saat sedang asik menonton handphone ku berdering & nomor baru masuk ke panggilan.
"hallo. assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. kamu flu nggak?" sahut suara itu.
"flu...? enggak. aku nggak flu kok. 😕"
"syukur deh. nanti kalau kamu mau tidur jangan lupa pakai selimut biar kamu nggak demam jadi besok bisa sekolah."
"iya..." jawab ku bingung.
"kamu siapa? kenapa telpon terus tiba-tiba suruh aku ini itu?!" tanya ku yang di penuhi kebingungan.
"aku Zian."
"Zian... 😳" sontak aku langsung terkejut & berlari masuk ke dalam kamar.
"kamu... kamu dapat nomor telpon aku dari mana?" aku bertanya sambil senyum-senyum sendiri.
"aku ambil nomor telepon kamu dari ruang guru. hehehehe... 😅" celetuknya.
"sebenernya aku udah lama punya nomor telepon kamu, tapi aku bingung waktu yang pas buat nelpon kamu itu kapan?! 😁"
"emmmmh... 🙂" tanpa sadar aku terus senyum-senyum sendiri & pipi ku merona lagi.
"akhirnya sekarang aku nemuin waktu yang pas buat nelpon kamu." ucapnya dengan polos.
aku langsung buru-buru mutusin panggilan teleponnya, karna sumpah aku grogi banget denger suara baritonya Zian.
"nafas-nafas, huh... nafas Amara. ya ampun jantung aku mau meledak rasanya. 😱" lebay ku.
"gila... aku kenapa sih sebenernya? kenapa aku jadi grogi gini ke Zian ya?" panik.
aku langsung jadi kayak orang gila yang ngomong sendiri, kayak orang bodoh kesana kemari & gemeteran nggak jelas sangkin geroginya. 😅
__ADS_1