
"Ra tunggu dulu..." teriak Zian namun aku masih terus berlari.
"Ra... stop..." teriaknya.
"aku masih mau ngomong sama kamu. Amara berhenti." teriaknya.
mendengar ucapan Zian jantung ku semakin berdegup kencang karna sangat menantikan tentang hal apa yang masih ingin di utarakannya kepada ku. seketika kaki ku berhenti berlari & aku mematung.
"kamu... kenapa... lari Ra..." ucap Zian dengan nafas tak beraturan.
"ya kamu kenapa tiba-tiba cium aku! 😡" pekik ku kesal lalu membalikan badan & menatap tajam ke arah mata Zian.
"terus pakek acara teriak-teriak kayak gitu! aku kan malu." kesal ku.
"ya karna aku lagi seneng makannya aku cium kamu. kalau masalah teriak-teriak ya... cuma biar semua orang tau kalau aku sayang sama kamu. 😁" celetuknya konyol.
"Zian... kamu ini ya..." pekik ku sebal lalu mencubit gemas kedua pipinya sambil ku goyang-goyangkan.
"aw aw aw... sakit Ra..." pekiknya tertahan.
"makannya jangan suka jail banget!" ketus ku yang makin kuat mencubit pipinya.
"Amara... sakit..." Zian histeris karna ke sakitan.
perasaan ku sangat bahagia & rasanya kayak ada ribuan kupu-kupu yang mau berterbangan dari dalam hati ku. 😍
"udah Ra ampun..." ucap Zian sambil melepaskan tangan ku dari pipinya.
"pipi aku sakit Ra..." rengeknya manja sambil memainkan jari-jari tangan kanan ku.
"aku juga mau kasih sesuatu ke kamu. 🙂"
"apa?" sahut ku penasaran.
"ini."
Zian mengeluarkan sebuat kotak berwarna biru gelap berbahan baldu & membukanya. tanpa aku duga Zian memberi ku sebuah kalung dengan bandul berwarna biru safir.
Zian mengambil kalung itu & menjuntaikan kalung itu di depan wajah ku & langsung memakaikannya di leher ku.
"kalungnya cantik banget Zi... 😊" ucap ku pelan sambil memegang bandul kalunnya & terus tersenyum bahagia.
"kalungnya jadi makin cantik kalau kamu yang pakai. 😉" celetuknya.
"apaan sih..." gumam ku pelan & tersipu malu.
"cantik banget Ra. cocok banget ada di leher kamu." ucap Zian pelan lalu menyandarkan kepalanya di pundak kiri ku dari arah belakang.
"kamu suka?" tanyanya lalu memejamkan mata.
"suka banget. cantik." gumam ku.
"aku kasih kamu kalung ini sebagai bukti kalau aku bakalan terus berjuang buat kamu & cinta kamu. aku nggak bakalam pernah nyerah buat bisa miliki kamu suatu saat nanti." gumam Zian pelan & masih menutup matanya.
"tapi... aku..." gumam ku pelan karna ragu untuk bicara.
"aku tahu kamu nggak mau kita punya hubungan lebih dari sahabat untuk saat ini & aku menghargai keputusan kamu itu. tapi aku minta biarin sahabat mu ini buat berusaha demi cintanya & untuk mengejar cintanya."
"Zian..." ucap ku lirih.
"maafin aku, karna aku kamu jadi sering sedih & susah karna punya beban perasaan ke aku yang begitu besarnya selama ini. cuma aja... aku bener-bener nggak bisa buat nerima perasaan kamu untuk saat ini & punya hubungan lebih dari sekear sahabat. 😔" aku merasa bersalah.
"aku paham & aku ngerti kok Ra. aku juga nggak pernah merasa keberatan buat semua itu asalkan kamu masih selalu ada di deket aku & masih kasih aku izin buat terus berjuang demi kamu itu udah lebih dari cuku buat aku."
"kenapa sih kamu ngelakuin semua ini Zi?" tanya ku dengan sendu & mata berkaca-kaca.
"karna aku sayang banget sama kamu Ra..." ucapnya lalu menangkup wajah ku dengan tangan besar & lentiknya.
"kamu itu udah ngubah banyak hal dalam hidup aku, kamu juga selalu bikin hari-hari ku jauh lebih indah & berwarna. karna semenjak Papa meninggal aku jadi pribadi yang tertutup & menarik diri dari lingkungan padahal dulu aku adalah anak periang & suka main kayak anak-anak pada umungnya."
"aku juga suka main sama Papa & kami selalu bersenang-senang, sekarang cuma sama Mama aku bisa cerita tentang segala hal yang lagi aku fikirin & aku rasain tapi nggak sama orang lain. karna aku jadi kehilangan rasa kepercayaan diri serta susah buat bersosialisasi sama orang lain."
"tapi... semenjak kita ketemu di pemberhentian bus deket sekolah kamu masih inget kan? di situlah untuk pertama kalinya aku tersenyum karna seseorang dengan senyum yang udah lama hilang dari diri aku & sekarang aku temui itu di diri kamu." Zian bercerita panjang lebar.
"cerita Zian ini sama persis kayak apa yang di ceritaiin Mamanya sama aku dulu." gumam ku dalam hati.
"itu sebabnya kenapa aku bisa sayang banget sama kamu & jujur aku nggak mau kehilangan kamu Ra. karna cuma kamu yang bisa bikin hidup aku jadi lebih berarti." ucap Zian lirih sambil sedikit menunduk.
aku langsung memeluk erat tubuhnya dengan perasaan yang sangat bersalah & menumpahkan segala rasa cinta ku untuknya di dalam pelukan itu.
"maafin aku yang udah egois & nggak mau coba ngerti sama perasaan kamu Zi..." ucap ku terisak.
"kamu jangan nangis Ra... aku nggak mau ada setetes aja air mata yang jatuh di pipi kamu. aku ngerti kok sama apa yang lagi kamu rasain sekarang ini makanya aku nggak pernah permasalahin & maksain perasaan kamu buat bisa terima perasaan aku. 🙂"
"karna aku yakin takdir cinta kamu adalah aku Ra." ucap Zian membalas pelukan ku dengan erat.
"aku janji sama kamu, aku bakalan nunggu kamu di sini sampai kita bener-bener bisa nerima perasaan satu sama lain." tangis ku pecah.
"aku bahagia banget denger kamu bilang kayak gitu Ra... aku jadi makin semangat buat secepatnya nyelesaiin semua tanggung jawab aku & datang ke kamu."
singkat cerita setelah pertemuan itu akhirnya hari itu datang juga. hari di mana Zian pergi ke luar negri untuk kuliah & menata karirnya.
__ADS_1
di bandara. 🛩
"sayang... Amara nggak dateng ya?" tanya Nama Zian yang celingukan.
"dia bakalan dateng kok Ma, itu pasti." ucap Zian percaya diri.
"lagian juga Zian take outnya masih lama kan Ma... Mama yang sabar sebentar lagi Amara pasti nyampek."
"Mama takut kalau dia nggak dateng."
"sabar Mama ku sayang... Amara pasti dateng kok." ucap Zian sambil merangkul Mamanya.
"Tante... Zian..." teriak ku dengan nafas yang terengah-engah. lalu berlari ke arah Zian & Mamanya.
"hati-hati sayang..." Mama Zian menagkapt tubuh ku.
"jangan lari-larian gitu sayang... nanti kamu jatuh." ucap Mama Zian.
"maaf... Amara... telat... soalnya tadi nunggu... Umma siapian bingkisan... buat Zian." ucap ku dengan .afas terengah-ngah.
"bingkisan?" tanya Zian.
"ini ada beberapa lauk... yang... Umma bikin buat kamu..." aku berusaha mengatur nafas ku lalu menyodorkan bingkisan dari Umma pada Zian.
"ini juga ada... makanan buat Tante..." aku juga memberikan 1 bingkisan untuk Mamanya Zian.
"sampaiin makasih aku buat Umma ya... 😊" ucap Zian dengan tersenyum manis.
"Tante juga makasih banget sama Ummanya Amara karna udah perhatian banget sama Zian & udah mau repot-repot buatin makanan buat Tante." sambung Mamanya Zian.
"nggak repot kok Tante. karna Zian juga udah sering bantuin keluarga Amara. 🙂"
"iya... termaksud bantu buat bujukin kamu supaya mau makan kan?" goda Mamanya zian.
"Tante..." rengek ku malu.
"Ma pesawat yang mau Zian naikin sebentar lagi berangkat. Zian juha harus chek-in, Zian pamit ya Ma..." ucap Zian sambil memeluk erat Mamanya.
"langsung kasih kabar ke Mama ya nak begitu kamu sampek di asrama?" pinta Mama Zian lalu mencium pipi kanan, pipi kiri & jidat Zian.
"iya Mama ku sayang... Mama sehat-sehat di sini ya kalau ada apa-apa langsung kabarin Zian, Mama juga jangan terlalau capek kerja & harus jaga makannya jangan sampai sakit."
"iya sayang... kamu juga sehat-sehat di sana ya nak belajar yang rajin & giat kamu nggak usah khawatirin Mama karna kan ada Amara yang bakalan selalu jagain Mama." ucap Mama Zian sambil memegang pundak ku.
wajah ku langsung merona & aku jadi gugup.
"iya kan Ra?" celetuk Mama Zian.
"aku... aku bakalan jagain Kama kamu jadi kamu nggak usah khawatir. kamu baik- baik di sana jaga kesehatan & sering-sering kasih kabar sama kita di sini." ucap ku tegas.
"kamu juga baik-baik ya di sini. aku titip Mama." ucapnya lirih lalu memeluk ku erat.
"kamu tenang aja Zi... aku bakalan jagain Mama kamu dengan baik jadi kamu cuma harus fokus belajar biar cepet pulang ke indonesia lagi. 🙂" ucap ku sambil mengelus punggung Zian.
"Zian pergi ya Ma..." ucap Zian lalu menyalami Mamanya.
"jaga diri di sana ya nak." sahut Mama Zian sedikit menangis.
"aku pergi ya." ucapnya lembut & langsung mendaratkan 1 kecupan di kening ku.
"😳" aku hanya diam mematung karna mendapatkan ciuman dari Zian
"I love U." bisik Zian lembut di telinga ku.
"cepet pulang ya Zi.." gumam ku pelan.
"tunggu aku ya Ra." gumam Zian pelan.
Zian berjalan meninggalkan aku & Mamanya. aku menatap dalam punggung Zian yang perlahan menghilang.
"nggak usah sedih sayang. Tante yakin dia pasti bakalan cepet pulang & langsung nikahin kamu." celetuk Mama Zian mengoda ku.
"Tante..." rengek ku manja lalu memeluk Mamanya Zian dari samping.
"ya kan emang iya. Zian kuliah keluar negri kan semuanya buat kamu buat masa depan kalian." goda Mamanya Zian.
"Tante ah... Amara jadi malu."
"kenapa harus malu sayang... masa depan itu kan memang harus kita perjuangkan. Tante juga tau banget kalau Zian itu sayang banget sama kamu & dia bakalan lakuin apa aja buat kamu."
"masak sih. 😉" ledek ku.
"ih... mantunya Mama ini ya." kesal Mamanya Zian mencubit gemas pipi kiri ku.
aku & Mamanya Zian pun pulang ke rumah masing-masing setelah kami menghabiskan waktu jalan-jalan di mall sehabis dari bandara, terlebih dahulu aku mengantar Mamanya Zian pulang.
"nggak mampir dulu sayang?" tanya Mama Zian saat turun dari dalam taxi.
"lain kali aja Amara mampirnya Tante. Amara udah janji mau belajar di perpustakaan sama Dea pasti dia udah nungguin Amara dari tadi. hehehehe...😁"
"ya udah deh. tapi janji ya kalau nanti Tante pengen ketemu sama Amara, Amara harus langsung dateng ya... 😊" pinta Mama Zian dengan senyum manis.
__ADS_1
"siap Tante... ya udah Amara pulang dulu ya Tante assalamu'alaikum." ucap ku sambil melambaikan tangan.
"wa'alaikumsalam... hati-hati di jalan ya sayang." sahut Mama Zian balas melambaikan tangan.
...
"Dea..." bisik ku.
"😨" Dea terkejut.
"kamu kemana aja sih Ra! kok lama banget baru nyampeknya?! aku udah nungguin kamu dari tadi lo!" jawab Dea pelan sambil ngedumel.
"tadi aku ke bandara dulu buat anterin Zian pergi ke Sydney, terus harus nganterin Mama Zian pulang dulu. makannya aku jadi telat maaf ya sayang ku..." bujuk rayu ku ke Dea.
"emmmh..." sahut Dea merajuk sambil melipat kedua tangannya.
"jangan ngambek dong my princess..." rayu ku.
"tau ah! habisnya aku kesel banget sama kamu!" ketus Dea.
"ya maaf Dea... aku kan ada urusan lain makannya telat. 🙏"
"tapi kamu telatnya nggak cuma semenit dua menit ya Ra...! tapi 2 jam lebih lo!" Dea semakin kesal.
"ya maaf my princess, tadi Mamanya Zian ngajak aku ke mall bentar buat beli barang keperluan kerjanya. ya aku jadinya nggak bisa nolak deh. 😁" aku mencoba menjelaskan.
"kamu udah nggak sayang lagi sama aku! sekarang kamu lebih perhatian sama orang lain & lupain aku! 😒" ketus Dea lalu mengalihkan pandangannya.
"kamu itu adalah orang yang paling aku sayang di muka bumi ini & nggak akan ada yang bisa gantiin keistimewaan kamu di hati aku. ❤" gombal ku 😂.
Dea nggak ngomong apa-apa & cuma diem aja sambil manyun terus.
"yakin kamu masih kesel & marah sama aku? walaupun aku bawaain ini buat kamu? 😏" ucap ku sambil memberikan sekotak martabak telur india kesukaannya.
"emang paling pinter kamu ya Ra kalau bujukin aku!?" ucap Dea sinis langsung ambil kotak martabak dari tangan ku.
"Amara gitu loh. 😎" sahut ku sombong.
"emmmmh... enak banget Ra..." ucap Dea senang dengan mulut penuh & terus makan.
"jelas enak dong.... aku kan belinya di tempat langganan kita. 😁"
"tau aja lu apa yang Gua suka..." canda Dea.
"bahasa kamu Dea... 😂" celetuk ku
"ya jelas aku tau dong aku kan belahan jiwa kamu. 😍 canda ku"
"apaan sih kamu Ra! mulai gesreknya kumat deh. 😒" ketus Dea.
selesai berbincang & sedikit bertengkar, di tengah belajar aku pun menyanggah pipi ku dengan tangan kanan ku & pandangan ku mulai kosong karna melamun.
"mikirin apa lagi hah? 😒" tanya Dea sinis melirik ke arah ku.
"hah..." aku menghela nafas dalam.
"sepi banget ya rasanya karna nggak ada Agas di sini? jujur aku kangen banget sama dia & ocehan demagenya itu." gumam ku.
"jujur aku sih juga kangen banget sama dia. ya... walaupun dia itu usil & jail banget terus kami juga sering berantem, tapi tetep aja kalau nggak ada dia suasana jadi sepi banget rasanya." sahut Dea yang ikut menyanggah pipinya.
"Zian juga barusan pergi. sekarang bener-bener hanya tinggal kita berdua aja...😔"
"jadi flash back lagi ke dulu waktu jaman kita masih SD.😁" Dea mengenang masa kecil kami.
"iya... dulu kita kemana-mana selalu maunya berdua & nggak akan pernah biarin ada orang lain yang gabung sama kita. 😅 tapi kan belakangan ini kita selalu berempat & rasanya jadi rame aja gitu, sekarang tiba-tiba aja jadi sepi gini karna mereka berdua pergi." keluh ku.
...
KRIIIIING.
ponsel ku berbunyi.
"ini kan nomor luar negri. 😯" pekik ku lalu seketika bangkit dari tidur ku begitu melihat layar ponsel ku.
"apa ini telpon dari Zian? tapi... kok dia cepet banget sampeknya? 🤔" gumam ku bingung.
"assalamu'alaikum. Zian kamu udah sampek di Sydney? kok cepet banget?" aku langsung ngegas gitu angkat telpon.
"wa'alaikumsalam. aku Agas bukan Zian!" sahut Agas sinis.
"Agas..." pekik ku bahagia
"kamu kok baru ngubungin aku sih? aku kangen banget tau sama kamu, kamu kenapa lama banget baru hubungin akunya? apa kamu nggak kangen sama aku? apa kamu sesibuk itu sampek kamu nggak bisa nelpon aku? apa sama sekali kamu nggak ada waktu buat ngubungin aku?" aku langsung nyerocos sangkin senengnya di telpon Agas.
"pelan-pelan dong Ra ngomongnya? satu- satu tanyanya aku bingung tau harus mulau dari mana jawabnya." celetuk Agas.
"aku kangen banget sama kamu Gas... 😭" tangis ku pun langsung pecah.
"kamu kemana aja kenapa baru sekarang ngubungin aku? padahal kamu sendiri yang bilang kalau kamu bakalan rajin ngubungin aku & ganggu aku lewat telpon. tapi nyatanya! kamu malah nggak ada kasih kabar ke aku sampek sekarang ini! 😭" aku terus ngomel sambil mewek.
nggak bisa di bendung lagi rasa kangen aku ke Agas. rasanya aku pengen banget lari masuk ke dalam pelukannya & cium bau khas tubuhnya dalam-dalam.
__ADS_1
udah hampir berapa bulan ini aku nggak lihat & denger suara barito manis milik Agas. bahkan aku sampai lupa gimana bentuk mukanya Agas sangking aku sedihnya karna di tinggal peegi sama dia. 😭