
KRIIING...
handphone ku kembali berdering.
"duh si Zian nelpon lagi. gimana dong ini? aku harus apa? 😱" bingung ku sendiri.
"anggkat nggak ya? angkat enggak. angkat enggak. angkaaaaat enggak?"
"duh... ya Allah aku harus gimana ini... angkat atau nggak ya? angkat nggak ya?"
aku pun menghela nafas panjang & memberanikan diri untuk mengangkat panggilan telpon dari Zian lagi, walaupun sebenarnya aku masih gerogi banget & bingung harus ngomong apa.
"hallo." ucap ku dengan suara pelan.
"kenapa di putus telponnya?"
"kepencet tadi maaf. hehehehe... 😅" jawab ku ngeles.
"kepencet atau emang sengaja kamu putus telponnya karna kamu grogi. 😏" goda Zian.
"ih... apaan sih." pekik ku.
"ngapain juga aku grogi!" jawab ku ketus, pipi ku pun sontak semakin merona & memanas rasanya.
"aku tebak... ini pipi kamu pasti lagi merah. 😏"
"ih... Zian!" pekik ku kesal.
"apaan sih?! nggak lucu tau! 😡" aku langsung memutuskan panggilan telpon dengan perasaan kesal.
"ish... dia itu apa-apaan sih! sok tahu banget kalau pipi aku lagi merah atau nggak!" gumam ku marah-marah sambil menutupi pipi ku yang terus merona & memanas dengan tangan ku,
tanpa aku sadari aku terus-terusan tersenyum & merasa malu sendiri, makin aneh aja kelakuan ku. 😅
"gadis yang lucu." fikir Zian tentang ku.
"aku jadi pengen semakin dekat & mengenalnya lebih jauh lagi, karna dari pertama kali aku ketemu sama dia. dia itu sangat menarik perhatian ku. 🙂"
....
di sekolah aku nggak sengaja berpapasan sama Zian & aku langsung aja menghindari dia. entah apa yang ada di fikiran ku sampai-sampai aku selalu ngerasa grogi & salah tingkah setiap ketemu sama Zian, yang kebih aneh lagi aku malah berusaha menghindar dari dia kayak sekarang ini 😩.
semenjak dia nelpon aku tadi malam nggak tau kenapa aku jadi ngerasa ada perasaan yang aneh tentang dia di hati ku, tapi aku juga nggak tau itu perasaan apa 😬.
"hai mata besar." Zian menyapa ku.
"😳" mata ku langsung membulat & seketika aku terdiam seperti patung begitu mendengar suara barito Zian.
BRUUUUUK.
Agas menabrak ku dari belakang karna aku yang tiba-tiba berhenti mematung karna sapaan dari Zian.
"aduh..." pekik Agas.
"Amara...! kamu ini kenapa sih kok berhenti tiba-tiba gitu? 😡" Agas histeris sambil mengelus-elus lengannya yang baru saja menabrak punggung ku.
"😳"
"kamu kenapa Ra?" tanya Dea bingung karna melihat aku yang tiba-tiba berhenti & mematung.
"Amara..." panggil Dea lagi.
aku tak mengeluarkan sepatah kata pun & hanya berdiri mematung, aku langsung narik lengan Dea & langsung mengajaknya masuk ke dalam kelas sambil menundukan wajah ku untuk menghindari kontak dengan Zian.
"mata besar..." Zian mencoba memanggil ku lagi dengan suara yang lebih keras.
"tunggu aku Ra..." teriak Agas sambil menyusul aku & Dea.
"kamu kenapa sih Ra? tiba-tiba lari ke dalam kelas gitu? 😕" tanya Agas bingung.
"iya. kamu aneh tau." sambung Dea.
"kamu lagi coba menghindari kak Zian ya? kenapa memangnya?" tanya Dea lagi.
"kalian lagi berantem? 😒" tanya Agas dengan tatapan menelisik tajam ke arak ku.
"menghindar? nggak kok! aku nggak menghindar atau apa pun itu." jawab ku asal.
"lagian juga kenapa aku harus menghindari dia?!" aku langsung memalingkan pandangan dari Dea & Agas.
"kalau kamu lagi nggak coba menghindar dari dia. kenapa kamu keringetan & grogi gitu? 😒" sinis Agas.
"apaan sih! 😤" kesal ku sambil melipat tangan ki & memalingkan muka.
saat jam istirahat.
"Ra aku mau pulang?" ucap Dea.
"pulang? kenapa emangnya? kamu sakit Dea?" tanya ku sedikit khawatir.
"iya Ra aku lagi nggak enak badan rasanya nggak nyaman, kepala aku juga sakit banget. tadi aku udah izin sama wali kelas buat pulang lebih awal."
"kamu nggak apa-apa kan?" tanya ku sambil menempelkan tangan ku ke dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"badan kamu panas banget Dea." aku panik.
"kamu aku anterin aja ya?" saran ku.
"nggak usah Ra. aku udah minta supir jemput kok. 🙂"
"oh ya udah kalau gitu, kamu hati-hati ya. sampai rumah jangan lupa langsung istirahat & kabarin aku." perintah ku.
"iya bawel." sahut Dea sambil mencubit pipi ku dengan gemas.
"aku pulang ya." Dea pun keluar kelas.
"makan & istirahat ya Dea." aku berteriak.
"iya Ra..." sahut Dea.
Dea pun akhirnya pulang lebih awal karna sedang tak enak badan, aku yang sendirian karna nggak ada Dea akhirnya memilih duduk di taman sekolah Agas juga nggak tau lagi pergi kemana. tu anak emang suka banget ilang-ilangan nggak jelas. 🙄
"hah..." aku menghela hafas panjang sambil memejamkan mata.
"kalau nggak ada Dea aku emang jadi mati kutu. 😔" gumam ku pelan.
"kan ada aku. 😉" Zian yang tiba-tiba datang langsung duduk di sebelah ku.
"eh ayam..." ucap ku spontan karna kaget.
"ih...! kamu ya bikin kaget aja sih!" kesal ku.
"kenapa di sini sendirian?" tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.
"Dea pulang duluan karna lagi nggak enak badan. 😔" ucap ku lesu.
"si bulek?" tanya Zian sinis.
"kalau Agas nggak tau lagi kemana. dia mah emang suka ilang-ilangan kayak gitu. 😒"
"kenapa nggak nyariin aku?!" ucapnya sembarang lalu mendongak & memejamkan mata.
"kenapa aku harus nyariin kamu? 😕" jawab ku bingung.
"heh mata besar! kenapa tadi pagi kamu ngindarin aku kayak gitu?! 😒" tanyanya menelisik tajam ke arah ku.
"apa... 😳"aku langsung teringat kejadian tadi malam.
__ADS_1
"nggak! aku nggak ngindari kamu kok." aku jadi grogi & salah tingkah lagi.
"pipi kamu merah lagi tu. hahahaha... 😂" ledek Zian.
"Zian..." pekik ku manja.
Agas yang baru dateng langsung duduk di sebelah lain sisi ku & merangkul ku dari samping.
"di sini rupanya kamu?" ucap Agas sambil memiringkan wajahnya ke bawah wajah ku & menatap ku sambil tersenyum.
"kamu ke mana aja? dari tadi aku nyariin kamu tau." jawab ku sambil menatap balik ke arah Agas.
"hehehehe... aku tadi ke toilet mules soalnya, pas aku balik ke kelas taunya kamu nggak ada di kelas. aku udah keliling sekolah tau nyariin kamu eh taunya kamu malah ngasoy di sini."
"kamu sih lama banget ke toiletnya ya aku tinggal aja." jawab ku sambil mencubit hidung Agas gemas.
melihat ke akraban aku & Agas Zian sepertinya nggak suka. tiba-tiba Zian pergi dengan wajah kesal tanpa bicara apapun yang sontak itu membuat aku jadi bingung.
"kamu mau kemana?" tanya ku sedikit berteriak.
"ke kelas!" sahut Zian ketus sambil berjalan pergi.
"dia kenapa sih? 😕" gumam ku bingung dengan sikap Zian.
"tadi tiba-tiba datengin aku sok akrab lagi, eh sekarang malah nyelonong main pergi gitu aja!? nggak jelas banget sih! 😒" gumam ku kesal.
"dia cemburu kali lihat kita berdua. 😅" sahut Agas dengan nada meledek.
"cemburu? 😟 kenpa dia cemburu?"
"au..." sahut Agas ketus sambil menaikan pundaknya.
"ish... kamu juga sama nggak jelasnya sama dia. 😤" ketus ku.
"ya... kali aja kan dia cemburu gara-gara lihat kemesraan kita. hahahaha... 😂" Agas tertawa sambil menyenderkan kepalanya di bahu ku.
"kemesraan ndas gundul mu itu! 😒" ucap ku ketus sambil menolak-nolak kepala Agas yang di sandarkannya ke bahu ku.
"kemesraan ndas gundul mu itu..." Agas menirukan cara bicara ku dengan nada meledek.
"Agas..." pekik ku gemas.
saat pulang sekolah aku berpapasan dengan Zian di depan gerbang, tapi anehnya dia jadi cuek parah gitu ke aku. 🤔 padahal aku kayaknya nggak lagi bikin salah ke dia deh.
"Zian. 🙂" panggil ku sambil tersenyum.
"Ziaaaan!" ku panggil dia lagi dengan sedikit kesal karna dia tak menghiraukan panggilan ku yang pertama.
"ih... nyebelin banget sih! tu anak kenapa sih di panggil malah melengos pergi gitu aja?! 😤"
"dasar cowok nggak jelas!"
"pulang bareng yuk?" ajak Agas sambil merangkul ku dari samping.
"kamu nggak di jemput emangnya?"
"enggak. supir lagi anterin Dea sama Tante kerumah sakit."
"Dea sakit apa sampai harus ke rumah sakit?" tanya ku khawatir.
"dia cuma demam aja kok. maklum aja namanya juga anak tunggal ya sakit dikit aja langsung di bawa ke rumah sakit. 😏" ledeknya.
"emmmmh..."
"Tante takut Dea DBD lagi, makannya langsung ajak ketemu dokter."
"Dea pernah kenak DBD? kok bisa?" tanya ku penasaran.
"dulu waktu pulang liburan dari Vietnam Dea kenak DBD."
"oh..." gumam ku sambil sedikit mengangguk.
"gass..." teriak Agas penuh semangat.
"tapi... kita naik bus nggak naik taxi kamu nggak apa-apa? 😏" ajak ku sambil tersenyum meledek.
"oke siapa takut. tapi ongkosin aku ya hehehehe... 😅"
"hemmmmh ujung-unjungnya nggak enak." aku langsung memanyunkan bibir ku.
kami pun pulang naik bus. di dalam bus kami berdua hanya bertengkar tanpa henti di sepanjang perjalanan pulang karna tingkah konyolnya Agas.
"panas banget Ra. gerah... 😫" rengek Agas sambil menyenderkan kepalanya di pundak ku.
"kamu manja banget sih! laki-laki kok manja! 😒" ketus ku.
"seriusan Ra... ini itu panas banget?! apa di dalam bus itu emang sepanas ini!" rengeknya lagi sambil menyeka keringat di dahinya.
"diem ih..." ketus ku kesal & aku langsung menolak-nolak kepala Agas agar menyingkir dari bahu ku.
"tau gini mendingan kita jalan kaki aja sekalian! 😤" ucapnya kesal sambil terus menggelayut manja di tangan ku.
"ya udah kamu jalan kaki sendirian aja sana, kalau mau kaki kamu patah! 😏" jawab ku meledek.
"tapi ini tu panas banget tau Ra aku nggak tahan... lihat ni baju aku jadi basah semua jidat sama tangan aku semua keringetan. aku jadi bau aceeeem... 😭"
aku langsung menutup mulut Agas dengan tangan ku agar dia berhenti bicara karna aku udah pusing banget dengerin dia ngoceh & ngeluh mulu dari tadi. aku neken bell untuk memberhentikan bus & langsung nyuruh Agas turun.
"turun sana?!" ketus ku.
"hah turun? kenapa? emangnya udah sampek?" histeris Agas.
"iya kamu udah sampek. itu rumah Dea." jawab ku sambil menunjuk ke arah rumah Dea.
"he eh iya aku udah sampek ternyata hehehe... oke deh kalau gitu aku duluan ya." Agas beranjak turun.
"bye Amara... sampai ketemu besoooook." Agas melambai kan tangan sambil berteriak kencang.
"ih... Agas. bikin malu aja sih!" gumam ku pelan sambil menutupi wajah ku dengan satu telapak tangan ku.
keesokan harinya di sekolah.
"pagi Amara..." senyum khas Agas yang manis menyapa ku di pagi yang mendung ini.
"pagi Agas. Dea mana?" tanya ku sambil celingukkan.
"Dea belum bisa masuk sekolah masih lemes katanya. oh iya by the way makasih ya Ra. 😁"
"makasih? makasih buat apa? 😕" tanya ku.
"ya... buat pengalaman yang seru kemarin. aku seneng banget tau bisa ngerasain naik bus. hehehehe... 😁" ucapnya dengan wajah bahagia yang imut banget.
"hahahaha..." aku tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Agas yang lucu itu.
"naik bus doang kamu bilang pengalaman baru? kamu juga bilang itu seru. astaga Agas... 😆" aku menggeleng-gelengkan pelan kepala ku.
"ya emang seru kok. hehehe... 😅"
kami berdua pun tertawa terbahak-bahak karna tingkah aneh bin ajaib Agas. saat jam istirahat tiba aku langsung keluar kelas & berjalan ke kantin untuk makan karna aku lagi lapar banget, di jalan aku berpapasan dengan Zian & langsung menyapanya.
"hai..." sapa ku ramah.
"hai." jawabnya singkat & dingin.
"mau kemana?" tanya ku sok ramah.
"ke kelas." jawabnya singkat.
__ADS_1
"kamu itu kenapa sih? kok tiba-tiba cuek gini ke aku?! emangnya aku ada salah ke kamu? 😤" tanya ku kesal.
"nggak. aku juga nggak cuek ke kamu, biasa aja!" jawabnya ketus.
"ih... nyebelin banget sih!" ucap ku kesal & aku langsung pergi meninggalkan Zian.
"dia itu kenapa sih nyebelin banget!? tiba-tiba jadi aneh gitu. padahal aku kan nggak punya salah apa-apa ke dia? 🤔" gumam ku sambil berjalan.
"ah tau ah pusing! biarin aja terserah dia deh mau kayak gimana. sebel! 😡"
fikiran ku terus bertanya-tanya akan sikap Zian, karna dia jadi aneh gitu & jujur aja aku jadi ngerasa nggak nyaman sama sikap cueknya itu. 😩
"Ra!" Agas yang tiba-tiba datang sontak membuat ku kaget.
"ayam!" ucap ku spontan karna kaget.
"ayam." ledek Agas dengan menirukan cara bicara ku.
"ish... Agas! bikin kaget aja sih! kamu tu ya lama-lama kayak Zian tau. suka banget bikin aku kaget. 😡" sinis ku.
"Zian ya Zian! aku ya aku!" jawab Agas kesal.
"jangan sama-samain aku sama dia!" ketus Agas nggak suka kalau aku nyama-nyamain dia sama Zian.
"biasa aja kali. nggak usah sensi sih?" gumam ku meledek.
"jelas sensi lah! abisnya kamu tu hobby banget sama-samain aku sama dia! aku nggak suka tau? 😡" semakin ketus.
"iya-iya... aku minta maaf deh. 😊" ucap ku meminta maaf sambil mengelus-elus kepala Agas lembut.
saat jam pulang sekolah aku mengalami kejadian yang sangat rumit di antara Zian & Agas, lalu dari sinilah aku jadi tau kalau ternyata Agas & Zian itu suka sama aku. hal itu membuat aku tertarik dalam lingkaran dilema.
"Agas tungguin..." teriak ku memanggil Agas sambil berlari kecil.
"cepetan!" teriak Agas sambil melambai-lambai.
"tungguin dong... jalannya jangan cepet-cepet aku susah nyusulnya." ucap ku sambil sesekali menunduk untuk merapikan tas ku.
GREBUUUK.
aku terjatuh karna sepatu ku selip & kepala ku sedikit berdarah karna aku tak sengaja membentur pinggiran selokan sekolah. melihat hal itu membuat Agas panik & dia pun langsung berlari kencang ke arah ku untuk berusaha menolong ku.
"aduh..." teriak ku saat terjatuh.
"Amara..." teriak Agas langsung berlari ke arah ku.
"sakit..." rintih ku pelan sambil memegang dahi ku yang berdarah.
"Amara... kamu nggak apa-apa?" tanya Agas memastika ke adaan ku.
"dahi... dahi kamu berdarah Ra! 😨" Agas mulai panik & langsung menutup luka di dahi ku dengan tangannya.
"sakit Gas..." rintih ku yang tanpa sadar sudah meneteskan sedikti air mata.
"sakit ya?" Agas makin panik.
"iya..." sahut ku dengan suara yang bergetar.
Zian tiba-tiba datengin aku & langsung gendong aku buat di bawa ke ruang UKS sekolah. gitu sampai di ruang UKS dia lansung membersihkan luka ku dengan air infus & kasih salep terus nempelin perban di luka aku.
"aw..." teriak ku pelan karna terkejut oleh rasa sakit.
"sakit banget ya?" tanya Zian khawatir.
"nggak kok." jawab ku pelan sambil sedikit gigit bibir bawah ku (padahal sebenernya rasanya itu sakit banget mau nangis jerit-jerit tapi malu. huhuhu... 😭)
"udah selesai. berhenti gigit bibir kamu nanti bisa luka." ucap Zian sambil menempel perban di luka ku & aku langsung melepaskan gigitan di bibir ku sendiri.
"lukanya nggak lebar & nggak dalam kok, tapi harus sering-sering di ganti perbannya biar nggak infeksi." ucap Zian lembut & ingin mengelus kepala ku.
belum sampek tangan Zian nyentuh kepala ku. tiba-tiba tangan Zian udah di tarik kuat sama Agas. Agas pun langsung marah-marah ke Zian & mereka terlibat pertengkaran di ruang UKS.
"cukup obati lukanya. jangan berani nyentuh dia! 😡" ucap Agas marah.
"maksud kamu apa?! tiba-tiba gendong Amara & sok-sokan ngobatin luka dia! kamu itu bukan tenaga medis kalau luka Amara sampai kenapa-kenapa gimana!"
"lihat dia baik-baik aja kan!" sahut Zian tak kalah ketus sambil menghempaskan tangan Agas yang sedari tadi menggenggam kuat tangannya.
"kalau cuma luka kecil kayak gitu semua orang bisa ngobatin. nggak perku tenaga medis!" Zian semakin sinis.
"awas aja kalau luka Amara kenapa-kenapa! kamu berurusan sama aku!" bentak Agas.
"memangnya kamu siapanya Amara?! sampai aku harus berurusan sama kamu!" tanya Zian semakin sinis.
"aku orang yang sayang banget sama Amara. jadi aku bakalan selalu jagain dia! Inget itu!" sahut Agas berapi-api.
"aku juga sayang sama Amara & aku juga bakalan selalu jagain dia. jadi kamu nggak perlu lagi repot-repot jagain dia!" ucap Zian tak kalah berapi-api sambil melihat ke arah ku penuh makna.
"sering-sering di ganti ya perbannya. jangan sampai lukanya infeksi. 😊" ucap Zian lembut sambil mengelus kepala ku & tersenyum dengan sangat manis sebelum ia beranjak pergi.
aku hanya bisa diam mematung, melihat pertengkaran mereka & mendengar semua ocehan mereka yang aneh itu yang bikin otak ku seketika jadi terasa sakit & pandangan ku jadi kosong.
"aw..." rintih ku sambil memegang kepala ku yang tiba-tiba terasa sakit.
"kenapa? sakit?" tanya Agas khawatir tapi aku nggak bisa jawab.
"ya udah aku anterin kamu pulang ya." ajak Agas yang langsung menggendong ku keluar dari ruang UKS menuju ke mobilnya.
aku hanya bisa diam, diam & diam terus sangking bingungnya sama apa yang udah aku dengar dari mulut mereka. saat udah sampai di rumah Agas langsung menggendong ku buat masuk ke dalam rumah & langsung mendudukan ku di sofa.
"Amara kamu kenapa nak? kepala kamu kenapa?" tanya Umma penuh kekhawatiran saat melihat aku di gendong Agas & ada perban di dahi ku.
"Amara tadi jatuh Umma, dahinya luka karna kebentur pinggiran selokan tapi udah di obati kok." Agas mencoba menjelaskan.
"ya Allah Ra kamu ini ada-ada aja sih!" marah Umma sambil menepuk pundak ku pelan.
"Umma jangan pukul Amara dong dia kan lagi sakit Ummaaaa... 😨" teriak Agas lebay sambil mengelus-elus kepala ku.
"hah... oh iya. 😅" sontak Umma kaget & terdiam begitu mendengar teriakan lebay Agas.
"maaf Umma nggak sengaja. hehehehe... 😅"
"ya udah Agas mau pulang dulu ya Umma soalnya mau anteri Dea chek up udah siang juga ni takut dokternya nggak ada." Agas salaman dengan Umma & langsung beranjak pergi.
"hati-hati ya Gas pulangnya." teriak Umma.
"iya Umma..."
Agas pun beranjak pulang & Umma langsung mengintrogasi ku dengan pertanyaan yang semakin membuat ku pusing tujuh keliling. 😵
"kamu kenapa sih nak kok bisa kayak gini?" tanya Umma sambil memegang-megang perban ku pelan.
"🙁" aku tak mampu menjawab pertanyaan Umma & hanya diam mematung.
"mas heran sama Agas Umma?" ucap mas Alkan yang baru keluar dari kamarnya.
"kenapa mas?" tanya Umma balik.
"yang luka itu kan dahinya Amara kan Umma? bukan kakinya... tapi kok Agas sampai segitu khawatirnya ya? Agas bahkan gendong Amara lo? 🤔 di... gen-dong." mas Alkan meledek sambil menggaruk-garuk pelan dagunya.
"iya juga ya mas? Umma kok nggak merhatiin ya dari tadi. 🤔" jawab Umma malah ikut-ikutan meledek.
"udah jelas Umma. ini mah fix." teriak mas Alkan yang mengagetkan aku & Umma.
"apanya yang fix mas?" tanya Umma penasaran.
"fix & jelas kalau Agas itu pasti suka sama Amara Umma. hahahaha... 😅" canda mas Alkan.
__ADS_1
"mas apaan sih! nggak lucu tau! 😡" aku marah & langsung masuk ke kamar ku.
satu harian aku mengurung diri di dalam kamar hanya untuk memikirkan kejadian di ruang UKS tadi, melihat mereka seperti itu bikin aku jadi bingung sama apa sebenarnya yang terjadi, aku juga mikirin gimana aku harus ngadepin mereka berdua di sekolah besok pas kami ketemu nanti. 😱